Cinta Raka

Cinta Raka
bab 19


__ADS_3

Pov Raka


Setelah menyelesaikan pembayaran, kita pun menuruni lantai mataku menatap ke arah podium kecil yang terlihat ada beberapa Kak cewek cantik yang terlihat imut dan menggemaskan. mereka memakai pakaian khas anak sekolah Jepang, sambil menari dan bernyanyi di panggung terlihat banyak anak muda-mudi yang mengikuti nyanyian itu sambil bajingkrak-jingkrak penuh kegirangan.


Aku menundukkan pandangan, memperhatikan sekujur tubuhku yang merasa terikat meski bebas bergerak, karena kehidupanku sudah dikuasai oleh Devina.


"Raka, kayaknya itu JPO48 deh, nonton dulu yuk!" ajak Devina.


"Ayo tapi jangan lama-lama ya," jawabku menyembunyikan kebahagiaan.


"Iya sampai dua lagu aja, kemudian kita pulang."saran Devina sambil kembali menggandeng tanganku yang sedang menuruni eskalator.


Setelah berada di lantai bawah, kita berdua berjalan berdampingan menuju ke tempat acara, suara musik semakin keras menggetarkan gendang telinga, kakiku mulai bergerak-gerak ingin meloncat-loncat mengikuti kakak-kakak yang cantik, yang sedang menari menari menghibur para penggemarnya.


"Wah seru banget....!" teriak Devina.


"Iya kita kebetulan datang ke sini sedang ada acara,"


"Makanya kalau disuruh mengantar cewek itu, tidak boleh menolak. buktinya kita mendapat hiburan gratis di sini, daripada kamu menonton bola panas-panasan, kehujanan bahkan pulangnya bisa kehilangan nyawa, mendingan di sini kita menikmati musik," ujar Devina sambil memanggut-manggutkan kepala mengikuti alunan musik yang terdengar dari arah panggung.


Aku hanya terdiam menatap kakak-kakak cantik itu sedang berjoget dengan menggunakan baju kebesarannya, baju Mini kurang bahan, yang memperlihatkan paha putihnya. mungkin kalau menontonnya dengan tio, aku juga akan seperti anak-anak yang lainnya, bernyanyi melompat menikmati alunan musik, namun entah mengapa kalau dengan Devina hasrat itu seolah hilang seketika, rasanya sekarang ingin pulang menyandarkan tubuh ke sofa sambil menghayal.


Lagu pertama sudah mereka nyanyikan, ketika akan disambung dengan lagu kedua, terlihat dari arah lain ada seseorang yang menghampiri kita, membuat mata Devina terbelalak dengan sempurna.


"Lu ternyata ke sini juga Bro, kirain gua nggak jadi. ternyata lu mau ngajakin Devina," tanya orang itu sangat menyebalkan.


"Eh Kak Tio, bukannya kakak mau nonton bola, kok ada di sini?" Tanya Devina yang membuatku memalingkan wajah, sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.

__ADS_1


Sebelum Tio menjawab, aku memberikan isyarat dengan mengedipkan mata, namun dia yang kurang paham dengan sandi perang, dia tetap menjawab Sejujurnya. "Siapa yang mau nonton bola?" tanya Tio tanpa dosa membuatku hanya menggigit bibir.


"Terus, tadi ngajakin Kak Raka nonton apa?"


"Nonton kakak-kakak emesh konser di mall," jawab Tio dengan muka datarnya, seketika raut wajah Devina pun mulai mendung, dipenuhi dengan kilatan petir menatap ke arahku.


Tanganku pun ditarik dengan kasar menjauh dari auditorium pertunjukan, setelah agak jauh dia pun berhenti lalu menatap tajam ke arahku, membuat hatiku merasa tidak enak, rasa bersalah mulai menghinggapi.


"Maafkan Aku, maafkan...!" Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.


"Emang benar-benar tega ya kamu Raka. hari ini aku sedang mengalami masalah, ditambah dengan kamu yang berbohong. apa coba tujuan kamu berbohong seperti itu. Oh aku ngerti, kamu ingin puas kan melihat cewek-cewek cantik itu di belakangku. Ayo ngaku, Dasar kucing di depan saja baik di belakang mencuri...!" bentak Devina dengan intonasi suara yang tinggi, membuat orang-orang yang berada di tempat itu menatap heran ke arah kita.


