
Pov Raka
"Kakak.....! apaan sih.....! aku malu tahu," ujar Devina wajahnya terlihat memerah seperti tomat, Mungkin dia merasa malu karena baru saja muntah.
"Ya sudah, ayo....!" Ujarku sambil berjalan menuju salah satu wahana permainan yang bernama lempar bola bahagia atau menjatuhkan kaleng susun. Aku pun membeli bola untuk dilemparkan, Setelah membelinya aku berikan sama Devina.
"Kalau kita berhasil menjatuhkan kaleng itu, nanti kita akan dapat hadiah," ujarku menjelaskan rule of the game permainan lempar bola bahagia.
"Boneka Teddy Bear yang besar itu?"
"Iya,"
"Wah mantap banget....! aku coba ya," ujar Devina sambil mengambil bola yang ada di keranjang kemudian dia lemparkan.
Bola pertama yang dilemparkan tidak mengenai sasaran, begitupun bola yang kedua dan ketiga, sehingga menyisakan dua bola lagi.
"Kakak coba dong, Aku pengen boneka teddy bear...!" Rengek Devina sambil memegang tanganku seperti anak bayi yang sedang meminta mainan sama orang tuanya.
"Ya sudah, nanti aku belikan ya, kalau pulang dari sini."
"Aku mau yang itu Kak," pintanya sambil menunjuk boneka teddy bear.
"Tapi kalau nggak berhasil, jangan marah."
"Iya Kakak jangan menyerah dulu, sebelum mencoba."
Akhirnya aku pun mengambil bola sisa yang berada di dalam keranjang, aku sedikit ragu memainkan permainan yang ada di pasar malam. Karena Dari dulu aku belum pernah mendapatkan hadiah dari game ini, namun apa salahnya kalau aku coba.
__ADS_1
Aku mulai menatap tumpukan kaleng yang berada di depan mataku, setelah memfokuskan pandangan aku melesatkkan satu lemparan ke arah kaleng, entah ada malaikat dari mana bola yang aku lempar tepat mengenai sasaran.
Prakkkk!
"Wah kamu hebat Kak, kamu hebat....!" ujar Devina sambil jingkrak jingkrak penuh kesenangan, berbeda dengan Abangnya yang terlihat masam, namun meski begitu dia tetap mengambil boneka besar yang berada di dinding kiosnya.
"Hehehe, hehehe." hanya senyum itu yang keluar dari mulut, karena aku sendiri saja tidak percaya bahwa lemparanku bisa mengenai sasaran.
"Buat aku?" tanya Devina seolah tidak percaya, ketika dia menerima boneka teddy bear sebesar dirinya.
"Iya....!" jawab penjaga game yang terlihat tidak rela.
"Satu lagi Kak," pinta Devina sambil menatap ke arah tanganku yang masih memegang bola kasti yang tersisa.
Aku pun mencoba memfokuskan pandangan kembali, lalu melepaskan satu lemparan menuju ke arah kaleng yang masih tersusun rapi, di game pasar malam.
Prakk!
"Enggak dapat boneka, cuma dapat gelang saja...!" ujar penjaga game sambil mengambil gelang yang terbuat dari akar, karena kaleng yang aku jatuhkan bertuliskan hadiah yang akan kita dapatkan.
"Yah, kirain dapat boneka lagi," ujar Devina yang terlihat kecewa, tapi dia tersenyum kembali setelah melihat boneka Teddy Bear yang ada di pangkuannya.
Setelah mendapat hadiah gelang, kita pun berjalan kembali melanjutkan melihat-lihat semua wahana yang berada di pasar malam itu. Devina terlihat sangat bahagia, di tangannya dia menggendong boneka teddy bear sebesar tubuhnya.
Aku yang berjalan di belakang, hanya bisa menatap kagum, rambutnya yang di cempol. karena menurutku cewek yang rambutnya di cempol kecantikannya bertambah 10 kali lipat, Devina memiliki mata yang indah dipadukan dengan kulit yang halus, sehingga kalau aku duduk Mungkin aku akan terpeleset. giginya yang putih menghiasi Senyum manisnya, senyum yang membuat hatiku merasa tenang, sehingga aku sangat yakin bahwa semua spesifikasi cewek cantik, semuanya berada di Devina. mungkin sekarang aku sedang jatuh cinta dan beginilah rasanya.
