
Pak Bimo sudah mulai putus asa, karena tidak ada satu pun orang yang lewat.
"Ya Allah, bagaimana ini? mustahil sekali ada orang di dalam hutan seperti ini," gumam Pak Bimo frustasi.
Pak Bimo mengambil air dari sungai itu ke dalam daun yang dia buat sendiri, lalu memasukan air itu ke dalam mulut Armand berharap Armand akan bangun.
"Bertahanlah Mas, jangan sampai Mas Armand meninggal karena semua barang bukti Mas Armand yang tahu dan kita akan jebloskan mereka ke dalam penjara."
Pak Bimo melihat luka tembak Armand di dada sebelah kanan. Pak Bimo tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya diam terduduk di samping Armand sembari sesekali memeriksa keadaan Armand.
Hari sudah semakin siang dan matahari pun sudah sangat terik, tidak terasa Pak Bimo sampai ketiduran.
"Pak, itu ada orang," seru seorang perempuan.
"Mana?"
"Itu."
"Astagfirullah, mereka kenapa? ayo kita hampiri mereka."
Anak perempuan seumuran Armand dan seorang Bapak-bapak segera menghampiri Pak Bimo dan Armand.
"Mas, Mas sedang apa di sini?" tanya Bapak-bapak itu.
Pak Bimo tersentak dan segera bangun saking kagetnya.
"Ya Allah, kalian sedang apa di hutan seperti ini?"
"Alhamdulillah, akhirnya ada orang juga. Nanti saya ceritakan, yang terpenting sekarang bisakah kalian menolong kami? apalagi anak Bos saya saat ini sedang sekarat, habis kena tembakan," sahut Pak Bimo dengan mata yang berbinar-binar.
"Bagaimana ini, Nur?"
"Bawa saja ke rumah kita Pak, kasihan."
"Ya sudah, kita bawa Mas ini ke rumah. Nur, kamu pulang duluan dan beritahu warga untuk menolong Bapak."
__ADS_1
"Baik, Pak."
Perempuan yang bernama Nur itu segera pergi, Nur dan Pak Amir saat itu sedang mencari kayu bakar dan berbagai macam sayur-sayuran yang bisa di makan.
Tidak jauh dari hutan itu ada sebuah perkampungan, namun perkampungan itu terisolir karena jauh dari mana-mana. Bahkan, jumlah warga di sana hanya 20 kepala keluarga dan untuk bertahan hidup mereka mengandalkan hutan itu untuk mencari makanan.
Tidak membutuhkan waktu lama, bantuan pun datang dan Armand di bawa ke kampung mereka. Armand di bawa ke rumah Pak Amir dan Nur.
"Pak, bagaimana ini? sepertinya Mas ini mengalami luka tembak," seru Nur khawatir.
"Iya Mba, Mas Armand memang terkena luka tembak," sahut Pak Bimo.
"Nur, kamu panggil Mbah Darmo dia bisa mengeluarkan peluru dari dadanya Mas ini," seru Pak Amir.
Nur segera berlari dan memanggil Mbah Darmo. Mbah Darmo adalah tetua di kampung itu dan ia pun bisa mengobati luka tanpa harus operasi hanya dengan daun-daunan obat dan minyak khusus yang dia buat sendiri.
Tidak lama kemudian, Mbah Darmo pun datang dan memeriksa keadaan Armand.
"Kalian semua keluar, saya akan mengeluarkan pelurunya dulu," seru Mbah Darmo.
"Bapak jangan khawatir, Mas yang di dalam pasti akan sembuh karena Mbah Darmo bisa menyembuhkannya," seru Nur.
"Amin, mudah-mudahan saja," sahut Pak Bimo.
Setelah dua jam menunggu, akhirnya Mbah Darmo pun keluar.
"Bagaimana, Mbah?" tanya Pak Bimo.
"Pelurunya sudah saya keluarkan, sekarang tinggal menunggu dia siuman saja."
"Terima kasih ya, Mbah."
"Sama-sama, kalau begitu saya pergi dulu."
Pak Bimo, Pak Amir, dan Nur segera masuk ke dalam rumah. Terlihat dada Armand di berikan daun-daunan dan di ikat oleh kain supaya daun-daunan itu tidak jatuh.
__ADS_1
"Nur, kamu masak sana kasihan sepertinya mereka sangat kelaparan."
"Baik, Pak."
Pak Bimo dan Pak Amir duduk di samping Armand.
"Sebenarnya kalian dari mana? dan kenapa sampai ada di hutan seperti itu?" tanya Pak Amir.
Pak Bimo akhirnya menceritakan apa yang sudah dia dan Armand alami, membuat Pak Amir sampai terkejut.
"Ternyata, masih banyak juga ya orang jahat yang seperti itu."
"Iya, maka dari itu apa kita berdua boleh tinggal dulu di sini untuk sementara? setidaknya sampai kondisi Mas Armand benar-benar sudah membaik," seru Pak Bimo.
"Kalian boleh tinggal di sini sampai kapan pun, cuma ya keadaannya seperti ini harus makan seadanya dan tidur pun hanya di atas tikar seperti ini," sahut Pak Amir.
"Tidak apa-apa Pak, kita sangat bersyukur bisa selamat dan diberi tempat tinggal seperti ini."
***
Biru mengantarkan Zee pulang, selama dalam perjalanan Zee tidak mau bicara sama sekali bahkan Zee tidak sudi memandang wajah Biru yang sok baik itu.
"Ingat Zee, mulai sekarang kamu adalah milikku dan kamu jangan pernah macam-macam sama aku," seru Biru.
Zee hanya menyunggingkan senyuman sinisnya tanpa mau menjawab ucapan Biru.
Hingga tidak lama kemudian, mobil Biru pun sampai di depan rumah Zee. Zee langsung keluar dari mobil Biru tanpa bicara sepatah kata pun dan segera masuk ke dalam rumahnya.
"Nak Biru, apa tidak mau mampir dulu?" seru Ayah Hendar.
"Tidak usah Om, aku harus segera ke rumah sakit."
"Ya sudah, terima kasih ya Nak, karena sudah mengantarkan Zee pulang."
"Iya Om."
__ADS_1
Biru mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Zee, Ayah Biru sangat senang kalau Zee bisa berhubungan dengan Biru karena Ayah Hendar tidak tahu siapa Biru yang sebenarnya.