Cinta Raka

Cinta Raka
bab 14


__ADS_3

Pov Raka


Di Perjalanan pulang, aku terus menyanyi dan terus membagikan senyuman terhadap orang-orang yang aku temui di jalan, mereka hanya bisa mengerutkan dahi, ada juga yang mencibir, mungkin mereka merasa heran dengan gayaku yang tidak normal. padahal kalau mereka tahu apa yang sedang aku rasakan, Aku yakin mereka pun akan melakukan hal yang sama sepertiku, tertawa membagi senyum, membagi kebahagiaan dengan orang yang kita temui.


Sesampainya di rumah, dengan semangat dan penuh kegembiraan aku masuk ke dalam rumah. nyanyian-nyanyian riang tak terlepas dari Mulutku, bahkan nyanyian itu berlanjut sampai ke kamar mandi. setelah menyelesaikan makan aku duduk di teras sambil membalas chat Devina.


Lagi asik membalas chat, sampai lupa dengan keadaan sekitar, sampai tak sadar bahwa aku sudah lama diintip oleh Mbak Vira, yang baru pulang dari tempat kerjanya.


"Oh ada yang jadian, pantes aja lu kayak kesambet, sampai tidak sadar kalau kakakmu sudah datang." ujarnya yang mengagetkanku, dengan cepat dia pun menarik kursi lalu duduk di dekatku.


"Ih, apaan sih Mbak, lo sok tahu deh!" jawabku sambil memalingkan wajah.


"Kok lo nggak pernah cerita sama gue. kok lu nggak pernah bilang sama gue kalau sekarang lu punya cewek?" ujar Mbak Vira sambil menatapku dengan lekat.


"Sudahlah Mbak, nggak usah terlalu di dramatisir?"


"Tapi beneran kan, barusan lu chat-an sama pacar lo? Soalnya pakai sayang-sayang segala."


"Maksudnya apaan sih Mbak?"


"Lu sekarang sudah punya pacar?" ujar Mbak Vira mengulang kembali pertanyaannya.


Mendengar pertanyaan seperti itu Aku tidak menjawab. hanya mengulum senyum penuh kebanggaan, karena hari ini adalah hari terbahagia dalam hidupku. Bagaimana tidak bahagia, sekarang aku sudah tidak jomblo lagi, sekarang ada cewek yang mau menerimaku sebagai pacarnya.


Melihatku yang tersenyum, Mbak Vira hanya menatap menunggu jawaban." Serius kamu sudah punya pacar?" lanjut Mbak Vira dibalas dengan anggukkan ku.


"Akhirnya......! adik gua nggak jomblo lagi, akhirnya lu laku juga," teriak Mbak Vira seperti biasa menggunakan bit suara yang tinggi, sehingga membuat telingaku terasa mendenging.


Mbak Vira memelukku dengan begitu erat, sambil terus pura-pura terharu, membuatku hanya terdiam di dalam pelukannya, walaupun sebenarnya agak risih.

__ADS_1


"Sudahlah Mbak, nggak usah peluk-peluk." Pintaku sambil menggelinjangkan badan agar Mbak Vira melepaskan tangannya.


Dengan masih mengomel Mbak Vira pun melepaskan pelukan itu, kemudian dia mengangkat kedua tangan lalu matanya menatap ke arah atas. "terima kasih Ya Tuhan, engkau telah mencabut kutukan jomblo buat adik hamba." doa mbak vira dengan suara yang dibuat-buat.


"Apaan sih Mbak,lebay banget elu....!" sanggahku sambil menepis tangannya yang sedang diangkat, membuat dia pun menghentikan ocehannya, lalu menatap ke arahku kemudian tersenyum.


"Selamat, Selamat, Terima kasih lu sudah menyelamatkan harkat martabat keluarga kita, karena dengan sekarang lu punya pacar, berarti keluarga kita semuanya laku," ujar Mbak Vira kemudian memeluk kembali.


"Apaan sih Mbak, Dari tadi ngomongnya ngelantur terus, bau tahu, lu kan belum mandi," ujarku sambil melepaskan tangan yang melingkar di Leherku.


"Sudah lu nggak tahu, apa orang lagi bahagia, karena beban keluarga sekarang sudah mendapatkan pacar. Oh iya siapa cewek yang mau-maunya menjadi pacar lu?" tanya Mbak Vira sambil tetap memegang pundakku.


