CINTA GILA SANG GENGSTER

CINTA GILA SANG GENGSTER
Bab 18 Butuh Penyemangat


__ADS_3

Armand menghentikan motornya di sebuah danau buatan.


"Wow, indah sekali," seru Zee.


Armand melangkahkan kakinya dan duduk di pinggiran danau dengan beralaskan rumput, begitu pun Zee yang ikut duduk di samping Armand.


"Kamu sering datang ke sini?" tanya Zee.


"Sering, sangat sering bahkan kalau danau itu bisa bicara, mungkin dia akan mengeluh karena bosan melihat wajahku di sini," sahut Armand.


Zee tersenyum. "Kamu suka ngapain ke sini?"


"Curhat."


"Hah, curhat?" seru Zee mengerutkan keningnya.


"Iya, aku gak punya teman dan keluarga yang bisa diajak bercerita jadi aku selalu datang ke sini dan menumpahkan semua yang sedang aku rasakan di sini dan itu akan membuatku sedikit lega dengan beban yang sedang aku tanggung saat ini," sahut Armand dengan tatapannya yang lurus ke depan.


"Bukannya kamu anak orang kaya? memangnya kamu punya beban apa?" tanya Zee.


"Memangnya kamu pikir, anak orang kaya tidak punya beban? justru orang kaya itu bebannya sangat banyak."


"Armand, apa aku boleh bertanya?"


"Mau tanya apa?"


"Kenapa kamu gabung sama geng motor gitu? bahkan semua orang mengenal kamu sebagai ketua geng motor yang sangat disegani, apa kamu tidak takut di cap sebagai anak berandalan?"


"Bukannya aku sudah disebut anak berandalan? bahkan Ayah kamu juga menyebut aku seperti itu, kan? asalkan kamu tahu, semua orang yang tidak mengenal aku hanya akan mencibir dan menghina aku tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku tumbuh tanpa kasih sayang dari siapa pun, aku dibesarkan oleh siksaan yang membuat aku mencari kesenangan di luar."


Zee memperhatikan Armand, sedangkan Armand masih menatap danau itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Maaf, siapa yang membuat kamu menjadi trauma seperti ini?" tanya Zee.


Sebenarnya Zee sudah tahu semuanya dari Dr.Amanda tapi Zee ingin mendengarnya langsung dari mulut Armand sendiri.


"Mama dan saudara tiri aku."


"Mama kandung kamu ke mana?"


"Mama aku meninggal saat melahirkan aku dan satu tahun paska meninggal, Papa menikah lagi dengan wanita itu yang tidak lain adalah sekertaris Papa aku di kantor. Coba kamu bayangkan, anak sekecil itu selalu mendapatkan penyiksaan terus menerus setiap hari tanpa belas kasihan dan rasa ampun. Bahkan aku sering di kunci di kamar mandi dalam kondisi lampu dimatikan dan hanya terdengar suara cicak, maka dari itu aku merasakan trauma berat. Kalau aku berada di ruangan yang gelap, entah kenapa tubuh aku seakan bereaksi dan bayangan-bayangan penyiksaan waktu kecil selalu muncul dibenakku."


Armand menghela napasnya, sungguh dia ingin sekali sembuh dari rasa traumanya.


"Kamu tahu Zee, setiap orang bisa berdamai dengan lukanya tapi tidak semua orang bisa berdamai dengan trauma. Trauma itu bagaikan kecelakaan hebat, mungkin ia akan sembuh tapi ia akan cacat seumur hidupnya," sambung Armand.


"Kamu jangan berkata seperti itu, kamu harus punya semangat untuk sembuh."


"Aku akan sembuh jika ada seseorang yang bisa menemaniku dan memberiku semangat, karena dukungan dari orang-orang yang aku sayangi sangat membantu akan kesembuhan ku. Namun sayangnya, saat ini aku sama sekali tidak mempunyai seseorang yang mau menemaniku."


Armand menoleh ke arah Zee, Armand menyunggingkan senyumannya untuk pertama kalinya.


"Apa kamu serius, mau menemaniku? karena di dunia ini tidak ada satu orang pun yang aku percaya selain dirimu, Zee. Meskipun aku baru beberapa hari bertemu denganmu, tapi aku merasakan kalau kamu adalah orang yang bisa aku percaya. Jadi, kalau sampai kamu mengkhianatiku sekali saja, entah apa yang akan terjadi kepadaku."


Zee menyentuh pipi Armand. "Aku janji akan selalu menemanimu, tapi kamu juga harus janji kalau kamu harus semangat dan harus sembuh."


Armand menganggukkan kepalanya, Zee menyandarkan kepalanya di pundak Armand dan keduanya menatap lurus ke depan.


"Aku berjanji sama kamu Zee, ketika traumaku sudah sembuh, maka akan aku cintai kamu dengan hebat karena kamu sudah mampu menyembuhkanku dan kamu juga sudah menjadi kekuatanku selama ini," seru Armand.


Zee tampak tersenyum, Zee benar-benar merasa kali ini jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Dan Zee juga sudah mulai merasa nyaman berada dekat dengan Armand.


Tidak lama kemudian, ponsel Zee berbunyi dan tertera nama Ayahnya di sana. Zee segera mengangkat telepon dari Ayahnya itu dan ternyata Ayah Hendar menyuruh Zee untuk segera pulang.

__ADS_1


"Kenapa? pasti Ayah kamu menyuruh kamu pulang, kan?" seru Armand.


"Iya."


"Ya sudah, sekarang aku antar kamu pulang."


Armand dan Zee pun memutuskan untuk pulang, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya motor Armand sampai di depan rumah Zee.


Seperti biasa, Ayah Hendar tidak pernah menunjukan senyumannya yang ada Ayah Herman selalu menunjukan raut wajah yang tidak suka kepada Armand.


"Aku pulang dulu."


"Iya, kamu hati-hati, ya."


Armand pun langsung meninggalkan rumah Zee tanpa menyapa Ayah Hendar sama sekali, dan itu membuat Ayah Hendar semakin geram.


"Zee, kamu lihat kan, dia sama sekali tidak punya sopan santun, masa Ayah berdiri di sini dia sama sekali tidak menyapa Ayah? berarti dia menganggap Ayah seperti patung dong," geram Ayah Hendar.


"Ayah kenapa sih jadi rewel seperti itu? Di sapa salah, tidak disapa salah juga, memangnya kalau Armand menyapa Ayah, Ayah akan menjawabnya? pasti tidak kan?" seru Zee.


"Apa yang sudah anak berandalan itu katakan? kenapa sikap kamu jadi berubah seperti ini?"


"Ayah, Armand tidak pernah mengatakan apa-apa. Hanya penampilan dan pergaulannya saja yang seperti berandalan tapi Armand anak yang baik kok."


"Baik bagaimana? yang namanya anak geng motor, ya pasti berandalan dan selalu membuat ulah. Pokoknya Ayah tidak setuju kalau kamu dekat-dekat dengan anak itu!" sentak Ayah Hendar.


Zee merasa kesal, dia pun memilih untuk pergi dari sana. Zee paling malas kalau sudah bertengkar dengan Ayahnya.


"Anak berandalan itu sungguh sudah membuat Zee berani melawan kepada Ayahnya sendiri, padahal dulu Zee adalah anak yang manis dan penurut," kesal Ayah Hendar.


Sebenarnya Ayah Hendar mendapat kabar dari Biru kalau Zee sedang bersama Armand, dan Biru menyuruh Ayah Hendar untuk menyuruh Zee pulang.

__ADS_1


__ADS_2