Cinta Raka

Cinta Raka
bab 29


__ADS_3

Pov Raka


"Ya sudah aku mau mengikuti kemauan kamu, aku akan belajar berubah menjadi dewasa, agar bisa terus menjaga hubungan ini Sampai tua nanti, agar aku tetap hidup bersamamu." ujar Devina sambil mengangkat kelingkingnya.


Mendengar ucapan dan tingkah lakunya yang menggemaskan. aku pun mengulum senyum, kemudian menautkan jari kelingking ku ke kelingking Devina, sebagai bentuk bahwa hubungan kita akan dimulai kembali.


Aku dan pacarku terus mengobrol, saling mengungkapkan isi hati, saling mencurahkan isi jiwa demi memahami sikap masing-masing, agar hubungan yang sudah kita jalin tetap langgeng, tetap berbahagia.


Mengobrol dengannya Sekarang terasa lebih mengasyikan, karena Devina selain ingin diperhatikan dia bisa memperhatikanku. selain ingin dipahami, dia mulai memahamiku. obrolan itu terus berlanjut sampai bel pelajaran ke-3 pun berbunyi.


Kedua sudut bibir kita mengulum senyum, sebelum berpisah untuk masuk ke kelas masing-masing, pikiranku mulai sedikit terbuka tidak semumet hari kemarin dan tadi pagi. sekarang beban yang mengikatku sudah terlepas karena Devina siap berubah.


Sesampainya di kelas, terlihat Tio sudah duduk di kursinya. ketika melihatku masuk, dia pun dengan segera memanggilku dengan Melambaikan tangannya.


"Dari mana aja sih Mas Bro, Aku tunggu di kantin kok nggak datang-datang?" tanya Tio dengan wajah penasarannya.


"Nyari udara segar Bro," jawabku sambil duduk di kursi yang berada di samping karena kita bukan hanya teman sekelas tapi teman sebangku juga.


"Kayak capung aja sih bro, malam nyari angin, siang nyari udara, gue semakin merasa aneh dengan Sikap lu sekarang."


"Hehehe, Namanya juga hidup penuh warna-warni Bro."


"Oh iya, tadi si Devina nanyain lu ke sini, ketemu nggak?"


"Ketemu di depan kelas?"


"Jadi gimana rencana lo tadi malam lancar?"


Mendengar pertanyaan Tio aku menarik nafas dalam, karena rencana yang sudah aku susun rapi, sekarang buyar seketika karena Devina bersedia merubah sikapnya untuk lebih baik demi mempertahankan hubungan kita.


"Kenapa di tanya malah diam seperti itu?"

__ADS_1


"Rumit Bro.....!"


"Rumit bagaimana?"


"Tadi aku sudah mau menyampaikan rencana kita tadi malam, tapi tiba-tiba dia seperti mau menangis dan dia sudah berjanji akan merubah sikapnya, tidak akan membatasi ruang Gerakku dan dia akan lebih belajar memahami sikapku."


"Lantas kamu percaya?" tanya Tio sambil menatap heran ke arahku.


Aku hanya menganggukkan kepala, karena bingung harus berkata apalagi. soalnya tadi aku benar-benar tidak memiliki pilihan selain menerimanya.


"Lah, lah....! ingat Mas Bro dulu ketika lu mulai pacaran dia menurut lu sangat manis, sangat baik, sangat pengertian. tapi apa nyatanya setelah lo berpacaran satu bulan sikap aslinya keluar semua, bahkan lu sampai pusing kan." Ujar Tio mengingatkan


"Bingung gua bro, kalau melihatnya memelas seperti itu, rasa kasihan gua sangat tinggi." jawabku ketika mendapat pernyataan dari Tio, kalau Devina tidak akan berubah dia akan kembali ke mode aslinya.


"Ya sudah, terserah lo...! yang pusing kan lo bukan gua," jawab Tio sambil mengeluarkan buku pelajarannya.


Aku hanya terdiam sambil memikirkan apa yang disampaikan oleh Tio, namun itu tidak lama karena guru pengajar pelajaran ke-3 pun datang. hingga membuat suasana kelas menjadi Hening, bersiap menerima pengajaran yang akan disampaikannya.


