
Pov Raka.
Aku yang sudah kehabisan cara, hanya bisa menyandarkan tubuh ke kursi. merasa heran dengan sikap Devina yang terlalu angkuh, dia ingin dimengerti tapi dia tidak pernah mengertikanku, bahkan sekarang dia sudah tidak menghormatiku. dulu Aku kagum dengannya karena dia bisa menghormatiku dengan tutur katanya yang lembut yang ramah yang enak di hati.
Mataku terus menatap ke arah Devina, tapi hatiku terasa panas, jantungku berdebar tak karuan, rasanya ingin membalas memarahi Devina yang sikapnya berubah seperti anak yang baru dilahirkan, hanya bisa mendumel mendumel tampa memikirkan perasaan ibunya, yang sangat capek mengurus dirinya.
"Kenapa kamu diam, Kenapa kamu nggak habiskan makananmu?" tanya Devina sambil kembali menatap tajam ke arahku.
"Heh, kenapa masih melongo. Ayo makanannya di habiskan?" serunya seperti sedang menyeru hamba sahaya.
Aku yang sudah diliputi dengan amarah dan kekesalan, namun tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Aku hanya bisa mengambil mangkok Lalu memasukkan semua isinya ke dalam Mulut, sambil menatap tajam ke arah Devina, membayangkan bahwa bakso yang kumakan adalah dirinya yang sedang aku telan bulat-bulat.
Melihat aku meneguk bakso di dalam mangkok, Devina hanya menarik sudut bibirnya ke bawah seperti merasa jijik dengan tingkah lakuku yang aneh. tapi aku tidak memperdulikannya aku terus mengunyah bakso sampai kuahnya Habis tak tersisa.
"Kamu marah sama aku?" tanya Devina lagi setelah aku meletakkan mangkok kosong.
"Marah kenapa?" jawabku balik bertanya.
"Ya Makannya kayak kesetanan seperti itu, Kamu marah?" matanya memenuhi wajahku.
"Nggak, nggak marah, aku cuma mengikuti kemauan kamu yang menyuruhku menghabiskan bakso ini."
"Ya ampun kamu tuh emang bener-bener gak punya hati Raka. gimana sih pikiranmu, apa jangan-jangan kepalamu hanya Tempurung doang, sehingga kamu tidak bisa mengerti dengan apa yang aku ucapkan."
Mendengar ucapan Devina yang terus memojokkan, aku hanya bisa menarik nafas dalam kemudian berjalan menuju ke kasir kantin. setelah membayar makananku dengan segera berjalan menuju ke kelas, tidak mau memperpanjang masalah dengan Devina, yang sedang kerasukan setan dari Tenggara.
"Raka, Raka, Kamu mau ke mana?" Panggil Devina yang berlari mengejarku yang tak memperdulikannya.
"Raka tunggu.....!" tahan Devina sambil menggenggam pergelangan tanganku, sehingga aku pun menghentikan langkah lalu menatap kesal ke arah cewek yang sedang berada di hadapanku.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" Tanyaku dengan suara parau menyembunyikan kekesalan.
"Kamu marah ya, maafin aku ya sayang, aku keterlaluan sama kamu." ujarnya yang membuatku menelan ludah, aku benar-benar sangat tidak mengerti dengan makhluk yang bernama cewek ini.
"Kenapa kamu diam, kamu nggak mau ya memaafkan kesalahanku. katanya dulu pas awal-awal kita jadian, kamu akan menerima semua keburukanku?"
"Nggak apa-apa, aku cuma mau ke kelas aja, soalnya sebentar lagi bel pelajaran ketiga berbunyi," jawabku yang sudah lelah membahas pembahasan yang tidak penting.
"Maafkan aku Raka, aku salah...!" ujar Devina yang terlihat matanya mulai mengembun, membuat hatiku mulai terasa teriris, karena aku sangat tidak tega ketika melihat ada seorang perempuan yang bersedih.
"Emang kenapa kamu kok akhir-akhir ini rasanya berbeda, tak seperti awal-awal kita pacaran?" jawabku mencoba bertanya ingin memahami isi dalam hati Devina.