"Kak Raka.....! Kak Raka.....! Malam ini aku bahagia banget...., Terima kasih banyak Kakak, sudah mau mengajakku ke tempat ini....!" teriak Devina ketika kita berada di tempat yang tidak terlalu ramai, karena tidak ada wahana di tempat itu.
__ADS_1
Devina pun menghentikan langkah, karena aku tidak menjawab ungkapannya. dia menatapku penuh heran karena aku tiba-tiba diam seperti kehabisan pembicaraan.
"Kenapa Kakak diam?" ujar Devina bertanya.
"Devin aku boleh ngomong sesuatu nggak?" ungkapku yang seketika membuat Tubuh terasa melayang, suasana yang begitu berisik dengan suara musik dan orang-orang yang mengobrol, berubah menjadi hening bahkan keringat dingin pun mulai keluar.
"Iiiiiih kirain Kakak kenapa, tiba-tiba diam seperti itu. ternyata mau ngomong, kalau mau ngomong ya ngomong saja, nggak usah pakai minta izin segala," ujar Devina sambil tersenyum-senyum seperti sudah bisa menebak apa yang akan aku ungkapkan.
Ditantang seperti itu, tiba-tiba otakku menjadi Blank, semua kata yang sudah aku rangkai semenjak Tadi berangkat dari rumah menghilang seketika. aku hanya bisa memukul-mukul telapak tangan, untuk menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba menghampiri.
Devina terus menatapku dengan penasaran, Bahkan dia memiringkan kepalanya, mungkin ingin melihat lebih jelas apa yang sedang aku rasakan. "kakak mau ngomong apa?" tanya Devina setelah tidak mendapat jawaban.
"Begini Devin," bibirku seketika terkunci, mataku terus celingukkan seperti sedang mencari kekuatan alam, untuk mengatakan perasaan yang sudah tersimpan rapi di dalam dada. "begini Devin, eeeeeuuuu, eeeeuuuu."
"Kakak nggak apa-apa kan?" tanya Devina yang terlihat khawatir.
"Kambing.....! Kenapa susah banget menyatakan cinta," gumamku dalam hati, mataku menatap kosong ke arah Devina seperti orang yang baru saja kesambet siluman.
"Kakak....!" panggil Devina lagi.
"Eeeuuu, eeuuu," ucapku masih tergagu, mataku terus memindai area sekitar, terus mencari kekuatan untuk mengungkapkan perasaanku. sehingga tatapan itu terhenti di salah satu toilet, membuatku memiliki ide. "begini Devin, aku, aku, aku ketoilet dulu ya!" ujarku diakhiri dengan menggigit bibir, karena sebenarnya bukan hal itu yang hendak aku ungkapkan.
Mendengar jawabanku Devina hanya melongo dengan mulut menganga, seolah tidak percaya dengan apa yang aku sampaikan, karena mungkin dia juga sudah tahu apa yang hendak aku sampaikan, Tapi entah mengapa Mulutku tiba-tiba terkunci, jantungku terasa berdebar tidak bisa tenang sedikitpun.
"Aku ke toilet dulu ya, perutku tiba-tiba mulas," ujarku sambil menggigit bibir kembali, kenapa otak kambing ku malah membahas hal yang tidak penting.
"Iya, iya," jawab Devina walaupun Sebenarnya dia tidak mengerti, tapi dia tetap mengizinkanku untuk pergi ke toilet.
__ADS_1
Setelah mendapat izin aku menarik nafas dalam, sampil terus berjalan menuju ke arah toilet, tanganku mengepal karena merasa gemas, kenapa aku bisa senervous itu. padahal sebelum berangkat Aku sudah mempersiapkan semua kata-kata pengungkapan cinta, namun kata-kata Indah itu seolah menghilang seketika.
Sesampainya di toilet, Aku hanya mencuci tangan dan membasuh muka, kemudian menatap wajahku yang berada di cermin, terlihat masih tampan, tidak ada yang kurang sedikitpun. "aku harus menembak Devina sekarang, aku harus...!" gumamku memotivasi diri agar memiliki keberanian.