CINTA GILA SANG GENGSTER

CINTA GILA SANG GENGSTER
Bab 13 Kebencian Zee


__ADS_3

Keesokan harinya....


Zee tampak celingukan, dia mencari keberadaan Armand karena biasanya Armand sudah berada di depan rumahnya.


"Tumben dia belum datang? apa dia marah ya, dengan kejadian semalam?" gumam Zee.


Zee memutuskan untuk menunggu Armand, entah kenapa seharusnya Zee merasa senang karena Armand tidak ada tapi Zee justru menunggu kedatangan Armand.


"Sepertinya tadi malam aku terlalu kasar sama dia, aku harus minta maaf takutnya dia marah dan berakibat fatal kepada semuanya," gumam Zee.


Karena sudah terlalu lama menunggu dan Armand tidak datang juga, Zee pun akhirnya memutuskan untuk berangkat ke kampus dengan menggunakan jasa Gojek.


Tidak membutuhkan waktu lama, Zee sampai di kampus. Zee langsung menuju parkiran dan ternyata motor Armand belum ada di sana.


"Berarti Armand belum datang, apa aku tunggu di sini saja ya," gumam Zee.


Zee duduk di kursi taman yang berada dekat dengan parkiran, sehingga Zee bisa lihat kalau nanti Armand datang.


Sementara itu, Armand baru saja turun dari kamarnya. Seperti biasa, Armand tidak memperdulikan orang-orang yang sudah berada di meja makan.


"Armand, sarapan dulu," seru Papa Yongki.


"Armand tidak biasa sarapan di rumah."


Armand melangkahkan kakinya meninggalkan semuanya, membuat Papa Yongki geleng-geleng kepala. Di luar gerbang, Anto dan anak-anak yang lainnya sudah menunggu Armand, mereka sudah siap mendampingi Armand sampai kampus.


"Apa Zee sudah berangkat ke kampus?" tanya Armand.


"Sudah Bos, naik Gojek."


Armand segera melajukan motornya dan diikuti oleh anak buahnya dari belakang. Hingga tidak lama kemudian, Armand pun sampai di kampus.


"Nah, itu dia baru datang," gumam Zee dengan senyumannya.


Zee bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri Armand.


"Bos, bagaimana dengan taruhan kita? waktunya tinggal satu Minggu lagi ini, jangan lupa kalau Bos kalah, Bos harus membelikan aku motor baru," seru Armand.

__ADS_1


"Jangan mimpi kamu, Zee itu sudah menjadi pacarku jadi kamu yang kalah."


"Tidak bisa Bos, tadi malam Zee bersama pria itu dan Zee juga meninggalkan Bos, bukannya itu artinya Zee menolak Bos secara lembut. Jadi, Bos yang sudah kalah," seru Anto merasa menang.


Zee yang awalnya hendak menghampiri Armand untuk meminta maaf, merasa terkejut mendengar percakapan antara Armand dan anak buahnya.


"Mana ada, aku tidak akan pernah melepaskan Zee karena dia hanya milikku," seru Armand.


Anto membelalakkan matanya saat melihat Zee sudah berdiri di belakang Armand.


"Kamu kenapa?" tanya Armand.


Anto tidak bisa menjawab, sehingga Armand pun membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya Armand melihat Zee menatapnya dengan tatapan kemarahan.


Zee menghampiri Armand dan plaaakkkk....


Zee menampar Armand dengan sangat keras.


"Kamu memang laki-laki brengsek, berani sekali kamu menjadikan aku sebagai taruhan, memangnya kamu pikir aku ini apa?" bentak Zee.


"Kamu salah paham, Zee."


"Laki-laki berandalan tetaplah berandalan, tidak mungkin akan berubah menjadi baik. Aku pikir kamu adalah laki-laki yang baik walaupun penampilan kamu berandalan, tapi ternyata dugaanku salah, sifat dan penampilanmu sama-sama urakan. Aku benci sama kamu Armand, mulai sekarang jangan pernah kamu mendekati aku lagi!" sentak Zee.


