
Pov Raka
"Lu nanya emang kenapa, lu Nggak sadar dengan perjanjian kita yang akan terus menjomblo seumur hidup, dengan adanya foto ini berarti Lo akan keluar dari geng jomblo kita." Jawab Tio dengan menggebu-gebu, seperti suara masa yang sedang menghakimi maling ayam.
Mendengar pertanyaan dari Tio Aku hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal, karena memang Dulu ketika aku belum kenal dengan Devina, aku sempat berjanji dengan Tio bahwa kita tidak akan berpacaran selama-lamanya. tapi sekarang aku tidak mau mengikuti hal konyol itu, karena mempunyai pacar adalah kebahagiaan yang Hakiki dan aku bisa merasakan beginilah Rasanya jatuh cinta.
"Nggak punya perasaan lu bro, dasar ******....!" gerutu Tio sambil memalingkan wajah seperti anak kecil yang sedang merengek karena tidak dikasih jajan.
"Bro Tio sahabatku yang baik, Harusnya lu sebagai sahabat gua mendoakan gua, agar gua bisa awet sama Devina, bukan marah-marahin gua," ujarku sambil menepuk-nepuk bahu Tio.
"Bukan begitu Raka, Gua tahu lu bro, bahkan Gua lebih tahu dari siapapun. kalau lu pacaran pasti akan ribet, repot....! Ngerti nggak lu..?" ujar Tio sambil menunjuk-nunjuk Ke wajahku.
"Iya, iya. gua ngerti Bro, gua sudah memikirkan semuanya, Terima kasih sudah mengingatkan." Jawabku sambil menurunkan telunjuk tiap dari wajah.
Tring! tring! tring!
Handphone di celana sekolahku berbunyi, dengan segera aku pun mengambilnya. namun Tio mendekat seperti hendak mengintip."apa-apaan sih yo, sana gerah tahu...!" ujarku sambil menyembunyikan layar handphone agar sahabatku itu tidak bisa mengintip.
"Gua mau lihat doang, Pelit amat sih....!" ujar Tio sambil terus mendekat ingin mengetahui siapa yang menelepon, namun aku juga tetap menahannya, dengan tangan sebelah kiriku, sedangkan tanganku yang sebelah kanan menggeser tombol berwarna hijau ke arah atas untuk mengangkat panggilan.
Sebelum berbicara aku pun menempelkan telunjuk di bibir, memberikan isyarat agar Tio tidak Berisik. "Iya halo baby, Ada apa?" Tanyaku sama Devina.
"Aku sudah sampai di kelas nih, Kamu ke sini dong Aku kangen," pinta Devina.
"Oh begitu, ya sudah sebentar aku ke situ. tunggu ya, sabar....!" jawabku sambil tetap melindungi agar Tio tidak bisa menguping. namun dia tetap memaksa menempelkan telinga di dekat handphoneku.
"Buruan..., aku sudah kangen!" paksa Devina.
__ADS_1
"Ya sabar, sebentar. Tunggu aku baby, muah!"
"Muah juga, awas kalau lama."
"Bay Baby," ujarku sambil menutup telepon membuat Tio melongo menatap ke arahku, Mungkin dia baru tahu kalau punya pacar itu sangat membahagiakan.
"Baby, baby, cuihh...! babi kali," ujar Tio sambil mendengkulkan kepalaku.
"Hahaha, lu ngiri yah yo,"
"Nggak. gua nggak ngiri. ayo kita buruan ke kelas, kita harus bicarakan masalah ini, karena Lu sudah berkhianat dengan geng kita yang hanya berjumlah dua orang. pokoknya gua gak mau tahu kita harus diskusikan ini," ujar Tio sambil menarik tanganku namun dengan cepat aku menghempaskan tangan itu.
"Sorry banget nih, Sorry banget Bro Tio. gua harus ke kelas Devina terlebih dahulu, nanti saja bicarakan lain waktu." tolakku sambil mengulum senyum agar dia tidak tersinggung, membuat tio Hanya berdiam diri sambil menatapku seolah tidak percaya.
