
Seperti biasa..
Kebencian raisa untuk menyambut pagi masih terus saja melanda, Ingin rasanya ia berangkat kerja tanpa harus bertemu dengan keluarganya..
Namun apa boleh buat, jika mimpi buruk berselingkar mengelilingi, raisa yakin betul bahwa sebentar lagi ia akan menerima hujatan dan hinaan dari keluarganya..
Entah itu apa?
Yang terpenting sabar adalah solusinya..
Pelan tapi pasti ia berlangkah menuruni tangga..
Ditemani dengan setelan baju khas kantoran senada dengan bando hitam,memberi kesan elegan kepada wanita yang tengah berjalan mendekati meja makan..
Ia bisa melihat,,
Satu kursi kosong tak berpenghuni lekat dari tatapannya..
Yah,, papanya sedang tak disana..
Artinya,
Tak ada yang membelanya pagi ini,.
Meskipun begitu,
Menghindar bukanlah pilihannya,,
Setelah memberi salam penghormatan kepada kakek neneknya ia pun duduk ditempat biasanya.
Semua pandangan saling beradu tatap satu dengan yang lain,seperti memberi tanda pesan siapa yang akan memulai perang dipagi ini untuk kembali menyudutkan raisa..
"Aku fikir kau tidak akan kembali lagi,
saat kau pergi kemarin tanpa permisi..
Tapi ternyata aku salah,,
Pagi ini ternyata tuhan mempersatukan kita kembali"
Sindir nyonyat takur tersenyum sinis.
Raisa hanya memutar kedua bola matanya malas sebagai jawaban atas sindiran neneknya itu..
"Kau hanya pergi semalam,,
Memangnya berapa upah mu semalam sampai kau harus langsung bekerja pagi ini? "
Sambung Elif.
"Apa dia menjadi ****** sekarang? "
Potong keisya tibatiba..
"Menjijikkan sekali nasibmu! "
Tambah arvin sinis..
"Apa ocehan kalian sudah habis?
Jika masih ada teruskan saja!!
Tak usah merasa sungkan untuk menghinaku! "
Jawab raisa cuek sambil terus mengunyah roti..
"Kau itu memang wanita hina.
Bahkan terlebih dulu hadir hina baru kau dilahirkan!!
Aku peringatkan kamu untuk yang keterakhir kali,
Jika sampai kau membuat malu nama Takur karna ulahmu,akan kupastikan aku sendiri yang akan menguburkanmu hiduphidup"
Kata tuan takur geram..
"Apa kau fikir aku peduli dengan nama Takur mu itu? "
Potong raisa cepat..
"Sungguh nama yang paling menjijikkan sekali! "
Sambung raisa datar.
"Kurang hajar,
Jaga bicaramu!!
Kamu itu memang anak yang tidak punya pendidikan!!
Apa kau tidak sadar dengan siapa kamu berbicara?? "
Teriak nyonya takur keras.
"Lalu apa aku harus diam??
Apa aku hanya akan terus menunggu papa datang untuk membela, saat kalian semua bersama sama menghinaku..???
Kau katakan aku anak tak berpendidikan justru ini adalah didikan dari kalian untukku. "
Jawab raisa keras.
"Ingat nyonya takur..
Aku tidak akan pernah membela diriku jika tidak ada yang memulai garagara dengan ku!! "
Sambung raisa geram dan menatap elif tajam sebelum akhirnya melangkah pergi..
Dengan emosi yang memuncak raisa berangkat menuju kantor tuannya.
Rasa penat, lelah, letih, hancur semuanya bersatu menghancurkan hati raisa.
Ingin rasanya ia menangis dan berteriak sekuat kuatnya?
"Aaaaaaaaa!!!! """
Teriak raisa dengan memukul keras setir mobilnya..
Walaupun nampak terlihat tegar,.
Tapi ternyata tidak setegar dengan batinnya.
Ia bingung,
Kepada siapa ia harus mengadu nasib malang yang dideritanya?
"Anak itu benar² kurang hajar.
Aku harus memberinya pelajaran.. ".
Ucap tuan takur geram..
"Kakek usir saja dia dari rumah ini..
