
Sepulang mengantarkan Zee, Armand tidak langsung pulang melainkan dia pergi ke sebuah restoran untuk bertemu dengan orang kepercayaannya.
Armand menyewa privat room, supaya tidak ada orang yang tahu dan bisa mendengar pembicaraannya.
"Sore, Om Bimo."
"Sore, Mas Armand."
Armand duduk berhadapan dengan Bimo, orang kepercayaan Armand di perusahaan Papanya. Bimo adalah seorang pria berusia 45 tahun dan Bimo juga sudah bekerja di perusahaan Papanya puluhan tahun silam.
"Bagaimana Om, apa saja yang sudah dilakukan si brengsek itu?" tanya Armand.
Om Bimo menyerahkan sebuah map kepada Armand.
"Mas Armand bisa melihatnya sendiri, semua bukti sudah ada di sana," seru Om Bimo.
Armand pun segera membuka map itu dan membaca lembar demi lembar, seketika Armand membelalakkan matanya saking tidak percayanya dengan apa yang sudah Paras lakukan.
"Loh, ini apa Om? ini perusahaan apa?" tanya Armand.
"Paras membuat sebuah perusahaan bodong Mas, dia menipu semua pemegang saham supaya menanamkan sahamnya ke perusahaan bodong itu. Bahkan Paras menjanjikan keuntungan dua kali lipat jika mereka mau menanamkan saham di perusahaannya, Paras menarik semua pemegang saham di perusahaan Mas untuk ikut kepadanya dan sekarang semua keuntungan yang dia dapat, dia masukan ke rekening pribadinya dan para pemegang saham tidak mengetahuinya itu."
"Bodoh juga dia, apa dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika para pemilik saham mengetahui semuanya," seru Armand dengan senyuman sinisnya.
"Sepertinya Paras sudah merencanakan semuanya, bahkan saya menemukan cek pembayaran untuk sebuah rumah di kawasan elit."
"Kurang ajar, jadi si brengsek itu sibuk menyiapkan semuanya. Pokoknya Om terus pantau dia, jangan sampai lolos karena aku sudah muak dengan kelakuan dia dan ibunya itu," kesal Armand.
"Baik, Mas."
Setelah berbincang-bincang, Armand pun segera pergi dari restoran itu tapi sayang, Paras melihat Armand karena pada saat itu Paras sedang bertemu klien di sana.
"Armand, ngapain dia ada di sini?" batin Paras.
Tidak lama setelah Armand keluar, Paras di kejutkan dengan kehadiran Pak Bimo.
"Pak Bimo, kenapa dia ada di sini juga? apa Armand barusan sudah bertemu dengan Pak Bimo?" batin Paras kaget.
Setelah selesai bertemu klien, Paras langsung kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan, Paras tidak henti-hentinya memikirkan masalah kehadiran Armand dan Pak Bimo tadi.
"Sial, apa jangan-jangan selama ini mereka sudah bekerjasama untuk memata-matai aku di kantor? kurang ajar, pintar juga kamu Armand. Ternyata selama ini kamu diam-diam memantau semuanya, aku harus hati-hati mulai sekarang," batin Paras.
Armand sampai di rumahnya, dan terlihat Papanya sedang duduk termenung di halaman belakang.
__ADS_1
Armand menghampiri Papanya itu dan duduk di samping Papa Yongki.
"Papa lagi apa?" tanya Armand dingin.
"Ini Armand, Papa disuruh tanda tangan berkas ini tapi kok Papa lupa bagaimana tanda tangan Papa sendiri," sahut Papa Yongki kebingungan.
"Hah, lupa bagaimana maksudnya?" tanya Armand bingung.
"Papa lupa sama tanda tangan Papa sendiri."
Armand merasa terkejut dengan pengakuan Papanya itu, kenapa tiba-tiba Papanya lupa dengan tanda tangannya sendiri.
"Sepertinya ada yang tidak beres sama Papa," batin Armand.
