
Setelah sarapan, Armand tampak termenung di kamarnya. Hari ini adalah jadwal terapi dan Armand sangat membenci itu karena ujung-ujungnya Armand akan kalah dengan rasa traumanya.
"Aku tidak boleh seperti ini terus, pokoknya aku harus sembuh," gumam Armand.
Tidak ada yang tahu kalau Armand mengalami trauma, hanya Bi Sukma saja yang tahu karena Armand tidak mau sampai Mama dan saudara tirinya memanfaatkan kelemahan untuk menindasnya lagi.
Armand segera mengambil jaket dan kunci motornya, kali ini dia pergi ke rumah sakit sendirian lagi karena Armand tidak mau memaksa Zee untuk ikut dan peduli dengan keadaannya.
Armand menuruni anak tangga, dan terlihat di sana Papanya sedang duduk sembari menyesap kopinya.
"Armand."
"Iya, Pa."
"Kamu mau ke mana?"
"Keluar sebentar."
"Armand, kamu ingat di mana makam Mama kamu?" tanya Papa Yongki.
Armand mengerutkan keningnya. "Tentu saja, memangnya kenapa?"
"Di mana? soalnya Papa lupa dari kemarin Papa berusaha mengingatnya tapi Papa sama sekali tidak ingat apa-apa."
Armand merasa sangat aneh, padahal Papanya itu tidak pernah lupa dengan makam Mamanya karena hampir setiap Minggu, Papanya itu selalu mengunjungi makam Mamanya itu tapi kenapa sekarang tiba-tiba Papanya lupa.
"Nanti And kirim alamatnya ke Papa, sekarang Armand pergi dulu."
Armand segera pergi, selama dalam perjalanan Armand tampak bingung dengan Papanya.
"Sepertinya ada yang aneh dengan Papa," gumam Armand.
Armand kembali melajukan motornya menuju rumah sakit, sementara itu di kampus Zee tampak celingukan karena Armand sama sekali tidak ada.
"Armand ke mana? kok gak masuk? apa jangan-jangan dia sakit?" batin Zee.
Zee merasa sangat khawatir dengan keadaan Armand, karena kemarin Armand terkena pukulan balok kayu sampai dua kali.
Hingga beberapa saat kemudian, dosen pun masuk dan selama mengikuti mata pelajaran, Zee sama sekali tidak fokus. Di tengah-tengah pelajaran berlangsung, Zee mengingat sesuatu.
"Astaga, bukannya ini jadwal Armand terapi ya," batin Zee.
Zee berpikir dan mencari alasan supaya dia bisa keluar, dan akhirnya Zee berpura-pura sakit perut dan meminta izin untuk pulang beruntung dosen percaya dan mengizinkan Zee untuk pulang.
__ADS_1
Zee segera memesan taksi online dan pergi menuju rumah sakit, entah kenapa Zee ingin sekali menemani Armand terapi.
Sedangkan di tempat lain, Armand baru saja sampai di rumah sakit. Armand segera masuk dan langsung menuju ruangan Dr.Amanda.
"Loh, bukannya itu si Armand? ngapain dia ada di rumah sakit ini?" batin Biru.
Biru saat ini sedang menjalani KOAS di rumah sakit itu, Biru merasa masih ada waktu setengah jam lagi dan dia memutuskan untuk mengikuti Armand.
Biru berjalan mengendap-ngendap mengikuti langkah Armand, hingga akhirnya Armand pun masuk ke dalam ruangan Dr.Amanda.
"Ngapain si Armand ke Psikiater?" batin Biru.
Biru benar-benar merasa sangat penasaran dengan Armand, Biru ingin mengintip tapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki membuat Biru bersembunyi di balik lorong.
Biru tampak membelalakkan matanya saat melihat Zee yang berjalan terburu-buru dan masuk juga ke dalam ruangan itu.
"Zee, kok dia ada di sini dan masuk ke sana juga? berarti ada sesuatu yang Armand sembunyikan, apa dia punya rahasia besar?" batin Biru.
Biru semakin penasaran dan dia pun berusaha menguping pembicaraan yang ada di dalam.
