Cinta Raka

Cinta Raka
bab 24


__ADS_3

Pov Raka


"Putus....?" Susul Bapak ketika tidak mendapat jawaban


Aku menggelengkan kepala, sebagai Jawaban dari pertanyaan bapak.


"Terus kenapa, dan apa yang bikin kamu mumet?"


"Devina Pak?" jawab ku ragu-ragu.


"Kenapa dengan Devina. Oh iya, itu cewek yang dulu kamu tunjukkan fotonya kan sama bapak?"


"Iya Pak," jawabku pelan.


"Kenapa dengan dia?"


"Devina tidak seasik dulu Pak, sekarang Devina terlihat aneh dan sangat menjengkelkan, dia ingin terus diperhatikan tanpa memikirkan perasaanku?" Jawabku yang kepalang tanggung karena sudah mulai bercerita dengan bapak.


"Hahaha, emang benar wanita itu seperti itu, kadang menjengkelkan, kadang juga kalau kita bisa mendalami isi hatinya,wanita itu akan sangat menyenangkan. tinggal kitanya saja yang harus lebih dewasa, lebih mengerti dengan sikap dirinya."


"Tapi emang harus ya, laki-laki mengertikan perasaan wanita?"


"Haruslah Raka....! karena mereka itu makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan segala keunikannya, dan kita tidak akan paham kalau kita tidak memiliki pandangan yang luas. makanya menurut sebagian keterangan laki-laki itu diberi akalnya sembilan, sedangkan Wanita hanya diberi akal satu, tapi perasaannya sangat besar, egonya sangat tinggi. nah laki-laki dengan sembilan akalnya harus bisa menaklukkan ego wanita itu, agar bisa menjalin hubungan yang baik dan mengasyikkan."


"Jadi maksudnya bagaimana Pak," Tanyaku yang mulai mengalir

__ADS_1


"Maksudnya begini Raka, kalau ada suatu masalah dalam hubungan, Jangan menyalahkan orang lain terlebih dahulu. coba intropeksi diri sendiri, siapa tahu saja kesalahan itu ada pada kita. Laki-laki itu harus tangguh tidak boleh cengeng tidak boleh mudah menyerah Hanya menghadapi masalah sepele. Laki-laki diciptakan dengan ketangguhannya sedangkan Wanita diciptakan dengan kelembutannya."


Mendengar penjelasan Bapak aku pun terdiam memulang kembali memori Otaku selama berhubungan dengan Devina, mencari cari kesalahan dan kekuranganku ketika menjalin hubungan. tapi setelah lama berpikir aku tetap tidak menemukan kesalahanku, karena selama ini akulah yang selalu mengalah untuk dirinya, tapi dia tidak pernah mengerti Kalau dia sangat diistimewakan dalam hidupku.


"Sudah jangan banyak pikiran. kamu masih muda, mendingan kamu cuci muka kemudian salat lalu tidur. besok pergi ke sekolah, itu tugasmu sekarang. masalah pacaran itu nomor sekian, Jangan sampai mengganggu tugas utama kamu sebagai seorang anak yang harus mencari ilmu, yang harus berbakti sama orang tua," lanjut nasehat bapak.


"Baik Pak, terima kasih."


Setelah itu Bapak pun bangkit dari tempat duduk, kemudian keluar dari kamarku. seperginya Bapak aku pun sama bangkit dari tempat tidur, Kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu sebelum melanjutkan kewajibanku sebagai seorang muslim.


Selesai melaksanakan salat, aku merapikan sajadah ku lalu aku lipat dan kusimpan di tempat yang semestinya. rasa penasaran ku mulai menyeruak ketika melihat handphone yang ada di meja belajarku, dengan segera aku mengambil benda pipih itu lalu mengecek isi di dalamnya. terlihatlah banyak panggilan dan notifikasi pesan yang masuk dan semua notifikasi itu hanya dari seorang wanita yang bernama Devina. karena semenjak dari tadi pulang sekolah aku tidak membalas apapun darinya, Kadang aku merasa aneh Padahal dia sedang marah, karena aku berbohong tapi ketika aku diamkan dia tambah lebih marah.


