
Pov Raka
"Derry, Derry, lah Kok dimatiin sih Derry, ah.......!" ujar cewek itu dengan kesal kemudian seperti biasa menghentakkan kaki ke tanah, seperti sedang memanggil jin untuk mengabulkan semua permintaannya. Aku yang memperhatikan dari awal semakin menambah melongok, ternyata perempuan itu semuanya Sama saja mereka hanya bisa marah-marah menyalahkan dan berlaga seperti orang yang paling disakiti.
"Ih si Derry, itu rese banget sih....!" lanjutnya sambil mendekat ke bangku panjang yang sedang aku duduki, dengan wajah yang ditekuk, pipi yang memerah, gigi yang mengerat, dia pun menundukkan tubuhnya membelakangiku, Solah tidak memperhatikan keberadaanku yang terus memperhatikan dari tadi.
"Kenapa sih semua cowok sama saja, Emang dia pikir kalau nggak ada dia Gua nggak bisa hidup apa. ya enggak lah...! kenapa semua cowok selalu ngerasa berkuasa nggak banget tahu nggak?" ujarnya seperti orang yang kurang waras karena berbicara sendirian, membuatku terus menatap Aneh ke arahnya. ketika dia duduk menyamping terlihatlah wajah imut seorang wanita yang sedang marah-marah, tidak seperti Devina kalau lagi marah dia sangat menyeramkan.
"Kenapa ya cewek itu sensitif banget kayak pantat bayi," ujarku menyahuti perkataannya, tapi sekarang aku tidak melihat ke arah cewek itu,Tapi aku menatap bunga-bunga yang tumbuh subur di taman sekolah.
Wanita yang aku intip pembicaraannya. dengan segera memalingkan wajah menatap tajam ke arahku, membuatku sedikit Salah Tingkah melihat sorot mata seperti mata elang yang sedang mengincar buruannya, Tapi itu tidak membuatku takut, malah yang ada hanya kekaguman karena sorot mata itu terlihat begitu indah.
"Lu kenapa?" tanyanya sambil mempertajam tatapannya. "ngerasa gua ngomong sama lo?" lanjutnya bertanya.
Sebelum menjawab Aku memindai keadaan sekitar, mencari-cari orang takut cewek itu sedang berbicara dengan orang lain, tapi ternyata tidak karena di taman itu hanya ada kita berdua.
"Ya kan nggak ada orang lain. cuma ada gua sama lu. jadi Lu ngajakin ngobrol gua duluan," jawabku dengan nada pelan namun cewek itu tidak menghiraukanku, malah dia menatap kembali layar handphonenya sambil memperlihatkan wajah kesal, karena sudah dari tadi dia menelepon tapi tidak diangkat-angkat.
"Salah ya...?" lanjutku setelah tidak mendapat tanggapan. wajahku menatap wajahnya yang terlihat sangat manis Ketika dilihat dari samping.
Dengan pengalaman yang aku dapatkan dari devina, aku pun memberanikan diri mengulurkan tangan ke arahnya. "nama gue Raka, 11 IPA B." ujarku dengan kepercayaan diri penuh, Bahkan aku naik turunkan kedua alis.
Diajak kenalan cewek itu hanya mendelik lalu menarik satu sudut bibirnya, dia hanya menatap uluran tanganku yang berada di hadapannya, tanpa sedikitpun terlihat mau menyambut. "Sorry ya gua nggak main sama Junior," jawabnya dengan nada datar, Membuatku menjadi salah tingkah, karena aku yang sudah sangat percaya diri namun seketika harga diri itu dijatuhkan begitu saja.
__ADS_1
Dan ternyata ada yang lebih mencengangkan Ternyata Cewek ini adalah kakak kelasku, tapi entah kelas berapa karena jangankan mengetahui lebih lanjut, ingin mengetahui namanya dia tolak mentah-mentah,dengan segera aku menarik uluran tanganku dari hadapannya.
"Bisa nggak lu pergi dari sini, gua lagi ingin sendiri." lanjutnya mengusirku membuat mataku terbelalak kaget, karena tidak menyangka dia akan berkata sekasar itu.
