
Pov Raka
"Kenapa pakai rahasia-rahasiaan segala?" Tanya Devina matanya yang indah memenuhi wajahku.
"Biar surprise...!" Jawabku sambil mengedipkan sebelah mata.
"Waduh...., aku spesial dong, kalau dikasih surprise seperti itu?"
"Lebih dari spesial."
"Kenapa?" tanya Devina yang terdengar penasaran.
"Karena telurnya tiga."
"Apaan sih, emangnya Devina martabak." jawabnya sambil mencubit Pinggangku sehingga motor agak goyang sedikit. "hati-hati bawa motornya Kak....!" ujar Devina mengingatkan.
"Kamu yang hati-hati, jangan nyubit-nyubit segala. Emangnya aku kue apa, pakai dicubit segala."
Obrolan pun terus berlanjut, sambil diselingi dengan candaan-candaan ringan membuat kedua sudut bibir, kita tidak berhenti tersenyum, Entah mengapa mengobrol dengannya rasanya semakin nyaman.
Lama di perjalanan, akhirnya kita berdua sampai di salah satu tempat yang membuat mata Devina terus memindai tempat itu dengan penuh kekaguman.
"Serius Kakak mengajakku ke pasar malam?"
"Buktinya kita sudah sampai di sini, Kenapa kamu nggak suka Devin?"
"Suka banget Kak....! Dari dulu aku pengen main di tempat ini, tapi ibu dan bapak tidak sempat mengantarku, karena mereka kecapean selepas kerja di kantor. jadi tidak ada waktu untuk mengantarku ke tempat seperti ini," ujar Devina yang terlihat senyumnya membias seketika.
"Sudah jangan sedih seperti itu, kan sekarang ada aku yang siap mengantarmu Kemanapun kamu mau, walaupun sampai ke ujung Antartika." ujarku menenangkan perasaan Devina yang mungkin terharu karena baru pertama kali dia mengunjungi pasar malam.
"Serius......?" tanya Devina sambil mengangkat pandangan sehingga pandangan kita saling beradu, menimbulkan suatu getaran yang berdesir mengalir melalui darah mudaku.
"Janji...!" jawabku yang mengangkat jari kelingking, sebagai tanda keseriusan dengan apa yang aku ucapkan.
"Terima kasih banyak Kak," ujarnya sembari menghadirkan kembali senyum indah yang baru saja redup, jari tangan lentiknya mengusap cairan yang tertahan di pelupuk mata.
__ADS_1
"Sekarang pokoknya kita tidak boleh sedih, kita harus bahagia...! kamu mau nyobain permainan apa dulu," Tanyaku mengalihkan pembicaraan agar Devina tidak terus merasa sedih.
"Itu yang kayak Kincir Kak?"
"Oh sangkar burung, Ya sudah ayo...!" ajakku sambil menarik pergelangan tangannya, kemudian mendekat ke arah bianglala. Setelah membeli tiket kita berdua pun masuk.
"Kira-kira aman nggak Kak?" ujar Devina yang duduk di sampingku, Dia sedikit ketakutan karena ketinggian bianglala lumayan tinggi tidak kurang dari 10 meter. Mungkin dia bisa membayangkan kalau sangkar burungnya jatuh, dari ketinggian yang lumayan membuat tubuhnya akan ringsek.
"Pasti aman, karena ini semuanya sudah sop kerja mereka, Kenapa kamu takut ya?"
"Iya kak, aku takut...! soalnya aku baru pertama kali naik Wahana ini."
"Sudah....! kamu pegang tanganku," ujarku sambil membuka telapak tangan.
"Boleh?" tanya Devina yang sedikit ragu-ragu.
"Bolehlah!" jawab aku sambil menggenggam erat tangannya, sehingga membuat Devina lumayan terlihat nyaman tidak takut tadi ketika aku belum memegang tangannya. tak lama Wahana bianglala pun mulai berputar membuat Devina, semakin mempererat genggaman tangannya membuatku tersenyum karena bisa menikmati momen itu.
Putaran Pertama Devina terlihat sangat ketakutan, namun di putaran kedua dia mulai mengendorkan genggaman tangannya, lalu menyandarkan kepala di pundakku. Ketakutan Devina sudah mulai menghilang dia mulai menikmati Wahana biang Lala itu.