Lagian arvin juga sama sekali tidak menyukainya"
Jawab arvin memberi pendapat..
"Kakek tidak akan mengusirnya dulu sebelum anak itu kuberi pelajaran "
Sambung tuan takur murka..
______
Dengan penampilan setengah kusut...
Raisa tiba dan memarkirkan mobil diperkarangan kantor tuannya, tanpa menyapa kesana kemari ia berjalan lurus dan menuju ruang kerjanya.
Banyak yang mencoba menyapa dan raisa hanya tersenyum tipis menjawabnya.
Sesaat setelah sampai diruang kerja،
Raisa menarik nafasnya dalamdalam sebagai rasa bahwa ia sudah sanggup melakukan pekerjaannya pagi ini dengan tenang..
Namun saat setelah membukakan gagang pintu..
Tatapannya terhenti ketika pandangannya beradu tatap dengan tuannya..
Perlu diingat,
Bahwa bertemu dengan tuannya bisa membuat moodnya bertambah hancur sehancurnya..
"Kau tau,
Kau terlambat 5 menit! "
Ucap karan tibatiba saat menyadari bahwa seseorang membukakan gagang pintu tanpa permisi..
"Aku tidak peduli! "
Jawab raisa cepat dan langsung menuju meja kerjanya.
Karan mengkernyitkan dahinya setelah mendengar jawaban raisa..
"Apa kau tidak punya kedisiplinan dalam bekerja? "
Tanya karan seksama..
Raisa takmemperdulikan pertanyaan karan dan langsung melakukan kegiatannya..
"Apa kau fikir ini perusahaan papamu,
Bisa bekerja seenaknya dan semaumu? "
Tambah karan dan bangkit dari kursinya..
Mendengar teriakan karan membuat pikiran raisa menjadi bertambah kacau..
Bukan malah menjadi lebih tenang, tetapi justru malah membuatnya bertambah geram..
"Lalu jika aku tidak mempunyai kedisiplinan apa kau juga akan memecatku dan juga
Menghinaku seperti yang dilakukan oleh keluargaku? ".
Jawab raisa bangkit berdiri dan berkacakaca.
Ia takmampu lagi membendungkan kesedihannya saat ini, Ingin ia menutupi tapi bayangan perkataan keluarganya masih terus saja terngiang” dikepalanya..
"Apa maksudmu?
Jangan membawa bawa keluargamu didalam pekerjaanmu! "
Ucap karan bingung..
Isakkan tangis raisa akhirnya pecah..
Ia tak kuasa menjawab apa apa lagi saat ini.
Pandangannya tertunduk dan wajahnya rapuh seakan hendak tumbang.
Harus kemana ia sekarang??
Dari kejauhan karan melihat isakkan tangisan wanita itu pecah..Bukankah ia wanita keras?
Tapi mengapa sekarang ia menangis??
Apa aku berkata salah?
Pikir karan bingung.
Taktega melihatnya,,
Karan pun datang mendekati raisa untuk berusaha menghiburnya.Ia yakin betul bahwa wanita ini benarbenar tengah merasakan patah hati walaupun sebenarnya ia sangat bergengsi untuk melakukan ini..
"Ma.. Maafkan aku!! "
Ucap karan pelan dengan menyentuh dua bahu raisa dari samping.
Raisa takmemperdulikan perkataan karan..
Airmata nya masih terus saja turun membanjiri pipi mulus nya.
"Ak aku tau aku salah..
Tidak seharusnya aku memarahimu hanya karna keterlambatanmu 5 menit! "
Sambung karan lemah..
Mendengar ucapan karan membuat Pandangan raisa semakin buram dengan lapisan airmata..
Entah mengapa tapi sepertinya ia tersentuh dengan perlakuan pria ini...Baru kali ini ia bisa merasakan sedikit kedamaian setelah melakukan perdawaan,. Bahkan kedamaian ini ia dapatkan dari pria asing yang bahkan bukan keluarganya sendiri..
"Duduklah dengan tenang aku akan membuatmu segelas minuman! "
Ucap karan lembut..
karan bingung harus melakukan apa..
