Cinta Raka

Cinta Raka
Tamat


__ADS_3

POV. Raka


Setelah kita berada di atas motor, aku mulai melajukannya bergabung dengan kendaraan-kendaraan lain yang berlalu Lalang. suara Deru mesin terdengar memenuhi area jalan, sesekali diselingi dengan suara klakson ketika ada orang yang sedang berdiri di trotoar mungkin Sopir itu menganggap bahwa itu adalah sawahnya.


Suasana siang itu terlihat sangat cerah, secerah harapanku dengan Devina yang akan memulai kembali hubungan untuk saling mengerti dan saling memahami, saling menghormati satu sama lain. gedung-gedung yang menjulang tinggi menandakan seperti harapanku yang berefektasi luar biasa dengan Devina, yang akan berubah menjadi lebih baik.


Di perjalanan pulang Devina, terlihat menjadi sosok pendiam tidak terlalu mengomel seperti biasanya, karena mungkin mulutnya akan terasa gatal Kalau tidak mengomel, namun berbeda dengan hari ini Dia terlihat Anggun dan sangat menawan.


"Kamu lapar nggak Devin?" tanyaku sambil menoleh ke belakang.


"Hmmmmm," jawab Devina sambil menganggukkan kepala.


Mendengar jawaban dari Devina, aku terus melajukan motor namun ketika ada penjual bakso, dengan segera memarkirkan motor di halamannya.


"Mau ke mana Raka?" tanya Devina dengan nada lembut.


"Makan dulu yuk," jawabku sambil mengulum senyum.


"Ayo.....!" jawabnya tanpa berbasa-basi karena biasanya ia akan menolak kalau makanan itu tidak sesuai dengan seleranya. berbeda dengan hari ini, Devina seolah pasrah dengan apa yang aku pilih membuat aku semakin merasa yakin bahwa Devina bisa benar benar berubah.


Aku menarik tangan Devina mengajaknya untuk masuk ke dalam, lalu kita duduk di bangku panjang milik penjual bakso. tak lama penjual itu pun menghampiri lalu menanyakan pesanan kita.


Aku dan Devina pun menyebutkan pesanan masing-masing, hari itu kebahagiaanku yang sempat hilang sekarang hadir kembali, karena Devina sangat terasa asik dan sangat terlihat cantik membuatku merasakan kembali bagaimana rasanya jatuh cinta untuk yang kedua kali dengan orang yang sama.


Sambil makan sambil terus ditemani dengan obrolan obrolan ringan dan candaan candaan sehingga kedua sudut bibir kita terus terangkat, saling memuji, saling memahami, saling memberikan perhatian, sehingga hari itu membuatku merasa menjadi pria seutuhnya, karena aku sudah bisa memperbaiki sikap pacar.


Selesai makan siang aku pun terus mengantarkan Devina ke rumahnya, setelah mengantarkannya pulang aku melajukan motorku untuk kembali ke rumah.


Sesampainya di halaman rumah, aku mengecek handphone dan mengira bahwa dia akab menghubungiku, atau mengirimkan pesan. tapi dugaanku salah sekarang tidak ada satupun notifikasi pesan yang dikirimkan oleh Devina, hanya SMS dari operator seperti Dulu ketika aku belum punya pacar.


Aku sangat bahagia atas perubahan sikap Devina yang sangat drastis, akupun mengirimkan pesan memberitahu Devina bahwa aku sudah sampai ke rumah.

__ADS_1


"Syukur kalau sudah sampai, Kamu jangan lupa mandi, terus beristirahat." balas pesan yang dikirim oleh Devina.


Setelah mendapat balasan, aku tidak membalas chat itu, aku ingin mengetahui apakah dia akan marah kalau aku tidak langsung membalas pesannya, kalau dia marah berarti dia belum bisa berubah seutuhnya.


Aku masuk ke dalam rumah, kemudian langsung menaiki anak tangga untuk masuk ke kamarku. Sesampainya di kamar dengan segera aku mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.


Selesai membersihkan tubuh aku kembali mengambil handphone ingin mengetahui apakah Devina akan marah ketika aku tidak membalas chat-nya. tapi ternyata Devina memang sudah benar-benar berubah, dia sama sekali tidak menghubungiku, Mungkin dia sudah paham dengan apa yang kusampaikan tadi di sekolah.


Merasa kangen dengannya, rasa yang sudah sempat lama hilang, karena biasanya hanya kekesalan yang aku dapatkan dari pacarku itu, sekarang hadir kembali. dengan segera aku menekan tombol Panggil untuk menghubungi Devina.


"Iya ada apa Raka?" tanya Devina dengan nada suara lembutnya.