"Tuh kan...! kalau ngomong suka nggak punya perasaan. Coba tolong jaga perasaan adiknya dikit kek," jawabku sambil membiaskan senyum pura-pura marah, karena diledek oleh Mbak Vira sudah menjadi makanan sehari-hari, jadi tidak ada alasan untuk marah dengan ledekan Mbak Vira.


"Hehehe, orang Mana ceweknya, teman sekolah lu?" selidik Mbak Vira.


"Iya Mbak, namanya Devina, dia Adik Kelasku di sekolah."


Dengan segera aku pun mengambil handphone yang tadi aku simpan di samping paha, kemudian membuka aplikasi Instagram untuk menunjukkan foto Devina." bagaimana cantik kan Mbak?" tanyaku meminta pendapat.


Dia tidak menjawab, Dia hanya menatap lekat ke arah foto yang aku tunjukkan, terdengar suara desis kekaguman yang keluar dari mulut kakakku. "Serius ini pacar lu?" tanya Mbak Vira seolah tidak percaya, wajahnya yang terlihat tersenyum memudar seketika.


"Iyalah Mbak....! ini pacarku, cantik kan?"


"Cantik sih, tapi!"


"Tapi apa Mbak?" tanyaku dengan raut wajah penuh kekhawatiran, karena dari romannya dia akan melanjutkan ledekan.


"Elu menggunakan dukun pelet yang mana?"

__ADS_1


"Halah ngelantur lagi kan, Coba tolong kasih kebahagiaan Adekmu dikit lah, jangan ngeledek terus."


"Kalau lu tidak pakai pelet, Mana mungkin cewek secantik ini mau menerima lu. ayo ngaku....! lu pakai pelet yang mana, atau pakai dukun yang mana? ngaku loh...! Ngaku!" ujarnya sambil menunjuk hidungku, wajahnya sampai dekat ke wajahku.


"Apaan sih Mbak, bicara jangan deket-deket muncrat tahu."


"Hehehe muncharat ya, maaf...! Tapi benar kan itu pacar lu." Tanyanya sambil menambah kuah Ke wajahku.


Akhirnya aku dan Mbak Vira pun terus mengobrol membahas tentang Devina, kakakku yang baik itu mulai menasehati Bagaimana cara mempertahankan hubungan, agar bisa bertahan lama. karena menurut keterangan dari Mbak Vira cinta itu memang sangat mudah untuk diungkapkan, tapi ada yang lebih berat dari pengungkapan cinta yaitu mempertahankannya.


Mbak Vira adalah sosok terbaik dalam hidupku, meski dia agak menyebalkan, Tapi dia bisa menempatkan mana waktunya serius, mana waktunya bercanda, seperti bapak dan ibu.


~


Keesokan paginya, suasana di sekolahku sudah mulai terlihat ramai, aku yang tadi pagi tidak menjemput Devina hanya berjalan sendirian menuju ke mading sekolah, untuk menempelkan Karya cerpenku.


Matahari di ufuk timur sudah terlihat sempurna, memancarkan kehangatan bagi jiwa-jiwa yang tersinari oleh sinarnya. gedung-gedung yang menjulang tinggi sudah terlihat nampak kehidupan, karena para pekerjanya mulai berdatangan. jalan-jalan dipenuhi dengan kendaraan yang sedang mencari kehidupan buat keluarganya, ada yang mengantarkan penumpang, ada yang mengantarkan barang atau ada juga yang mau menemui klien untuk membahas bisnis.


Begitu juga dengan sekolahku yang sudah mulai terlihat ada kehidupan, karena para siswa-siswi yang hendak menuntut ilmu di sekolah sudah mulai berdatangan. melaksanakan kewajiban sebagai seorang manusia sebelum diperah di perusahaan masing-masing.


Selesai menempelkan cerpen di dinding, tiba-tiba tubuhku ada yang mendorong sampai rapat ke arah tembok setelah aku melihat orang yang mendorong, ternyata itu adalah Tio, dia mengancamku dengan menunjuk wajah membuatku mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang sedang bocah ini lakukan.


"Apa-Apaan sih yo?" Tanyaku sambil menahan dorongannya.


"Apaan, apaan, lu lihat ini....!" ujarnya sambil mengambil handphone dari saku celananya, kemudian menunjukkan fotoku yang sedang pulang bareng dengan Devina.


"Maksudnya?" Tanyaku pura-pura bodoh.


"Ini nih, nih, lihat sama mata kepala lo....! ini apa?" tanya Tio yang mendekatkan layar handphonenya Ke wajahku.

__ADS_1


"Itu fotoku yang sedang mengantar Devina pulang, emang kenapa?"


__ADS_2