
Ayah Hendar menyusul Zee ke dalam rumah. "Zee, kok bisa-bisanya kamu pulang bersama anak berandalan itu? dia kan, anak yang tempo hari ingin memukul Ayah," seru Ayah Hendar.
"Tidak apa-apa Yah, dia orangnya baik kok," dusta Zee.
"Baik apanya? sama orangtua saja dia tidak menghargai, bagaimana bisa disebut anak baik-baik," kesal Ayah Hendar.
"Zee, mandi dulu ya Yah, soalnya gerah banget," sahut Zee dengan mengalihkan pembicaraan.
Ayah Hendar tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia pun keluar dan turun ke bawah ke toko bunganya itu. Sementara itu, Zee terdiam sejenak di dalam kamar mandi.
"Aku harus bagaimana? laki-laki itu benar-benar sudah gila," gumam Zee.
Sungguh saat ini Zee merasa sangat bingung, baru pertama kali ini Zee bertemu dengan laki-laki segila Arman yang langsung mengakui dirinya sebagai gadisnya.
***
Malam ini Arman sedang berada dalam kamarnya dan mengotak-ngatik laptopnya.
"Kurang ajar, jadi dua manusia iblis itu diam-diam sudah memindahkan uang perusahaan ke dalam rekening pribadi mereka," geram Arman.
Arman memang anak berandalan, tapi Arman bukan anak yang bodoh. Kepintaran Papanya menurun kepada Arman, jiwa bisnisnya pun mengalir di darah Arman.
Secara diam-diam Arman meminta asisten pribadi Papanya untuk mengajarinya bisnis dan asisten pribadi Papanya saat ini bekerjasama dengan Arman.
"Tunggu saja hari kehancuran kalian, brengsek berani sekali kalian mencuri uang Papaku dan berniat merebut perusahaan dariku, jangan mimpi," geram Arman.
Sementara itu, Zee baru saja selesai teleponan dengan Biru. Zee ingin tahu keadaan Biru dan memastikan kalau Biru baik-baik saja.
"Ya Allah kenapa aku harus dipertemukan dengan laki-laki gila seperti dia, apa yang harus aku lakukan supaya dia berhenti mengganggu hidupku," gumam Zee.
Keesokan harinya...
Zee membuat sarapan dengan tidak bersemangat, semenjak Arman mengancamnya kemarin, dunia Zee seolah berubah dan Zee benar-benar merasa terkekang.
Tiba-tiba ponsel Zee berbunyi membuyarkan lamunannya. Zee mengerutkan keningnya karena yang menghubunginya merupakan nomor yang tidak dikenal.
"Siapa ini?" batin Zee.
Zee merasa tidak kenal, akhirnya Zee pun memutuskan untuk tidak mengangkatnya tapi beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berbunyi dan tertera nomor yang sama.
Setelah berpikir panjang, dengan ragu-ragu Zee pun mengangkat telepon itu.
📞"Ha-halo!"
📞"Kenapa kamu tidak mengangkat telepon dariku?"
Zee mengerutkan keningnya, dia kenal dengan suara itu.
__ADS_1
📞"Da-dari mana kamu tahu nomor ponselku?" tanya Zee gugup.
📞"Jangankan nomor ponselmu, kehidupan kamu pun aku sudah tahu semuanya jadi jangan pernah kamu macam-macam kepadaku. Buatkan aku sarapan dan jangan lupa, tunggu aku di depan karena aku akan menjemputmu," seru Arman.
Sambungan telepon pun terputus, Zee hanya bisa terdiam.
"Astagfirullah."
Zee benar-benar ketakutan, dia sangat membenci Arman tapi dia juga takut kalau melawan Arman, orang-orang yang dia sayangi akan terluka karena Zee tahu kalau Arman orangnya nekad.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ayah Hendar.
"Astagfirullah Ayah, ngagetin saja."
"Kamu kenapa? wajah kamu pucat seperti itu, apa kamu sakit?" tanya Ayah Hendar dengan memegang kening Zee.
"Zee, tidak apa-apa kok Yah. Sarapannya sudah siap, lebih baik sekarang Ayah sarapan dulu."
