Cinta Raka

Cinta Raka
bab 16.


__ADS_3

Pov Raka


"Kamu cobain deh Ka, nasi goreng ini enak banget tahu," tawar Devina sambil menyendok nasi goreng lalu didekatkan ke mulutku.


"Ah masa iya sih," jawabku seolah tidak percaya, namun untuk membuktikannya aku membuka mulut.


"Enakan...!" tanya Devina sambil menatapku yang sedang mengunyah nasi.


Aku tidak menjawab karena Mulutku masih mengunyah, aku hanya menganggukan kepala, sambil mengangkat jempol sebelah kiri, menandakan bahwa makanan yang disuapkan oleh Devina terasa sangat nikmat dan sangat manis Semanis Cinta Kita.


"Kok Bisa seenak ini ya, apa ya gara-gara sayang yang nyuapin?"


"Apaan sih....!" Jawab Devina yang tersipu malu wajahnya berubah menjadi tomat. "Suapin aku dong...!" pinta Devina sambil membuka mulut dengan segera aku pun menyendok nasi lalu mendekatkan ke arah mulut Devina.


"Bagaimana, enak?" Tanyaku sambil menatap wajahnya.


"Enak banget Ka, enak banget, terima kasih ya....!" ujarnya sambil mengulum senyum penuh kegirangan.


Mata orang-orang yang sedang makan malam di tempat nasi goreng menatap ke arah kita berdua. mungkin dalam hati mereka mengatakan. "Dek cinta itu tidak selamanya indah Dek...!" mungkin juga karena mereka merasa iri, Tidak Bisa Memiliki pasangan secantik Devina.


Malam minggu itu rasanya dunia ini menjadi milik kita berdua, yang lain hanya menumpang hidup dan mengontrak. karena kita tidak pernah sedikitpun memperhatikan keadaan sekitar, keadaan mata-mata yang menatap penuh Ke dengkian, menyaksikan dua insan yang sedang memadu kasih.


Selesai makan malam, aku mengabadikan momen itu dengan berfoto selfie, lalu menguploadnya di sosial media masing-masing, agar orang-orang tahu bahwa kita sudah memiliki pasangan dan ini adalah sebagai warming up bagi siapa saja cowok yang mau mendekati Devina, Sekarang dia sudah memiliki kekasih yang sangat tampan.

__ADS_1


Minggu ketiga pacaran rasanya masih sangat manis, tapi tak semanis minggu kedua, Minggu ke-4 pacaran rasanya hanya tinggal manisnya tidak pakai sangat.


Bulan pertama kita pacaran rasanya lumayan manis, masuk ke bulan kedua berpacaran, manisnya sudah hilang yang ada tinggal sepetnya. Entah mengapa yang awalnya aku sangat yakin, bahwa Devina adalah cewek yang akan menghiasi dan mewarnai hariku, tapi semakin hari aku semakin mengerti bahwa Devina bukanlah cewek sesempurna itu, aku sudah bisa mulai paham karakteristik dirinya.


Mungkin keseringan bertemu, membuat rasa bosan itu akan hadir dalam hubungan, ditambah dengan keegoisan masing-masing yang mulai mementingkan diri sendiri. berbeda dengan pertama kali ketika kita menjalin hubungan, kita saling menjaga perasaan, saling memahami karena di dalam diri kita, ditumbuhkan rasa takut kehilangan. namun rasa takut itu semakin lama semakin menghilang, yang ada hanya tinggal rasa bosan.


Devina yang awalnya sangat menyenangkan ketika kita mengobrol, bahkan seperti yang sering aku katakan pembahasan yang tidak seru, ketika dibicarakan dengan Devina, itu akan sangat menyenangkan. namun sekarang pembicaraan yang sangat menyenangkan terasa tidak seru, terasa hambar ketika dibahas dengan Devina.


*****


Siang itu ketika beristirahat, Devina sedang duduk di kantin sendirian, aku yang melihatnya dengan segera menghampiri dengan membawa semangkuk bakso yang baru aku pesan.


"Sendirian saja?" tanyaku berbahasa basi, sebenarnya kalau tidak ingat perjuangan Bagaimana mendapatkannya, Aku sangat malas untuk menyapa.


