Cinta Raka

Cinta Raka
bab 11


__ADS_3

Pov Raka


"Devina mau nggak jadi pacar aku, Devina mau nggak kamu menjadi pacar aku, Devina kamu mau nggak menjadi pacarku," aku mengulang kata-kata itu di hadapan cermin kecil yang tertempel di toilet, menghapalkan Apa yang hendak aku sampaikan dengan cewek yang menemaniku malam ini.


Setelah merapikan rambut dan pikiranku kembali tenang, aku pun keluar dari toilet hendak menyampaikan kembali perasaanku yang tadi tak jadi aku utarakan. terlihat Devina masih berdiri di tempat yang tadi, dia masih menatapku dengan penuh keheranan.


"Perutnya sudah baikan," tanya Devina yang terlihat khawatir.


"Sudah, aku mau ngomong sesuatu," ujarku mencoba kembali.


"Ya kalau mau ngomong. ngomong aja Kak, Kenapa harus pakai minta izin segala?"


"Akuu, akuuuu, akuuuuu," tiba-tiba Otaku Blank kembali. "Kenapa susah amat sih...! Ya ampun Kenapa aku bodoh, bodoh banget...!" gumamku dalam hati, bibirku tiba-tiba bergetar, rasa mulas di dalam perut menyeruak kembali.


"Aku kenapa Kak, pengen ke toilet lagi?" tanya Devina sambil menatap lekat ke arahku.


"Enggak, enggak, bukan....!"jawabku sambil menggelengkan kepala kemudian melirik ke arah jam tangan. "Aku Mau mengajak kamu pulang," ungkapku diakhiri dengan menggigit bibir.


"Ooooh, ya sudah ayo....!" Jawab Devina yang terlihat kecewa tanpa menunggu ajakanku, dia sudah berjalan menuju ke tempat parkiran.


Di perjalanan pulang tidak ada obrolan yang menemani perjalanan itu, aku hanya fokus mengemudikan motor, sedangkan Devina yang duduk di belakang biasanya dia akan terus mengajakku berbicara, sambil memajukan wajah, tapi kali ini dia lebih terdiam, seperti sedang mengantar lamunannya.


Aku hanya bisa menarik nafas dalam, mengatur perasaan yang campur aduk. karena di satu sisi aku ingin Devina tahu bahwa aku sangat menyukainya, tapi di sisi lain aku tidak bisa mengungkapkan hal itu, entah mengapa alasannya yang ada hanya rasa kesal dan kecewa dengan diri sendiri, karena tidak mampu jujur dengan keadaan.

__ADS_1


Lampu-lampu jalan yang berdiri, terlihat terdiam seperti sedang merasakan apa yang sedang aku rasakan sekarang. Mereka terlihat bingung dengan apa yang harus mereka lakukan, deru suara kendaraan yang berlalu Lalang, seolah tidak terdengar, tertutup oleh penyesalan yang sedang hinggap di jiwaku. Seolah tidak peduli dengan apa yang sedang aku rasakan.


Sampai akhirnya kita kembali ke rumah Devina tidak ada pembicaraan yang keluar, hanya tatapan-tatapan yang penuh arti yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. aku sangat yakin kalau aku bisa mengungkapkannya, Devina pasti akan menerimaku menjadi kekasihnya, tapi walau itu terlihat mudah tidak sesuai dengan kenyataan.


Setelah membunyikan klakson sebagai tanda pamitan, motorku melaju Kembali menuju arah jalan pulang ke rumah dengan membawa rasa kecewa yang tidak bisa aku ungkapkan. kesal, gemas, menyesal, benci, semuanya menjadi satu hingga aku meremas stang motor begitu keras.


Aggggggrrrrh....!


Teriakku dengan kencang, mungkin kalau ada orang yang memperhatikan, aku persis orang yang kurang sesendok. dari kejadian yang kualami Malam ini, aku mulai sadar bahwa jatuh cinta itu sangat mudah, tapi sangat susah ketika diungkapkan. padahal hanya tinggal mengucapkan Aku cinta padamu, tapi itu sangat susah, bahkan sangat sulit, ketakutan akan ditolak, ketakutan dengan diri sendiri yang tidak Pede, ketakutan orang yang ditembak menjauh, ketakutan setelah mengungkapkan cinta tidak bisa bersama lagi, menjadi penghalang utama untuk mengungkapkan rasa cinta.


