Cinta Raka

Cinta Raka
bab 25


__ADS_3

Pov Raka


Kira-kira pukul 10.00, aku pun sudah mendapat lima halaman. itu sudah cukup buat cerpen yang dipajang di mading sekolah, karena kalau terlalu panjang itu bukan cerpen tapi novel. setelah aku membacanya sekali dan membetulkan tanda baca sembari merapikan tulisan, aku mengirim file tulisan itu ke printer lalu dicetak.


Handphone-ku sudah tidak menyala lagi, mungkin Devina sudah bosan memanggilku, atau dia sudah tidur. dengan segera aku mengambil handphone itu, ternyata bukan Devina sudah bosan, tapi handphone-ku kehabisan baterai, mungkin terus-menerus dipanggil oleh nomor Devina.


Aku mengambil charger, kemudian mencharger handphoneku tanpa menghidupkannya, karena Sekarang aku ingin fokus untuk memikirkan apa yang Udah tadi aku rencanakan bersama Tio, bahwa aku ingin cuti dari pacaran dengan Devina, kalau bisa aku ingin bebas dari cewek yang sangat menjengkelkan itu.


Setelah print-an ku selesai, aku mematikan laptop kemudian merapikannya kembali. aku menuju saklar lampu untuk menggantinya dengan lampu tidur. setelah kamarku terlihat redup Aku menuju kasur lalu membantingkan tubuhku ke atasnya, mataku menatap ke arah plafon namun pikiranku terbang melayang kemana-mana, menerka-nerka Apa yang akan terjadi, kalau aku bisa terbebas dari jeratan cewek yang bernama Devina. Mungkin aku akan kembali menikmati hidupku dengan kejombloan, aku bisa bebas main bersama Tio, aku bisa bebas melanjutkan tulisan novelku yang belum selesai-selesai, karena selalu ada gangguan.


Terlalut dalam khayalan, akhirnya khayalan itu pindah ke alam impian. mungkin keadaan pikiran yang sedang kalut, sehingga Devina dengan wajah seramnya hadir dalam mimpiku, Dia menjadikanku budak dengan menandaiku dengan kalung pelecehan.


*****


Keesokan paginya, seperti biasa keluargaku suka menanamkan sarapan bersama, sebelum kita menjalankan aktivitas masing masing. Begitu juga dengan pagi itu, aku bersama Mbak Vira, bapak dan ibu duduk di ruang makan menyantap sarapan masing-masing.


"Mau berangkat jam berapa Mbak?" tanyaku sambil melirik ke arah kakak.


"Tumben-tumbenan lu nanya seperti itu, uang jajan lu udah habis ya?"


"Lah ditanya ke mana, jawabnya ke mana."


"Emang bener kan, kalau bukan minta uang jajan tambahan, minta apa lagi lu? udah ketebak akal bulus lu ke mana perginya." jawab Mbak Vira sambil mendelik.


"Mbak jangan ngelantur ke mana-mana deh, Apa susahnya coba tinggal jawab yang benar?"


"Lagian lo mentang-mentang sudah punya pacar sampai lupa sama kakak sendiri, terlalu asik dengan pacar lo sehingga jadwal kerja kakak sendiri sampai lupa," jawab Mbak Vira yang tidak sepenuhnya salah, karena memang benar semenjak aku pacaran dengan Devina, Aku tidak pernah lagi mengantar kakakku ke kantornya.

__ADS_1


Melihat kedua anaknya sedang berbicara, Bapak dan Ibu hanya saling menatap dan mengulum senyum, karena mereka mungkin sudah paham dengan sifat kakakku yang sangat rewel.


"Ah males Lu Mbak, semakin didengarkan semakin ngelantur, tadinya gue mau nawarin lu untuk berangkat bareng?"


"Hah.....?" tanggapnya sambil menekatkan wajahnya ke arah wajahku, seperti ingin melihat dengan jelas apa yang aku utarakan.


"Sudah jangan dekat-dekat apa...!" usirku dengan mendorong tubuhnya menggunakan tangan kiri.


"Gua kaget, gua terkejut. adik gua kesambet apa, sampai dia berubah sederastis ini?"


