
Pov Raka
"Jadi kira-kira Raka harus bagaimana Pak?" Tanyaku yang kepalang tanggung sudah diketahui oleh bapak.
"Apanya yang bagaimana, kan Bapak belum tahu permasalahannya dimana?"
"Jadi begini Pak, tadi ketika aku mengajak Devina jalan-jalan ke pasar malam, terlihat Dia sangat bahagia banget karena baru pertama kali dia bermain ke tempat itu. Melihatnya yang sedang berbahagia akhirnya Raka memutuskan untuk menembaknya langsung. Namun sayang pak, kata-kata yang sudah dirangkai seindah mungkin, seperti pujangga yang sedang dimabuk cinta itu hilang seketika, bak debu yang diterpa angin."
"Hahaha, Normal, itu normal, bahkan itu sangat normal. karena Bagaimana tidak nervous atau kehilangan kata-kata Kalau wanitanya secantik yang tadi Papa lihat di foto. dulu ketika papa menyatakan perasaan sama mamah kamu, rasanya mau buang air besar, keringat dingin mulai bercucuran, bahkan jantung pun terasa seperti Habis lari berkilo-kilo meter."
"Benar Pak, Raka sekarang merasakannya, Terus bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana" tanya papa sambil menautkan alis.
"Lah Bapak...., iya mengatasi nervous ketika mau mengungkapkan perasaan sama wanita yang kita cintai?"
"Karena rasa cinta papa sama ibumu lebih besar dari apapun, dari siapapun. sehingga rasa cinta itu mengalahkan semua keraguan, ketakutan dan kegelisahan. seperti yang tadi bapak bilang, karena kalau sudah ada orang lain yang ngeduluin papa akan menyesal seumur hidup, maka rasa nervous itu akan hilang seketika."
"Dulu ketika Bapak mengungkapkan perasaan sama Ibu, apakah ada keraguan bapak untuk ditolak?"
__ADS_1
"Semua keraguan itu pasti ada Raka, Karena itu adalah bentuk pertahanan diri dari seorang manusia yang tidak mau sakit, yang tidak mau terluka. tapi kalau kita hanya diam di tempat, maka kehidupan kita tidak akan maju, tidak akan berkembang, kita hanya berjalan di tempat."
"Terus bagaimana untuk menyikapi rasa takut ditolak?"
"Gampang, ya Kalau ditolak kita usaha lagi yang lebih keras, karena perempuan itu ada yang menerangkan seperti tulang rusuk, sedangkan tulang rusuk tidak ada yang lurus, semuanya bengkok. kalau kita paksa sekaligus maka tulang itu akan patah, tapi kalau kita terus berusaha secara perlahan, secara sabar, secara telaten. maka tulang yang bengkok itu akan perlahan menjadi lurus, sama seperti ibumu."
"Berarti Bapak dulu pernah ditolak sama ibu?"
"Sering, Lihatlah Bapak sekarang yang begini adanya, Kalau dibilang buruk rupa nanti Bapak dibilang tidak tahu cara bersyukur. tapi dengan perjuangan yang begitu gigih dengan begitu sungguh-sungguh, akhirnya hati ibumu yang bengkok bisa diluruskan, sehingga mau menerima Bapak dan melahirkan laba yaitu kamu dan Mbak Vira, bentuk hasil dari benih cinta yang kami tanam."
"Huh," gumamku menarik nafas dalam, merasa kagum dengan apa yang disampaikan oleh Bapak. walaupun Bapak tidak pantas untuk dibilang ganteng, tapi aku bisa melihat keberhasilannya menaklukan ibu yang masih terlihat cantik, meski di umur 45 tahun .
"Ingat pesan Bapak. sekarang atau menyesal atau bapak yang harus turun tangan."
Akhirnya kita terus berlanjut membahas masa lalu masa lalu Bapak, ketika mendapat cinta ibu. dia adalah pria yang gigih baik dalam memperjuangkan cintanya, mempertahankan keluarganya sehingga tidak ada sedikitpun pertengkaran di dalam keluarga, hanya perselisihan paham biasa yang tidak mengakibatkan pertengkaran yang sangat besar.
