
Pov Raka
"Kak, Kakak nggak apa-apa kan?" tanya Devina yang menatap penuh keheranan, tangannya dilambai-lambaikan di hadapan wajahku, seperti seorang dokter yang sedang mengecek kesadaran pasiennya.
Sebelum menjawab pertanyaan Devina, aku menarik kedua sudut bibirku untuk mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. "tenang aja sih, aku nggak apa-apa kok." ujarku sambil tetap mengulum senyum kemudian menyimpan kembali helm yang tadi aku ambil dari bagasi depan, untuk menyembunyikan kekakuanku.
"Terima kasih ya Kak atas pengertiannya, Sekali lagi mohon maaf besok Kakak jangan bosan untuk menjemputku lagi, aku pamit dulu ya Kak...!" ujar Devina yang membalikkan tubuh membuat jantungku kembali berdebar lebih kencang, karena ternyata rencana tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Batinku berperang antara menahan langkahnya atau tidak. kalau ditahan aku takut kejadian tadi malam terulang kembali, kejadian di mana Aku hanya meminta izin untuk pergi ke toilet. tapi kalau tidak ditahan aku takut tidak ada kesempatan lagi bertemu dengan Devina, walau baru hanya membatalkan pulang bersama, hatiku sudah merasa ketakutan seperti Devina akan pergi menjauh selama-lamanya.
"Kambing....! Kenapa susah banget untuk berbicara," ujarku dalam hati sambil memukul telapak tangan membuat Devina yang baru saja beberapa langkah meninggalkanku, berbalik badan menatap ke arahku.
"Kenapa kak?" Tanya Devina yang menatap penuh keheranan.
Dengan segera aku melangkahkan kaki mendekat ke arah Devina, lalu menatap wajahnya yang terlihat begitu cantik, namun sangat menakutkan ketika untuk mengungkapkan perasaan.
"Aku, aku, boleh ngomong sesuatu nggak?" tanyaku mengulang pertanyaan tadi malam.
"Hehehe, mau ngomong saja harus minta izin segala. Emangnya aku Hakim yang harus memakai etika seperti itu?" ujar Devina sambil mengulum senyum mencairkan suasana yang terasa begitu kaku.
Mulutku tiba-tiba terkunci kembali, aku hanya menatap Devina yang terlihat lengak-lenggok memainkan tali tas gendong, membuatnya semakin terlihat Manis Manja. wajahku menjadi datar karena tidak tahu harus bagaimana cara mengungkapkannya.
__ADS_1
"Mau ngomong apa, mau izin ke toilet lagi?" ledek Devina yang semakin berani.
"Aku, aku, aku suka sama kamu Devina, aku suka banget sama kamu. dari awal ketika kamu mengajakku berkenalan, perasaan itu semakin tumbuh subur karena dipupuk oleh sikapmu yang luar biasa," ungkapku yang membuat perasaanku menjadi lega, seperti baru saja pecah bisul yang sudah lama menyiksa, rasanya sangat plong sekali meski belum tahu jawaban Devina.
"Oh terus?" tanya Devina yang seketika wajahnya berubah, awalnya senyum-senyum simpul sekarang menjadi datar dan dingin, sedingin es yang baru dikeluarkan dari kulkas.
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" Lanjutku yang sudah kepalang tanggung tercebur dalam rasa malu, sehingga aku memutuskan menanyakan hal seperti itu.
"Oh begitu, kenapa Kakak bisa suka sama Devina?" pertanyaan klasik yang selalu aku dengar ketika seorang perempuan ditembak.
"Cinta tulus tidak perlu alasan untuk mencintai, karena yang sering beralasan itu hanyalah mulut, sedangkan mulut adalah tempat yang paling sering melakukan kebohongan. kamu harus tahu bahwa cintaku tidak didasari dengan kebohongan, cintaku hadir dari lubuk sanubariku yang terdalam, dan rasanya kalau untuk mencintai wanita secantik dan sebaik kamu tidak perlu alasan, hanya orang bodoh lah yang tidak menyukai wanita seperti Devina?" ujarku yang mulai menguasai diri sehingga semua ilmu aku dapat dari novel dan artikel-artikel yang kubaca sekarang dikeluarkan, digunakan untuk meluluhkan hati Devina.