Merasa penasaran aku pun membuka aplikasi pesan untuk melihat apa yang dikirimkan oleh Devina, setelah pesan itu terbuka terlihatlah banyak chat yang menanyakan keberadaanku, menanyakan Kenapa aku tidak membalas pesannya, menanyakan Kenapa aku tidak menjawab teleponnya, di akhiri dengan chat permintaan meminta maaf kalau dia punya salah. Aneh memang benar-benar aneh dengan sikap makhluk yang satu ini.


Tring, tring, tring.......!


"Mau ngapain dia sampai nelpon segala?" gumamku sambil mengerutkan dahi, merasa heran dengan kelakuan Devina yang cepat marah dan cepat baik pula.


Rasa heran terkalahkan oleh rasa penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh cewek yang sudah hampir dua bulan resmi menjadi pacarku. sehingga tanganku dengan reflek menggeser tombol hijau ke arah atas.


"Kamu dari mana sih Raka, kenapa kamu nggak balas pesanku, Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku, Kamu marah ya sama aku?" cerocos Devina Setelah teleponnya terhubung.


"Aku lagi nulis Devin buat cerpen besok," jawabku berbohong dengan nada malas.


"Oh, lagi nulis, bilang dong dari tadi."

__ADS_1


"Maaf kalau kamu merasa khawatir, tapi aku ingin tenang ingin cepat menyelesaikan cerpenku."


"Iya dimaafkan, tapi jangan sekali-kali lagi seperti itu, bikin orang khawatir saja. Apa susahnya coba kamu tinggal balas chat kalau kamu nggak mau diganggu. apa jangan-jangan sekarang kamu sudah punya teman chat yang lain, sehingga kamu mengabaikanku begitu saja." curiga Devina dengan menaikkan intonasi suara sinis, membuatku semakin tidak respect lagi dengannya.


"Enggak lah, jadi orang gak percayaan banget sih. padahal buat apa nanya kalau kamu nggak mempercayai orang yang ditanya." Gerutuku membalas nada sinisnya.


"Lah, Wajar dong aku ngomong seperti itu, karena kamu kan pacar aku."


"Iya aku memang pacar kamu, tapi ingat aku bukan hamba sahayamu yang selalu harus menuruti kemauanmu."


"Kok kamu bilangnya seperti itu, Kamu nggak senang ya kalau aku perhatikan seperti itu. harusnya kamu senang dong mendapat cewek yang super perhatian sepertiku."


"Iya harusnya seperti itu, kalau semuanya tidak over. tapi kalau over bukannya senang lah yang ada bikin aku enek."


"Raka Kenapa nada bicaramu sangat kasar, kamu nggak peka banget sih jadi cowok."


Aku hanya menjatuhkan kepala ke belakang merasa tidak ada guna berbicara dengan cewek seegois Devina, padahal yang aku inginkan dia tetap menjadi seperti biasa, tidak harus marah-marah seperti sekarang.


"Halo kenapa kamu diam Raka, kamu masih ada di situ kan?" tanya Devina memastikan.


"Udah ya Devin, aku capek, Aku mau istirahat."


Tut, tut, tut.


Telepon itu pun terputus, setelah aku menekan tombol merah. dengan segera aku mensilent hp-ku karena aku yakin Devina akan menghubungiku lagi, setelah HP itu di silent aku simpan kembali di dekat laptopku.

__ADS_1


Mataku melirik ke arah jam dinding yang tertempel di kamarku, ternyata Sekarang sudah pukul 09.00. Merasa punya waktu aku pun mulai membuka laptop lalu menyalahkannya untuk mulai mengetik cerpen yang besok akan aku pajang.


Layar handphoneku terus menyala karena Devina terus menelepon, namun aku tetap mengacuhkannya mataku tetap terfokus, jariku tetap berada di atas keyboard, merancang kata-kata dalam tulisan meluapkan emosi dengan alur cerita cerpen.


__ADS_2