Cinta Raka

Cinta Raka
bab 8


__ADS_3

Pov Raka


"Baksonya Mas...!" ujar pelayan kantin sambil menyimpan 2 mangkok bakso di meja, membuat kita terkaget. lalu dengan cepat melepaskan jari kelingking yang masih bertautan, namun ketika dilepaskan jari itu seperti yang tertahan hingga suara tawa kecil pun keluar.


"Iya deh, iya yang lagi pacaran, rasanya dunia ini milik kalian berdua kan?" ujar pelayan kantin sambil tersenyum, mungkin merasa lucu dengan tingkah laku kita berdua.


"Ih apaan sih, Mang...!" ujar Devina yang terlihat malu, sehingga telinganya terlihat memerah.


Akhirnya kita berdua pun mulai makan bakso sambil ditemani dengan pembicaraan-pembicaraan yang membuat hatiku sangat senang, karena entah bagaimana ceritanya aku bisa sebahagia itu.


Malam hari, setelah melaksanakan salat magrib. Aku menghampiri ibu dan bapak yang berada di ruang tengah sedang menonton acara TV kesukaan mereka. Ketika aku datang, mata mereka pun memindai seluruh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki, mungkin mereka merasa heran, karena aku sudah berdandan rapi seperti ini, biasanya jam segini aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar dengan laptopku.


"Mau ke mana, Mau keluar ya?" tanya Papah seolah mengerti.


"Iya Pak, Raka suntuk kalau di kamar terus, mau cari angin sambil mencari inspirasi."


"Baguslah! kamu kan cowok, masa cowok Mainnya di kamar terus," jawab bapak secara tidak langsung memberikan persetujuan membuatku merasa senang, karena tidak harus berbohong untuk meminta izin mereka.


"Raka pamit ya!" ujarku sambil mengulurkan tangan, kemudian mencium punggung tangan orang tuaku.


Setelah mendapat izin aku pun berjalan menuju teras rumah, terlihat ada Mbak Vira yang sedang menelpon mungkin sekarang aku mengerti Kenapa Mbak Vira sering menghabiskan waktu dengan pacarnya di telepon, karena aku juga melakukan hal yang sama dengan Devina.


"Eh anak bau kencur, Mau ke mana lu?" tanyanya sambil menatap penuh rasa heran.


"Mau cari angin Kak!"


"Halah gayamu anak muda angin kok dicari, sudah masuk baru tahu rasa loh."


"Biarin suka-suka gua dong," jawabku sambil ngeloyor menuju garasi rumah. kemudian mengeluarkan motor dari gerbang, setelah motorku keluar, aku menutup kembali pintu gerbang rumah.


"Devina sambut aku yang sebentar lagi datang menjemputmu." Gumamku dalam hati, kemudian menatap spion memastikan bahwa wajahku tidak ada yang kurang, karena takut membuat Devina ilfil kalau melihat calon kekasihnya dekil.

__ADS_1


Setelah puas memperhatikan wajah yang ganteng ini. aku mulai menarik tuas gas motor menuju keluar dari Komplek perumahan, bergabung dengan kendaraan-kendaraan lain yang berlalu-lalang pulang dari pekerjaan atau mau berangkat mencari makan. karena begitulah kebiasaan warga Jakarta, siangnya mereka kerja, malamnya mereka mencari makan. mungkin mereka sedang menikmati hidup setelah seharian bekerja.


Lampu-lampu jalan terlihat berdiri memberikan penerangan di setiap pojok jalan, ditambah dengan cahaya lampu mobil yang semerbak menyorot membuat mataku sedikit agak silau, padahal kalau pun tidak menggunakan lampu tembak juga, jalan di kota Jakarta sudah sangat terang. apakah mungkin mereka memiliki rabun ayam, sehingga harus menggunakan lampu tembak seperti itu atau mungkin mau pamer bahwa mereka memiliki mobil yang lampunya terang.


Suasana langit malam itu terlihat sangat cerah, secerah harapanku yang akan mengungkapkan sesuatu terhadap Devina, di samping kanan kiri jalan terlihat banyak angkringan yang menjajakan makanan, dari harga yang termurah sampai yang termahal, menambah gemerlap hingar-bingar Kota Jakarta.