"Kan gua yang duduk duluan di sini, kalau lu nggak percaya tanya aja sama bangkunya.....!" jawabku sambil menunjuk sandaran.
"Lo duluan.....?" ujarnya seolah tidak percaya.
"Iya gua duluan, kan lo baru datang sambil marah-marah ditelepon, kemudian duduk di sini tanpa izin," ujarku memberanikan diri.
"Hai anak dungu......! dengar ya gua yang duluan masuk ke sekolah, dan setelah Gua tinggal setahun, Lu baru datang. jadi, gua senior, dan lu Junior masih tengik."
"Maksudnya apaan?"
"Halah....., Siapa yang mengganggu kesenangan orang lain, yang ada dirinya sendiri yang main serobot, dasar senior gila hormat......!" gumamku sambil bangkit dari tempat duduk hendak pergi meninggalkan taman.
"Apa.....! lu ngomong apa barusan?" bentak cewek itu sambil menyusulku bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menghampiriku yang terdiam karena terkaget mendapat bentakannya.
"Apa lu bilang gua gila hormat, Asal lo tahu ya emang seharusnya Junior itu menghormati seniornya.....!" lanjut cewek itu dengan menaikkan intonasi suara, matanya menatap tajam ke arahku, seolah sedang mengukur apa aku bisa ditelan bulat-bulat.
"Nggak, nggak ngomong apa-apa kok." jawabku agak tergagap.
"Lu kalau berani ngomong di depan langsung, Jangan di belakang....!" lanjut cewek itu sambil menunjuk wajahnya mengisyaratkan tidak ada ketakutan Walaupun dia hanya seorang perempuan.
__ADS_1
Mendapat bentakan seperti itu, Aku hanya terdiam melongok seperti orang yang hilang kewarasan. Sebenarnya aku merasa heran kenapa ada cewek yang seperti ini, walaupun dia sangat cantik tapi kelakuannya lebih mengerikan kalau dibandingkan dengan Devina.
"Jawab.....! malah diam, dasar dungu."
"Nggak, aku nggak ngomong apa-apa, tadi Celanaku nyangkut."
"Dasar chicken, mana ada celana nyangkut di bangku kalau nyangkut ke paku itu baru wajar. Sudahlah lu jangan banyak alasan, mendingan lu pergi dari tempat ini, gua sangat enek melihat wajah lu yang sangat menyebalkan...." usirnya lagi.
"Iya, iya, dari tadi juga aku kan mau pergi, kakaknya aja nyerocos terus seperti ikan mas yang dimasukkan ke penggorengan."
"Semakin dibiarkan kamu semakin ngelunjak, dasar Junior nggak tahu diri...!"
Merasa berdebat dengan senior yang gila hormat tidak akan membuat keuntungan apa-apa, aku pun melangkahkan kaki meninggalkan taman, meninggalkan cewek aneh yang hobinya marah-marah. beruntung cewek itu sangat cantik, sehingga aku tidak sedikitpun merasa dendam dengannya.
Aku terus berjalan menyusuri lorong sekolah, menapaki tangga menuju lantai dua karena kebetulan kelas 11 IPA B ada di lantai itu. namun ketika aku hendak masuk ke ruangan, keluarlah Devina dari ruang kelas. dengan segera aku menghentikan langkah, ingin mencari tempat bersembunyi tapi sayang aku keburu terlihat olehnya.
Dengan segera dan agak sedikit berlari Devina pun menghampiri ke arahku, bibirnya sudah maju ke depan beberapa centi, menandakan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu ke mana aja sih, Dicariin ke kantin tidak ada, dicariin ke kelas tidak ada, di telepon malah tidak aktif. kamu sebenarnya masih menganggap aku apa tidak sih?" cerocos Devina menghujaniku dengan pertanyaan.
"Aku dari taman Devin."
"Dari taman, ngapain dari taman? kamu ngecengin cewek-cewek di sana ya." susul Devina.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan yang memojokkan seperti itu, Aku hanya menggelengkan kepala sebagai penolakan tuduhannya. kalau tidak takut keributan akan semakin parah, rasanya ingin segera masuk ke kelas, meninggalkan gadis rese yang sedang berada di depanku.