Aku semakin yakin bahwa Bapak adalah figur yang sangat luar biasa dalam hidupku, dia adalah guru sekaligus adalah orang yang paling menyayangiku dengan tulus, dengan segenap cinta yang dia punya.
Keesokan paginya, berkat nasihat yang diberikan oleh Bapak aku sudah membulatkan tekad, menyatukan pikiran menggenggam tujuan, bahwa aku akan mengungkapkan rasa cintaku terhadap Devina, karena aku takut kalau apa yang dikhawatirkan oleh Bapak menjadi kenyataannya.
__ADS_1
Siang itu, matahari sudah condong ke sebelah timur, cahayanya yang cerah memberikan rasa gerah sesuai udara Kota Jakarta, aku berdiri di dekat motorku sambil menunggu Devina datang menghampiri, karena tadi pagi kita sudah berjanji akan pulang bersama.
Di setiap sudut sekolah terlihat teman-teman sekelas dan teman-teman Sekolahku, mereka terus berjalan menuju ke pintu gerbang sekolah, ada juga yang sepertiku mengambil motor terlebih dahulu. mereka terus mengobrol dengan teman-teman yang seperjalanan pulang, sesekali terdengar suara tertawa yang menggelegar, karena waktu SMA adalah waktu menikmati hidup di mana tidak ada rasa gelisah, tidak ada rasa susah, yang ada di pikiran kita hanyalah uang dan main.
Aku mondar-mandir mengelilingi motor, kadang duduk kadang berdiri kadang juga bertanya dengan teman teman sekelas Devina, yang sudah terlihat keluar dari kelas. semuanya menjawab bahwa Devina berada di belakang mereka.
"Aku harus mengungkapkan perasaanku, Aku harus....! Iya benar harus, karena kalau tidak aku akan menyesal," hanya kata itu yang aku ulang di dalam hati, sebagai motivasi jiwa untuk sanggup mengungkapkan perasaan.
Lama menunggu dengan dipenuhi kegelisahan, akhirnya Devina pun datang. seperti biasa Dia terlihat sangat manis, namun wajahnya agak sedikit berbeda, walaupun tadi pagi dia sudah kembali seperti biasa, seolah sudah melupakan kejadian tadi malam yang membuat kita saling terdiam.
Dengan segera aku mengambil helm, lalu diserahkan sama Devina, namun dia menolak membuatku mengerutkan dahi, hatiku semakin berdebar, semakin takut bahwa Devina tidak mau berbicara lagi denganku.
"Kenapa...?" hanya kata itu yang keluar yang mewakili perasaan penuh Tanya, karena Devina tidak mau Diajak pulang bareng ke rumahnya.
"Kak Raka....!" ujarnya sedikit tertahan seperti dipenuhi dengan kecemasan. "Maaf ya aku nggak bisa pulang bareng sama kakak," lanjut Devina membuat Jantungku Berhenti Berdetak seketika, rasa takut yang sudah dibayangkan mungkin akan menjadi kenyataan.
"Kenapa, kamu masih marah tentang kejadian tadi malam," Tanyaku mencoba memberanikan diri.
"Iiiiih, apaan sih Kak, enggak lah emang tadi malam kita ngapain, kita nggak apa-apa kan. bahkan tadi malam aku sangat bahagia, karena aku bisa main ke pasar malam."
__ADS_1
"Terus apa yang membuatmu tidak mau pulang bersama?"
"Sekali lagi aku minta maaf Kak, soalnya ada acara keluarga yang mendadak. tadi aku belum sempat mengabari kakak, karena aku ingin langsung bertemu dengan orangnya. nggak apa-apa kan kalau kita tidak pulang bareng?" ujar Devina membuatku sedikit menarik nafas lega, karena ketakutanku tidak terbukti. namun aku masih bingung bagaimana cara mengungkapkan perasaanku, Tadinya aku ingin mengajak Devina makan siang sambil menyatakan perasaan, biar seperti novel-novel yang aku baca dan aku khayalkan. tapi mendengar penjelasan dari Devina seketika Harapan itu buyar seketika.