CINTA GILA SANG GENGSTER

CINTA GILA SANG GENGSTER
Bab 27 Menemui Bi Sukma


__ADS_3

Setelah sampai di kota, Pak Bimo langsung menuju basecamp geng Armand. Pak Bimo langsung masuk ke dalam basecamp dan di sana Anto dan kawan-kawannya seperti biasa sedang duduk-duduk sembari ngopi.


"Siapa kamu?" seru Anto dengan tatapan tajamnya.


Semua kawan-kawan Anto ikut berdiri dan menghampiri Pak Bimo.


"Tenang dulu, aku bukan musuh kalian. Ini ada surat untukmu," seru Pak Bimo.


Pak Bimo menyerahkan selembaran kertas yang memang ditulis oleh Armand untuk Anto, dengan cepat Anto mengambil kertas itu dan membacanya.


"Jadi kamu orang suruhan si Bos?" tanya Armand.


"Iya, bantu aku untuk melakukan penyamaran karena untuk saat ini aku tidak mungkin kalau harus pulang ke rumah karena orang-orang suruhan mereka akan menemukanku," seru Pak Bimo.


"Baiklah, kamu bisa tinggal di sini."


Penampilan Pak Bimo saat ini sangatlah jauh berbeda, Pak Bimo yang biasanya tampil rapi dengan rambut klimisnya, sekarang dia tampil dengan rambut yang sedikit gondrong dan kumis.


Pak Bimo sengaja tidak mencukur kumisnya untuk menyempurnakan penyamarannya.


"Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Anto.


Pak Bimo menyuruh semuanya untuk berkumpul dan mencari solusi serta strategi untuk melawan Biru dan Paras.


Sore ini Pak Bimo meminta Anto untuk mengantarkannya ke rumah Armand, hal yang harus Pak Bimo lakukan adalah bertemu dengan Bi Sukma dan memberitahukan kalau dia harus menghentikan pemberian obat untuk Papa Yongki.


Pak Bimo dan Anto, menunggu di seberang rumah Armand berharap Bi Sukma keluar.


"Kita sudah satu jam di sini Pak, tapi Bi Sukma belum keluar juga," seru Anto.


"Tunggu sebentar lagi."

__ADS_1


Dan benar saja, tidak lama kemudian Bi Sukma pun keluar dengan membawa kantong sampah sepertinya Bi Sukma akan membuang sampah.


"Kamu tunggu di sini, biar aku yang ke sana," seru Pak Bimo.


"Baik, Pak Bimo hati-hati."


"Oke."


Pak Bimo mulai mengikuti Bi Sukma, membuat Bi Sukma ketakutan.


"Ya Allah, siapa orang itu? kenapa dia mengikuti aku?" batin Bi Sukma ketakutan.


Langkah Bi Sukma semakin cepat, begitu pun dengan Pak Bimo. Hingga Bi Sukma pun membuang sampah itu dan membalikan tubuhnya, betapa terkejutnya Bi Sukma dan dia hampir saja berteriak tapi Pak Bimo dengan cepat membekap mulut Bi Sukma dan membawa Bi Sukma ke tempat sepi.


Tentu saja Bi Sukma berontak. "Bi, aku mohon tenanglah. Aku Bimo, asistennya Pak Yongki," seru Pak Bimo.


Bi Sukma terdiam dan setelah merasa tenang, Pak Bimo pun melepaskan bekapannya.


"Iya, Bi."


Pak Bimo melepaskan kupluk jaket yang dia pakai dan itu membuat Bi Sukma menutup mulutnya sendiri karena merasa kaget.


"Kenapa penampilan kamu seperti ini, Bimo? bukannya kamu dan Mas Armand sudah meninggal?" tanya Bi Sukma kaget.


"Ceritanya panjang Bi, aku dan Mas Armand memang dibunuh oleh Paras dan Venna tapi Alhamdulillah kita berdua selamat."


"Astagfirullah, jahat sekali mereka. Terus sekarang Mas Armand ada di mana?"


"Bibi tenang saja, Armand sekarang berada di suatu tempat nanti kalau waktunya sudah tepat, dia akan muncul dengan sendirinya. Sekarang aku ada di sini karena aku mau memberitahukan kepada Bibi, kalau obat kolestrol yang diberikan Venna kepada Pak Yongki adalah obat keras yang akan mengakibatkan orang yang meminumnya mengalami amnesia."


"Ya Allah, pantas saja Pak Yongki lupa semuanya ternyata itu akibat dari obat yang diminumnya," sahut Bi Sukma kaget.

__ADS_1


"Iya, jadi sebisa mungkin setiap Venna memberikan obat untuk Pak Yongki, Bibi harusnya membuangnya dan usahakan supaya obat itu tidak masuk lagi ke dalam tubuh Pak Yongki."


"Baiklah, Bibi akan usahakan."


"Kalau begitu, aku pergi dulu Bi. Jangan sampai ada yang tahu kalau aku dan Mas Armand masih hidup."


"Baik, Bimo."


Pak Bimo pun kembali memakai kupluk Hoodienya dan segera pergi dari sana, sedangkan Bi Sukma masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ternyata selama ini, memang Paras dan Venna yang menjadi biang keroknya.


Sementara itu di rumah Zee, Zee tampak melamun dan sedih karena bulan depan dia harus menikah dengan Biru.


"Aku yakin kamu masih hidup Armand, jadi kembalilah dan selamatkan aku dari pernikahan yang tidak aku inginkan itu," gumam Zee.


Tiba-tiba pintu kamar Zee terbuka dan Zee dengan cepat menghapus airmatanya.


"Kamu kenapa sedih Nak? seharusnya kamu bahagia karena pada akhirnya kamu akan menikah dengan Biru."


"Zee tidak mau menikah dengan Biru, Ayah."


"Zee, kamu kenapa? apa kamu masih memikirkan anak berandalan itu? seharusnya kamu bahagia karena Biru akan membahagiakan kamu."


"Ayah tidak tahu apa-apa, Zee tidak akan bahagia justru Zee akan menderita jika menikah dengan Biru," seru Zee dengan deraian airmata.


"Kamu memang keras kepala Zee, Biru itu adalah anak orang kaya dan kehidupan kamu ke depannya akan terjamin, beda kalau kamu menikah dengan anak berandalan itu, apa yang akan kamu dapatkan dari dia? pokoknya Ayah tidak mau tahu, kamu harus tetap menikah dengan Biru karena Ayah ingin masa depan kamu itu cerah apalagi saat ini Ayah sudah tua tidak bisa selamanya membahagiakan kamu."


"Tapi, Yah----"


"Ayah tidak mau mendengar alasan lagi, pokoknya pernikahan kamu dan Biru akan tetap terlaksana."


Ayah Hendar pun akhirnya keluar dari kamar Zee, Ayah Hendar tidak tahu kalau Armand jauh lebih kaya daripada Biru. Kali ini Zee tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya menunggu keajaiban saja semoga pernikahan itu tidak terlaksana.

__ADS_1


__ADS_2