Cinta Raka

Cinta Raka
Bab 20


__ADS_3

Pov Raka


Dulu aku menganggap bahwa dengan adanya cinta, Hidupku akan penuh warna-warna indah yang akan menghiasi keseharianku, tapi itu hanyalah khayalan semu semata, kenyataannya dengan adanya cinta hidupku semakin berantakan tak karuan.


"Lah, Lah, kenapa motorku berhenti?" gumamku ketika menarik tuas gas yang terasa kempos, tidak mau melaju, kemudian motor itu dengan perlahan berhenti di tepian jalan, Dengan kondisi mesin yang mati.


"Halah dasar kalau udah sial tidak kepalang tanggung, motor saja seolah tidak ingin menghiburku yang sedang sedih." gerutuku sambil menstarter kembali motorku Namun sayang motor itu hanya mendengus tak mau menyala.


Aku memperhatikan speedometer melihat full meter, untuk melihat bensin yang ada di dalam tangki. tapi full meter itu menunjukkan bahwa bensin itu masih tersedia, karena masih berada di tengah-tengah.


"Kenapa kamu harus ngadat segala....?" tanyaku sama motor yang terdiam membisu.


Aku mulai melakukan berbagai cara Agar motorku hidup kembali, mulai dari mengengkol sampai mengecek jalur perapian, namun tetap saja motor itu tidak menyala, sampai akhirnya aku membuka Jok lalu melihat bensin yang ada di dalam tangki.


"Kambing........! ternyata bensinnya habis full meternya sudah rusak, sial memang sial....!" ujarku sambil menutup kembali jok motor kemudian menurunkan standar dua, lalu mendorong motorku untuk mencari bensin eceran.


Terik matahari terus membakar tubuhku, hingga akhirnya keringat pun mulai bercucuran, nafasku mulai memburu, karena harus bergelut dengan panasnya siang yang terasa membakar tubuh. lama berjuang akhirnya aku pun tiba di salah satu penjual bensin, tanpa berbasa-basi aku pun mengisi bensin motorku sampai penuh.


Setelah mendapat bahan bakar, motor itu pun mulai Menyala kembali dan aku bisa melanjutkan perjalanan pulang sambil ditemani dengan rasa kesal dan rasa jengkel yang tak bisa ku ungkapkan.


Sesampainya di rumah, aku menjatuhkan tubuh ke kasur yang berada di kamarku. lalu mengeluarkan handphone untuk mengecek, takut ada pesan penting yang masuk. tapi handphoneku sangat sepi, hanya ada notifikasi dari operator yang menawarkan hadiah tanpa bukti.


Aku membuka aplikasi pesan, kemudian menulis status. "Bad Day," setelah memposting status, aku meletakkan handphone di samping tempatku berbaring.


Tring! tring! tring!


Notifikasi Handphone itu pun menyala, menandakan ada satu panggilan masuk. dengan malas aku mengambilnya lalu melihat Siapa orang yang memanggilku, setelah diperhatikan ternyata itu adalah Devina.


Sebelum mengangkat telepon aku menarik nafas terlebih dahulu dan membangunkan tubuh dari tempat tidur. rasanya Aku tidak ingin menambah bebanku dengan mendengarkan ocehan Devina, tapi kalau tidak diangkat bisa-bisa menambah masalahku yang sudah menumpuk.

__ADS_1


"Iya ada apa Devin," Tanyaku dengan suara lemas.


"Susah amat sih ditelepon, Kamu ke mana aja?"


"Aku baru sampai Devin, maaf kalau agak telat. kenapa?" jawabku diakhiri dengan pertanyaan.


"Kamu kenapa memposting status, Bad Day, Bad Day segala?"


"Nggak apa-apa kok!"


"Beneran?" tanya Devina yang terdengar sedikit menurunkan intonasi suaranya.


"Iya nggak apa-apa, aku cuma bete aja." jawabku yang masih lemas seperti tidak memiliki keinginan untuk hidup.


"Aduh Raka....! Kamu ngapain pakai posting-posting status seperti itu di WhatsApp, kalau kamu sedang ada masalah kamu curhat dong sama aku. kita kan pacaran, malu-maluin saja....!" gerutu Devina tanpa titik dan koma.


