
Armand melempar berkas yang dia pegang ke atas meja. "Buka dan bacalah baik-baik berkas itu," seru Armand.
Investor itu membuka berkas itu dan membacanya, betapa terkejutnya dia saat mengetahui yang sebenarnya.
"Apa-apaan ini? jadi selama ini aku bekerjasama dengan seorang penjahat?" bentak investor itu.
Keringat mulai membasahi wajah Paras, terlihat sekali kalau saat ini Paras sangat panik.
"Perusahaan ini milikku, dan Papa aku memang sengaja dibuat sakit oleh iblis itu bahkan dia korupsi besar-besaran di perusahaan ini. Dia juga menipu para pemegang saham untuk bekerjasama dengannya, dan keuntungan yang selama ini dia bilang sedang menurun, nyatanya sudah masuk ke rekening pribadinya," jelas Armand.
"Kurang ajar kamu, ternyata selama ini kamu menipu kami!"
"Ti-tidak, jangan percaya omongan dia, dia itu hanya anak ingusan yang tidak tahu apa-apa," sahut Paras panik.
Armand menghampiri Paras dan langsung menendang perut Paras sehingga Paras tersungkur ke lantai, Armand menahan dada Paras dengan kakinya.
"Sudah sejak lama aku menantikan saat-saat seperti ini," seru Armand.
"Brengsek kamu Armand!" teriak Paras.
"Kamu dan Mama kamu yang brengsek, sungguh tidak tahu malu."
Armand semakin menekan kakinya membuat Paras berteriak kesakitan, hingga beberapa saat kemudian polisi datang dan segera membawa Paras.
"Om Bimo, sekarang giliran si wanita gila itu," seru Armand.
Pak Bimo menganggukkan kepalanya, Armand menyuruh semua orang untuk bubar terlebih dahulu. Armand dan Pak Bimo saat ini sedang menuju sebuah hotel, tempat di mana Mama Venna berada.
Armand langsung menuju kamar Mama Venna, setelah sebelumnya menanyakan terlebih dahulu kepada resepsionis.
Tok..tok..tok...
"Sebentar!"
Tidak lama kemudian Mama Venna membuka pintu kamarnya, dan betapa terkejutnya Mama Venna saat melihat siapa yang datang.
"A-a-armand," seru Mama Venna terbata-bata.
Armand langsung mencekik Mama Venna dan menyeretnya masuk ke dalam kamar hotel itu, Mama Venna sudah berontak dia tampak kesusahan untuk bernapas karena cekikan Armand yang sangat kuat.
"Berani sekali kamu memberi Papaku obat keras itu, kamu memang bukan manusia tapi iblis!" bentak Armand.
Armand melepaskan cekikannya membuat Mama Venna terbatuk-batuk.
"Sekarang kamu harus ikut masuk ke dalam penjara bersama anak kesayanganmu," seru Armand.
Mama Venna dengan cepat memeluk kaki Armand dan memohon kepada Armand dengan deraian airmatanya.
"Armand maafkan Mama, Mama tidak mau masuk penjara."
"Mama? kamu bukan Mamaku, sebenarnya aku ingin sekali membunuh kamu dan anakmu itu, tapi kalau kalian mati, aku tidak akan bisa melihat penderitaan kalian jadi aku putuskan untuk memasukan kalian ke dalam penjara supaya kalian membusuk di sana dan kalian bisa merasakan penderitaan kalian yang berkepanjangan di sana," seru Armand dengan senyumannya.
"Armand, Mama mohon ampuni Mama."
Tidak lama kemudian polisi pun datang dan segera membawa Mama Venna pergi dari sana. Mama Venna tampak berontak dan berteriak supaya Armand mau mengampuninya tapi Armand sama sekali tidak memperdulikan teriakan Mama Venna.
Armand dan Pak Bimo memutuskan untuk pulang, tapi di dalam perjalanan pulang, Anto menelepon Armand kalau Biru memajukan acara pernikahannya.
Pernikahan Biru dan Zee yang awalnya akan dilakukan Minggu depan, tiba-tiba dipercepat jadi siang ini karena Biru sudah tahu akan kepulangan Armand.
"Brengsek. Om Bimo, kita segera ke rumah Biru soalnya siang ini Biru akan menikahi Zee," seru Armand.
__ADS_1
"Baik, Mas."
Pak Bimo memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedangkan di belakang mobil mereka, Anto dan yang lainnya dengan setia mengikuti.
Tidak membutuhkan waktu lama, Armand sampai di rumah Biru dan ternyata anak buah Biru berjaga-jaga di depan rumah Biru. Armand yang sudah terlanjur emosi, keluar dari dalam mobil dan melepaskan jasnya kemudian melemparnya.
Armand dengan sigap menghajar semua anak buah Biru, dibantu oleh Anto dan anak buahnya bahkan Pak Bimo pun ikut membantu.
"Mas, kamu masuk saja ke dalam mereka biar kami yang urus!" teriak Pak Bimo.
"Baik, Om."
Armand segera berlari masuk ke dalam rumah Biru, Armand membuka pintu dengan sangat kasar sehingga membuat semuanya kaget.
Terlihat Biru sudah menjabat tangan Ayah Hendar dan baru saja ingin mengucapkan ijab kabul.
"Armand," seru Zee bahagia.
"Brengsek, ngapain kamu di sini?" geram Biru.
Zee hendak bangkit dari duduknya untuk menghampiri Armand, tapi Biru dengan sigap menahan Zee dan mengeluarkan pistol yang dari tadi dia selipkan di pinggangnya lalu mengarahkan ke kepala Zee.