"Ya Udin kalau nggak mau gua antarkan," jawabku dengan kesal.


"Hehehe, Terima kasih ya, kalau lu lupa jadwal keberangkatan kita ke kantor. maka mbak kamu yang baik ini akan menjelaskan, kita ke kantor seperti biasa pukul 06.30, agar tidak terjebak macet."


Akhirnya ruang makan pun Hening kembali, terlarut dengan sarapan masing-masing. sesudah pengganjalan perut di pagi hari, sesuai dengan Rencanaku yang hendak berangkat bareng kembali dengan mbak Vira aku sudah menunggu kakakku di parkiran, dengan memanaskan motor terlebih dahulu.


"Kenapa nyengir?" tanyaku dengan nada sinis.


"Akhirnya gua bisa menghemat uang bulanan gua, kalau lu mau nganterin gua setiap hari seperti ini." jawab Mbak Vira tanpa membiaskan senyumnya


"Halah apaan sih Mbak, kok ngomongnya gitu amat. Sudah buruan naik, Nanti gua telat nyampe sekolahnya."


"Siap komandan.....!" jawab Mbak Vira sambil menempelkan tangannya di dekat alis.


"Ya Sudah buruan naik. malah latihan Paskibra."


"Sebentar, sebentar!"

__ADS_1


"Ada apa lagi Mbak, ada yang ketinggalan?" tanyaku sambil menatap heran ke arahnya.


Mbak Vira hanya menggelengkan kepala, sebagai jawaban dari pertanyaanku.


"Terus?" jawabku yang semakin merasa heran.


"Apa nggak akan hujan ya?"


"Ya enggaklah orang cuacanya cerah gini, emang kenapa?"


"Karena adik gua yang sudah lama menghilang kebaikannya, tiba-tiba berubah kembali menjadi baik."


"Ah Suwek lu....! kirain apa," jawabku dengan mengulum senyum.


Suasana pagi itu di kota Jakarta sangat cerah, lumayan seger karena polusinya mungkin terbawa oleh hujan tadi subuh. aku dan Mbak Vira terus melaju di atas motor bergabung dengan kendaraan lain, yang sama-sama memulai hari untuk mencari kehidupan.


Mobil terlihat berlalu Lalang, ada yang menuju ke kantor, Ada juga yang mengantar anaknya ke sekolah, ada juga yang mengantar penumpang ke tempat tujuannya masing-masing. Begitu juga dengan motor yang memenuhi setiap inci Jalan Kota Jakarta, saling salip seperti sedang buru-buru. padahal keselamatan lebih penting daripada apapun, karena akan percuma cepat kalau sampai tapi tidak selamat.


Setelah menurunkan Mbak Vira di depan kantornya, aku meneruskan perjalananku menuju ke sekolah. Sesampainya di pintu gerbang terlihatlah anak remaja yang berpakaian putih abu dengan menggendong tas di pundaknya, sedang masuk ke tempat itu. Mereka terlihat bersemangat untuk mencari ilmu, atau mungkin uang jajan mereka belum terpakai, karena kalau pulang wajah yang segar akan menjadi lesu.


Setelah sampai ke parkiran dan menyimpan motorku dengan rapi. Seperti biasa aku menuju Mading sekolah untuk menempelkan karyaku, meski tidak menjadi cuan tapi dengan tulisan yang kutulis setiap malam, mengantarkanku mendapat pacar meski sangat rese.


Plak.


Pundaku ada yang menampar dari belakang dengan segera aku membalikkan tubuh dan berbicara. "apa-apaan sih Tio, kebiasaan ngagetin orang," ujarku yang menyangka bahwa orang yang menepuk adalah sahabatku yang bernama Tio, namun ketika aku melihat wajahnya Mulutku tiba-tiba menganga, mataku terbuka dengan lebar.


"Tio terus, Tio terus, Apa yang di pikiranmu hanya Tio. Sebenarnya kamu tuh pacar aku, apa pacar Tio sih?" tanya gadis manis yang terlihat tidak manis dengan rambut di cempol ke belakang.

__ADS_1


"Maaf Devin kirain kamu Tio, ada apa?" ujarku diakhiri dengan pertanyaan.


__ADS_2