Tidak membantah dan tidak juga menjawab..
Itu artinya ia butuh kesendirian..
Saat karan hendak berbalik meninggalkan raisa..
Dengan tibatiba raisa menarik pergelangan tangan karan hingga akhirnya ia menjatuhkan pelukan.
Ia memeluk pria ini kuatkuat tanpa menyadari siapa yang tengah ia peluk sekarang..
Mendapat serangan pelukan secara tiba" membuat jantung karan berdetak cepat.Tanpa menunggu lama, karanpun membalas pelukan raisa ..
Bukan mencari kesempatan dalam kesempitan,,. Tapi hal ini karan lakukan karna ia yakin betul bahwa wanita ini sedang membutuhkan kedamaian..
Hening tanpa suara..
Suara isak tangis raisa hilang pergi dengan tibatiba..
Pejaman kedua matanya semakin membuat raisa hanyut didalam pelukan, ditambah lagi dengan tangan karan yang terus sedari tadi menyusuri kepalanya..
Sungguh bahagia rasanya bila seandainya ia memiliki kaka laki" yang bisa menyayanginya dikala jatuh seperti ini..
"Apa sekarang sudah menjadi lebih baik? "
Ucap karan memecahkan keheningan..
__ADS_1
Mendadak raisa kembali kedunia nyatanya..
Ia baru sadar siapa laki laki yang sedang dipeluknya sekarang..
Barulah ia merasakan jantungnya berdegup kencang seolah meminta perlawanan..
"Oh tidakk..
Apa yang sudah aku lakukan"
Pekik raisa cemas didalam hati.
Pelan raisa melepas kedua tangannya yang melingkar dipinggang karan..
"Maafkan saya! "
Ucap raisa menunduk khawatir..
"Tak masalah..
Aku sudah banyak memberimu bonus,!
Tapi bonus pagi ini lebih besar dari bonus biasanya.. "
Jawab karan cepat sambil memperbaiki penampilannya..
"Aku tau itu! "
Jawab raisa datar dan kembali menduduki kursinya..
"Dan apa kau tidak akan membayar satupun dari bonus yang kuberikan itu? "
Tanya karan heran..
"Apa??
Kau meminta bayaran untuk semua itu..
Tapi maaf tuan,,
Aku sungguh tidak punya uang!! "
Jawab raisa cemas..
"Kau tau.
Ada sesuatu yang lebih indah daripada uang?? "
Tanya karan dengan menaikkan alisnya..
"Ohia..
Apa itu??
Bukankah uang itu segala"nya bagi orang kaya? ".
Tanya raisa bingung.
"Kau salah raisa!! "
Jawab karan tersenyum.
"Lalu apa lagi kalau bukan uang? "
Tanya raisa polos..
"Dengar..
Intinya kau harus membayar bonus yang kuberikan kepadamu itu pagi ini juga? "
Ancam karan serius..
"Tap..
Tappi bagaimana caranya? "
Tanya raisa gugup semakin bingung..
"Tersenyumlah!! "
Ucap karan lembut.
"Apa?? "
Jawab raisa terkejut..
"Apa kau tidakmau membayar bonus yang kuberikan untukmu? "
Tanya karan datar..
"Baiklah
Baiklah..
Jika hanya dengan tersenyum saja cukup untuk membayar bonus yang kau berikan untukku..
Maka akan aku lakukan itu!"
Jawab raisa tersenyumm..
Bahkan tersenyum lepas karna takpercaya dengan permintaan konyol tuannya saat ini..
Satu permintaan sederhana saja,,
Tapi bisa membuat raisa dapat melupakan kejadian tadi..
"Kau tau tuan,,
Pagi ini kau lucu sekali! "
Ucap raisa tertawa tak percaya..
"Aku tak peduli!! "
Balas karan cepat dan menyindir jawaban raisa tadi.
mendengar sindiran karan, membuat raisa semakin terhanyut dalam tawa renyahnya saat ini..
"Benar benar indah sekali ! "
Gumam karan didalam hati saat memandangi wajah raisa yang dihiasi dengan seuntas senyuman pagi.
