
Pov Raka
Sesampainya di tempat parkiran, terlihat Devina sudah menunggu dengan penuh kegelisahan, matanya terus memindai area sekitar seolah sedang mencari sesuatu.
"Tuh kan bro apa yang gua bilang, kalau punya pacar itu sangat ribet dan repot, buktinya Lo sudah ditunggu seperti itu," bisik Tio mengingatkan.
Aku tidak menjawab umpatannya, tapi hatiku membenarkan bahwa ternyata memiliki pacar itu sangat membosankan, selain membatasi kegiatan kita, mereka juga perlahan merebut waktuku dengan sahabat. "sebentar ya Yo, aku mau bilang dulu sama Devina."
"Ya sudah sana, kamu izin sama mami loh...!"
Aku pun berjalan mendekat ke arah Devina yang belum mengetahui keberadaanku, setelah berada di dekatnya aku pun mendehem sedikit, untuk memberi tahu bahwa aku sedang berada di sampingnya.
"Eh, Raka ayo berangkat!" ajaknya sambil mengulum senyum yang sempat menghilang beberapa hari terakhir, tangannya menarik pergelangan tanganku hendak mengajak pergi, namun dengan segera aku tahan dengan pelan.
"Kenapa?" tanya Devina matanya dipenuhi dengan keheranan.
"Bagaimana kalau ke Toko bukunya besok aja, nggak papa kan atau apa-apa?" Tanyaku dengan ragu-ragu karena tadi ketika pulang dari sekolah, Devina mengajakku untuk main ke toko buku.
"Ya Kamu kok gitu sih?" ucapnya yang terlihat kecewa. "tapi nggak apa-apa deh," ujarnya sambil menghadirkan senyum membuatku sedikit merasa lega.
"Terima kasih ya Devin, kamu memang sangat baik?" ujarku membalas senyumnya.
"Tapi kenapa sih kok sampai gak jadi, apa ada yang darurat banget ya?" tanya Devina sambil tetap memegang tali tas gendong.
"Iya Devin, ini darurat banget.....!" jawabku dengan raut wajah serius.
"Kenapa?" tanya Devina seperti orang yang sangat khawatir.
"Aku harus nonton bola sama Tio!"
__ADS_1
"Ihhhh," dengus Devina seketika wajahnya ditekuk, terlihat Dia sangat kesal sekali mendengar jawabanku. "kok kamu gitu, kok kamu tega....!" lanjut Devina terlihat kedua sudut bibirnya menurun.
"Tega apanya?"
"Ya kamu tega lah Raka, masa Iya kamu membatalin janji kita hanya gara-gara pengen nonton bola sama Tio, Bukannya itu sangat tega?"
"Iya Devin...!" jawabku yang sedikit tergagap, karena cewek yang berada di sampingku mulai menaikkan intonasi suaranya, membuatku sedikit merasa malu dengan teman-temanku yang lewat.
"Kamu tega Raka, kamu tega sekali."
"Tapi kan bolanya jarang-jarang Devin kalau di hari kerja. biasanya pertandingan bola itu di akhir pekan, sehingga aku tidak kebagian tiket, Sekarang Tio sudah membeli 2 tiket untuk kita menonton tim kebanggaan kita, Persija Jakarta." jawabku menjelaskan.
"Haduh Raka, Sejak kapan sih kamu suka sama bola dan kenapa kamu lebih memilih Tio dibandingkan aku, apa kamu lebih sayang sama Tio, daripada aku pacar sendiri. kamu tuh sebenarnya pacarku apa Tio?" Cerocos Devina yang membuatku memalingkan wajah, tidak mau menatap wajah orang yang sangat menyebalkan.
"Kenapa kamu membuang muka, jawab kamu milih aku apa Tio?" Susul Devina sambil mendorong Bahuku agar aku menatapnya.
"Jawab dong jangan diam saja....!" ujar Devina melanjutkan dumelannya.
"Apa kamu bilang hobimu dikubur, Sejak kapan aku membatasimu, aku hanya minta sama kamu jadi cowok harus bertanggung jawab dong...! jangan seenaknya membuat janji, lalu membatalkan demi alasan yang tidak penting, coba kalau aku yang berbuat seperti itu pasti kamu marah," sanggah Devina yang terlihat tidak mau kalah, padahal semenjak kita pacaran Aku tidak pernah membentak atau memarahi Devina.