"Jangan mendekat, atau aku bunuh Zee," ancam Biru.
"Astaga Biru, apa-apaan kamu?"seru Ayah Hendar kaget.
"Kurang ajar, kalau sampai Zee terluka sedikit saja, aku pastikan akan memecahkan kepala kamu!" bentak Armand.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan Zee, kamu juga tidak boleh mendapatkannya jadi lebih baik Zee mati, sehingga kamu mau pun aku tidak ada yang bisa bersama Zee," seru Biru.
"Dasar gila."
"Armand tolong aku," seru Zee dengan deraian airmata.
"Jangan mendekat Armand, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!" teriak Biru.
Zee menatap Armand, Armand memberikan kode dengan tangannya dan untungnya saja Zee pintar dan mengerti hingga di saat Biru sedang lengah, Zee menyiku perut Biru dengan sangat keras membuat Biru terhuyung ke belakang dan pegangannya kepada Zee terlepas.
"Kurang ajar."
Biru hendak menembak Zee tapi dengan cepat Armand melompat dan menendang tangan Biru sehingga pistol yang Biru pegang terlempar jauh.
Armand langsung menghajar Biru dengan membabi buta.
"Brengsek, ternyata kamu dan Paras selama ini bekerjasama untuk melenyapkan ku tapi sayang rencana kalian gagal karena Tuhan masih menyayangiku dan memberi kesempatan hidup karena supaya bisa membalaskan semua dendamku," geram Armand.
Pistol yang tadi terlempar ditemukan oleh anak buah Biru, dia hendak mengarahkan pistol itu kepada Armand tapi Zee melihatnya.
"Armand, awaaaaaasssss!"
Zee berlari dan dorrr....
Timah panas itu menembus punggung Zee membuat Armand kaget, Pak Bimo menangkap orang itu dan mengambil pistolnya.
"Zeeeeeee!" teriak Armand.
Armand berlari menghampiri Zee. "Kenapa kamu lakukan ini, Zee?"
Zee tersenyum, belum sempat Zee menjawab ternyata Zee sudah jatuh tak sadarkan diri.
"Ya Allah, Zee!" teriak Ayah Hendar.
__ADS_1
Armand dengan cepat mengangkat tubuh Zee dan membawanya ke rumah sakit, sedangkan polisi pun sudah datang dan membawa Biru dan anak buahnya.
Armand dan Ayah Hendar menunggu Zee, saat ini Zee sedang berada di ruangan operasi.
"Maafkan Om Nak, karena selama ini Om sudah salah paham sama kamu. Ternyata orang yang Om anggap baik, adalah seorang penjahat," seru Ayah Hendar.
"Tidak apa-apa, Om."
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya dokter pun keluar dan memberitahukan kalau Zee berhasil di selamatkan. Armand dan Ayah Hendar tampak bahagia, bahkan Ayah Hendar replek memeluk Armand saking bahagianya.
***
1 Tahun kemudian....
Setelah kejadian berdarah itu, semuanya berjalan dengan sangat baik. Papa Yongki sudah sembuh dan ingat kembali semuanya, sedangkan Armand sudah masuk perusahaan dan mengurus perusahaan dengan dibantu oleh Pak Bimo.
Zee saat ini sedang menunggu di sebuah taman dengan wajah yang cemberut.
"Astaga, Armand sudah kebiasaan. Gila, sudah satu jam aku menunggu di sini," gerutu Zee.
Zee yang kesal hendak pergi tapi Armand keburu datang.
"Sayang, maaf aku telat lagi."
"Kamu itu ya, selalu saja seperti ini."
"Jangan marah dong sayang, barusan ada rapat mendadak jadi mau tidak mau aku harus memimpin rapat."
"Kamu memang menyebalkan, Armand."
Armand memberikan bunga kepada Zee. "Ini bunga untukmu."
"Apaan sih?"
"Oh, jadi kamu gak mau bunga ini, ya sudah aku kasih aja sama wanita itu."
Armand hendak pergi untuk memberikan bunga itu, tapi dengan cepat Zee menyambarnya.
"Enak saja mau kasih bunga sama wanita itu," kesal Zee.
Armand tersenyum dan menarik tubuh Zee ke dalam dekapannya.
"Jangan marah lagi."
"Habisnya kamu begitu sangat menyebalkan."
Armand melepaskan pelukannya, lalu merogoh kantong jasnya. Armand mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu bertekuk lutut di hadapan Zee membuat Zee terkejut.
"Maukah kamu menikah denganku?" seru Armand.
Mata Zee berkaca-kaca, dia tidak menyangka kalau hari ini Armand akan melamarnya.
"Tadinya nanti malam aku ingin mengajak kamu dinner dan melamar di tempat romantis, tapi kelamaan jadi di sini saja."
"Dasar pria tidak modal," seru Zee terkekeh dengan airmatanya yang menetes.
"Bagaimana, apa kamu mau menikah denganku?"
"Tentu saja aku mau, selama satu tahun ini aku yang menemani kamu terapi sampai sekarang kamu sembuh, mana boleh kamu mencampakkan aku dan menikah dengan wanita lain," sahut Zee dengan deraian airmatanya.
Armand tersenyum, dia pun memakaikan cincin ke jari manis Zee dan Armand berdiri lalu memeluk Zee.
__ADS_1
"Terima kasih, karena selama ini sudah mau menemani aku semoga ke depannya kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan kita."
Zee semakin mengeratkan pelukannya kepada Armand, dia tidak menyangka kalau pertemuannya dengan ketua Gengster justru membawanya ke sebuah ikatan cinta.