
Paras pulang ke rumah dengan raut wajah yang berseri-seri, dia sangat bahagia karena sudah berhasil membunuh Armand.
Paras melepaskan sarung tangannya dan segera membakarnya di halaman belakang.
"Paras."
"Astaga Mama, bikin kaget saja."
"Bagaimana, apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Mama Venna.
Paras menyimpan telunjuknya di bibirnya. "Sstt, jangan keras-keras nanti ada yang dengar," bisik Paras.
"Tidak akan ada yang dengar, ini sudah larut malam."
Bi Sukma yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendengar samar-samar ada yang sedang berbincang-bincang. Perlahan Bi Sukma menghampiri suara itu dan terlihat di halaman belakang Mama Venna dan Paras sedang berbicara.
Bi Sukma mendekat supaya bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Apa kamu sudah berhasil melenyapkan Armand?"
"Tenang Ma, Paras sudah membunuhnya dan mayat si Armand sudah aku buang ke dasar jurang. Aku pastikan sebelum polisi menemukan mayatnya, pasti tubuh Armand sudah habis dimakan hewan buas," sahut Paras dengan senyumannya.
"Bagus, kamu memang pintar."
Bi Sukma membelalakkan matanya, bahkan mulutnya sudah dia tutup dengan tangannya sendiri.
"Tidak, tidak mungkin Mas Armand sudah meninggal," batin Bi Sukma.
Melihat Mama Venna dan Paras sudah masuk ke kamar masing-masing, Bi Sukma pun terkulai lemas di lantai sungguh dia tidak menyangka kalau mereka sudah membunuh Armand.
"Jahat sekali kalian," batin Bi Sukma.
Sementara itu, Pak Bimo tampak kelelahan. Setelah dirasa aman, Pak Bimo kembali ke tempat semula dan mencari keberadaan Armand.
"Mas Armand, di mana kamu Mas!" teriak Pak Bimo.
Kegelapan malam membuat penglihatan Pak Bimo sangat terbatas, dia tidak tahu harus ke mana dan dia juga berharap bisa menemukan Armand.
Cukup lama Pak Bimo mencari Armand, namun sia-sia hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk beristirahat. Dia berharap tidak ada hewan buas di sana dan esok hari bisa menemukan Armand.
***
__ADS_1
Keesokan harinya....
Zee, terlihat sangat lemas dia sama sekali tidak mau makan.
Pintu kamar itu terbuka, Biru tampak kesal melihat makanan yang dia berikan ternyata sama sekali tidak di makan oleh Zee.
Biru mencengkram wajah Zee. "Kenapa kamu tidak makan?"
"Lepaskan aku, Biru."
"Aku akan lepaskan kamu, asalkan kamu mau berjanji kalau kamu akan menikah denganku."
"Aku belum mau menikah, aku masih ingin mengejar cita-citaku," tolak Zee.
"Kamu tidak perlu melanjutkan kuliah, karena aku akan membahagiakan kamu. Kamu bisa lihat kan, kalau aku ini orang kaya dan aku akan memberikan semua yang kamu mau."
Zee menghempaskan tangan Biru, kali ini Zee benar-benar membenci Biru.
"Lepaskan aku dan biarkan aku pulang, Ayah aku pasti sangat khawatir dengan keadaanku."
"Aku sudah memberitahukan kepada Ayahmu, kalau saat ini kamu sedang ada tugas tambahan yang mengharuskan kamu menginap dan bodohnya Ayah kamu itu sangat percaya dengan ucapanku," seru Biru dengan senyumannya.
"Apa kamu bilang? berani sekali kamu bilang kalau Ayahku bodoh!" sentak Zee.
"Kamu benar-benar jahat Biru, bahkan Armand tidak pernah menghina Ayahku sampai seperti itu. Aku benar-benar benci sama kamu, Biru!"