"Kamu sudah mandi belum?" Jawabku bertanya.


"Sudah dong, Kamu kali yang belum mandi."


"Enak aja, aku baru mandi tahu." jawab Devina menyangga.


"Belum...., masih memakai, eh nggak deh, udah. hehehe," jawab Devina yang terdengar malu-malu.


Telepon kita terus berlanjut, hingga sampai Azan Ashar berkumandang, barulah mengakhiri panggilan itu rasa kangen dengan apa yang dulu pernah kita lakukan, membuat aku sampai lupa waktu, padahal beberapa hari belakangan ini jangankan untuk mengobrol lama, melihat chat yang dikirim oleh Devina pun sangat malas.


Hari itu aku sangat berbahagia, karena Devina yang awalnya sangat menyebalkan dia sudah berubah kembali menjadi sangat mengasikkan, pembahasan yang tidak penting menjadi terasa sangat seru ketika dibahas dengan Devina.


*****


Semenjak hari itu hubungan kita pun mulai kembali terasa mengasikan. namun sayang setelah seminggu dari kejadian Devina berubah, dia mulai menunjukkan tanda-tanda keegoisannya kembali, dia mulai sering mengirimiku pesan ketika aku tidak sempat membalasnya atau meneleponku berkali-kali ketika pesan yang dikirimnya tidak kunjung aku balas.


Benar apa yang dikatakan oleh Tio, bahwa wanita itu tidak akan berubah seutuhnya, karena sudah menjadi tabiatnya sehingga akan susah untuk dirubah. Bahkan aku merasa bahwa Devina sekarang sangat keterlaluan, karena hampir setiap saat ketika tidak ada pelajaran, Devina selalu menghampiri mengikuti Kemanapun aku berjalan, Seolah aku tawanan yang dijaga ketat karena takut melarikan diri.


Semakin hari rasa bosan dan rasa kesal pun semakin memenuhi kepalaku, sehingga akhirnya tiba di suatu hari, ketika kita berjalan menuju parkiran untuk pulang bersama.

__ADS_1


Otaku yang merasa kesal dengan sikapnya yang sangat menjengkelkan, sehingga sama sekali aku tidak menyahuti pembicaraan Devina yang terus nyerocos seperti ikan mas dimasukin ke dalam penggorengan.


"Hai Raka, Kamu tahu nggak Hari ini aku senang banget deh. soalnya nilai aku tuh paling bagus di kelas. ternyata giat dalam belajar itu nggak sia sia yah Raka.....!" ujar Devina sambil melirik ke arahku, di tangannya ada es krim yang sedang dia jilat, mungkin sebelum pulang tadi dia membeli makanan itu di kantin yang belum tutup.


"Iya," jawabku singkat karena sudah bosan dengan Devina yang selalu membanggakan diri dengan apa yang ia capai,  seolah menganggap aku adalah pria paling bodoh yang tidak bisa mendapatkan prestasi.


"Makanya kamu juga harus giat belajar, agar nilaimu bagus dan kita bisa samaan."


"Samaan dalam hal?"


"Dalam nilai Baguslah Raka......, jadi orang-orang akan menganggap bahwa orang cerdas akan memiliki pacar yang cerdas, itu kan sangat membanggakan Raka."


"Oooooh," tanggaku sambil membuang muka.


"Kamu nggak bangga apa kalau hubungan kita dipuji oleh orang lain, karena kita adalah siswa-siswi berprestasi di sekolah."


Aku tidak menjawab pertanyaan bodoh itu, aku terus melangkahkan kaki menuju ke parkiran untuk mengambil motor.


"Coba kamu bayangkan kalau kita sama-sama berprestasi, nanti hubungan kita akan bisa di banggakan di kemudian hari. bahwa kita pernah berpacaran dengan orang yang sangat cerdas di sekolah ini, kamu harus giat belajar ya...! agar nilaimu bagus juga." ujar Devina yang terlihat menggurui seolah Dia adalah segalanya.


Aku hanya menarik nafas dalam, namun langkah kakiku terus berjalan menuju ke parkiran, Sesampainya di sana dengan segera Devina pun mendahului lalu menghentikan langkahku.


"Raka.......!" teriaknya sambil menghentikan tanganku yang mau mengambil helm untuk dirinya.


"Iya kenapa?" jawabku sambil membalas tatapan Devina, namun dengan wajah yang sangat lesu.


"Kalau pacar kamu sedang berbicara, Tolong dengarkan dong, jangan diam saja seperti batu......!" gerutu Devina yang kembali ke mode awalnya, dia sangat hobi memarahiku walaupun di hadapan orang.


Tamat


Lanjut Vol. 2 ya!

__ADS_1


__ADS_2