Cinta Raka

Cinta Raka
bab 23


__ADS_3

Pov Raka


"Tahulah, karena kalau sudah lama pacaran, lu akan mengerti Kalau pacaran itu bukan untuk senang-senang doang....! pacaran itu adalah waktu di mana kita saling belajar, saling memahami, saling mengerti, saling menerima, ditambah Saling Sayang menyayangi." Jelas Mas Akbar memberitahu


"Apaan deh mas, kayaknya gua saja yang selalu harus mengertikan Devin, tapi dia tidak pernah ngertiin gua mas."


"Oh ya, Masa sih....?" Jawab Mas Akbar seolah tidak percaya.


"Beneran Mas....! Masa iya gua bohong."


"Berarti itu bukan pacaran, karena kalau pacaran harus saling mengerti, saling berkomitmen. contohnya gua sama Kakak lo." jelas Mas Akbar.


"Contohnya saling mengerti dan komitmen itu seperti apa?" Tanyaku sambil menatap calon kakak iparku.


"Kakak lo bisa menerima gua apa adanya, kalau menurutnya gua ini kaku kayak robot. dan gua bisa menerima kelakuan kakak lu yang reseknya dunia akhirat, sama seperti yang lu bilang, dan yang lo tahu ketika mau pergi makan malam saja, pakaiannya sudah seperti anak SD yang sedang mengikuti karnaval dari barang bekas," jawab Mas Akbar Sambil mengulum senyum penuh kebanggaan.


"Baby....., sayang! aku dengar loh," sahut Mbak Vira dengan suara melas, membuatku hanya mengulum senyum membenarkan apa yang disampaikan oleh calon kakak iparku.


"Begini Raka....., pacaran itu seperti memilih sepatu. Semua orang pasti punya sepatu, tapi nggak semuanya pas kan. sekarang pilihannya ada dua, lo masih mau memakai itu sepatu atau lu cari sepatu yang lain, yang pas, yang cocok dengan kaki kita." lanjut Mas Akbar membuatku terdiam seketika, mencerna apa yang disampaikan.


Setelah agak lama berpikir aku pun mulai paham, karena kalau sepatu yang kita pakai tidak pas, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. pertama sepatunya akan rusak, yang kedua kakinya akan luka, lecet, karena sepatu itu kesempitan.


"Ngerti kan maksud gua?" susul Mas Akbar sambil menatap ke arahku.


Aku hanya mengangguk-nganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan itu, sekarang pikiranku sudah mulai sedikit terbuka.


"Tetot......! waktunya sudah habis, sekarang kita pacaran lagi....!" Teriak Mbak Vira mengagetkan, dia muncul tiba-tiba dari dalam rumah seperti hantu yang berada dalam film-film horor.


"Ih, apaan sih elu Mbak, ngagetin aja....!" gerutuku sambil memegangi dada karena Mbak Vira datang secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Waktu curhatnya sudah selesai, sudah sana masuk bobo yang nyenyak, besok kan sekolah." usirnya sambil menggerakkan tangan mengusirku dengan ujung jari.


"Halah sombong amat sih, baru punya pacar saja...., lagunya seperti sudah memiliki apa aja." jawabku sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian menengok ke Mas Akbar." gua masuk dulu Mas, Terima kasih atas pencerahannya."


"Oke siap.....!" jawabnya sambil mengangkat ibu jari.


"Cuci muka dan jangan lupa cuci kaki lu...!" teriak Mbak Vira mengingatkan.


"Apaan sih nggak jelas banget sih lo, mbak....!" balas ku sambil tetap berjalan menaiki tangga menuju lantai dua rumah.


Sesampainya di dalam kamar, aku membaringkan tubuhku yang terasa lelah di atas kasur empuk. laptopku yang berada di meja belajar terlihat sangat tidak asik, padahal biasanya setiap hari, laptop itulah yang membuat hidupku berwarna. namun semenjak berkenalan dengan yang namanya cinta dan merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, Aku mulai melupakannya, Apalagi ditambah dengan bumbu-bumbu yang kurang sedap dalam hubungan, membuatku semakin jauh menekuni hobiku dalam menulis.


