
POV Raka
Aku hanya mengantar pacarku dengan tatapan heran, sampai dia tidak terlihat tertelan oleh bangunan sekolah. setelah Devina tidak terlihat, aku menarik nafas dalam tidak mengerti dengan sikap makhluk yang bernama cewek itu. padahal aku sudah mengikuti kemauannya untuk meminta maaf, tapi bukannya dimaafkan malah menggerutu dan marah.
"Woi ngelamun aja, nanti kesambet loh.....!" ujar Tio yang baru datang menghampiri.
"Eh Tio, baru datang yo?" jawabku sambil mengulurkan tangan untuk mengajak dia bersalaman.
"Yah baru sampai, pacar lo Mana? biasanya Lu selalu datang barang Devina?" tanya Tio sambil celingukkan
"Ah Apaan sih lu enggak jelas banget...! Ayo masuk ke kelas," ajakku sambil berjalan mendahului.
Akhirnya kita berdua pun berjalan bersama menuju ke kelas untuk memulai pelajaran pertama, karena telah kita beristirahat sebentar bel masuk pun berbunyi, menandakan bahwa seluruh siswa sudah tidak boleh berada di luar kelas, mereka harus sudah duduk di bangku masing-masing, sambil memegang pensil mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh para guru.
Hari itu aku tidak fokus untuk belajar, karena Devina yang sangat rese selalu mengganggu pikiranku, aku terus menimbang baik buruknya apa yang akan aku lakukan, pikiranku terbagi dua antara menjalankan Rencanaku yang ingin break dengan Devina atau tetap mempertahankan hubungan yang sudah tidak mengasyikkan.
Terlalut dalam pikiran, aku beberapa kali ditegur oleh bu guru yang sedang mengajar, dan beberapa kali pula aku meminta maaf dan berbohong kalau aku sedang tidak enak badan, sehingga aktivitas belajar ku hanya dihabiskan untuk melamun.
Pelajaran pertama selesai, diikuti dengan pelajaran kedua, aku masih tetap memantapkan hati untuk berpisah dengan Devina, walau aku sangat menginginkan punya pacar, tapi kalau melihat kenyataannya Sepahit ini, lebih baik menjauhi semua hal yang akan membuatku menjadi gil4.
__ADS_1
Setelah pelajaran selesai, aku dan Tio merapikan buku kita masing-masing untuk beristirahat terlebih dahulu. begitupun dengan teman-teman sekelasku, yang terlihat merapikan alat tulisnya ke dalam tas.
"Nongkrong di kantin yuk!" ajak Tio sambil melirik ke arahku.
"Lu duluan aja, nanti gua nyusul."
"Ayo mendingan kita bareng mas bro, daripada lo ngelamun terus, nanti bisa-bisa kesambet, Mending kalau nggak ngerembet ke mana-mana."
"Maksudnya?" tanyaku sambil menatap ke arah sahabatku yang terkadang terlihat Tengil, tapi hatinya tetap baik.
"Ya kan banyak sekolah-sekolah sekarang, yang kesurupan massal."
"Ya Udin, kalau nggak mau bareng gua ngecengin cewek-cewek cantik di kantin." jawabnya sambil membalikkan tubuh kemudian keluar dari kelas.
Seperginya Tio, aku menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi, mataku menatap kedua foto yang tertampang di depan kelas, namun pikiranku terbang ke mana-mana. setelah agak lama terdiam, aku pun menghela nafas kemudian mengambil earphone yang berada di dalam tas, lalu keluar dari kelas untuk mencari suasana, agar pikiranku tidak terlalu mumet.
"Kayaknya aku harus ke taman sekolah, agar tempat aku bisa beristirahat dan mendapat penyegaran dari bunga-bunga yang tumbuh di tempat itu," pikirku sambil terus berjalan menyusuri lorong sekolah, kemudian sampailah di halaman yang dibuat lapang basket dan futsal, di samping tempat itu ada taman bunga.
