Cinta Raka

Cinta Raka
bab 22


__ADS_3

Pov Raka


Setelah aku dan Tio mengobrol, dan pembahasan kita pun selesai. akhirnya kita memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, karena waktu sudah mulai malam, membuat suasana terasa dingin, apalagi malam itu bulan tidak terlihat indah sama sekali, seperti sedang malas tidak mau memberi keindahan dalam hidupku yang sangat kacau.


"Terima kasih bro, lu sudah mau mendengar curhatanku." ujarku sambil mengepalkan tangan untuk mengajak Tio tos.


"Sama-sama, sudah jangan banyak pikiran...! nanti Badan lu kurus lagi," jawabnya sambil membalas tosku kemudian menyalakan motornya.


"Siap....! Pak Komandan. hati-hati di jalan," jawabku sambil mengulum senyum menyembunyikan perasaan yang masih belum tenang, karena Entah mengapa memiliki pacar seperti Devina rasanya sangat menjengkelkan, membuat kepalaku terasa mumet tidak bisa tenang.


"Lu juga....!" jawab Tio sambil memundurkan motornya, kemudian dia pun pergi meninggalkan flyover hendak pulang ke rumahnya.


Setelah Tio pergi, aku pun mulai menyalakan motorku kemudian menarik tuas gas untuk kembali pulang ke rumah, dengan membawa hati yang masih sangat kalut, karena walaupun Tio terus menasehatiku panjang lebar tapi semua itu tidak ada yang masuk ke otak sama sekali. pikiranku terbang melayang ke masa-masa indah ketika awal mula berpacaran dengan Devina, gadis yang sangat manis, cantik, baik, enak diajak mengobrol. tapi sekarang itu hanyalah kenangan semata, Devina berubah menjadi gadis yang sangat jelek, menjengkelkan, tidak enak untuk diajak mengobrol karena dia sangat egois


Suasana malam kota Jakarta, semakin terasa dingin karena sekarang masih masuk ke dalam musim penghujan. Tapi beruntung malam ini tidak turun, hanya gelapnya saja yang menyelimuti ibukota itu. motorku terus melaju membelah jalan yang Suasananya masih terlihat ramai, karena mungkin para warganya baru pulang makan malam di cafe-cafe atau restoran, meski keadaan suasana sangat menyeramkan tapi tidak sedikitpun menurunkan niat warga Kota Jakarta untuk menikmati malam itu.


Suara Deru mesin mobil dan motor Terdengar sangat bising menemani jalanku, sesekali suara klakson pun berbunyi ketika ada orang yang berhenti mendadak, ditambah dengan umpatan-umpatan kasar karena kendaraannya hampir menyerempet kendaraan yang berhenti tiba-tiba. Namun itu tidak membuatku mengalihkan pikiran aku tetap terfokus menatap jalan yang akan aku lalui.


Lama di perjalanan, akhirnya aku sampai ke rumah. terlihat di teras sedang duduk dua insan yang terlihat sangat asik ketika mengobrol. padahal gaya mereka sangat berbeda. yang satu centil dan aneh, yang satu kalem dan tampan.


"Matiin motornya silau tahu!" omel Kak Vira sambil menghalangi wajahnya yang tersorot dengan lampu motor dengan tangan.


Aku hanya mengulum senyum, kemudian mematikan motorku lalu menurunkan kick standarnya. sebelum berbicara aku melepaskan helm lalu disimpan di spionnya, dengan perlahan Aku berjalan menuju ke teras rumah.


"Dibilangin malah diam.....! kayak orang cengo lu!" gerutu Mbak Vira Mungkin dia kesal karena tidak mendapat tanggapanku, yang sedang dihantui oleh kegelisahan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa....!" jawabku singkat dan agar tidak nyambung perbauan hati yang sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa muka lu ditekuk seperti itu, kayak cucian belum disetrika....!"


"Sudahlah Nggak usah kepo deh Mbak," jawabku Ketus.