Zee mulai membuat lagi nasi goreng untuk Arman.
"Loh, kamu bikin sarapan buat siapa lagi? ini sudah banyak."
"Ah ini, buat bekal Zee ke kampus soalnya Zee suka lapar, Yah," dusta Zee.
"Oh."
Zee itu mirip sekali dengan Mamanya, suka dengan bunga bahkan disaat suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, dia akan langsung bahagia kalau melihat bunga-bunga kesayangannya itu.
Zee tidak sadar kalau dari kejauhan, Arman sudah datang dan memperhatikan Zee dengan senyuman yang terukir di wajah tampannya.
"Kamu sama bunga itu sama-sama cantik, Zee. Baru pertama kali ini aku jatuh cinta kepada seorang gadis dan itu sama kamu," batin Arman.
Arman mengambil foto Zee secara diam-diam, Arman benar-benar sangat mencintai Zee walaupun baru bertemu tapi Arman tidak mau sampai kehilangan gadis cantik itu.
Zee melihat jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya, ternyata sudah siang. Zee dengan cepat masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil tasnya.
"Aku lihat dia belum datang, lebih baik sekarang aku cepat-cepat berangkat naik angkot saja," gumam Zee dengan memasukan kotak bekal untuk Arman ke dalam tasnya.
"Ayah, Zee berangkat dulu ya."
"Iya, sayang."
Zee mencium punggung tangan Ayah Hendar, dia terburu-buru sekali hendak pergi ke tempat pemberhentian angkot tapi Zee terkejut saat motor Arman langsung berhenti di depannya.
"Mau ke mana? kamu mau kabur?" seru Arman.
Zee membelalakkan matanya, bahkan saat ini untuk menelan salivanya saja terasa sangat sulit untuk Zee.
__ADS_1
"Ayo, naik."
Belum sempat Zee menjawab, Arman sudah memakaikan helm ke kepala Zee. Jantung Zee benar-benar berpacu dengan sangat cepat.
Setelah selesai, Zee masih berdiri mematung membuat Arman merasa sedikit kesal.
"Ayo, naik."
"Ah, i-iya."
Perlahan Zee pun mulai naik ke atas motor Arman, Arman menarik kedua tangan Zee supaya memeluk perutnya. Jantung Zee semakin tak terkendali, sungguh saat ini Zee merasa tertekan.
"Apa kamu membuatkan aku sarapan?" tanya Arman disela-sela perjalanannya.
"I-iya."
Arman yang biasa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, kali ini terlihat santai karena Arman ingin berlama-lama bersama Zee.
Setelah beberapa saat, motor Arman pun sampai di kampus. Hampir semua mahasiswa melihat ke arah Arman dan Zee.
"Kita duduk di taman dulu, aku sangat lapar," seru Arman.
Zee hanya bisa pasrah mengikuti semua keinginan Arman. Mereka duduk di bangku taman, lalu Zee mengeluarkan kotak bekal dan menyerahkannya kepada Arman.
"Ini nasi goreng buatan ku, maaf kalau tidak enak," seru Zee gugup.
"Buka, dan suapi aku."
"Hah."
Zee melongo mendengar ucapan Arman.
"Kenapa aku selalu harus berkata dua kali sih, apa kamu tidak bisa mendengar apa yang aku katakan?" kesal Arman.
"Ah, i-iya maaf."
Perlahan Zee membuka kotak bekalnya, Zee mulai menyuapi Arman sedangkan Arman sibuk dengan ponselnya. Zee memperhatikan wajah Arman yang terlihat serius itu.
"Laki-laki ini sangat tampan, tapi kenapa kelakuannya sungguh menakutkan," batin Zee.
Arman menoleh ke arah Zee yang saat ini sedang melihatnya, untuk sesaat kedua pasang mata itu bertemu hingga beberapa saat kemudian, Arman meniup wajah Zee membuat Zee tersadar dari lamunannya.
"Malah melamun."
"Ma-af."
Zee dengan cepat kembali menyuapi Arman, Zee benar-benar tidak bisa berkutik sama sekali saat ini.
__ADS_1