Lama di jalan akhirnya aku sampai di depan gerbang berwarna hitam, dengan segera aku mematikan motor lalu mengambil handphone untuk mengabari Devina bahwa aku sudah berada di depan rumah, tak lama setelah itu Devina pun keluar.


"Masuk dulu Kak, Ibu mau ketemu." ajak Devina yang membuat Jantungku Berhenti Berdetak seketika, karena itu tidak sesuai dengan prediksi yang harus menemui keluarganya.


"Kenapa diam, Kakak nggak mau ya. Ayo masuk, mereka baik kok," ajak Devina sambil menarik tanganku untuk turun dari motor, aku yang masih gelagapan seperti terhipnotis mengikuti langkahnya masuk ke dalam teras.


"Mau minum apa?"


"Nggak usah ngerepotin," jawabku yang masih terbata belum bisa menguasai keadaan.


"Kalau cuma buat air nggak ngerepotin kok,"


"Ya sudah air putih saja," jawabku Entah mengapa tenggorokan menjadi sangat kering, keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuh, pantatku terasa melayang.


Tak lama setelah Devina masuk, keluarlah seorang ibu-ibu mungkin umurnya tidak jauh beda dengan Mamaku, sebelum menyapa terlihat mengurung senyum terlebih dahulu.


"Eh Ada tamu, Kenapa nggak di dalam saja?" ujar ibu Devina menyapa dengan ramah.


"Gerah tante, di sini saja!" jawabku sambil menundukkan kepala, tak berani menatap wajah yang membuat jantungku terasa berdebar.


"Teman Devina?" tanyanya.


"Iya, Raka tante....!" ujarku sambil bangkit dari tempat duduk kemudian mengambil tangan Ibu Devina lalu mencium punggungnya.


"Satu sekolah?" Ibu Devina bertanya lagi seperti sedang melakukan introgasi.

__ADS_1


"Iya tante," jawabku sambil duduk kembali ke posisi awal menunduk, seperti narapidana yang sedang melakukan konferensi pers.


"Mau jalan ke mana?"


"Pasar malam Tante."


"Oh pasar malam, ya sudah hati-hati ya, tante nitip Devina dan jangan pulang malam-malam kan besok kalian harus sekolah."


"Baik tante."


"Ya sudah tante ke dalam lagi," pamit Ibu Devina membuatku menarik napas lega seperti terbebas dari vonis Hakim yang menjerat.


"Ibu ngomong apa sama Kak Raka?" Tanya Devina yang membawa segelas air putih di tangannya.


"Nggak, nggak ngomong apa-apa. ya sudah kalian hati-hati ya di jalan."


"Iya Bu," jawab Devina sambil meletakkan gelas di atas meja lalu dia pun duduk di hadapanku.


"Sudah siap?"


"Nggak minum dulu kak, tadi katanya haus?"


"Iya," jawabku sambil mengambil gelas, kemudian meneguk airnya Sampai Habis tak tersisa. Entah mengapa tenggorokanku tiba-tiba menjadi haus seperti itu, padahal tadi sebelum menemui Ibu Devina aku biasa saja. membuat Devina menatap penuh keheranan, Mungkin dia tidak percaya aku bisa menghabiskan air satu gelas dalam satu tegukan membuat wajahnya semakin terlihat lucu.


"Sudah minumnya?"


"Sudah, entah mengapa air di sini rasanya sangat manis, apa gara-gara Devina yang menyajikan?"


"Iiiiihh Kakak....! apaan sih, Ya sudah ayo berangkat nanti kemalaman," ajaknya sambil bangkit dari tempat duduk.


Aku dan Devina berjalan beriringan menuju pintu gerbang di mana motorku terparkir, setelah kita berdua berada di atas motor aku mulai menarik tuas gas untuk pergi meninggalkan rumah Devina.

__ADS_1


"Emang sebenarnya kita mau ke mana Kak?" Tanya Devina sambil memajukan kepalanya ke arah depan, mungkin agar pembicaraannya terdengar olehku.


"Ikut saja....! nanti juga kamu tahu," jawabku sambil mengulum senyum.


__ADS_2