"Terserah, kamu mau benci atau tidak, yang jelas mulai sekarang tidak akan ada lagi yang akan menghalangi hubungan kita berdua karena Armand sudah mati," seru dengan tawanya.
Zee membelalakkan matanya, dia geleng-geleng kepala merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Biru.
"Kamu jangan mengada-ngada Biru, Armand tidak mungkin mati," seru Zee dengan mata yang memerah.
Biru mengotak-ngatik ponselnya dan memperlihatkan foto Armand saat berada di dalam hutan.
"Kamu bisa lihat kan, ini foto siapa?"
Lagi-lagi Zee melotot melihat foto itu, seketika airmatanya menetes.
"Tidak mungkin, itu bukan Armand."
"Terserah kamu percaya atau tidak, yang jelas mulai sekarang kamu tidak akan bertemu lagi dengan Armand."
__ADS_1
Zee tidak menyangka kalau Biru bisa melakukan hal sejahat itu, dan Zee juga baru tahu kalau ternyata selama ini Biru bukan laki-laki baik-baik, dia hanya berpura-pura saja.
Berbeda dengan Zee, Pak Bimo mulai mengerjap matanya merasakan silau karena sinar matahari yang mulai menerangi hutan itu.
"Astaga, ternyata sudah pagi."
Pak Bimo berusaha bangun dengan sisa tenaga yang dia punya, Pak Bimo mulai celingukan mencari keberadaan Armand.
"Aku yakin, tadi malam mereka menemukan Mas Armand di sini," gumam Pak Bimo.
Pak Bimo mulai memperhatikan ke bawah, dan ternyata benar saja di sana banyak sekali darah yang berceceran. Pak Bimo mulai mengikuti ceceran darah itu, hingga darah itu berhenti di pinggir jurang.
Pak Bimo melihat ke bawah, dan tinggi jurang itu lumayan curam.
"Astaga, apa mungkin Mas Armand di buang ke bawah?" gumam Pak Bimo.
Pak Bimo mulai mencari jalan untuk bisa turun ke bawah, hingga beberapa lama mencari akhirnya Pak Bimo menemukan jalan satu-satunya untuk turun ke sana.
Jalan yang tanpa ada pijakan itu membuat Pak Bimo harus meluncur bebas ke bawah.
"Bismillah, semoga aku bisa menemukan Mas Armand di bawah."
Dengan mata yang tertutup, Pak Bimo mencoba meluncur ke bawah. Pak Bimo tanpa sadar berteriak saking takutnya, sampai-sampai tubuh Pak Bimo terpental saat sampai di bawah dan mendarat di pinggir sungai.
"Ah, sakit banget," keluh Pak Bimo.
Perlahan Pak Bimo mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya terasa sangat sakit.
"Ya Allah, badan aku sakit-sakit semua ini."
Pak Bimo menyeret tubuhnya, dan menyandarkan tubuhnya di bebatuan yang ada di sana. Napas Pak Bimo tampak memburu, Pak Bimo sungguh sangat kelelahan ditambah tenaganya sudah habis dan perutnya terasa sangat lapar.
Pak Bimo kembali mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, dan dari kejauhan samar-samar Pak Bimo melihat sebuah jaket hitam yang menyangkut di semak-semak pohon bambu.
"Apaan tuh, apa itu Mas Armand?" gumam Pak Bimo.
Dengan sekuat tenaga Pak Bimo bangkit dan menghampiri sesuatu itu, dan betapa terkejutnya Pak Bimo saat sampai, ternyata itu memang Armand.
"Astaga, Mas Armand!"
Pak Bimo membalikan tubuh Armand, wajah Armand tampak penuh dengan darah. Pak Bimo segera memeriksa denyut nadi Armand, dan ternyata masih berdenyut walaupun sangat lemah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mas Armand masih hidup."
Pak Bimo mulai mencari dan berteriak minta tolong, berharap ada orang yang akan menolongnya walaupun itu sangat mustahil. Tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini kalau Allah yang sudah menentukan.