
Selama tinggal di rumah Pak Amir, Armand melatih dirinya untuk mempersiapkan kepulangannya nanti. Armand memang sudah tahu siapa Biru sebenarnya, Biru adalah ketua geng Tiger yang berpura-pura menjadi orang baik maka dari itu Armand tidak suka Zee dekat dengan Biru.
Pak Amir memang jago dalam urusan bela diri, jadi Armand berlatih bela diri kepada Pak Amir dan Mbah Darmo juga mengajarkan Armand bagaimana caranya memanah dengan benar dan tepat sasaran.
"Pokoknya, aku akan bunuh kalian semuanya, tunggu saja waktunya," batin Armand sembari berlatih.
Sudah satu tahun, Armand dan Pak Bimo berada di sana dan mereka ingin sekali kembali pulang dan membalaskan dendam Armand kepada orang-orang yang tidak tahu diri itu.
Armand saat ini sedang duduk berdua dengan Pak Bimo.
"Om, bagaimana kalau Om kembali pulang duluan? Om cari tahu apa saja yang sudah mereka lakukan sejauh ini, biar nanti aku bisa dengan mudah membuat mereka hancur," seru Armand.
"Tapi kalau ketahuan bagaimana? Om bisa dibunuh duluan sebelum tahu semuanya."
"Om harus menyamar, jangan sampai mereka tahu tentang Om. Om jangan pulang ke rumah, Om bisa pulang ke basecamp aku dan bilang saja ke mereka kalau Om adalah suruhan aku."
"Baiklah, kalau itu memang keputusan Mas."
"Pokoknya kita akan hancurkan mereka sampai ke akar-akarnya, dan jangan lupa Om bilang sama Bi Sukma kalau dia harus menghentikan obat yang diberikan oleh wanita iblis itu."
"Iya, Mas."
***
__ADS_1
Keesokan harinya...
Di saat matahari masih belum muncul, Pak Bimo memutuskan untuk kembali ikut dengan salah satu warga yang ingin menjual hasil kebunnya ke kota.
"Mas, saya pulang duluan. Do'akan saya semoga saya bisa menjalankan tugas saya dengan sangat baik."
"Iya Om, pasti. Om harus hati-hati, jangan sampai mereka tahu penyamaran Om."
"Iya, Mas."
Pak Bimo pun segera pergi dari kampung itu, Armand berharap kalau Pak Bimo bisa menjalan tugasnya dengan baik.
Berbeda halnya dengan Zee, semakin hari Zee merasa sangat terkekang oleh Biru. Zee sama sekali tidak bisa melakukan hal yang dia mau, semuanya dipantau oleh Biru.
"Sayang, nanti pulang kuliah kita mampir dulu ke butik," seru Biru.
"Ke butik? buat apa?"
"Aku sudah minta izin kepada Ayah kamu, untuk menikahimu dan Om Hendar sudah mengizinkannya. Jadi, nanti kita fitting baju pengantin kita."
"Apa? jangan mengada-ngada kamu Biru, aku belum mau menikah!" sentak Zee.
"Kenapa? sebentar lagi kamu akan wisuda, dan aku pun sekarang sudah menjadi seorang dokter. Aku sudah sangat siap untuk menafkahi mu."
__ADS_1
"Bukan itu yang aku mau, aku belum mau menikah."
Biru menginjak rem dengan mendadak, membuat Zee merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Biru.
"Apa alasan kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Biru dengan tatapan tajamnya.
"Aku tidak mencintai kamu Biru."
"Kalau masalah cinta, cinta itu bisa datang dengan sendirinya bahkan cinta itu akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu."
"Tidak, pokoknya aku tidak mau menikah denganmu!" bentak Zee.
Biru mencengkram wajah Zee membuat Zee meringis kesakitan.
"Apa kamu masih mengharapkan Armand? aku sudah bilang sama kamu, kalau Armand itu sudah mati."
"Tidak, aku tidak percaya. Aku yakin, kalau Armand masih hidup dan dia akan kembali suatu hari nanti."
"Pokoknya, satu bulan lagi kita akan menikah dan kamu tidak bisa membatah semua keputusanku karena nyawa Ayahmu saat ini berada di tanganku."
"Dasar laki-laki gila, aku sangat membencimu Biru."
Biru melepaskan cengkeramannya, dia kembali melajukan mobilnya menuju kampus. Airmata Zee menetes, sungguh dia sangat menyesal sudah mengenal Biru dan tertipu akan sikap baik dan manis yang selama ini sudah Biru tunjukkan kepadanya dan Ayahnya.
__ADS_1