Aku hanya terdiam sambil menundukkan pandangan, karena aku merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan, Kenapa tadi aku tidak jujur dengan Devina. Namun sayang nasi sudah menjadi bubur, aku tinggal menikmati hasil dari kinerjaku yang berbohong.


"Jawab Raka....! kenapa kamu berbohong?"  Devina kembali bertanya.


"Iya aku mau menonton mereka konser, karena aku butuh hiburan, aku bete sama kamu yang hanya bisa marah-marah."


"Ada apa sih bro?" tanya Tio yang baru saja menghampiri dengan wajah incotesnya.


"Ada apa, Ada apa, ini semua gara-gara lu yang tidak bisa menjaga mulut. akhirnya semuanya jadi ribet," ujarku sama Tio kemudian aku berlari menyusul ke arah perginya Devina.


Penjaga stand dan orang-orang yang sedang mengunjungi Mall menatap ke arahku dengan saling berbisik-bisik, membuatku hanya menundukkan pandangan ingin segera keluar dari pandangan-pandangan penuh curiga itu.


Aku bergegas pergi mengejar Devina yang sudah meninggalkanku, suasana siang itu terasa panas akibat matahari yang terlihat sangat sempurna, ditambah dengan polusi udara yang diakibatkan oleh kendaraan yang berlalu Lalang.


"Devina tunggu....! Devina....!" panggilku dengan berteriak.

__ADS_1


Namun orang yang dipanggil tidak menghiraukan, dia terus berjalan bahkan mempercepat langkahnya agar cepat sampai di tepian jalan raya. setelah sampai, telunjuknya pun mengacung hingga salah satu taksi berhenti di hadapan Devina. dengan segera dia pun masuk ke dalam, lalu mobil taksi itu melaju meninggalkanku yang baru sampai ke tempat Devina menghentikan mobil.


"Kambing.....! Kenapa harus begini?" gumamku sambil menatap mobil berwarna biru yang semakin lama semakin menjauh.


Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan, berharap bahwa kejadian yang kualami hari ini hanyalah mimpi buruk dari tidurku, namun Harapan itu sirna setelah ada orang yang menghampiri.


"Kenapa dengan Devina?" tanya Tio yang baru saja sampai.


"Ini gara-gara lu bro, Jadi Devina marah deh sama gua."


"Gara-gara gua kenapa Emang? Coba lu ceritakan...!"


"Iya gara-gara lu, tadi gua bohong sama dia, bahwa kita mau nonton bola, tapi kenyataannya lu malah nongol di mall ini, terus membongkar kebohongan gua. Lagian lu mau ngapain sih, ganggu keharmonisan orang saja!"


"Lu yang mau ngapain ke sini, kirain gua lu mau nonton bareng sama Devina, makanya tadi gua nanya seperti itu bro?"


"Iya semuanya salah gua...!" jawabku yang sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Benarkan apa yang gua khawatirkan sekarang jadi kenyataan, baru saja lu sebulan pacaran, lu ribetnya sudah minta ampun, bahkan Lu harus berbohong hanya untuk pergi menonton konser."


Mendengar penjelasan dari tio aku pergi berjalan Kembali menuju parkiran Mall tidak menghiraukan Tio yang terus menerus memanggilku, hingga akhirnya aku sampai di dekat motorku.


"Lu mau ke mana Bro?" tanya Tio yang masih mengikuti.


"Gua mau pulang, Gua capek!"


"Mending lu nonton dulu, siapa tahu saja lu bisa bisa menenangkan pikiran dengan berpesta ria."

__ADS_1


"Terima kasih atas ajakannya sahabat Tio yang baik hati." Jawabku sambil tersenyum menyembunyikan pilu yang terlukis di dalam hati.


Tanpa menghiraukan Tio aku mulai mengeluarkan motor, lalu keluar dari parkiran Mall untuk bergabung dengan kendaraan-kendaraan lainnya yang berlalu Lalang, memenuhi Jalan Kota Jakarta.


__ADS_2