Aku menuju tempat itu, kebetulan tempatnya lumayan sepi. karena para siswa lebih memilih untuk pergi ke kantin lalu kembali ke kelas untuk menikmati jajanannya atau tetap tinggal di kantin sambil mengobrol dengan teman sekelasnya atau dengan teman sekolah, karena di ruang kelas dan di kantin biasanya dipasang kipas angin.
__ADS_1
Aku memindai area sekitar, lalu terlihatlah ada bangku panjang, namun tidak ada seorang pun di taman itu karena cuacanya mulai terik karena sudah pukul 10.00 lewat. tanpa berpikir panjang aku menghampiri bangku lalu duduk, mataku terus memindai area sekitar melihat bunga-bunga yang warna-warni, namun tidak terlihat indah karena pikiranku yang sedang tidak fokus.
Hari itu entah mengapa perutku tidak lapar, bahkan untuk pergi ke kantin rasanya sangat malas, takut bertemu dengan Devina. aku terdiam agak lama sambil memutar kembali Khayalku mencari cara yang pas agar aku bisa terlepas dari genggaman kekuasaan wanita yang selalu merasa benar.
Setelah terdiam agak lama aku pun mengeluarkan handphone lalu membuka kuncinya, terlihatlah beberapa panggilan masuk dan chat yang dikirim oleh Devina, bahkan Ketika aku membuka handphone Devina pun menelepon membuatku semakin merasa jengkel, dengan sikapnya yang terlihat kekanak-kanakan.
"Kayaknya datanya harus dimatiin, biar Si Rese ini tidak terus meneleponku," gumamku sambil menaarik layar dari atas kemudian mematikan data internet, lalu menghidupkan bluetooth untuk mengkoneksikan dengan earphone yang kubawa.
Setelah terhubung aku mulai mencoba memutar musik lalu menempelkan earphone ku di telinga dengan lagu mellow kesukaanku. mataku mulai terpejam menikmati setiap bait lirik lagu yang terasa pas dengan keadaanku yang sekarang.
Lumayan agak lama, bahkan satu lagu pun sudah selesai diputar. aku sangat menikmati suasana tenang itu mungkin benar memang aku harus berpacaran dengan laptop sambil ditemani dengan lagu-lagu mellow seperti ini, karena memiliki pacar seorang manusia tidak membuatku tenang sama sekali, yang ada aku seperti orang yang terlilit hutang dan dikejar-kejar oleh depkolektor.
Ketika masuk lagu kedua, kuping kiriku menangkap ada satu hentakan kaki yang melangkah menuju ke tempatku. sehingga dengan segera aku membuka mata menatap ke arah datangnya suara, terlihatlah ada sosok cewek cantik dengan gaya yang sangat modis, Dia memakai rok pendek di atas lutut dengan baju yang tidak dimasukkan, ujung lengan bajunya dilipat satu lipat, memperlihatkan lengan mulus dan putihnya.
Wanita itu terlihat marah-marah di telepon, sampai menaikkan intonasi suara, membuatku mengerutkan dahi. mungkin begitulah kebiasaan wanita yang hanya bisa marah-marah, menyalahkan orang lain. aku terus memperhatikan cewek itu dari belakang, merasa penasaran dengan apa yang akan dia lakukan.
"Terus kamunya gimana Derry. ya nggak bisa gitu lah, gua sudah menyiapkan semuanya dari dua bulan yang lalu," ujar cewek itu dengan orang yang diteleponnya.
Aku hanya menatap dari belakang, memperhatikan gerak-gerik dia yang sedang marah-marah, mungkin sama setiap hubungan pasti akan ada masalah yang membuat amarah masing-masing terpancing.
__ADS_1
"Looooh, loooooh. kok kamu bilang aku egois sih. seharusnya aku yang ngomong kayak gitu kan ke kamu. ingat ya Derry Gak semua hal yang yang kamu mau harus aku turutin, ngerti.....!" ujar cewek itu sambil menaikan intonasi suara, bahkan tangannya pun ikut bergerak-gerak seperti sedang membaca naskah puisi di atas panggung, Mungkin dia sangat mendalami peran ketika memarahi pacarnya, membuatku semakin menaikkan kepala ingin mendengar jelas apa balasan dari orang yang diteleponnya.