"Iya, kamu suka?"
Devina tidak menjawab namun dia melepaskan sandarannya, lalu menatap lekat wajahku sambil menganggukkan kepala kemudian dia pun menyandarkan kembali kepala itu ke pundakku. sambil memainkan jari jemari yang aku genggam.
Selesai mencoba permainan bianglala, kita pun mencoba wahana komedi putar atau kuda yang berputar, terlihat Devina sangat menikmati momen itu, sesekali dia tertawa dan berteriak, membuatnya semakin terlihat sangat cantik.
Suasana di tempat itu terdengar riuh dengan teriakan-teriakan anak kecil, ada juga anak yang sudah dewasa seperti Devina. dari arah utara terdengar suara orang yang menawarkan jajanan-jajanan yang mereka jual, musik kencang khas pasar malam menggema memenuhi setiap pojok sudut area, membuat suasana malam itu semakin terasa meriah. Suara mainan balon dan terompet saling bersahutan membuat anak-anak menangis menginginkan mainan itu.
"Kalau itu wahana apa Kak?" tanya Devina setelah kita turun dari komedi putar, tangannya menunjuk ke arah Wahana berbentuk lingkaran.
"Oh itu ombak banyu, kenapa mau nyoba?"
"Boleh tapi aman nggak?"
"Aman tapi kalau punya penyakit mual mendingan nggak usah, nanti bisa muntah, ditambah Wahana itu paling memacu adrenaline dari wahana-wahana yang lain.
__ADS_1
"Emang iya?" tanya Devina menatap ke arahku, seolah tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"Ayo kalau kamu penasaran, kita coba saja." ajakku sambil kembali menarik pergelangan tangannya, setelah membeli karcis kita pun naik dan duduk berdampingan.
Sambil menunggu Wahana penuh, kita terus mengobrol membahas apapun yang menurut kita seru, hingga akhirnya Wahana itu pun penuh dan abang penjaganya mulai memutarkan Wahana. Putaran ombak banyu itu awalnya pelan namun lama-kelamaan semakin kencang, membuat Devina berteriak dengan kencang, Mungkin dia sangat ketakutan, sehingga dengan cepat aku memegang tubuhnya agar tidak terjatuh.
Untung Wahana ombak banyu tidak terlalu lama, sehingga kita pun dengan cepat turun, dengan langkah gontai Devina keluar dari pagaran Wahana itu.
Uweeekkkkk!
Setelah berada di luar Wahana, Devina pun muntah mengeluarkan semua isi perutnya dengan berjongkok. Membuatku merasa kasihan, dengan segera aku memijit punduk gadis itu, agar dia lebih baik.
"Maafkan aku Kak, aku nggak kuat...!"
"Sudah nggak apa-apa, Keluarkan saja biar lega."
"Uweeekkk....!"
Devina pun mulai muntah kembali, dan aku terus memijat-mijat pudukknya, agar dia bisa cepat sembuh. setelah melihat dia agak baikkan Aku berlari mencari minum untuk menetralisir rasa mual yang sedang Devina alami.
"Minum dulu biar mualnya hilang," ujarku sambil menyerahkan teh botol yang baru saja aku beli.
"Terima kasih banyak Kak, Kakak malu ya aku sangat kampungan seperti ini?"
"Hahahha, Ngomong apaan sih kamu, ngapain malu lagian kan manusiawi kalau muntah habis naik ombak banyu dan kamu tenang aja, karena kamu tidak sendirian," ujarku sambil menunjuk orang-orang berjongkok mungkin sedang menguras perutnya, karena sudah diaduk oleh Wahana menyebalkan itu.
Setelah Devina merasa agak baikan, kita pun mencari makan. agar apa yang baru dikeluarkan bisa terganti kembali oleh makanan yang baru. Selesai makan kita pun berjalan kembali mengelilingi seluruh area pasar malam hingga akhirnya kita terhenti di salah satu tempat permainan.
"Kakak, Kakak....! itu apa?" tanya Devina seperti anak kecil yang melihat mainan.
"Oh itu game yang berada di pasar malam,"
"Nyobain boleh kan?"
"Bolehlah, Lagian game seperti itu tidak akan membuat perut terasa mual."
__ADS_1