Armand mulai melakukan terapi, Armand sudah memejamkan matanya tapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh seseorang membuat Armand membuka kembali matanya.
"Aku akan menemanimu terapi, jadi kamu jangan takut," seru Zee dengan senyumannya.
"Oke, sekarang kita mulai terapinya," seru Dr.Amanda.
Dr.Amanda mulai menutup semua ruangan dan mematikan lampunya, Dr.Amanda menyalakan ponselnya dan memutar suara cicak.
Armand langsung bereaksi, keringat dingin mulai bermunculan bahkan Armand sudah menggenggam tangan Zee dengan sangat erat.
"Kamu pasti bisa, Armand. Lawan rasa takut kamu, ada aku di sini jangan takut," seru Zee.
"A-ku ta-kut," sahut Armand.
Tubuh Armand semakin bergetar hebat, membuat Zee merasa sangat kasihan kepada Armand.
"Ayo, kamu pasti bisa Armand."
"Hentikan suara cicak itu, aku takut. Cicak itu akan memakanku."
"Tidak Armand, cicak itu hewan kecil bahkan kamu bisa menginjaknya."
Zee berusaha meyakinkan Armand supaya Armand tidak takut lagi tapi tubuh Armand semakin bergetar hebat. Akhirnya karena Zee merasa sangat kasihan, Zee memeluk Armand.
__ADS_1
"Bukannya kamu selalu bilang kalau aku adalah milikmu, kalau kamu masih merasa takut dengan kegelapan, terus bagaimana kamu bisa melindungiku? aku janji, tidak akan dekat dengan laki-laki mana pun tapi kamu juga harus janji kalau kamu harus melawan rasa takut kamu," seru Zee.
"Jangan tinggalkan aku Zee, aku akan kuat kalau kamu ada di sampingku."
Cukup lama Zee menenangkan Armand, hingga tidak terasa waktu terapi pun selesai dan Dr.Amanda menyalakan lampu ruangan itu.
Dr.Amanda tampak tersenyum dan bertepuk tangan.
"Hebat kamu Armand, ini adalah untuk pertama kalinya kamu menjalani terapi tidak pingsan dan ini semua berkat kamu, Zee," seru Dr.Amanda.
Zee melepaskan pelukannya dan mengusap airmata dan keringat Armand.
"Aku yakin, kalau kamu akan sembuh," seru Zee.
"Aku ingin kamu selalu menemaniku terapi Zee, karena kehadiran kamu membuat aku kuat," seru Armand.
Zee menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, sementara itu di luar Biru masih menguping pembicaraan antara Armand dan Dr.Amanda.
"Jadi Armand mempunyai trauma dengan kegelapan," gumam Biru.
Karena takut ketahuan, akhirnya Biru pun segera pergi dari sana. Armand dan Zee pamit, Armand menggandeng tangan Zee.
"Apa kamu sudah tidak marah lagi sama aku?" tanya Armand.
"Sebenarnya aku masih marah karena kamu sudah menjadikanku taruhan."
"Kamu salah paham Zee, awalnya aku memang taruhan dengan teman-temanku tapi rasa cintaku padaku bukan main-main, aku benar-benar mencintaimu."
Zee mendongakkan kepalanya karena tubuh Armand tinggi.
"Kenapa, kamu tidak percaya?" tanya Armand dingin.
"Ti-tidak, aku percaya sama kamu," sahut Zee gugup.
"Aku akan mengajak kamu ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Ikut saja, nanti juga kamu akan tahu."
Sesampainya di parkiran, Armand segera memakaikan helm kepada Zee dan Zee pun segera naik ke atas motor Armand. Perlahan Armand melajukan motornya meninggalkan rumah sakit itu, sementara itu dari kejauhan Biru melihatnya dengan mengepalkan tangannya.
"Aku tidak boleh kalah dengan anak berandalan itu, aku dan Zee sudah kenal sejak lama jadi aku yang harus mendapatkan Zee," gumam Biru.
__ADS_1
Biru pun segera masuk ke dalam rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya.