
Dari arah belakang datang lah Bu Asti mengagetkan Lia,dia tak tau bahwa orang yang duduk di sebelah sofa yang di tempati Lia itu adalah Dika.
Pas dia sadar siapa yang duduk di situ malah dia sendiri yang kaget, akhirnya ibu Asti pun menyapa Dika dengan sedikit basa basi.
"Eh ,ada pak Dika, bagaimana pak kabar nya baik,kok bapak ada di sini,"tanya Bu Asti, karena jiwa kepo nya mulai keluar, kenapa pemilik dari hotel tersebut ada disini dan malahan duduk bareng Lia,apa itu ada kaitannya dengan kejadian semalam,apa kejadian semalam akan berlanjut, gerutu Bu Asti dalam batin nya.
"Selamat siang Bu,iya Bu sebenarnya saya ada urusan dan ada yang ingin saya bicarakan, dengan Lia, kalau boleh saya ingin mengajak Lia keluar apakah boleh Bu,"ujar Dika dengan nada di buat sehalus mungkin ,agar bisa mendapatkan kepercayaan dari Bu Asti.
Bu Asti hanya melongo mendengar pernyataan Dika,dia tak percaya saja bahwa ada seorang tuan muda dan sekaligus pewaris tungga(l perusahaan C)mengajak Lia ,baby sitter nya untuk keluar bareng, walaupun dia sudah menganggap Lia itu seperti saudara nya sendiri,tapi aneh aja karena dari kabar yang ia dengar,kalau Dika itu adalah seorang laki-laki yang dingin dan anti banget berdekatan dengan wanita,dan sekarang dia meminta izin untuk membawa Lia, apakah dunia ini sudah mulai tak seimbang ya, menurut pemikiran Bu Asti
"Ibu ,ih kok malah bengong sih, nanti ada lalat masuk,Bu"ucap Lia membuyarkan lamunan Bu Asti.
"kamu mah lalat di mana ,saya sudah gosok gigi ,mulut saya sudah wangi,lalat tak akan mau mendekat,"elak Bu Asti sambil menepuk bahu Lia.
"jangan di dengar ,pak,Lia mah kalau ngomong teh gak pernah di saring dulu asal keluar saja,
tadi bapak katanya mau ngajak jalan Lia, boleh boleh saja pak saya mah, gimana Lia nya saja mau atau enggak,"ucap Bu Asti dengan nada bercanda nya.
Dika pun hanya tersenyum melihat Lia dan Bu Asti saling berbicara yang mungkin kata orang pembicaraan yang tak ada manfaatnya nya,dan satu hal lagi yang ia baru tau tentang Lia yaitu dia tipe gadis yang ceria,dan Dika Suka dengan keceriaan dia
"Bagaimana ay, apakah kamu mau keluar dengan saya,,"tanya Dika kepada Lia.
__ADS_1
Lia berpikir kalau dia menolak dia tak enak dengan Dika,karena ibu Asti bilang bahwa Dika itu adalah salah satu pemegang saham di perusahaan tempat kerja nya pak Ilham,dan akhirnya Lia pun mengangguk tanda setuju dan bilang.
" Tapi sebentar aja ya kak , jangan lama lama,soal nya Lia gak pernah keluar dengan siapapun selain bareng ibu,"ujar Lia, sambil tersenyum tipis ke arah Dika,
berbeda dengan Dika dia merasa gemas banget melihat Lia yang kayanya merasa takut untuk keluar bersama dia.
"Iya ,gak akan lama kok,deket deket sini aja kita cari tempat makan,"ujar Dika sambil tersenyum ke arah Lia.
Senyum yang jarang di tunjukkan kepada siapapun , kecuali ke keluarga nya,
ibu Asti yang melihat interaksi antara mereka berdua ikut senang akhirnya Lia dapat seseorang yang bisa menjaga dia , walaupun dia tau ini hanya awal saja,tapi dia berdoa mudah mudahan perkenalan ini membuat mereka lebih dekat lagi, walaupun dia tau bahwa Lia sudah punya pacar tapi dia kurang yakin kalau pacar nya itu bisa menjaga Lia dengan benar.
"Owh ,iya,pak Dika ,satu lagi yang harus pak Dika tau,Lia itu akan jadi pendiam dan pemalu pada orang yang baru dia kenal,tapi kalau udah kenal dekat,akan keluar sifat aslinya yaitu nyebelin banget, selalu mengelak dan dia punya seribu alasan untuk membuat dia selalu menang dalam berdebat,"ucap Bu Asti panjang lebar.
"Tuh kan udah mulai,pak Dika lihat dan dengar sendiri inilah sifat asli dia nyebelin,
ya udah kalau mau keluar sekarang aja ,keburu makin siang,"ucap Bu Asti yang di tunjukkan kepada Dika.
Akhirnya mereka berdua pun pergi,dan tak lupa mereka berpamitan kepada Bu Asti
di dalam mobil mereka hanya diam saja, setelah perdebatan panjang , karena Lia yang tak mau duduk di depan tetapi Dika yang maksa Lia harus duduk di depan , karena katanya dia bukan sopir,yang duduk sendiri di depan terus ada penumpang di belakang. Setelah perdebatan yang cukup lama akhirnya Lia pun mengalah,dan dia duduk di depan sebelah Dika.
__ADS_1
Dika hanya tersenyum bisa mengalahkan perdebatan dengan Lia,benar yang di katakan ibu Asti dia punya seribu macam jawaban untuk memenangkan sebuah perdebatan,dan tadi hampir saja dia akan mengalah,tapi di detik detik terakhir akhirnya Lia lah yang bilang bahwa dia yang mengalah.
Dan akhirnya sekarang mereka pun kembali dalam keadaan Canggung,Lia yang masih kesal dan menunjukan wajah cemberut nya, membuat Dika gemas melihat nya,
ingin sekali dia mencubit pipi nya itu,tapi dia menahan nya,dia tak mau kejadian semalam terulang lagi.
"Ay, sampai kapan kamu akan cemberut seperti itu, nanti bibir kamu gak bisa kembali seperti biasa nya Lo,karena terus di manyun nin kaya gitu,"ucap Dika,yang membuat Lia menoleh ke arah nya.
Dan Dika pun tak tau kenapa dia bisa mengeluarkan kata kata seperti itu,yang bahkan baru sekarang dia bisa bicara Tanpa bahasa formal nya, karena biasa nya dia akan berbicara dengan bahasa formal walau dengan siapa saja ,tapi kenapa dengan Lia dia bisa berbicara santai seperti barusan.
"Ada apa Dengan saya kenapa saya bisa mengeluarkan kata kata seperti itu,apa benar yang di katakan Ervan bahwa wanita itu bisa mengubah segalanya ,"rutuk batin Dika.
Lia yang mendapat kan kata kata itu dari Dika akhirnya menjawab nya,
"Ih ,kakak mah, perkataan itu adalah doa kak,jadi jangan sembarangan bicara,iya sekarang Lia senyum deh,dari pada cemberut terus cape juga."
Ucap Lia polos sambil menunjukkan senyum manis ke arah Dika,
Dika pun tertawa begitu lepas mendengar kan perkataan Lia.
"Ay,kamu lucu banget ,sih,kamu yang cemberut kamu juga yang cape,tapi gampang banget ya bujuk kamu kalau lagi ngambek"ujar Dika sambil terus tersenyum,
__ADS_1
terus di jawab sama Lia,
"Lia itu ,gak pernah bisa marah sama orang,dan Lia itu gak pernah bisa bilang tidak sama orang,"ujar Lia sambil menunduk.