********
.Setelah kejadian tadi..
Entah mengapa hari ini Karan merasa lebih bersemangat, tidak seperti biasanya, ia bahkan sering mencuri curi pandang menatap raisa secara diamdiam..
Apa mungkin ini yang namanya cinta?
Atau mungkin hanya obsesi semata..
Raisa terus fokus dengan pekerjaannya, ia samasekali tidak menyadari jika karan sudah dari tadi menatapnya, ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju karan dengan pandangannya terus membaca isi dokumen yang sedang dipegangnya.
"Tuan,
adakah mungkin pernyataan data ini sedikit keliru! "
Karan pun memeriksa data tersebut, namun fikirannya tak fokus pada penglihatannya,
"Emm, sepertinya begitu,! "
Jawab karan datar seadanya.
Raisa mengkernyitkan dahinya,ia sedikit merasa bingung kenapa karan seolah olah tak membaca dokumen yang diajukannya, karan malah langsung kembali menatap komputernya tanpa menghiraukan raisa yang berada didekatnya.
"Itu tugasmu,
Dan aku membayarmu untuk itu! "
Jelas karan acuh.
Ia sengaja memperlihatkan sikap sombong nya itu kepada raisa, agar raisa tak menyadari jika karan suka memandang dirinya kesal.
"Yasudah! "
Balas raisa tambah acuh dan beranjak duduk ditempatnya.
Kali ini bukan lagi karan yang mencuri pandang menatap raisa, tetapi raisa sendiri yang sesekali menatap karan dengan luapan muak terus berhujat didalam hati, ia sangat kesal pasalnya tuannya itu sama sekali tidakbisa menghargai.
Jam kembali pun tiba.
Setelah melakukan semua pekerjaannya raisa pun membereskan semua barangnya.
Dengan rasa penat menjalar disekujur tubuh, membuat raisa ingin rasanya cepat" tiba dikamar dan merebahkan tubuhnya..
"Sebelum pulang,
Apa kau mau ikut makan denganku? "
Tanya karan saat mengetahui raisa hendak bersiap pulang.
"Ehmm.. "
Pikir raisa bingung
"Sepertinya aku makan dirumah saja! "
Sambung raisa tersenyum menghindar..
Bukan karna takmau,justru saat ini raisa harus benar" hemat agar saat keluarganya mengusirnya nanti,ia masih mempunyai sedikit tabungan..
"Oh ayolah..
Sangat tidak menarik jika aku harus makan sendiri nanti! "
Keluh karan merayu..
Memang biasanya karan selalu makan sepulang kerja, namun kebiasaan ia makan adalah makan dirumah..
Tapi entah mengapa sepertinya saat ini ia masih terus ingin bersama raisa sekarang .
Raisa berfikir sejenak sebelum akhirnya memberi keputusan..
"Emmm..
Baiklah..
Tapi tuan yang akan mentraktirkan saya makan kan?? "
Tanya raisa menyelediki hatihati.
Karan tersenyum lepas mendengar pertanyaan raisa..
Mana mungkin ia seorang tuan besar sudi dibayar makan oleh pekerjanya sendiri..
"Kau ini ada² saja!!
Aku yang mengajakmu makan maka aku sendiri yang akan membayar serta menjaga kamu sepanjang jalan..
Kau ini payah sekali"
Jawab karan menjelaskan..
"Apa nanti tuan juga akan mengantar ku pulang? "
Tanya raisa polos..
"Jika kau mengizinkan! "
Sahut karan cepat..
Sejenak raisa berfikir
"Tidak aku izinkan..
Biarkan Aku pulang sendiri saja nanti! "
Sambung raisa tegas..
"Baiklah²..
Sekarang kita berangkat!! "
Ucap karan dengan mendekati punggung raisa dan mendorongnya agar berjalan didepan..
Kekonyolan yang dilakukan tuannya sekarang lagilagi mengundang tawa renyah raisa..
"Jangan mendorongku seperti ini.
Apa tuan fikir aku ini troli supermarket? "
Bantah raisa tertawa dengan memindahkan tangan karan dari bahunya..
"Dan kau menyadari itu? "
Jawab karan bertanya balik.
"Aisshh,,
Aku tidak segendut itu! "
Jawab raisa bete.
Setelah puas membuat raisa kesal..
Karan pun kembali berlagak sombong didepan pegawainya layaknya bos yang sedang berjalan dengan pekerja nya..
Sebelum menuju kemobilnya,,
Karan terlebih dulu menuju dion yang sedang mengobrol diteras perkantorannya..
"Berikan kunci mobil kepadaku dan antarkan mobil raisa kerumahnya"
Titah karan tanpa sepengetahuan raisa..
"Baik bos! "
Jawab dion cekatan..
Setelah membukakan pintu mobil untuk raisa,,
Karan pun langsung berlari kecil ke tempat menyetir dan menjalankan mobilnya menuju restoran makanan..
__ADS_1
"Kau pesan apa? "
Tanya karan teliti.
"Ehhmm..
Aku pesaaaaannnnn..
Apa aja deh boleh"
Jawab raisa bingung..
"Kau boleh lihat dimenunya apa saja yang ingin kau pesan? "
Ucap karan segera..
"Tidak²..
Pesankan aku apa saja!".
Bantah raisa segera..
Bukan karna tak ingin mengecek menu makanannya,
Hanya saja ia yakin betul bahwa makanan disini mahal harganya..
"Baiklah,,
Dua kebab dan dua chocholate milkshake saja! "
Ucap karan kepada pelayan.
"Baik tuan, nyonya"
Hormat pelayan setelah mencatat.
Raisa tersenyum kecil menerima sambutan hormat pelayan, Rupanya begini rasanya menjadi orang kaya..
Walaupun ia lahir didalam keluarga bergelimangan harta, Namun ia sangat jarang sekali bisa merasakan bagaimana rasanya makan diluar,karna setiap keluarganya melakukan jadwal makan diluar bersama sama,neneknya pasti akan mencarikan seribu alasan untuk meninggalkannya.
. Jam menunjukkan pukul 18.56.
Akhirnya keduanya pun kembali untuk pulang..
Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam dan fokus kedepan tanpa percakapan..
"Lho ini kok jalan pulang?
Bukannya kita kekantor dulu,,"
Tanya raisa tiba" saat menyadari mobil yang didudukinya menuju jalan pulang ke rumahnya..
"Trus mobil aku gimana? "
Sambung raisa panik.
"Uda kamu tenang aja!".
Jawab karan santai..
"Tapp..
Tappi"
Jawab raisa semakin panik .
Ia sebenarnya takut jika nanti keluarganya akan kembali menyerangnya lagi
"Shuuutttt!!! "
Karan membekap tangannya kemulut raisa..
"Santai aja okeh..
Tidak usah merasa sungkan"
Sambung karan santai..
Mendengar jawaban tuannya,,
Raisa hanya bisa menarik nafasnya dalam² dan memejamkan erat kedua matanya..
"Kau tidak akan pernah tau bagaimana posisiku diistana megah itu tuan!! "
Gumam raisa lemah didalam hati..
Sesampai dirumah..
Dengan cemas raisa menapaki langkahnya memasuki rumah, Baru saja tadi pagi ia mendapat hinaan dari keluarganya,
Lalu apa sekarang dia akan kembali dihina?
Ia sangat menyesal karna telah mengambil keputusan mau untuk bermakan malam dengan tuannya tadi.
Hampir berkalikali ia dihina oleh keluarganya karna ulah tuannya karan,dan sepertinya malam ini kembali terulang lagi..
"Akhirnya kau pulang juga ******?
Sejak kapan kau berani berkelakuan begini? "
Teriak nyonya takur saat mendapati raisa telah pulang..
Dengan dipenuhi rasa khawatir raisa berusaha tenang..
"Kemana kau pergi seharian.
Hari ini aku mengujungi perusahaan karman dan aku tidak mendapati kamu bekerja disana..
Apa sekarang kamu benar² bekerja sebagai ******? . "
Tambah tuan takur..
"Apa uang yang papamu berikan tidak cukup untuk kebutuhanmu sayang? "
Sindir elif memanaskan keadaan..
