
Biru melihat dari kejauhan kalau Zee menyuapi Arman.
"Kurang ajar, si Arman memang keterlaluan membuat Zee merasa terkekang seperti itu," geram Biru.
Arman makan dengan lahapnya dan tidak membutuhkan waktu lama, nasi goreng buatan Zee sudah habis dalam seketika.
"Kamu pintar juga membuat nasi goreng, enak," seru Arman.
Zee hanya bisa tersenyum dipaksakan, walaupun Arman tampan tetap saja Arman terkenal anak geng motor dan Zee sangat takut kepada Arman.
Setelah kenyang, Arman pun bangkit dari duduknya dan menarik tangan Zee untuk masuk ke dalam kelas. Lagi-lagi semua orang melihat ke arah mereka berdua.
"Astaga, apa anak baru itu pacarnya Arman?"
"Bahaya sekali, kita gak boleh macam-macam dengan perempuan itu soalnya bodyguardnya Arman."
Begitulah celetukan-celetukan mahasiswa yang sekilas terdengar oleh Zee dan Zee semakin pasrah karena sudah pasti tidak akan ada yang mau berteman dengannya karena takut kepada Arman.
"Nanti pulang kuliah antar aku ke suatu tempat," seru Arman saat sudah duduk di kelas.
"Tidak bisa, aku harus menjaga toko bunga aku," sahut Zee dengan menundukkan kepalanya.
"Memangnya sepulang kuliah berapa bunga yang laku? nanti aku ganti semuanya."
Zee kembali terdiam. "Memangnya mau antar ke mana?" tanya Zee ragu-ragu.
"Pokoknya antar aku ke suatu tempat."
Zee memilih diam saja, dia sudah tidak berani bertanya lagi. Zee sangat bingung dengan sifat Arman yang berubah-ubah, kadang baik dan manis, tapi kadang menakutkan juga.
Zee mendapatkan pesan dari Biru dan Zee membukanya dengan sembunyi-sembunyi.
✉️"Aku tunggu kamu di samping toilet, sekarang."
Zee menoleh ke arah Arman dan Arman terlihat sedang serius dengan buku dan pensilnya, entah apa yang sedang Arman lakukan.
Zee bangkit dari duduknya membuat Arman seketika menoleh ke arah Zee. "Mau ke mana kamu?"
__ADS_1
"Aku mau ke toilet sebentar."
"Aku antar."
Arman hendak bangkit tapi Zee segera menahannya.
"Jangan, aku bisa pergi sendiri. Lagipula, aku sedang sakit perut gak enak kalau kamu ikut aku ke toilet."
"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa segera hubungi aku."
"Iya."
Zee pun segera berlari keluar kelas, Zee seakan bebas. Duduk di samping Arman membuat Zee merasa tertekan dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Zee segera berlari menuju toilet, dan ternyata Biru sudah menunggu di sana.
"Biru, ada apa kamu menyuruhku ke sini?" tanya Zee.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertemu saja denganmu karena semenjak kamu dekat dengan si Arman itu, aku susah sekali bisa ngobrol denganmu seperti ini."
"Iya Bir, hidup aku juga seakan tertekan dan setiap saat merasa diawasi sungguh aku merasa tidak nyaman."
"Sepertinya tidak, memangnya kenapa?"
"Aku mau ngajak kamu jalan-jalan."
"Hah, serius?"
"Serius lah, sejak kapan aku berbohong sama kamu."
"Oke, jam berapa kamu jemput aku?"
"Jam 19.00 saja."
"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya."
Biru menganggukkan kepalanya dan Zee dengan cepat berlari menuju kelas. Zee melihat ke arah Arman yang masih sibuk dengan buku dan pensilnya, samar-samar Zee melihat kalau Arman sedang melukis sesuatu tapi Zee tidak tahu apa yang dilukis Arman.
__ADS_1
Arman seperti anak yang bodoh tidak pernah mendengar pelajaran yang dijelaskan oleh dosen, tapi siapa sangka kalau Arman mempunyai otak yang genius.
Dia mampu menangkap semua pelajaran, maka dari itu walaupun Arman di cap sebagai anak berandalan, pihak kampus tidak ada yang bisa menegur Arman. Selain Arman putra dari donatur tetap kampus itu, Arman juga mempunyai otak yang pintar dan tidak ada alasan untuk pihak kampus menegur Arman.
2 jam pun berlalu, mata pelajaran hari ini sudah selesai dan Arman dengan cepat membereskan alat-alat tulisnya. Lalu mengulurkan tangan ke arah Zee.
"Ayo kita pergi."
Perlahan Zee membalas uluran tangan Arman, keduanya keluar dari dalam kelas dengan bergandengan tangan.
Arman memakaikan helm kepada Zee, Zee hanya bisa diam saja. Dia sudah tidak berani banyak bertanya kepada Arman, Zee sudah pasrah dan mengikuti Arman ke mana pun Arman akan membawanya karena perasaan Zee mengatakan kalau Arman tidak akan berbuat jahat kepadanya.
Arman mulai melajukan motornya, hingga tidak lama kemudian motor Arman sampai di sebuah rumah sakit dan lagi-lagi membuat Zee mengerutkan keningnya merasa bingung.
"Rumah sakit, siapa yang sakit?" batin Zee.
Arman berjalan duluan, Zee berlari kecil untuk menyusul langkah lebar Arman. Setelah mengikuti Arman dari belakang, tibalah mereka di sebuah ruangan dokter.
"Dr.Amanda SpKJ, ini bukannya dokter spesialis kedokteran jiwa? ngapain Arman ke sini?" batin Zee.
"Ayo ikut masuk," ajak Arman.
"Ah, iya."
Arman dan Zee pun masuk. "Selamat datang Arman, apakabar?" sapa Dr.Amanda ramah.
"Kabar baik dokter."
"Wah, bawa siapa ini? cantik sekali."
"Dia Zee, pacar aku."
"Astaga, sudah punya pacar sekarang kamu? hebat ternyata sudah ada kemajuan sekarang, kamu mulai tertarik dengan seorang gadis," goda Dr.Amanda.
"Aku bukan pencinta sesama jenis, dok," sahut Arman dingin.
Arman memang tidak bisa diajak bercanda, bawaanya harus serius. Sementara itu, Zee masih belum mengerti untuk apa Arman pergi ke Psikiater.
__ADS_1
"Apa dia punya penyakit kejiwaan? kenapa dia datang ke Psikiater seperti ini?" batin Zee.
Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di pikiran Zee, ternyata dibalik sikapnya yang sok jagoan itu ada sesuatu yang Arman sembunyikan dan Zee sangat penasaran dengan semua itu.