Cinta Raka

Cinta Raka
bab 7


__ADS_3

Pov Raka


"Hahaha, benar kata ibumu, kamu sudah pandai berbohong. masa iya sudah mandi kamu belum mengganti baju sekolahmu, sana mandi dulu terus salat, lalu lanjutkan kembali aktivitasmu yang sedang bertelepon."


"Iya Pak," jawabku sambil bangkit dari tempat tidur, meski agak malas tapi kalau Bapak sudah menyuruh aku tidak bisa mengelaknya.


Setelah melihat anaknya bangkit dari tempat tidur. dia pun berpamitan untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu, setelah seharian bekerja. sebelum masuk ke kamar mandi aku pun mengirimkan pesan ke Devina, aku minta maaf karena memutus telepon secara tiba-tiba.


Aku yang awalnya hendak masuk ke kamar mandi, hanya terdiam sambil tersenyum di ambang pintu, terhipnotis oleh rasa yang baru aku tangkap, mungkin begini rasanya sedang jatuh cinta.


~


Keesokan paginya, kira-kira pukul 06.00 aku sudah bersiap berangkat ke sekolah, karena sudah janjian bersama Devina bahwa kita akan berangkat bareng.


"Tumben tumbenan kamu sudah siap-siap Ka?" tanya ibu yang menatapku penuh heran.


"Iya hehehe, soalnya Raka ada tugas yang harus diselesaikan Mah." Jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.


"Eh, lo mau ke mana? kok berangkat pagi-pagi, nanti gua berangkat sama siapa?" tanya Mbak Vira dari meja makan.


"Lu kan udah kerja Mbak, naik mobil online aja sih, manja banget jadi kakak. Ya sudah Raka duluan ya, mah, pak." ujarku Sambil mengambil tangan ibu dan Mbak Vira untuk berpamitan.


Setelah berpamitan aku berlari menuju garasi, kemudian tanpa memanaskan motor terlebih dahulu, aku pergi meninggalkan rumah. walaupun Mbak Vira masih tetap ngedumel karena aku tidak bisa berangkat bareng dengannya.


Suasana kota Jakarta pagi itu terlihat begitu cerah, secerah harapanku Yang sebentar lagi akan bertemu dengan Devina. aku terus mengemudikan motor membelah kota Jakarta. suara mobil saling bersahutan dengan suara klakson yang sesekali dibunyikan ketika ada kemacetan, karena jam segitu orang-orang sudah mulai berangkat ke kantor untuk menghindari kemacetan.


Lama di perjalanan, akhirnya aku sampai di depan rumah Devina, setelah membunyikan klakson terlihat pintunya terbuka, lalu muncullah Devina yang sangat imut dengan ikatan rambut di belakang. dia tersenyum menyapaku membuat hati ini berdegup tak karuan, namun mesku begitu aku tetap mengambil helm lalu diberikan sama Devina.


"Terima kasih....!" Ujarnya sambil manggut kemudian mengenakan helm lalu duduk di jok belakang.


"Udah siap?"

__ADS_1


"Hmmmz....!" Jawab Devina sambil mengangguk.


Motorku kembali berjalan menyusuri Jalan Gang perumahan, sampai akhirnya tiba di jalan besar bergabung kembali dengan kendaraan kendaraan yang melaju bergerak menuju ke tempat kerja masing-masing. di perjalanan kita terus mengobrol hingga perjalanan itu tak terasa kita sudah sampai di tempat parkiran sekolah.


"Terima kasih ya Kak!" ujarnya sambil memberikan helm yang ia kenakan.


"Sama-sama, Oh iya mau ke kelas langsung?" tanyaku sambil menyimpan helm di bagasi depan.


"Emang kenapa?"


"Seperti biasa aku mau menempelkan cerpenku di mading, takut kamu mau langsung ke kelas."


"Ikut boleh?" tanyanya sambil menatap ke arahku.


"Boleh, ayo!"


Akhirnya kita berdua pun berjalan beriringan menuju ke mading sekolah, hatiku terus dipenuhi dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Entah mengapa ada perasaan bangga yang hinggap di jiwaku ketika berjalan dengan Devina. Bagaimana tidak bangga, Soalnya hari ini Devina terlihat sangat cantik dia Menggunakan seragam putih biru yang agak sedikit kekecilan, sehingga menimbulkan dua Gunung yang di depan dada, ditambah rambutnya yang dikuncir, membuatnya terlihat imut dan menggemaskan.