"Jika kalian ingin tau aku bekerja dimana sekarang..
Tanyakan kepada papa,,
Aku hanya mengikuti perintah papa..
Sudah itu saja!! "
Jawab raisa menjelaskan sebelum akhirnya berlangkah pergi meninggalkan mereka..
"Dasar anak tidak berguna?? "
Tambah tuan takur geram..
"Semakin hari anak itu semakin kurang hajar,,
Bukankah lebih baik kita antar saja dia pergi mengikuti jejak ibunya? "
Tambah elif..
Semuanya diam tak memberi masukan..
Entah apa yang mereka fikirkan sekarang..
Dan entah rencana apa yang tengah mereka susunkan sekarang..
_____
Bip.
1 message :
Tuan karan
(Bagaimana keadaanmu sekarang?
Kurasa kau pasti sangat bahagia hari ini kan?)
Raisa terpaku saat membaca pesan yang dikirimkan oleh tuannya kepada dirinya malam ini..
Dan isi pesannya pun sungguh sangat berjauhan dengan apa yang dirasakan raisa sekarang.
Saat ini ia sangat merasakan geram dan bingung harus bagaimana menghadapi keluarganya,
Dan tuannya mengatakan bahwa hari ini ia merasakan sangat bahagia??
"Benar² tidak menguntungkan!!"
Pekik raisa sebelum akhirnya ia melempar ponsel ketempat tidurnya..
Ia sama sekali tak berniat untuk membalaskan pesan tuannya apalagi jika nanti terjadi perdebatan² kecil yang semakin membuat jiwanya merasa geram..
"Lebih baik aku tidur saja!! "
Ucap raisa dan merebahkan tubuh dikasur kamarnya..
_____
"Nahhh.
Ketahuankan lagi bete!! "
Teriak icha tiba" hingga mengejutkan karan yang sedang sibuk dengan ponselnya..
"Lagi nungguin pesan dari siapa emangnya? "
Tanya icha merayu..
"Ihh.
Apaan sih..
Orang lagi nunggu balasan dari dion juga, buat ngebahas masalah pembangunan proyek besok! "
Hindar karan bohong..
Memang sebenarnya ia sedang menunggu balasan dari raisa..
Namun sudah hampir setengah jam ia menunggu,,. Sepertinya memang tidak akan ada balasan dari raisa untuk pesannya.
"Bodoh sekali!!
Kenapa bisa aku mengirimkannya pesan! "
Gumam karan didalam hati..
"Uda deh..
Kalo mau nungguin balasan dari kak crhisty yah bilang aja gausah boong²..
Lagian juga aku emang uda tau kok!! "
Sahut icha menjelaskan..
"Sok tau kamu!!! "
Jawab karan cepat lalu beranjak pergi menuju kulkas untuk mengambil sebuah minuman..
"Kenapa sih mau aja pacaran sama si christy itu??
Mending pacaran sama aku aja deh!! "
Teriak icha ga jelas.
"Apaan sih..
Anak kecil juga uda tau pacaran"
Jawab karan datar dan meminum minuman..
"Yeee..
Kecil² juga udah bisa jatuh cinta kali! "
Bantah icha menyeka.
"Sekolah aja yang bener..
Jangan sampe nanti anjlokk nilainya! "
Tambah karan menekankan..
"Baiklah,, baiklah..
Siap pak guru!!! "
Jawab icha menyindir dan memberi sindiran hormat tangan.
Tak dapat menahan tawa melihat tingkah adikknya, karan pun mengacak" rambut ichaa hingga akhirnya berantakan..
"Tuhhkan..
Uda ga cantik lagi kan!! "
Seru icha kesal.
"Aku ga peduli"
Jawab karan cekatan sebelum akhirnya ia mengingat saat raisa menjawab pertanyaannya tadi pagi.
"Aku ga peduli!! "
Karan mengulang² kalimat itu dengan sedikit senyum ia kembangkan diwajahnya..
.
.
.
.
.
Pokoknya tetap ikuti terus yah alur ceritanya yang sangat menarik ini..
Jangan lupa like dan komen. 🤗
__ADS_1