
Setelah mendapatkan obat itu, Mama Venna pun memutuskan untuk pulang. Saat ini Papa Yongki berada di kantor bersama Paras dan kebetulan tidak pergi ke mana-mana.
"Pokoknya aku harus mendapatkan semua hartanya si tua bangka itu, bagaimana pun caranya?" batin Mama Venna dengan senyumannya.
Ternyata Mama Venna mempunyai rencana busuk, dia membeli obat untuk membuat Papa Yongki sakit secara perlahan.
Di kampus....
Armand seperti biasa, selalu posesif kepada Zee. Dia terus saja menggenggam tangan Zee dan membawanya ke kantin kampus untuk makan siang terlebih dahulu.
Zee tidak bisa berbuat apa-apa lagi, walaupun saat ini dia sangat membenci Armand tapi Zee sama sekali tidak bisa menolak ajakan Armand karena Zee takut Ayah dan Biru jadi sasaran kemarahan Armand.
"Kamu pesan saja apa pun yang kamu mau," seru Armand.
Armand fokus membuka laptopnya, lalu memakai ear phone di telinganya. Armand begitu sangat serius menatap ke layar laptop membuat Zee merasa penasaran juga.
"Sebenarnya apa yang sedang dia lihat? perasaan dari tadi Armand serius banget?" batin Zee.
Zee pun bangkit dari duduknya dan pergi untuk memesan makanan, sedangkan Biru yang dari tadi memperhatikan Zee, segera menghampiri Zee.
"Zee, kok kamu bisa bareng lagi sama dia?" tanya Biru.
"Ya mau bagaimana lagi, aku gak mau sampai dia melukai kamu atau pun Ayah," sahut Zee.
"Si Armand memang sudah gila, dia memaksakan kehendaknya sendiri dengan mengancam kamu. Sungguh pria pengecut, bisanya cuma mengancam doang," geram Biru.
Zee segera menutup mulut Biru dengan tangannya. "Sssttt, jangan keras-keras nanti Armand bisa dengar dan marah," bisik Zee.
__ADS_1
Biru melepaskan tangan Zee dari mulutnya. "Kamu itu kenapa sih Zee, sampai takut sama pria berandalan itu? memangnya kamu tidak percaya kalau aku bisa jagain kamu?"
"Bukan begitu Bir, kamu sudah tahu Armand itu orangnya seperti apa? jadi, aku harap kamu jangan melakukan hal yang macam-macam dan jangan juga memancing amarah dia."
"Terus, bagaimana dengan hubungan kita? tadi malam kamu belum sempat menjawabnya," seru Biru.
"Biru, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah itu."
"Ya sudah, nanti sore aku tunggu kamu di tempat biasa. Kamu harus datang," seru Biru.
Zee baru saja ingin menjawab tapi Biru sudah pergi dan itu membuat Zee menghela napasnya.
Sementara itu, Armand masih fokus dengan laptopnya. Armand semakin kesal dengan kelakuan Paras yang semakin hari semakin menjadi saja.
"Ambil saja uang perusahaan sebanyak mungkin, biar nanti aku lebih gampang untuk menjebloskan kamu dan wanita itu ke dalam penjara," batin Armand.
"Aku tidak tahu makanan kesukaanmu, jadi aku belikan itu saja. Kalau kamu tidak suka, kamu bisa memesan lagi," ketus Zee.
Tanpa banyak bicara, Armand langsung melahap mie ayam itu.
"Jangan pernah memancing amarahku lagi, aku paling tidak suka dengan orang yang selalu mengulang hal yang sama padahal aku sudah beberapa kali memperingatkannya," seru Armand dingin.
"Kenapa kamu melakukan semua ini Armand? kamu itu sudah mengekang ku, aku seperti hidup dalam tekanan harus melakukan semua keinginanmu," kesal Zee.
"Jangan banyak bicara, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Sekali lagi aku melihat kamu berdekatan dengan laki-laki itu, aku tidak akan mengampunimu."
Zee menatap tajam ke arah Armand, dia benar-benar tidak suka dengan tekanan yang dilakukan oleh Armand. Bagaimana pun, Zee sudah mengenal Biru sejak lama jauh sebelum Zee mengenal Armand.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang, Armand pun mengajak Zee untuk pulang. Selama dalam perjalanan, Zee terlihat tampak cemberut dia merasa sangat kesal dan marah kepada Armand.
Tidak membutuhkan waktu lama, motor Armand pun sampai di depan rumah Zee. Ayah Hendar terlihat sangat marah dan langsung menghampiri Armand.
"Saya harap mulai besok, kamu jangan jemput dan antar Zee lagi karena saya tidak mau Zee bergaul dengan anak berandalan sepertimu," geram Ayah Hendar.
"Ayah."
Zee benar-benar takut Armand akan marah dan melakukan sesuatu kepada Ayahnya itu.
"Maaf Om, aku tidak bisa. Aku akan terus menjemput dan mengantar Zee, walaupun tanpa seizin Om," sahut Armand dingin.
"Dasar anak kurang ajar, Biru tidak pernah berkata tidak sopan seperti ini. Tapi kamu, berani sekali menantang saya. Apa kamu tidak pernah diajarkan sopan santun oleh ibumu?" bentak Ayah Hendar.
Seketika darah Armand naik, dia paling tidak bisa menahan emosinya kalau sudah menyinggung nama ibunya.
"Ibuku sudah meninggal saat melahirkanku, dan memang tidak ada yang mengajarkanku mengenai kesopanan tapi aku bisa bersikap sopan kepada orang lain, selama orang itu pun bisa menghargai aku. Karena jangankan orang yang lebih tua dariku seperti Om, seorang bajingan pun akan aku hargai kalau dia bisa menghargaiku," seru Armand dingin.
Armand hendak pergi tapi lagi-lagi dia membuka helmnya dan menatap Ayah Hendar.
"Om tidak tahu siapa aku, jadi jangan pernah menilai aku seenaknya. Lebih baik om perhatikan laki-laki yang menurut om sopan dan baik itu, karena belum tentu hatinya juga sebaik yang om pikirkan," seru Armand.
Armand segera menarik gas motornya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi membuat Ayah Hendar mengusap dadanya.
"Anak itu benar-benar tidak mempunyai kesopanan, pokoknya ayah tidak mau tahu mulai besok kamu jangan pernah dekat-dekat lagi dengan anak berandalan itu!" bentak Ayah Hendar.
Ayah Hendar pun segera pergi meninggalkan Zee, sedangkan Zee merasa sangat bingung. Sebenarnya Zee juga ingin menjauhi Armand tapi mau bagaimana lagi, Zee tahu kalau Armand anak yang nekad jadi Zee takut kalau Armand akan melakukan hal tidak-tidak kepada ayahnya.
__ADS_1