
Pov Raka
Aku melihat sepatuku, memindai tubuh yang sangat lesu. Aku merasa di dunia ini hanya sendirian, karena selain Tio Aku tidak punya siapa-siapa lagi yang seumuran, karena di sekolah aku yang tidak terlalu bisa bergaul, sangat sulit untuk mendapatkan sahabat sebaik tio.
Awalnya aku menganggap dengan kehadiran Devina, kehidupanku yang sepi yang hanya dihabiskan dengan memandangi laptop, menulis cerita cengeng, mendengarkan lagu-lagu mellow akan sedikit berkurang, tapi kenyataannya sama sekali berbeda, aku sekarang tidak bisa menikmati kamarku dengan kesendirian.
Lima belas menit berlalu aku meratapi kehidupan yang sedang aku jalani, entah kenapa pikiranku semakin terasa mumet tidak tahu yang harus aku lakukan dengan kehidupanku yang akan datang. akhirnya orang yang ditunggu pun muncul, Tio dengan menggunakan setelan jaket dan celana panjang, menghampiri kemudian duduk di sampingku, setelah memarkirkan motornya.
"Woi....!" sapa Tio sambil menepuk tanganku yang sedang meremas kepala.
"Duduk yo!" pintaku sambil melepaskan tangan.
"Ada apaan Mas Bro, kayaknya hidupmu serius banget. apa pacar lu ngambek lagi?" tanya Tio sambil duduk dengan menjulurkan kakinya ke depan.
"Sudahlah lu jangan bawel deh, gua lagi pusing nih."
"Hah, pusing....?" ujar Tio sambil menatap wajahku yang terlihat kusut dan berdebu.
"Iya, makanya lu jangan rewel...!"
"Hahaha," tanggap Tio tertawa dengan penuh kebahagiaan bahkan kepalanya sampai mendongak ke belakang, membuatku menatap heran dengan makhluk yang satu ini, mungkin bukan aku saja yang heran karena ada beberapa pengunjung yang duduk dekat kita melihat ke arah Tio.
"Apa-apaan sih bro, malu....!" ujarku mengingatkan.
"Hahaha, lucu banget sih lu. kerasa kan kalau punya pacar itu sangat ribet ya, sangat ngerepotin ya? Kan gua udah bilang dari Pas awal lu jadian sama Devina, gua sudah bilang di dekat telinga lu." ledek Tio penuh Ambisi seolah sedang memuaskan diri mengolok-olok sahabatnya yang tidak pernah nurut ketika diingatkan.
"Udahlah lu jangan menghina seperti itu, mending Tolongin gua sekarang harus gimana?" ujarku meminta saran.
__ADS_1
"Ya lu kembali lagi ke kehidupan yang lama! sebenarnya lu tidak pantas punya pacar, lu lebih pantas jomblo seperti gua, karena Suratan Takdir lo sudah diputuskan bro, jangan melawan takdir nanti kualat." lanjut Tio.
Aku hanya melirik ke wajahnya yang sedang dipenuhi dengan senyum kemenangan. "Kenapa lu senyum-senyum seperti itu?"
"Mending lu daripadamikirin pacar Lo ,sekarang lo pikirkan diri lu sendiri. lihat muka lu sudah kayak pantat ayam, tak berbentuk."
"Tio gua ngajak lo datang ke sini bukan untuk memojokkan gua, tapi gua ingin meminta saran lo...!" ujarku sambil menatap sahabatku dengan serius.
"Oke, oke, siap....! mending menurut saran gua, sekarang lu kembali lagi pacaran dengan laptop, daripada pacaran dengan orang lu galau terus Mas Bro. rugi tahu kalau hidup lu Hancur gara-gara cewek, Mending sekarang lu lanjutin tulisan lo yang dulu Katanya lu pengen bikin buku, pengen jadi author terkenal, tapi kalau melihat kenyataan seperti ini, kamu nggak akan jadi apa-apa, paling Hanya Jadi benda yang keluar dari pantat ayam tadi, Hahaha." ujar Tio yang sedikit mulai membuka pikiranku meski Dia berbicara dengan bercanda.
