
Armand lebih memilih tidak mengejar Zee, Armand dengan cepat keluar dari restoran itu dan menaiki motornya. Tentu saja Anto dan yang lainnya mengikuti Armand.
Armand pergi ke basecamp mereka. "Beli minuman," seru Armand dengan melempar uang kepada anak buahnya.
"Siap, Bos."
Tidak membutuhkan waktu lama, anak buah Armand sudah kembali dengan membawa beberapa botol minuman. Armand mengambil satu botol dan langsung meminumnya.
"Bos, apa perlu kita kasih pelajaran sama pria tadi?" tanya Anto.
Armand tidak menjawab, dia hanya diam saja dengan terus meminum minuman beralkohol itu. Matanya sangat tajam menyiratkan kebencian yang teramat luar biasa.
Setelah Armand menghabiskan satu botol minuman, dia pun bangkit dari duduknya dengan langkah yang sedikit sempoyongan.
"Bos, mau ke mana?" tanya Anto.
"Aku mau pulang."
"Tapi saat ini kondisi Bos sedang tidak baik-baik saja, aku takut terjadi kenapa-napa sama Bos."
Bughh...
Armand memukul Anto. "Kamu menyepelekan aku? meskipun aku mabuk, aku masih bisa mengendalikan motorku!" kesal Armand.
Anto tidak bisa berkata apa-apa lagi, Armand pun langsung menaiki motornya dan pergi meninggalkan basecamp itu.
"Ternyata semua perempuan memang sama, tidak ada yang bisa dipercaya," gumam Armand.
Armand sampai di rumah tepat saat waktu menunjukkan pukul 12 malam, Armand turun dari motornya dan berjalan sempoyongan.
"Buka pintunya!" teriak Armand.
Sekuriti hanya bisa melihat saja tanpa bisa berbuat apa-apa, dia takut karena saat ini Armand sedang terpengaruhi minuman beralkohol daripada nanti dia jadi sasaran, mendingan dia cari aman saja.
__ADS_1
Setelah sekian lama Armand teriak-teriak, pintu rumah pun terbuka. Armand yang sedang bersandar di pintu seketika terjungkal ke lantai.
"Bagus, pulang larut malam dalam keadaan mabuk-mabukan, apa ini yang selama ini kamu lakukan, Armand!" teriak Papa Yongki.
Armand mendongakkan kepalanya dan tersenyum sinis saat melihat Papanya berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang penuh dengan amarah. Sedangkan Mama Venna dan Paras merasa sangat menang karena melihat Papa Yongki mengetahui kelakuan anaknya sendiri.
Papa Yongki baru saja pulang dari Singapura 1 jam yang lalu, dan seperti biasa Mama Venna akan mengadu yang tidak-tidak kepada suaminya itu.
"Ternyata apa yang dikatakan Mamamu benar, kalau selama ini kamu sering pulang larut malam dengan kondisi yang mabuk-mabukan!" bentak Papa Yongki.
Armand bangkit dan berdiri dengan sempoyongan.
"Wanita ini memang hobi melaporkan segala sesuatu tentang keburukan ku, tapi dia tidak pernah mengatakan tentang keburukannya sendiri. Papa harusnya bisa melihat, siapa mereka sebenarnya," seru Armand dengan senyumannya.
Plaaaakkk...
Papa Yongki menampar Armand sampai Armand kembali tersungkur ke lantai.
"Jaga ucapanmu Armand, dia ini sekarang sudah menjadi Mamamu dan Paras adalah Kakakmu jadi kamu harus bisa hormati mereka!" bentak Papa Yongki.
Papa Yongki mengambil sapu dan hendak memukul Armand tapi Bi Sukma dengan cepat berlari dan memeluk Armand.
"Pak jangan Pak, saya mohon jangan pukul Mas Armand," seru Bi Sukma.
"Minggir Bi, biar anak tidak tahu diri ini saya hukum supaya dia bisa menghargai orang yang lebih tua darinya!" sentak Papa Yongki.