"Sejak kapan kakak lo gak pernah kepo dengan urusan orang lain," jawab Mas Akbar menimpali dengan wajah kalemnya Bahkan dia terlihat mengulum senyum.


Aku hanya balas senyum Mas Akbar dengan kecut  menyembunyikan semua kegundahan hati. kemudian aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam.


"Mau ke mana, buru-buru amat? sini Duduk dulu.....!" ujar Mas Akbar sambil menepuk kursi di sebelahnya.


Seketika aku menghentikan langkah, kemudian menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal. karena berbicara dengan Tio Aku tidak mendapat sedikitpun pencerahan, mungkin karena Tio belum mengerti tentang percintaan.


"Malah diam, Ayo duduk Santai dulu lah....! Hidup itu jangan dibawa bingung, enjoy saja.....!" ulang Mas Akbar.


"Kenapa, kayaknya serius banget. Pasti lo punya masalah dengan Devin ya?" susul Mbak Vira setelah melihat adiknya duduk.


"Nggak....!"  jawabku sambil melirik ke arahnya.


"Jangan bohong deh...! sudah jelas muka lo kusut seperti itu, dan di dahi lu ada tulisan sedang resah."


"Udah deh Kak, jangan sok tahu jadi orang. mendingan sana lu masuk ke dalam rumah," jawabku masih dengan nada Ketus.


"Lah kenapa lu marah ngusir gua, jelas-jelas gue yang duluan di sini. Gak lihat apa lu, Kakaknya lagi pacaran...?"

__ADS_1


"Yaelah Pelit amat sih, Gua pinjam dulu bentar laki lu."


"Pinjam, Enak aja kamu bilang Emangnya laki gua barang pakai mau minjam-minjam segala.


"Takut amat sih....! Lagian gua nggak suka sama batangan, benar kan Mas?" jawabku sambil melirik ke Mas Akbar.


"Benar...!" jawab Mas Akbar sambil menganggukkan kepala, dengab sudut bibir yang tertarik ke atas.


"Beneran nggak lama....?" tanya Mbak Vira seolah sedang memastikan.


"Sudah kamu masuk dulu ke dalam....!" jawab Mas Akbar yang tetap kalem.


"Ya udah deh kalau begitu. tapi baby sayang...., tolong jagain calon adik iparnya ya...!" jawab Mbak Vira sambil memiringkan kepalanya persis anak ABG yang sedang dimabuk cinta. kemudian dia pun bangkit dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam ruang tamu dengan langkah lenggak lenggok seperti cacing kepanasan.


Aku yang menatapnya hanya menggeleng-geleng kepala, tidak mengerti dengan pasangan yang selalu harmonis ini. padahal kalau melihat Sikap mereka sangat jelas berbeda, yang satu sangat kalem yang satu sangat barbar.


"Mas....! kok lu betah sih pacaran sama cewek seperti itu, dia kan reseknya dunia akhirat...." Tanyaku sambil menatap ke arah Mas Akbar, ingin melihat jelas isi di dalam kepalanya, ingin mengetahui Kenapa dia bisa bertahan dengan cewek yang sangat rese.


"Hai Raka......! gua dengar omongan lo.....!" teriak Kak Vira dari ruang tamu.


"Iya, iya.....!" jawabku sambil melirik ke arah dalam.


"Mau bagaimana lagi Raka, namanya juga sayang.....!" jawab Mas Akbar dengan santainya.


"Gua juga sayang sama Devin Mas, tapi gua gak sayang sama sikap dan kelakuannya yang bikin gua mumet Mas...! Beneran deh....! udah hampir gil4 gua memikirkannya, sikap egoisnya, kekanak-kanakannya, pengen dimengerti tapi dia tidak pernah mengerti. padahal Pas awal pacaran dia sangat baik Mas," curhatku sama Mas Akbar.

__ADS_1


"Hahaha, Raka....! Raka.....! lu baru ya pacaran?"


"Kok Mas tahu?" jawabku yang mengerutkan dahi.


__ADS_2