"Iya Sayang maafkan aku, ya sudah ayo kita berangkat," ujarku menenangkan macan betina ini, dengan mengambil helm lalu mengenakan di kepalanya.
Setelah helm itu terpakai, aku pun mengeluarkan motor lalu menyalakannya. setelah Devina duduk motorku pun melaju keluar dari pintu gerbang sekolah, bergabung dengan kendaraan-kendaraan lain yang berlalu Lalang mencari kehidupan.
Suasana siang itu terasa begitu panas, apalagi kota Jakarta yang pohonnya sudah diganti dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi dan berkaca sehingga membuat udara di ibukota itu terasa sangat gerah, ditambah dengan bertonton Polusi yang keluar dari kendaraan, sehingga udara yang kita hirup sudah tidak asli lagi.
Aku terus menarik tuas gas motorku, membelah kemacetan sesekali harus bermanuver naik ke trotoar agar lebih cepat ke tempat tujuan, ingin segera mengadamkan tubuh yang terasa panas.
Di belakangku Ada sosok wanita cantik yang sedang jualan Tutut, bibirnya selalu cemberut seperti tidak ada kebahagiaan di dalam hidupnya. membuat bukan tubuhku saja yang terasa panas, tapi hatiku juga ikut merasakan hal yang sama. Bagaimana hatiku tidak panas, hari ini aku terus dimarahi oleh cewek yang umurnya berada di bawahku. padahal aku tidak melakukan kesalahan terhadap dirinya, sebenarnya aku ingin rehat sejenak dari tekanan seorang wanita yang inginnya dimengerti tapi tak bisa mengerti perasaan orang lain.
__ADS_1
Lama berpanas-panasan di tengah teriknya matahari, akhirnya kita pun tiba di salah satu parkiran mall yang ada di pusat kota, dengan segera kita pun turun dari motor lalu berjalan menuju ke pintu gerbang.
"Kok perasaan rame banget ya Kak, ada apa ya?" tanya Devina yang mulai kembali mengeluarkan suaranya namun sekarang suara itu terdengar lembut, tak seperti beberapa menit yang lalu ketika kita berada di sekolah.
"Nggak tahu mungkin ada acara," jawabku singkat.
Kita terus berjalan sampai akhirnya kita berada di auditorium, karena ketika mau masuk ke toko buku kita harus melewati tempat itu. benar saja di tempat itu sudah ramai mungkin ada acara konser untuk menghibur pengunjung Mall. tapi aku tidak memperdulikan hal itu, karena pikiranku hanya ingin cepat menyelesaikan tugas, lalu pulang ke rumah dan beristirahat, agar jiwaku tenang tidak berada di bawah tekanan Devina.
"Kayaknya ada konser ya?"
"Mungkin, Ayo ke lantai atas Katanya kamu mau beli buku."
"Iya," jawab Devina sambil menggandeng lenganku menuju eskalator.
Setelah berada di toko buku, Devina pun mulai mencari buku yang ia butuhkan, ketika kita mencari dari arah bawah terdengar teriakan teriakan dan hentakan musik yang memenuhi seluruh penjuru Mall, menandakan bahwa di tempat itu sedang mengadakan konser musik, telingaku menangkap jelas bahwa konser itu adalah konser girlband membuatku mengingatkan kembali tentang ajakan Tio. mungkin kalau aku tidak menjadi pengawal Devina, Sekarang aku sudah bereuforia bernyanyi sambil berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik.
Aku hanya menatap gadis yang rambutnya di cempol sedang memilih-milih buku, rasanya sangat gemas ingin menelannya bulat-bulat, karena gara-gara dia aku sampai batal menonton konser.
"Kenapa menatapnya seperti itu?" tanya Devina yang terlihat heran.
"Kamu sangat cantik banget hari ini." jawabku berbohong menyembunyikan kenyataan.
"Ah masa iya sih, Perasaan aku sangat dekil, soalnya kan belum pulang, belum mandi, belum berdandan rapi."
"Yah walaupun kamu belum mandi, tapi kamu tetap wangi. walaupun kamu belum berdandan rapi, tapi kamu masih tetap cantik."
"Apaan sih kamu Raka, geli tahu mendengar ucapanmu yang bohong itu."
"Serius?"
__ADS_1
"Udahlah, jangan diteruskan! coba kamu tolong bantu milih buku mana yang harus aku beli." Tanya Devina sambil mengangkat kedua tangannya yang memegang buku.