Cinta Raka

Cinta Raka
bab 28


__ADS_3

Pov Raka


"Alah....! jangan bohong deh, aku sudah tahu akal bulusmu."


"Sudahlah Devin, aku capek aku mau masuk ke kelas..." ujarku sambil melangkahkan kaki kembali, namun dengan segera Devina menghalangi langkah itu dengan menarik tanganku.


"Bentar tunggu dulu, kamu belum jawab pertanyaanku. kamu ngapain tinggal di taman, masa iya ada orang yang mau panas-panasan di tengah teriknya matahari. Kalau tidak ada sesuatu yang dia kejar. Ayo ngaku, cewek mana yang sedang kamu incar."


"Maksudnya bagaimana sih?"


"Malah balik bertanya lagi, Kamu ngapain di taman. Apa susahnya sih tinggal jawab?"


"Aku menenangkan pikiran."


"Ya ampun Raka, Raka. Kenapa kamu menenangkan pikiran hanya dengan duduk di taman, kamu tuh punya pacar. kenapa kamu nggak curhat sama aku saja, Emang sekarang kamu sedang menghadapi masalah seperti apa, Cerita dong....! Siapa tahu saja aku bisa bantu." Ujarnya sedikitpun Tidak terlihat bersimpati.


"Yakin kamu mau mendengarkan ceritaku?" Tanyaku sambil menatap menunjukkan ketidakpercayaan terhadap cewek yang menjadi pacarku.


"Raka......, kita itu kan pacaran, Kalau kamu tidak yakin sama pacar kamu sendiri, siapa yang bisa kamu percayai di dunia ini selain pacar kamu." jawab Devina seolah menunjukkan kedewasaan, tapi padahal itu semakin menunjukkan bahwa dia tidak pernah peka dengan apa yang dia lakukan.


"Ya sudah, ayo duduk sebelum bel pelajaran masuk berbunyi, aku mau ngomong serius dengan kamu." ujarku sambil memindai area sekitar, kebetulan di lorong itu ada bangku, sehingga aku pun menarik tangannya agar kita bisa ngobrol dengan leluasa.

__ADS_1


"Coba ceritakan apa masalah yang sedang kamu hadapi sekarang, kamu punya masalah dengan keluarga?" tanya Devina Setelah dia duduk dengan menatap wajahku.


Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaannya, mataku menatap lekat ke arah mata Devina ingin tembus sampai ke otak yang berada di belakang mata, ingin mengetahui apakah makhluk yang berada di hadapanku memiliki benda menggumpal itu atau hanya Tempurung doang.


"Kenapa ditanya kok nggak jawab, kamu punya masalah dengan teman atau pelajaran," susul Devina seolah tidak sadar dengan apa yang dia perbuat.


"Nggak, aku tidak memiliki masalah dengan siapapun, aku hanya memiliki masalah dengan kamu."


"Masalah apa, perasaan kita baik-baik saja." ujarnya tidak mengakui.


"Apa kamu nggak sadar, kamu itu seperti bocah banget."


"Kok kamu berbicaranya seperti itu, Tega banget kamu Raka. kamu menganggapku anak kecil," jawab Devina sambil merubah raut wajahnya, bahkan tangannya dilipatkan di depan dada, punggungnya disandarkan ke kursi.


Mendengar perkataanku, Devina hanya semakin menarik bibirnya ke belakang, matanya menatap ujung sepatu, nafasnya Terlihat agak sedikit memburu, Mungkin dia merasa kesal ternyata biang permasalahannya adalah dirinya sendiri.


"Aku tuh heran sama kamu Devin, kenapa kamu sangat menyebalkan. tiba-tiba kamu marah, tiba-tiba kamu baik. contohnya kemarin habis pulang dari toko buku kamu marah-marah sampai pulang sendiri, Tapi setelah aku membuat status Bad Day kamu langsung menelepon dan memintaku untuk curhat dengan kamu. asal kamu tahu Devin, Gimana aku mau curhat sedangkan kamunya sedang marah, tanpa mendengar penjelasanku terlebih dahulu. Jujur aku sangat capek dengan tingkah bocah mu ini, bagaimana hubungan bisa berlanjut kalau kita tidak bisa saling memahami."