"Maafkan aku, entah kenapa akhir-akhir ini kepalaku rasanya sangat penting. tapi entah apa yang sedang aku pikirkan, akhirnya aku marah-marah sama kamu, Maafkan aku ya Raka...!" ujar Devina sambil menatap penuh Iba.
Mendengar ucapannya, aku hanya terdiam sambil menatap penuh heran, karena sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. kenapa dia yang merasa pusing aku yang menjadi korban, padahal aku sudah bertanya memberikan perhatian, tapi apa yang dia jawab, dia hanya bilang tidak apa-apa. tapi ketika aku tidak meneruskan pertanyaan dia malah marah-marah.
"Kenapa kamu diam, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Devina setelah tidak mendapat jawaban.
"Maafkan aku Raka...., aku khilaf," ujar Devina sambil menggenggam tanganku kemudian dia meremas jari jemariku, seperti mengisyaratkan bahwa dia benar-benar menyesali perlakuannya.
Melihat dia yang mengiba, membuatnya terlihat kembali cantik hatiku pun luluh seketika, entah mengapa sehingga hatiku yang awalnya terasa sangat panas kembali dingin. mungkin aku mulai paham beginilah membangun sebuah hubungan, ada kalanya kita akan diuji dengan sikap pasangan masing-masing.
"Iya aku maafkan kok, aku juga minta maaf ya, aku tidak peka seperti yang kamu bilang."
"Sama-sama Ka, semoga kedepannya kita semakin lebih dewasa."
"Amin...! ya sudah ayo kita ke kelas!" ajakku sambil menarik pergelangan tangannya, kita berjalan beriringan sambil mengobrol, tapi sekarang obrolan itu terasa sangat membosankan, walaupun topik pembahasannya sangat seru.
~
__ADS_1
Bel sekolah pun berbunyi, menandakan bahwa waktu pelajaran kita sudah selesai, aku yang duduk bersama Tio tidak langsung pulang, kita merapikan buku terlebih dahulu.
"Nonton yuk bro!"
"Nonton apa tyo?" tanyaku sambil memasukkan buku ke dalam tas.
"Di mall ada konser kakak-kakak imut bro!"
"Kakak imut maksudnya?" tanyaku menautkan alis.
"Itu loh grup band cewek yang banyakan itu yang kalau berpakaian mereka hanya sepaha," jawab dia menjelaskan.
"Oh girlband yang 48 orang itu?"
"Iya benar, yuk nonton!"
"Vailid gak tuh berita. nanti sudah jauh-jauh ke sana, cuman nonton orang yang jualan popcorn lagi."
"Vailid lah bro, ini berita dari orang pertama," jawab Tio meyakinkan.
Mendengar penjelasan dari Tio, aku pun terdiam berpikir menimbang baik buruknya tentang ajakan Tio. tapi setelah lama berpikir, aku sudah lama tidak main ke mall karena akhir-akhir ini aku disibukkan dengan membahagiakan Devina, sehingga aku lupa dengan kebahagiaanku sendiri.
"Eh kambing....! malah bengong, mau apa nggak?" ujar Tio mengagetkanku.
"Ayolah.....! soalnya akhir-akhir ini, si Devina sangat menyebalkan."
"Apa kan yang gua bilang bro, punya pacar itu sangat ribet, mendingan kita nikmatin hidup bersama teman-teman, bersama sahabat-sahabat kita, jangan mikirin hal-hal yang dewasa seperti itu, karena otak kita belum cukup umur bro...!" ujar Tio mengingatkan kembali ucapannya yang sebulan lalu, sekarang aku mulai paham bahwa apa yang dibicarakan oleh Tio itu benar adanya
"Bener bro, mikirin Devina otaku rasanya mau pecah kayaknya sekarang gua harus liburan dulu, menghibur diri agar tidak terlalu mumet."
__ADS_1
"Pilihan bagus anak muda, ayo kita ramaikan konser mereka. gemes tahu kalau lihat kakak-kakak cantik seperti itu. Rasanya pengen menelan bulat-bulat tubuh mereka,"
"Ya sudah, ayo...!" ajakku sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian kita menuju ke pintu kelas, lalu berjalan bersama menuju ke tempat parkiran, untuk mengambil motor.