Mendengar ocehan pacarku Aku hanya menarik nafas dalam, menenangkan hati yang mulai terpancing kembali. Rasanya ingin berteriak membalas ocehan itu, namun aku masih menghargainya sebagai seorang perempuan, yang harus diperlakukannya dengan lemah lembutm aku hanya mengelus dada menerima tekanan yang berat ini.


"Siapa juga yang mau ngajakin kamu berantem, yang ada Kamu tuh yang sering ngajakin aku Berantem. kamu sering bohong, sering tidak mendengarkan kalau aku sedang berbicara. kamu Harusnya bersyukur punya pacar sebaik aku, malah kamu sia-siakan begitu saja. di mana perasaanmu Raka....?" cerocos Devina.


"Huh...!" Suara hembusan napas kasarku sambil menggaruk-garuk dahi yang tidak terasa gatal.


"Kenapa mendengus, kamu kesal. kamu diingatkan malah seperti tidak terima, aku kurang baik apa Raka?"


"Devina, Kamu tahu nggak persamaan kamu sama sinetron?"


"Sudahlah Raka jangan ngegombal, kita harus ngobrol serius."


"Persamaannya, capek dramanya tidak selesai selesai," jelasku sambil menaikkan intonasi suara.

__ADS_1


"Kok kamu begitu sih ngomongnya, pakai ngegas segala lagi." ujar Devina yang terdengar tidak terima namun aku tetap diam tak menjawab.


"Raka...., Raka....! kamu jawab dong, kamu jangan diam saja." ujar Devina setelah beberapa saat tidak mendengar balasanku.


Merasa tidak ada artinya melanjutkan pembicaraan, dengan segera aku pun menggeser tombol merah hingga telepon itu terputus.


Tring! tring! tring!


Teleponku berbunnyi, terlihat Devina kembali memanggilku. namun aku membiarkan telepon itu terus berdering sampai panggilan itu berakhir.


Tring! tring! tring!


Teleponku kembali berdering, namun aku tetap mengacuhkannya, bahkan sekarang aku merijek panggilan itu kemudian men-silent handphone agar ketika ada panggilan masuk tidak terdengar.


Aku menghempaskan kembali tubuhku ke kasur, menatap langit-langit sambil membayangkan kejadian-kejadian yang sudah aku lalui bersama Devina, kejadian yang awalnya terasa manis, sekarang berubah menjadi seperti buah yang belum matang, mungkin beginilah Rasanya jatuh cinta yang sebenarnya.


Malam hari setelah makan bersama keluarga, pikiranku yang belum kembali tenang, akhirnya aku pun meminta izin sama ibu dan bapak untuk keluar sebentar, ingin menenangkan diri dari semua yang kuhadapi beberapa hari ini.


Setelah sampai di parkiran, Aku mengeluarkan handphone terlihat sudah banyak notifikasi yang masuk mulai dari panggilan sampai pesan-pesan yang dikirim oleh Devina. namun aku tidak menghiraukan itu, aku mencari kontak bernama Sulistyo, setelah ketemu aku pun memijat tombol Panggil untuk menghubunginya.


"Ada apa Bro?" tanya Tio setelah teleponnya terhubung.


"Lu di mana sekarang Yo?" aku balik bertanya tanpa menghiraukan ucapan Tio.


"Di rumah Bro, ada apa?"


"Gua tunggu di markas, kalau lu masih menganggap gua sahabat lu, jangan sampai tidak datang!"


"Ada apa, Pasti lo berantem lagi sama Devina ya?" tanya Tio menebak namun aku tidak jawab pertanyaan itu, karena aku dengan segera memutus sambungan telepon.

__ADS_1


Setelah memasukkan handphone ke dalam kantong celana, aku mulai menyalakan motor lalu keluar dari rumah menuju flyover yang tidak jauh dari rumah. flyover yang biasa dipakai nongkrong anak-anak muda, karena di tempat itu banyak penjual kaki lima yang mangkal, sehingga suasananya terlihat sangat ramai.


Sesampainya di tempat yang dituju, aku memarkirkan motor kemudian duduk di bahu jalan dengan memegangi rambut sedikit diremas agar masalah yang hinggap di Otakku ikut tercabut. mataku terus memindai area sekitar melihat anak-anak seumuranku sedang mengobrol bersama teman-temannya, ada yang tertawa, ada yang bercerita ada juga yang sedang makan jajanan malam.


__ADS_2