Mendengar jawaban Devina aku hanya menarik nafas dalam, kemudian menggeserkan kursi lalu duduk berhadapan dengannya. tanganku mulai mengaduk bakso agar bumbunya tercampur dengan rata, Setelah semuanya diaduk aku mulai menyantap bakso itu, sesekali mataku melirik ke arah Devina.


"Aduh ihhh, hhhhh, uuuuhhhh," desis Devina yang terlihat tidak nyaman, wajahnya ditekuk kakinya dihentak-hentakkan seperti sedang ada masalah dalam hidupnya, aku meletakkan sendok lalu menatap ke arahnya.


"Kamu kenapa Devin, kayaknya gelisah banget?"


"Nggak apa-apa?"


"Oooooh," tanggapku sambil menyendok kembali bakso yang ada di dalam mangkok, kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Tempat itu Hening seketika seperti tidak ada kehidupan.

__ADS_1


"Cuma oh doang....! kamu hanya bilang oh doang?" bentak Devina sambil menatap tajam ke arahku, membuatku sedikit menganga menghentikan kunyahan, tidak mengerti dengan sikap makhluk yang satu ini.


"Kenapa?" tanyaku seperti orang cengok, karena memang tidak mengerti dengan permasalahannya.


"Kamu nggak mau tahu aku kenapa?" tanya Devina menunjukkan gelagat yang tidak setuju dengan sikapku.


"Laaah, katanya tadi kamu tidak apa-apa," ujarku yang semakin tidak mengerti.


"Ih, kamu nyebelin banget ya...! kamu nggak peka jadi cowok, Kalau aku bilang nggak apa-apa, berarti itu artinya aku kenapa-kenapa Raka.....! Gak sensitif banget sih jadi cowok. yang peka dong....!" bentak Devina yang terlihat sangat kesal.


Mendapat pernyataan yang seperti itu, Mulutku yang masih dipenuhi dengan bakso yang belum dikunyah, hanya menganga seolah tidak yakin dengan apa yang diucapkan oleh Kekasihku yang baru sebulan lalu kita jadian.


"Yeh....! malah diam lagi, kayak orang beg0. hibur gua apa Raka....! jadi cowok kok nggak perhatian banget sih, kamu jadi pacarku bukannya bikin aku senang, malah bikin tambah kesel." Gerutu Devina yang membuatku semakin mendekatkan wajah kearahnya ingin melihat isi di dalam kepalanya. Kenapa ada makhluk yang seaneh itu, dia yang menjawab tidak apa-apa, Tapi ketika tidak ditanya lagi, dia marah-marah. Sebenarnya aku harus melakukan apa, apa aku harus berkoprol, berjungkir balik menjadi doger monyet untuk menghibur makhluk aneh yang berada di hadapanku.


"Sudah menatapnya jangan dekat-dekat, heran deh sama kamu, Kenapa kamu kayak orang yang cengok, bukannya menghibur...!"


"Menghibur bagaimana?" Tanyaku dengan pelan karena sudah tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan, aku Terkesima dengan sikapnya yang sangat egois.


"Jadi cowok itu harus pintar, harus banyak inisiatif agar ceweknya selalu bahagia. kamu bisa nari, bisa nyanyi atau apalah yang terpenting jangan diam seperti orang beg0, dasar rese.....!" gerutu Devina sambil membuang wajah, seperti dia sangat Bosan menatap wajahku.


Melihat Devina membuang wajah, aku pun melanjutkan kembali kunyahan yang tadi tertahan, meski rasanya agak hambar tapi kalau untuk dimuntahkan itu tidak baik. tanganku Mulai mengambil bakso kecil, lalu didekatkan ke mulut Devina berusaha agar makhluk aneh ini hatinya bisa kembali tenang, tidak marah-marah seperti Nenek Lampir.


"Raka......! aku itu nggak lapar," teriaknya dengan kencang, membuat seisi kantin menatap ke arahku, Rasanya hari itu aku menjadi orang yang paling bodoh, yang paling beg0 di hadapan seorang perempuan. Harga Diriku diinjak-injak sebagai lelaki, padahal aku sudah berusaha menjadi yang terbaik buat Devina.

__ADS_1


"Aku itu nggak lapar, kamu nyebelin banget sih...!" lanjut Devina seolah berada di atas angin, ketika mendapat perhatian seisi kantin.


__ADS_2