Aku membangkitkan tubuh kemudian meremas kepala. khayalanku kembali teringat dengan Devina yang beberapa hari ini sangat menyebalkan, dia selalu memarahiku dan selalu ingin didengarkan ketika dia berbicara, tanpa memikirkan perasaanku yang sama ingin didengarkan olehnya.


"Kenapa jatuh cinta itu indahnya sangat singkat, sekarang tinggal seramnya. jangankan ingin cepat ke sekolah, kalau bisa aku ingin libur selama sebulan, agar tidak bertemu dengan Devina?" Tanyaku sambil menarik nafas dalam, menenangkan pikiran yang sedang kalut terbang ke mana-mana.


"Coba dulu aku menuruti Apa perkataan Tio, mungkin sekarang aku sedang enjoy menulis khayalan-hayalanku di novel yang biasa aku pajang di dinding sekolah, tidak uring-uringan memikirkan orang lain yang belum tentu memikirkan keadaanku sekarang."


Lamunanku terhenti karena pintu kamarku ada yang mengetuk, dengan malas aku melirik ke arah pintu itu lalu bertanya.


"Siapa?"


"Bapak Raka," jawab orang yang mengetuk pintu.


"Oh bapak, masuk Pak....!" jawabku sambil membenarkan posisi wajah yang sedang kusut, agar tidak menimbulkan pertanyaan aneh-aneh dari bapak.


Pintu kamarku didorong, lalu masuklah Bapak dengan menggunakan kaos singlet putih di padukan dengan sarung kotak-kotak, khas bapak-bapak ketika berada di rumah. sebelum berbicara beliau pun duduk di kursi meja belajarku.


"Pulang dari mana?" tanya Bapak sambil menatap ke arahku.

__ADS_1


"Main sama Tio Pak."


"Oh, udah salat?"


"Belum, baru nyampe Pak." jawabku sambil menundukkan kepala.


"Salat dulu..., Itu kan kewajiban. karena walau sedang dalam keadaan apapun salat adalah nomor satu, dan kalau bisa salat itu dilaksanakan dengan berjamaah," ujar Bapak memberikan nasehat.


"Iya Pak, sebentar Raka ingin menenangkan pikiran dulu."


"Kenapa harus menunggu pikiran tenang. bukannya dengan salat pikiran kita akan lebih tenang?" jawab Bapak balik bertanya.


"Kenapa kok dengan Salat kita bisa tenang?"


"Karena kita sudah menjalankan kewajiban kita sebagai makhluk hidup yang berada di dunia ini. Kebetulan agama kita Islam, Jadi mau tidak mau kita harus tetap menjalankan kewajiban itu. baik dalam keadaan sempit ataupun lapang, baik sedang susah ataupun sedang bahagia. emang sekarang apa yang sedang menjadi pikiranmu?" jelas Bapak diakhiri dengan pertanyaan. begitulah sikap beliau yang selalu peka terhadap perubahan wajah anaknya.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Aku hanya diam karena lidahku terasa kelu untuk menjelaskan dengan jujur. Soalnya ini masalah pribadi, masalah yang malu untuk diceritakan dengan orang tua.


"Kenapa diam, coba kamu ceritakan...! Siapa tahu saja Bapak bisa carikan solusinya."


"Malu ah, pak....!" jawabku sambil menundukkan kepala.


"Kenapa harus malu, biasanya kamu suka cerita banyak dengan bapak, atau jangan-jangan Sekarang kamu sedang ada masalah ya, sama siapa itu, namanya cewek yang dulu kamu ceritakan."


"Cewek yang mana Pak?" jawabku pura-pura nggak tahu


"Emang anak Papa punya berapa ceweknya, hahaha. hebat banget kalau punya banyak, seperti bapaknya dulu kalau begitu."


"Nggak ada Pak, satu aja sudah bikin mumet." jawabku tanpa sadar mulai menerangkan kejadian yang menimpaku.

__ADS_1


"Nah, nah, kan harus dipancing dulu, baru kamu mau bercerita. Mumet kenapa?: tanya Bapak sambil bangkit kemudian duduk di sampingku.


Aku tidak menjawab kembali, aku hanya menundukkan pandangan karena rasa malu mulai menyeruak, wajahku terasa panas, seolah tidak sadar dengan apa yang baru saja aku ucapkan.


__ADS_2