Zee segera berlari meninggalkan Armand, sedangkan Anto dan anak-anak yang lain sudah mulai ketakutan melihat raut wajah Armand.


Perlahan mereka naik ke atas motor mereka. "Bos, taruhan kita batal, aku gak minta motor lagi, kalau begitu kami pergi dulu," seru Anto gugup.


Anto memberi isyarat kepada yang lainnya untuk segera pergi, mereka tahu bagaimana reaksi Armand kalau sedang marah dan itu akan sangat membahayakan jiwa dan raga mereka.


Armand kembali mengepalkan tangannya, dia segera pergi ke kelas. Sesampainya di kelas, ternyata Zee sudah pindah tempat duduk. Tidak ada yang berani duduk dengan Zee, hingga akhirnya Armand pun duduk di samping Zee.


Zee bangkit hendak pergi, tapi Armand segera menahan lengan Zee.


"Duduk, atau kamu akan tahu apa akibatnya," seru Armand dingin.


Dengan kesalnya Zee pun duduk, Zee benar-benar sudah benci kepada Armand yang bisanya hanya bisa mengancam.

__ADS_1


"Aku semakin membencimu Armand, kamu hanya bisa mengancam ku," seru Zee.


Armand tidak mendengarkan ucapan Zee, dia mengotak-ngatik ponselnya tanpa memperdulikan Zee membuat Zee semakin membenci Armand.


Sementara itu, Mama Venna saat ini sedang berada di sebuah restoran menunggu seseorang. Tiba-tiba, seorang pria dengan memakai topi dan wajahnya yang brewokan datang dan langsung duduk di hadapan Mama Venna.


"Maaf Venna, aku terlambat."


"Kamu dari mana saja? aku sudah menunggumu dari setengah jam lalu, memangnya kamu pikir aku ini wanita pengangguran apa?" sentak Mama Venna.


"Jangan marah-marah Venna, nanti cantiknya hilang," goda Bobi.


"Jangan banyak basa-basi, cepat mana obat yang aku minta."


"Sabar dulu dong Venna, aku lapar bagaimana kalau kita makan siang dulu."


Mama Venna terlihat sangat kesal, tapi mau bagaimana lagi kalau Mama Venna tidak bisa menuruti Bobi, sudah pasti Bobi akan membongkar semuanya.


Bobi adalah mantan suami Mama Venna, saat ini Mama Venna sedang melakukan sesuatu dan dibantu oleh Bobi. Bobi adalah pria yang suka sekali mabuk-mabukan dan judi, maka dari itu Mama Venna menceraikan Bobi karena sudah tidak tahan dengan kelakuannya.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun selesai makan siang.


"Mana obat itu?"


"Astaga, kamu tidak sabaran sekali Venna. Aku akan memberikan obat ini, tapi kamu harus memberikan dulu aku uang 1 juta saja."


"Brengsek kamu Bobi, kemarin aku sudah transfer uang kepadamu tapi kenapa sekarang kamu minta lagi, memangnya kamu pikir aku ini punya pohon uang apa?" sentak Mama Venna.


"Jangan merendah Venna, semua orang tahu siapa Yongki Castello, uang 1 juta tidak akan berarti apa-apa untuknya. Tapi kalau kamu tidak mau memberiku uang, oke aku tidak akan rugi, dan aku tidak akan memberikan obat ini."


Bobi hendak pergi tapi dengan cepat Mama Venna menahannya.


"Oke, ini 1 juta dan cepat berikan obat itu."


Bobi menyunggingkan senyumannya, dia pun memberikan obat itu kepada Mama Venna.


"Terima kasih."

__ADS_1


Bobi segera pergi dari restoran itu, sedangkan Mama Venna tersenyum penuh arti. Entah obat apa itu dan untuk siapa.


__ADS_2