"Boleh kalau mau, kamu tinggal nulis aja. mulai dari membuat Diary terlebih dahulu, nanti lama kelamaan juga akan terbiasa menulis. yang penting kuncinya adalah kesabaran, karena menulis akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menikmati tulisan kita." jawabku menjelaskan.


"Terus kalau kita sudah menulis diary, terus ide cerpen atau novel kita dapat dari mana, Masa iya diary kita dipampang di mading seperti kakak?" tanya Devina sambil menatapku penuh keseriusan.


"Inspirasi Menulis novel bisa dari pengalaman sehari-hari, berita, baca novel yang lain, menonton film dan masih banyak lagi yang lainnya. emang serius Devina mau belajar nulis novel?"


"Mau, mau....!" jawab Devina sambil menganggukkan kepala semakin menambah kelucuannya.


"Ya sudah nanti kita belajar bersama."


"Serius...?" tanya Devina sambil mengepalkan kedua tangan di depan dada.


"Sangat serius, asal devinanya serius mau belajar."

__ADS_1


"Terima kasih, terima kasih banyak."


Aku sangat nyaman mengobrol bersama Devina, Entah mengapa bisa seperti itu, mungkin karena Devina bisa menatap lekat ketika aku berbicara, seperti sangat menghargai pendapat orang lain. begitu juga denganku yang sangat nyaman menatapnya karena ketika dia mengobrol Dia terlihat sangat manis, semakin lama mengobrol semakin terasa nyaman, karena semakin jelas ketika dia memperhatikanku dan menanggapi pembicaraanku. mengartikan bahwa dia sangat pandai membuat orang akan betah berlama-lama mengobrol dengannya, sehingga kita menghabiskan waktu yang lama di depan mading, sampai bel masuk berbunyi.


Kita berdua pergi ke kelas masing-masing, untuk mengikuti pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai rasanya ada sesuatu yang hilang ketika aku berpisah dengannya. mungkin benar apa yang dikatakan oleh Devina, semenit tidak bersama dengan dirinya akan terasa Sewindu.


Bel istirahat pun berbunyi, dengan segera aku menghampiri kelas Devina untuk mengajak makan di kantin.  tanpa ada penolakan aku dan Devina pun berjalan menuju ke kantin sambil mengobrol banyak hal.


Sesampainya di kantin, aku memesan bakso sama dengan pesanan Devina. kita duduk berhadapan sambil saling menikmati wajah masing-masing, kedua sudut bibir kita terus dihiasi dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Kenapa kok senyum-senyum sih, malu tahu aku ditatap seperti itu." ujar Devina sambil mengocok es teh dengan sedotan.


"Bagaimana tidak tersenyum, kalau di hadapannya ada Bidadari...!"


"Iiiiiih, apaan sih...! ternyata kakak selain jago menulis, jago gombal juga ya?"


"Serius emang kamu sangat cantik. oh iya nanti malam ada acara nggak?"


"Nggak ada," jawabnya seperti biasa sambil menggelengkan kepala. "Emang kenapa?" Tanyanya sambil menatap lekat ke arahku.


Sebelum menjawab pertanyaannya, aku memindai area sekitar, takut ada orang yang menguping. karena aku sangat malu kalau ada yang mengetahui aku akan mengajak Devina jalan. sambil menenangkan degup jantung yang terasa tiba-tiba bergejolak, hati yang tiba-tiba berdebar, keringat dingin mulai bercucuran.


"Aku mau mengajak kamu jalan," jawabku dengan sedikit ragu-ragu, Entah mengapa rasa malu mulai menyeruak.


"Ke mana?" tanya Devina tanpa melepaskan tatapan, itulah yang membuatku merasa bahwa Devina berbeda dengan wanita yang lain, dia bisa memperhatikan orang yang mengajaknya berbicara.


"Ada deh, yang penting nanti jam 07.00 malam aku jemput ya."


Devina hanya menganggukan kepala, sebagai tanda menyetujui ajakanku.


"Janji...?" ujarku sambil mengulurkan jari kelingking.

__ADS_1


"Iya janji," jawab Devina sambil menautkan jari kelingkingnya, sehingga ada rasa aneh yang mengalir ke tubuhku seperti memegang sesuatu yang lembut.


__ADS_2