"Iya aku harus mencobanya terlebih dahulu, nanti kalau tidak ada perubahan baru Aku akan segera memutuskannya." pikirku dalam hati kemudian menulis apa yang disuruh oleh guru.


Terlarut dalam pelajaran, hingga aku sedikit melupakan tentang Devina. suasana di luar kelas terlihat sangat terik, membuat keadaan di ruangan sangat gerah, beruntung ada kipas angin yang berputar, meski tidak memberikan efek yang signifikan, tapi itu lumayan bisa membuat tubuh nyaman.


Pelajaran ke-3 pun sudah selesai, dilanjutkan dengan pelajaran ke-4 hingga bel pulang pun berbunyi. aku merapikan buku untuk dimasukkan ke dalam tas, sama seperti teman-teman sekelas lainnya yang terlihat bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Main ke rumah gua nggak Mas Bro?" ajak Tio sambil menatap ke arahku.


"Enggak, kayaknya Aku mau langsung pulang aja Bro."


"Ya Udin, tadinya gua mau ngajakin main PS."


"Lain kali aja," jawabku sambil mengambil handphone lalu menyalakan datanya.

__ADS_1


"Pasti akan banyak chat yang masuk dari Devina," pikirku sambil menunggu beberapa saat dan benar saja handphoneku terus bergetar menandakan banyak pesan yang masuk, membuatku merasa kesal karena Devina tidak bisa berubah.


"Bro, gua duluan ya....!" ujar Tio, Aku hanya mengangkat kan jempol tanda menyetujui ucapannya.


Mataku terus menatap ke layar handphone, lalu mengalihkan ke aplikasi chat terlihat ada belasan pesan yang dikirimkan oleh Devina, merasa penasaran dan kesal bercampur menjadi satu hingga akhirnya aku membuka chat itu.


"Katanya mau berubah, tapi kenapa kamu masih nge-chat aku terus," tulisku untuk membalas pesan Devina namun ketika hendak menekan tombol send, terlihat waktu pesan yang dikirimkan itu pukul 10.00 lewat. jadi setelah Devina bertemu denganku dia tidak mengirimkan pesan lagi, berarti dia sudah mulai dewasa tidak mengekangku seperti hewan peliharaan.


"Syukur deh kalau kamu mengerti," gumamku sambil tersenyum bahagia, Harapan Baru yang cerah sudah terlihat. Aku menghapus kembali pesan yang tadi hendak aku kirim, lalu memasukkan handphone ke dalam tas sekolah.


Aku menarik nafas dalam, kemudian membangkitkan tubuh bersiap-siap untuk pulang ke rumah. aku keluar dari kelas kemudian menuju ke parkiran untuk mengambil motor, setelah berada di parkiran aku menyalakan motorku lalu menuju gerbang sekolah.


Setelah beberapa meter meninggalkan gerbang, terlihat di halte ada seorang cewek yang sedang duduk, dipenuhi dengan kegelisahan, terlihat dia mundar mandir sekali melihat jam yang ada di tangannya. Merasa penasaran dengan segera aku pun menghampirinya.


"Belum pulang Devin?" Tanyaku sambil turun dari motor.


"Belum Kak, sopir aku telat menjemputnya."


"Ya sudah, ayo aku antar....!" tawarku sambil kembali ke motor untuk mengambil helm.


"Nggak merepotkan Kak?" tanya Devina ragu-ragu.


"Hehehe, enggak lah masa sama pacar sendiri direpotkan sih." Jawabku sambil mengulum senyum, kemudian memasangkan helm ke kepalanya.


"Terima kasih ya sudah mau mengantarku pulang," jawab Devina membalas Senyumanku.


"Sama-sama ayo nanti keburu hujan."


"Sebentar aku mau ngasih tahu sopir aku dulu, agar dia tidak jadi menjemput. boleh kan?" tanyanya dengan lembut berbeda dari biasanya.


"Boleh kok."

__ADS_1


Devina pun mengeluarkan handphone, lalu mengetikkan pesan mungkin dia mau memberitahu sopirnya agar tidak usah menjemputnya di sekolah. setelah pesannya terkirim dia pun menarik tanganku agar segera pulang.


__ADS_2