"Hehehe, kakak pintar juga ya, mentang-mentang Kakak penulis jadi sangat mudah menaklukkan hati wanita. tapi maaf Kak...!" ujar Devina yang wajahnya semakin terlihat datar.
"Aku tidak bisa Kak!"
Duarrrrt!
Terdengar suara petir yang menggelegar di tengah hari bolong, membuat telingaku mendenging seketika, jiwaku terasa melayang keluar dari raganya. jawaban yang diberikan oleh Devina tidak sesuai dengan harapanku, Devina yang aku anggap akan menerima cintaku, ternyata dia menolak. lututku terasa gemetar seolah tak mampu menahan beban jiwa yang sedang menimpaku. rasanya pengen berteriak sekencang-kencangnya sampai aku tak sadar lagi sekarang sedang berada di mana, Aku tidak ingin Kejadian ini menjadi hal yang terburuk dalam jiwaku, Aku ingin Kejadian ini adalah hanya mimpi buruk dalam tidurku.
"Tidak mau menolak," terdengar kembali suara Devina yang melanjutkan ucapannya, membuatku menatap penuh heran ke arah cewek yang sedang berada di hadapanku. Dalam Hati bertanya kenapa kaum wanita selalu senang mempermainkan perasaan laki-laki, Apakah mereka tidak merasa bahwa aku seperti mau kehilangan nyawa.
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanyaku yang belum yakin dengan apa yang diucapkan oleh Devina.
"Aku mau menjadi pacar kakak. eh Raka."
"Serius?"
"Hemmmmmz...!" jawab Devina sambil menganggukan kepala bibirnya dihiasi dengan penuh senyum.
"Yes, yes, yes, akhirnya aku punya pacar...!" Teriakku sambil jingkrak-jingkrak menari kegirangan seperti menemukan Oasis di gurun sahara, kehidupan yang dikira Mau hancur sekarang tersusun rapi seperti puzzle yang baru dikeluarkan dari boxnya.
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu Yah kakak, eh Raka. soalnya sopir aku sudah menunggu."
"Ya hati-hati yah!"
Akhirnya Devina pun pergi meninggalkanku, namun dia pergi bukan untuk tidak kembali, Dia hanya menghilang sekejap dari pandanganku, tapi meski begitu Hatinya sudah aku genggam di dalam tangan, karena sekarang aku sudah resmi menjadi pacar Devina.
Rasa Bahagia yang tak bisa diungkapkan, bercampur dengan rasa haru karena Devina adalah Pacar Pertamaku secara nyata. orang yang akan menemani dan mengarungi Bagaimana merasakan dan menikmati Rasanya jatuh cinta. mungkin dari Devina, Aku akan belajar bagaimana tentang arti kesetiaan, arti pengorbanan arti saling melengkapi, artis saling mencintai, menjadikan hidup kita akan penuh dengan warna.
Aku terus menatap Devina yang pergi meninggalkanku sampai dia pun tak terlihat lagi. aku terdiam berdiri seperti patung yang tidak memiliki jiwa, kejadian yang barusan rasanya seperti mimpi yang baru saja aku terbangun dari tidur lelapku, sehingga aku mencubit pipi untuk memastikan bahwa sekarang aku berada di dunia nyata, bahwa Sekarang aku sudah memiliki seorang yang akan mendampingi hari-hariku di sekolah.
Awww....!
__ADS_1
Ternyata cubitan itu terasa sakit, membuktikan bahwa sekarang aku berada di dunia nyata. dengan penuh kegirangan aku pun mulai menari kembali, seperti film-film India ketika mereka menemukan kesenangan. aku berjingkrak-jingkrak sambil mencium cium helm yang tadi hendak dipakai oleh Devina.
Setelah bereuforia atas kemenanganku yang sudah menaklukkan hati Devina, aku mulai mengeluarkan motor dari parkiran meninggalkan sekolah untuk pulang ke rumah, dengan membawa perasaan yang baru, perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.