"Iya, Iya, bawel banget sih!"
"Satu lagi Bro, kalau lu pacaran sama laptop tidak akan ada drama-drama galau, pusing, mumet, resah, gelisah, ketakutan, karena kalau lu pacaran sama laptop paling yang dia minta hanya charger, charger, charger dan charger, tidak ada tuh dia bikin pusing," ujar Tio melanjutkan.
"Sudah, sudah, jangan diteruskan, gua lagi stress nih...!"
Mendengar ucapan Tio yang selalu benar, aku hanya menarik nafas kemudian bangkit dari tempat dudukku, mataku menatap langit yang terlihat dihiasi oleh bintang yang berkedip, seperti sedang mengisyaratkan bahwa aku harus mengambil keputusan.
Melihat aku bangkit, Tio pun bangkit kemudian berdiri di sampingku, menatap ke arah langit yang sama. "bintangnya sangat indah ya, sayang malam ini tidak ada Rembulan," ujar Tio.
"Ngapain sih lo ngikut-ngikut segala," bentakku yang sedikit terkaget, karena tiba-tiba Iya mengagetkan lamunanku yang sedang terbang menuju antariksa.
"Lagian lu ngelamun terus."
"Kayaknya memang benar ucapan lu bro, kayaknya gua harus lari dari kenyataan. mulai malam ini gua mau cuti jadi pacarnya Devina."
"Hah, Cuti....?" tanya Tio yang terlihat kaget matanya memenuhi wajahku.
__ADS_1
"Iya gua harus menenangkan diri terlebih dahulu, agar gua bisa memahami karakter makhluk yang bernama wanita."
"Serius bro Lu mau cuti, Kalau bahasa gaulnya break gitu?"
Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, aku sudah membulatkan tekad bahwa mulai hari ini aku harus menghindari masalah yang membuat kepalaku penat, aku harus menikmati hidup harusnya di masa remajaku bukan memikirkan hal yang tidak pasti.
"Kalau serius mau cuti, berarti Raka malam ini seutuhnya menjadi pacarku dong," ujar Tio sambil memegang pundakku dengan dua tangan, lalu menyandarkan kepalanya Kelenganku.
"Najis lu.....! apaan sih," dengan segera aku menghempaskan genggaman itu lalu menepuk-nepuk baju bekas genggaman Tio.
"Yaelah Bro gitu aja ngambek,"
Aku mulai meremas kembali kepalaku dengan begitu kencang, lalu berteriak sekencang mungkin, sebisa yang aku lakukan. kemudian menendangkan kaki menirukan orang yang sedang menendang bola.
"Berisik....! dari tadi kalian berisik, jajan kagak." Bentak salah seorang penjual yang terganggu.
"maaf, maaf, teman saya lumayan panas, soalnya baru keluar dari rumah sakit," ujar Tio sambil menyimpan tangannya di kening, kemudian dia menggandeng ku untuk duduk kembali.
"Udah tahan emosimu anak muda. Lu harus kuat, Lu harus sabar!" ujar Tio yang menepuk-nepuk Bahuku seolah sedang mentransfer kekuatannya.
"Mumet mumet, mumet banget aku yo!" hanya kata itu yang keluar dari mulut,, tak terasa butiran bening pun mulai keluar. beruntung tidak sampai jatuh membasahi pipi, beruntung ada Tio sahabat Setiaku yang selalu Sigap menemani di saat yang sangat genting seperti ini.
"Sudah, mendingan lu mantapkan pikiran dengan apa yang tadi lu utarakan kalau lu mau cuti dengan Devina. ingat Bro Hidup itu harus dinikmati, bukan untuk dipikirkan, otak kita belum layak untuk digunakan sekeras ini."
Tio terus menasehatiku memberikan pandangan-pandangan tentang apa yang harus aku ambil sekarang, karena walaupun tidak punya pacar kita bisa masih bisa menikmati hidup bersama sahabat ataupun keluarga.
suasana mulai terasa dingin membuatku membenarkan kaos yang aku kenakan, di jalan terlihat mobil yang terus berulang salah tidak bosan untuk terus bergerak.
__ADS_1