"Hey Tio...! nggak papa kan kalau lu ke kelas sendirian?" Tanyaku sambil menatap tidak enak, bahkan sampai melambai-lambaikan tangan di depan wajah.
"Wah Lu tega sekali Bro, terus gua ke kelas sama siapa?"
"Raka.....! Raka.....! kambing lu ya," ujarnya dengan berteriak.
"Mas Tio ayo kita ke kelas bareng," terdengar ajakan Rani yang begitu mesra, membuat Tio brigidik kemudian berlari Pergi ke kelasnya.
*****
Hari-hari berikutnya, setelah aku berpacaran dengan Devina. hari-hariku terasa dipenuhi dengan warna, sehingga membuat kehidupanku tidak merasa bosan. setiap hari kita selalu bersama ketika di sekolah dan menghabiskan waktu berjam-jam di telepon ketika kita sudah berada di rumah.
"Ayang sudah ngerjain PR belum?" Ujarku ketika berteleponan dengan Devina, pembahasan yang tidak penting menjadi sangat seru ketika dibahas dengan orang yang kita cintai.
__ADS_1
"Udah sayang, kalau Ayang udah apa belum?" jawab Devina dengan suara manjanya.
"Beneran, kamu sudah mengerjakan PR?"
"Beneran lah. masa aku berani berbohong sama pacar terganteng ku." jawab Devina membuat kedua sudut bibirku terangkat, hidungku mau lepas dari tempatnya.
Itulah kehebatan Devina, dia selalu bisa membuatku terus merasa nyaman berada di sampingnya. banyak hal yang berubah semenjak aku berpacaran dengan Devina, dari yang awalnya memanggil aku, kamu, sekarang pakai kata ayang-ayangan.
Dari tadinya WhatsApp hanya dipakai untuk chattingan doang, sekarang dipakai untuk berteleponan berjam-jam.
"Kamu tahu nggak persamaan kamu dengan bulan?" Tanyaku ketika kita berteleponan.
"Nggak tahu," jawab Devina yang terdengar Suaranya sangat manja.
"Sama-sama menerangi malamku yang gelap ini,"
Begitulah kata-kata sering aku utarakan ketika kita bertelepon, menggodanya, memujinya, menyanjungnya agar Devina tetap nyaman berada di sampingku.
Sebelum Kenal dengan Devina aku sangat malas ketika pergi ke sekolah, sekarang pengen cepat-cepat sampai ke sekolah biar bisa ketemu Devina.
Dari awalnya chat-an yang Ketika ingat doang, sekarang chat-an menjadi kapan saja dan di mana saja, bahkan sambil ngeden di toilet kita tetap bertukar kabar.
Setelah kehadiran Devina dalam hidupku, aku tidak kehabisan ide untuk menulis cerpen, bahkan menulis novel yang hendak aku selesaikan.
Minggu pertama kita pacaran, rasanya sangat manis mengalahkan manisnya madu dan gula, karena kita berdua merasa bahagia bisa memiliki satu sama lain, kita bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Minggu kedua, rasanya masih tetap manis, meski tak semanis minggu pertama. Karena Devina sangat pintar menjaga perasaan pasangannya, Devina wanita yang tidak memiliki kekurangan bak bidadari yang diturunkan dari langit untuk menemani sang Raka.
__ADS_1
Di minggu kedua ketika malam minggu datang, aku tidak menghabiskan waktu di kamar dengan laptopku. sekarang Malam Mingguku pergi menemani Devina di rumahnya, awalnya tidak berani karena takut ditanya yang tidak tidak oleh orang tuanya, namun rasa kangenku mengalahkan Nalar seorang laki-laki, Padahal baru tadi siang kita bertemu di sekolah.
Setelah meminta izin kita berdua pun pergi mencari angin malam, menikmati malam minggu layaknya pasangan muda mudi pada umumnya. aku mengajak Devina untuk makan di angkringan, karena kalau untuk ke restoran yang mahal uangku Belum Cukup. aku hanya memiliki sedikit tabungan pemberian dari orang tua, tapi meski begitu Devina tetap tersenyum bahagia menghormati semua pengorbananku.