
Arman berpindah duduk ke kursi pemeriksaan, seperti biasa Dr.Amanda akan memeriksa kesehatan Arman terlebih dahulu.
"Apa ada keluhan, Arman?" tanya Dr.Amanda.
"Tidak ada, dok."
"Untuk saat ini kesehatan kamu baik-baik saja, mungkin karena ditemani pacar jadi kamu lebih santai sekarang."
Arman hanya sedikit menyunggingkan senyumannya.
"Oke, sekarang kita mulai saja ya," seru Dr.Amanda.
Arman mulai panik, bulir-bulir keringat mulai muncul di wajah tampan Arman, bahkan kedua tangan Arman sudah berpegangan erat pada tangan-tangan kursi membuat Zee kaget dan semakin penasaran dengan apa yang terjadi kepada Arman.
Dr.Amanda mulai mengeluarkan toples bening yang di dalamnya berisi cicak, tubuh Arman mulai bergetar hebat, apalagi saat cicak itu mengeluarkan suara.
"Hentikan, jauhkan hewan itu dariku!" teriak Arman dengan menutup kedua telinganya.
"Ayo Arman, kamu pasti bisa lawan rasa takutmu," seru Dr.Amanda dengan terus mendekatkan toples itu kepada Arman.
"Dokter, jauhkan hewan itu dariku! aku takut!"
Arman mulai histeris, suara dan rupa hewan itu mengingatkan Arman pada kejadian masa kecilnya.
__ADS_1
Dr.Amanda menutup semua gorden ruangannya, lalu mematikan lampu ruangan itu.
"Jangan, jangan siksa Arman Ma, jangan kurung Arman Ma, nyalakan lampunya, Arman takut!" teriak Arman.
Zee sampai membelalakkan matanya melihat reaksi Arman yang histeris seperti itu, Zee baru pertama kali ini melihat seorang laki-laki yang begitu ketakutan melihat cicak apalagi laki-laki itu seorang ketua geng motor dan paling ditakuti oleh lawannya.
"Jangan siksa Arman, Ma. Arman mohon, Arman takut!" teriak Arman.
Dr.Amanda memberikan waktu 15 menit, dan setelah waktu berakhir, Dr.Amanda kembali membuka gorden dan menyalakan kembali lampunya.
Zee lagi-lagi di buat terkejut saat melihat Arman sudah tidak ada di kursi, dan ternyata Arman duduk di sudut ruangan dengan memeluk kedua lututnya bahkan Arman juga terlihat menangis.
Zee sampai menutup mulutnya sendiri saking stoknya melihat keadaan Arman.
Zee segera menghampiri Arman, tubuh Arman bergetar hebat. Melihat keadaan Arman seperti itu, Zee merasa sangat kasihan dan iba.
"Arman, ingat kamu sering bilang kepada saya kalau kamu ingin sembuh karena kamu sudah capek dibayang-bayangi perasaan trauma. Ayo, sekarang berusahalah sekuat tenaga, lawan rasa takutmu anggap saja cicak itu adalah Mama dan saudara tiri kamu," seru Dr.Amanda.
Tatapan Arman kosong, tubuhnya masih tidak berhenti bergetar hingga beberapa saat kemudian, Arman terjatuh tak sadarkan diri.
"Arman!"
"Jangan panik, ini memang sudah biasa. Arman selalu pingsan karena memang dia tidak bisa menahan rasa takut yang teramat luar biasa dalam dirinya."
__ADS_1
Dr.Amanda memanggil perawat laki-laki dan menyuruh mereka untuk mengangkat tubuh Arman ke atas ranjang pasien.
Dr.Amanda mengajak Zee untuk duduk kembali.
"Dok, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Arman? kenapa reaksi dia sangat berlebihan seperti itu?" tanya Zee.
"Begini Zee, Mama Arman meninggal saat melahirkan Arman dan setahun kemudian, Papanya menikah lagi dengan sekertaris di kantornya dan mempunyai anak laki-laki yang lebih tua dua tahun dari Arman. Sejak kecil, Arman selalu mendapatkan penyiksaan dari Mama dan kakak tirinya itu. Arman sering di siksa dan dikurung di dalam kamar mandi dalam kondisi lampu di matikan, saat itu hanya ada suara cicak yang selalu terngiang di telinga Arman. Makanya, Arman sangat takut dengan kegelapan dan cicak."
"Ya Allah, terus memang Papanya tidak tahu kalau anaknya mengalami trauma berat seperti itu?" tanya Zee.
"Papa Arman itu seorang pengusaha sukses, beliau jarang ada di rumah karena harus mengurus semua perusahaannya yang sudah tersebar di beberapa kota besar. Papa Arman pulang hanya untuk numpang tidur saja, bahkan cctv yang seharusnya menjadi bukti akan kekejaman Mama dan kakak tirinya, tidak pernah beliau cek saking sibuknya."
Dada Zee merasa sesak mendengar apa yang dikatakan Dr.Amanda, dia tidak menyangka kalau kehidupan Arman semenyedihkan itu.
"Arman bukan anak berandalan Zee, akibat perlakuan Mama dan saudara tirinya, Arman menjadi anak yang pembangkang. Pembangkang dalam arti, dia berusaha mencari kebahagiaan di luar rumah dengan cara seperti itu. Arman tidak pernah mendapatkan kasih sayang sedikit pun, jadi dia mencari perhatian dengan cara memaksa."
Zee sampai tercengang mendengar penjelasan dari Dr.Amanda, sekarang dia mengerti kenapa Arman begitu pemaksa.
Dr.Amanda menggenggam kedua tangan Zee. "Zee, saya tahu kamu takut kepada Arman tapi saya mohon tetaplah berada di samping Arman, berilah dukungan kepadanya supaya Arman semangat dalam menjalani pengobatan. Menurut orang-orang, Arman anak berandalan tapi saya berani menjamin kalau dia tidak akan pernah menyakiti orang-orang yang dia sayangi."
Zee tersenyum dan menganggukkan kepalanya, entah kenapa hatinya merasa tersentuh dengan cerita kehidupan Arman. Zee yang awalnya memang membenci Arman, sekarang malah berubah merasa iba kepada Arman.
"Saya yakin, kamu bisa merubah Arman. Arman hanya butuh kasih sayang, dan cepat atau lambat Arman akan sembuh dari rasa traumanya."
__ADS_1
Zee melihat ke arah Arman yang saat ini masih terbaring di atas ranjang pasien, wajah Arman yang terlelap itu menyiratkan kepedihan yang mendalam. Zee tidak bisa membayangkan, betapa menderitanya Arman sejak kecil sudah mendapatkan penyiksaan dari Mama dan saudara tirinya.