CINTA GILA SANG GENGSTER

CINTA GILA SANG GENGSTER
Bab 28 Mengumpulkan Bukti


__ADS_3

Pak Bimo dan Anto memang saat ini sedang bekerja keras mengumpulkan bukti-bukti yang disuruh oleh Armand. Bahkan Anto dan kawan-kawannya sudah mempunyai bukti akurat, kalau Biru dan Geng Tigernya bekerjasama dengan seseorang mendirikan usaha judi online berkedok game online dan sudah banyak sekali korban dari game online itu.


Biru mengiming-imingi mereka dengan penghasilan yang sangat besar dalam waktu singkat dan si korban harus mentransfer terlebih dahulu sejumlah uang katanya untuk biaya admin dan setelah sekali, dua kali, Biru akan memberikan uang itu dua kali lipat sebagai pembuktian dan untuk selanjutnya baru Biru akan menarik uang lebih besar lagi dari korban.


"Kali ini kita akan berhasil memenjarakan si Biru dan Geng Tigernya," seru Anto.


"Urusan Biru selesai, sekarang tinggal giliran aku mencari bukti mengenai kecurangan Paras dan juga Venna, supaya Mas Armand nanti bisa membuat mereka semua masuk penjara," seru Pak Bimo.


Pak Bimo memang secara diam-diam menyuruh salah satu karyawan di kantor untuk melaporkan semua apa pun yang dilakukan oleh Paras.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tinggal satu Minggu lagi acara pernikahan Zee dan Biru. Selama ini Armand dan Pak Bimo berkomunikasi lewat surat yang dititipkan kepada orang kampung yang pergi ke kota.


"Sial, tinggal satu Minggu lagi. Awas kalian, aku tidak akan pernah melepaskan kalian semua," geram Armand.


Sementara itu di kediaman Papa Yongki, semenjak Bu Sukma tahu kalau obat itu adalah obat keras, Bi Sukma selalu membuang obat yang diberikan Mama Venna dan sekarang perlahan ingatan Papa Yongki mulai ada.


Sekarang Papa Yongki sudah mulai ingat namanya sendiri dan sering menanyakan keberadaan Armand kepada Bi Sukma.


"Bi Sukma!" teriak Mama Venna.


"Iya, Nyonya ada apa?"


"Tolong bawa barang belanjaan aku ke kamar dan simpan di sana."


"Baik Nyonya."


Bi Sukma mengambil beberapa paper bag berisi barang-barang branded, setiap hari Mama Venna memang menghabiskan waktu dengan shopping dan jalan-jalan.


"Ah, sungguh indah sekali hidupku ini, bergelimang harta dan bisa membeli apa pun yang aku mau," seru Mama Venna dengan mendudukkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


"Armand mana?"


Mama Venna tersentak, dia langsung menoleh ke belakang dan terlihat di sana Papa Yongki sedang menatapnya.


"Kenapa dia bisa ingat Armand?" batin Mama Venna kaget.


"Kenapa diam? aku tanya kepadamu, dimana Armand?" ulang Papa Yongki.


"A-armand masih kuliah," dusta Mama Venna.


Mama Venna benar-benar sangat kaget, padahal setiap hari dia masih memberikan obat itu kepada Papa Yongki, tapi kenapa sekarang Papa Yongki ingat kepada Armand.


Mama Venna menghampiri Papa Yongki dan berusaha bersikap biasa-biasa saja supaya Papa Yongki tidak curiga.


"Kenapa Papa nanyain Armand? tidak biasanya," seru Mama Venna dengan merangkul lengan Papa Yongki.


Papa Yongki melepaskan tangan Mama Venna membuat Mama Venna semakin panik dibuatnya.


Mama Venna semakin dibuat panik. "Ada apa ini sebenarnya? dia ingat kepada Armand, tapi dia masih lupa sama aku," batin Mama Venna.


Tidak lama kemudian, Bi Sukma pun menuruni anak tangga.


"Bi, Armand mana? dan siapa wanita ini? kenapa dia ada di sini?"


Bi Sukma sangat bingung harus menjawab apa.


"Aku Venna, Pa. Istrimu," sahut Mama Venna.


"Apa, istri? istri aku sudah meninggal, kamu jangan macam-macam."

__ADS_1


"Astaga Pa, serius kita sudah menikah. Kalau tidak percaya, Papa bisa tanyakan kepada Bi Sukma."


Bi Sukma bukannya mau menjelaskan, dia justru menundukkan kepalanya membuat Mama Venna merasa sangat kesal.


"Aku sama sekali tidak mengenal kamu, jadi lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!" bentak Papa Yongki.


"Pa, aku ini istrimu."


"Cepat pergi dari sini, atau aku telepon polisi sekarang juga untuk mengusir kamu!" sentak Papa Yongki.


Mama Venna kaget, dia pun dengan cepat pergi dari rumah itu. Mama Venna sangat kesal, dia pun segera menghentikan taksi dan pergi menuju kantor untuk menemui anaknya Paras.


Tidak membutuhkan waktu lama, Mama Venna pun sampai di kantor dan dengan cepat menuju ruangan Paras.


"Paras, gawat ini benar-benar gawat."


"Mama kenapa sih, datang-datang panik seperti ini? ayo duduk dan tenangkan diri dulu," seru Paras.


"Bagaimana Mama bisa tenang, si tua bangka itu sudah ingat Armand tapi dia sama sekali tidak ingat Mama dan barusan Mama diusir dari rumah."


"Apa? kok bisa?"


"Mama juga tidak tahu Paras, kenapa dia bisa ingat Armand padahal Mama tidak pernah lupa selalu memberinya obat setiap hari."


"Bahaya kalau si tua Bangka itu sudah mulai ingat, kita berdua bisa-bisa masuk penjara," sahut Paras.


"Tidak Paras, Mama tidak mau masuk penjara," seru Mama Venna frustasi.


Paras mondar-mandir di dalam ruangannya. "Tenang Ma, kita tidak akan masuk penjara karena Armand dan Pak Bimo sudah mati. Masalah si tua bangka, biar Paras yang urus. Paras akan membuat dia menyusul anaknya," seru Paras dengan senyumannya.

__ADS_1


"Minta bantuan kepada Biru, biar lebih cepat," seru Mama Venna.


Paras dan Mama Venna tahu kalau Biru adalah musuh bebuyutan Armand, lalu Paras mencari tahu tentang Biru dan ternyata Biru adalah salah satu ketua Gengster. Hingga akhirnya Paras memutuskan bekerja sama dengan Biru, yaitu menyingkirkan Armand.


__ADS_2