"Jadi maksudnya kamu seperti ini, aku yang salah begitu?" tanya Devina sambil melirik ke arahku terlihat matanya mengembun.


"Maaf ya Devin, hubungan itu harus saling mengerti bukan hanya ingin dimengerti dan mengertikan. kalau mau hubungan itu langgeng harus ada kata saling hormat menghormati, saling mengingatkan, saling menyayangi, saling mencintai. Sedangkan akhir-akhir ini kamu lebih banyak marah-marah tanpa sebab dengan menuduhku tidak peka, tidak pengertian, tidak menganggapmu sebagai pacar. Padahal semua tuduhanmu itu tidak benar Sedikitpun, aku sangat menyayangimu, Aku suka dengan tingkah riangmu, tapi aku tidak suka dengan omelan-omelan yang tidak penting." Ujarku panjang lebar melihat Devina terdiam.

__ADS_1


Mendengar penjelasanku Devina menarik nafas dalam, seolah sedang mengumpulkan unek-unek yang ada di dalam hatinya.


"Jujur aku nggak sanggup kalau kamu seperti ini terus, karena kita menjalin hubungan untuk mencapai kebahagiaan, tapi apa nyatanya kita hanya Berantem, kita hanya marah-marah, kita hanya dipusingkan dengan tingkah laku masing-masing."


"Jadi kamu capek ya menghadapi sikapku yang seperti anak kecil?" ujar Devina dengan suara paraunya.


"Aku nggak capek, kalau kamunya dewasa dan kalau kamunya bisa mengerti, bukan hanya ingin dimengerti. yang perlu kamu tahu dalam hidupku bukan hanya kamu doang, aku masih memiliki teman, keluarga, saudara yang kadang membutuhkan kehadiranku."


"Iya aku mengerti, tapi Apa susahnya Coba kalau kamu ngasih kabar, jangan menghilang begitu saja, aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu."


"Aku selalu menjawab chat kamu, tapi ketika aku telat membalas kamu marah-marah, kamu membahas ke mana-mana. padahal itu hanya telat bukan tidak membalas chat kamu, akuĀ  jadi serba salah ketika mendapat situasi seperti itu, mau memberi kabar kamu pasti marah, kalau tidak pasti akan sangat marah, hingga akhirnya aku lebih memilih berdiam, agar bisa sedikit menjauh, agar aku tidak kena semprot."


"Maksudnya menjauh?" tanya Devina sambil menatap heran.


"Devin bisa nggak kalau hubungan kita Break dulu, kita jangan terlalu fokus dengan hubungan ini, kita fokus saja dengan kesibukan masing-masing, karena semakin sering kita berkomunikasi semakin sering juga kita berselisih paham."


"Jadi kita putus dulu begitu, jangan Raka......! Aku sayang sama kamu....! Maafkan aku kalau selama ini aku membuat hidup kamu susah, tapi asal kamu tahu, apa yang aku lakukan itu semata-mata hanya rasa sayang, hanya rasa cintaku sama kamu. tolong jangan putuskan aku. aku janji akan berubah sesuai dengan yang kamu inginkan, aku tidak akan terus-terusan menelepon dan nge-chat kamu, aku akan mengikuti kemauan kamu, asal jangan putusin aku."


Mendapat penolakannya aku hanya menarik nafas dalam, rasanya sangat berat untuk menerimanya kembali. tapi kalau tidak menerima aku adalah orang yang egois yang tidak mau menerima perubahan seseorang.


"Aku juga sayang sama kamu karena kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. tapi Kecantikan itu seketika luntur dengan sikap-sikap mu yang aneh dan menyebalkan, tapi kalau kamu mau berubah Ayo kita sama-sama berubah besama, demi hubungan yang langgeng."

__ADS_1


"Serius....! kamu nggak jadi mutusin aku?"


"Aku nggak mau mutusin kamu, aku tadi hanya minta kita Break sebentar meninggalkan hubungan kita. agar bisa mengintropeksi diri masing-masing, demi kelangsungan hubungan yang sudah kita jalin."


__ADS_2