"Jangan Pak, biar Bibi saja yang menasehati Mas Armand. Mas, ayo bangun kita ke kamar Mas Armand," seru Bi Sukma dengan membantu Armand berdiri.
Bi Sukma memapah Armand naik ke lantai dua menuju kamarnya, sedangkan Mama Venna dan Paras tampak menyunggingkan senyumannya.
"Dasar, anak kurang ajar," geram Papa Yongki.
"Sudahlah Pa, Armand itu salah bergaul makanya dia menjadi anak yang berandalan dan urakan seperti itu. Makanya Mama tidak pernah melarang Armand karena kalau Mama melarangnya, Armand akan membentak Mama," seru Mama Venna dengan pura-pura sedih.
__ADS_1
Papa Yongki merangkul Mama Venna. "Maafkan Armand ya, Ma."
"Iya Pa, tidak apa-apa kok karena bagaimana pun juga Armand tetap anakku."
"Kamu memang Mama yang baik, Venna."
Mama Venna tersenyum penuh kemenangan. "Mudah sekali membodohi tua bangka ini," batin Mama Venna.
Papa Yongki dan Mama Venna pun masuk ke dalam kamarnya, begitu pun dengan Paras. Berbeda halnya dengan Armand, Bi Sukma segera mengambilkan air hangat ke dalam baskom, lalu mengompres sudut bibir Armand yang tampak berdarah akibat tamparan Papanya yang sangat keras.
"Mas Armand kenapa mabuk-mabukan terus, itu tidak baik untuk kesehatan Mas," seru Bi Sukma dengan lembut.
"Tidak ada yang menyayangi Armand, Bi, jika Armand mabuk setidaknya Armand bisa melupakan sedikit rasa sedih Armand," sahut Armand.
"Siapa bilang? Bibi sayang kok sama Mas Armand, dari kecil sampai sekarang rasa sayang Bibi tidak pernah berkurang untuk Mas Armand. Jadi, Mas Armand jangan merasa tidak ada yang menyayangi Mas Armand."
"Selama ini hanya Bibi yang menyayangi aku dan mengerti aku, terima kasih Bi. Mungkin kalau gak ada Bibi di sini, aku sudah mati bunuh diri."
Bi Sukma mengelus kepala Armand dengan penuh kasih sayang. "Jangan bicara seperti itu, Bibi yakin Mas Armand bisa melaluinya dan suatu saat nanti Pak Yongki akan menyadari dan mengetahui kebusukan Bu Venna dan Mas Paras. Satu yang Bibi pinta, pokoknya Mas Armand jangan berhenti terapi karena Bibi ingin Mas Armand sembuh."
"Iya, Bi."
"Sudah larut malam, sekarang Mas Armand tidur ya."
Armand mulai merebahkan tubuhnya, dan Bi Sukma menutup tubuh Armand dengan selimut. Bi Sukma keluar dari kamar Armand, perlahan Armand memejamkan matanya tapi baru saja beberapa menit Armand terlelap, lagi-lagi Armand terbangun dengan keringat yang memenuhi wajah tampannya.
Selama ini Armand memang sering bermimpi buruk mengenai penyiksaan yang dia terima di saat kecil, sungguh penyiksaan yang dilakukan oleh Mama dan saudara tirinya sangat membekas sampai dia dewasa.
"Sial, kenapa aku harus mengalami semua ini!" teriak Armand.
Armand merasa marah kepada dirinya sendiri yang tidak bisa melawan ketakutannya itu, sudah belasan tahun Armand melakukan terapi, tapi tetap saja rasa traumanya menghantui kehidupannya.
Bagaimana tidak, di saat usia Arman satu tahun yang seharusnya berlimpah kasih sayang dari kedua orangtuanya, Armand justru harus mendapatkan kekerasan dari Mama tirinya.
__ADS_1
Mama Venna lebih perhatian kepada anaknya sendiri dibandingkan kepada Armand, bahkan semenjak itu Armand sering mendapat bentakan, cubitan, dan pukulan dari Mama Venna. Jadi, pantas saja kalau rasa trauma sangat membekas di hatinya.