Armand tampak celingukan, dan mencari keberadaan Mama tirinya itu.
"Istri Papa, mana?"
"Dia belum pulang."
Armand pun bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan Papanya yang masih kebingungan. Perlahan Armand masuk ke kamar Papanya dan mencari sesuatu yang tampak mencurigakan.
"Pasti wanita itu sudah melakukan sesuatu sama Papa, sampai-sampai Papa bisa lupa secara mendadak seperti itu," batin Armand.
"Tidak ada apa-apa di sini, sial apa yang sudah wanita itu lakukan kepada Papa?" geram Armand.
Suara langkah kaki terdengar dan itu membuat Armand panik, Armand segera mencari tempat persembunyian. Armand segera masuk ke dalam ruangan ganti dan benar saja, tidak lama kemudian Mama Venna masuk ke dalam kamarnya.
Mama Venna merasa ada yang janggal di kamarnya, tapi Mama Venna memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Armand yang merasa sudah aman, segera keluar dari kamar itu tanpa bisa menemukan apa-apa.
Beberapa saat kemudian, Mama Venna keluar dari kamar mandi. Dia segera mengecek cctv yang dia pasang di tempat tersembunyi, dan ternyata kecurigaannya benar kalau barusan Armand masuk ke dalam kamarnya.
"Anak kurang ajar, berani sekali dia masuk ke dalam kamar ini. Sepertinya dia sudah mulai curiga, dan aku harus semakin berhati-hati," gumam Mama Venna.
***
Malam pun tiba....
"Zee, Zee!" panggil Ayah Hendar.
"Iya, ada apa, Yah?"
__ADS_1
"Ini ada Nak Biru, cepat kamu keluar dari kamar dan temui Nak Biru."
Zee tampak mengerutkan keningnya. "Mau ngapain sih, dia ke sini malam-malam?" kesal Zee.
Zee pun akhirnya dengan terpaksa keluar dari kamarnya dan segera menemui Biru.
"Ada apa kamu malam-malam ke sini?" tanya Zee ketus.
"Kok, kamu ketus seperti itu sih? seperti tidak senang aku datang ke sini."
"Aku sedang belajar Bir, dan aku juga merasa sangat lelah."
Zee duduk dengan raut wajah yang lumayan tidak bersahabat dan Biru tahu itu, tapi Biru tidak memperdulikannya justru Biru berpindah dan duduk di samping Zee.
"Zee, aku datang ke sini karena ingin menagih jawaban dari kamu."
"Jawaban apa lagi?"
"Jawaban atas pernyataan aku yang tempo hari, kamu kan belum menjawabnya."
Zee menghela napasnya dan menatap Biru dengan seksama.
"Maaf Bir, aku tidak bisa menerima cinta kamu," sahut Zee.
"Kenapa? apa kamu diancam sama si Armand?" kesal Biru.
"Jangan bawa-bawa Armand, tapi memang saat ini aku tidak bisa menerima kamu karena aku sudah jadian sama Armand."
"Apa? jangan bercanda kamu Zee, pasti Armand sudah mengancam kamu, kan?" kesal Biru.
"Armand tidak pernah mengancam ku, aku memang menerima dia tanpa paksaan sedikit pun," sahut Zee tegas.
Biru langsung bangkit dari duduknya membuat Zee mendongakkan kepalanya.
"Kamu akan menyesal Zee karena Armand itu bukan laki-laki baik, dia itu berandalan!" sentak Biru.
"Terserah apa kata kamu, tapi tetap aku tidak bisa menerima kamu. Aku masuk ke kamar dulu, terserah kamu mau pulang atau enggak."
Zee dengan kesal langsung meninggalkan Biru, sedangkan Biru mengepalkan kedua tangannya.
"Awas kamu Zee, kamu akan menyesal karena sudah berani menolak aku," batin Biru.
Dengan sangat emosi, Biru pun memilih untuk pergi dari rumah Zee.
__ADS_1