Sesampainya di rumah, aku menyimpan motorku di garasi, lalu dengan gontai aku masuk ke dalam rumah, duduk di sofa yang berada di ruang tengah. tanganku mengambil handphone berharap Devina mengirimkan pesan, namun harapanku hanya tinggal harapan karena Devina sama sekali tidak melakukan hal itu. mungkin dia kecewa karena aku tidak seperfect dengan cowok yang iya harapkan. inilah yang membuat ketakutanku ketika mengungkapkan perasaan, takut pasangan yang kita tembak menjauh seperti sekarang.


Aku membuka aplikasi pesan beberapa kali, melihat nama kontak Devina yang terlihat aktif, namun tidak menyapa. sehingga aku hanya bisa menarik nafas dalam untuk menetralisir perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan.


"Kamu memang sangat cantik, maaf aku tidak bisa mengungkapkan perasaan yang ada dalam jiwaku, karena aku takut kehilangan senyummu, ramahmu, tingkah lucumu, kecantikanmu, gigi putihmu. aku takut semuanya pergi dan tak pernah kembali," gumamku dalam hati sambil tetap menatap layar handphone.


"Wah, cantik sekali....!" ujar seseorang dari belakang membuatku terkaget seketika, hampir saja handphone-ku terjatuh.


"Bapak mengagetkan saja...!" ujarku sambil menyembunyikan handphone dengan membalikan layar agar Bapak tidak bisa melihat.


"Ternyata kamu punya selera bagus terhadap seorang perempuan, walaupun wajahmu tidak mewarisi wajah papa. tapi masalah selera perempuan kita tidak jauh beda," ujar Papa yang membuatku tersenyum, karena dia sangat mengerti dengan apa yang sedang aku rasakan.


"Punya pacar kok nggak bilang-bilang...!" ujarnya sambil berjalan mengitari sifa, kemudian duduk di sampingku. tangannya mulai mengusap lembut punggungku, seolah sedang mentransfer kekuatan.

__ADS_1


"Tapi Pak....!" Aduku yang sedikit di penuhi keraguan.


"Tapi apa?" tanya Bapak sambil menatapku penuh keheranan.


"Belum resmi Pak,"


"Resmiin dong," ujarnya dengan menaikkan intonasi suara, sehingga aku sedikit terkejut. "Kenapa kamu kaget, kalau belum diresmikan, ya diresmikan dong! mau nunggu apa lagi?" lanjut Bapak memotivasi.


"Belum ada waktu yang pas Pak?"


"Hahaha, Raka Aditya.....! anak papa yang paling bapak tersayang, untuk pacaran itu tidak ada waktu yang pas. tapi walaupun begitu kamu harus tetap mencari waktu itu, karena pepatah Inggris mengatakan. Time is money. Eh, Time is love, time is everything for love. Jadi tugas kamu sekarang adalah mencari waktu itu,"


"Tapi Pak...!"


"Nggak ada tapi-tapian, karena kalau kamu membuang waktu terlalu lama. maka sama saja kamu membiarkan hati perempuan itu untuk disinggahi pria lain, yang lebih tampan dan lebih gagah daripada kamu. maka kalau seperti itu, tinggallah penyesalan. sekarang kamu pikirkan resmiin atau menyesal seumur hidup," nasehat bapak mbak otivator cinta yang suka tayang di televisi.


Mendengar pembicaraan papa, aku hanya terdiam berpikir. karena memang benar kalau aku terlambat mungkin Devina sudah akan menjadi milik orang yang lain, tapi kekakuanku ketika mengungkapkan rasa cinta, itu adalah masalah yang tidak sepele, masalah besar dalam kehidupan Raka Aditya.


"Kenapa bengong, apa Papa harus turun tangan?" ujar Papa sambil menepuk pahaku.


"Ah, bapak ada-ada aja." jawabku menyembunyikan kekakuan.


"Begini Raka, cinta itu tidak harus dipikirkan tapi harus diusahakan. walaupun Cinta Sudah dimiliki oleh setiap orang, tapi untuk mewujudkannya butuh usaha butuh perjuangan, karena cinta itu adalah kebahagiaan sedangkan tidak ada kebahagiaan yang datang tanpa pengorbanan."

__ADS_1


__ADS_2