
Setelah menerima email dari tuannya, dion langsung menuju kealamat tersebut untuk memulangkan mobil raisa.
Sesampai disana, yakin tak yakin dion lebih memilih masuk untuk memastikan apakah benar ini alamatnya.
Tuk tuk tuk tuk.
Sedikit lama, namun akhirnya ada jawaban yang berasal dari orang didalam.
"Sebentarrr!! "
Teriak ririn geram yang terbangun dari tidurnya.
"Kenapa kau pulang dengan begitu cep? "
Ucap ririn sebal bersamaan dengan membuka pintu.
Ririn menyangka jika yang diluar adalah raisa, tapi ternyata seorang pria.
"Ada apa? "
Tanya ririn datar.
"Apa benar ini dengan nona ririn? "
Tanya dion menatap.
"Benar! "
Jawab ririn bingung.
"Saya dion, saya diperintahkan tuan karan untuk memulangkan mobil nona raisa! "
Jelas dion mantap..
"Ohh,
Apa raisa tidak akan pulang? "
Tanya ririn curiga.
"Dia akan diantarkan tuan saya! "
Jawab dion segera.
"Wuihh,
Romantis sekali mereka!! "
Jawab ririn dengan mengambil kunci mobil yang diberi dion.
Ririn menyangka jika raisa pasti sedang berbunga bunga sekarang, bagaimana tidak? Bahkan dia dimanja karan sampai sejauh ini.
Hayalan ririn terpecahkan karna dion tak juga minggat dari tempat berdirinya, Ia menatap dion, apa masih ada pesan yang lain,? Atau mungkin raisa juga memesankan dion malam ini untuk menginap ditempat ririn?
Pikir ririn cemas.
"Apa masih ada pesan lain? "
Tanya ririn memastikan.
"Apa nona juga ingin dimanjakan seperti nona raisa sekarang? "
Tanya dion tersenyum sumringah.
"Apa tuan karan akan setuju jika dinner denganku? "
Tanya ririn berharap gembira
"Tidak dengan tuan karan"
Bantah dion menepis..
"Lalu dengan siapa? "
Tanya ririn bingung
"Denganku! "
Jawab dion mantap.
"Cih..
Mending juga aku lanjut tidur sekarang! "
Balas ririn kesal.
_______
Makan malam sudah selesai. Saatnya Arvin dan Icha menuju pulang.. Namun saat melewati satu meja, arvin seperti mengenali wanita yang bersama seorang pria disana.. Ia menyipitkan kedua matanya seraya berjalan pelan, dan yahh,, pemikirannya sama sekali tidak salah, ia cukup yakin betul bahwa wanita itu adalah kaka tirinya raisa..
"Sedang apa dia disana! "
Pikir arvin seketika
Namun arvin acuh saja dan terus berjalan, karna itu sama sekali bukan urusannya.
Berbeda dengan arvin, sepertinya karan masih ingin terus berlama lama dengan raisa.. Dia sama sekali tidak ingin cepat pulang dan menyelesaikan dinnernya sekarang.. Matanya sesekali mengintip raisa yang terlihat lebih menundukkan pandangannya..
"Kau kenapa??
Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? "
Tanya karan penasaran..
"Ah, tidak..
Aku hanya ehmm..
Tidak apa apa"
Jawab raisa tak karuan..
Aneh..
Seperti ada sesuatu yang disembunyikan raisa..
Tapi apa???
Pikir karan menerka nerka.
"Baiklah..
Kita sudah selesai..
Bisakah kau mengantarku pulang? "
Tanya raisa berharap..
__ADS_1
Karan tidak menjawab.
Wanita ini sungguh tidak bisa mengerti kemauan hati karan yang masih ingin bersama dirinya.
Karan bangkit dari duduknya dan raisa pun mengikuti arah gerak karan tanpa ia sadari bahwa karan tengah bermasam muka..
Sampai dimobilpun kaduanya masih terus berdiam .
Dan sekarang sepertinya raisa sudah menyadari bahwa diwajah karan nampak tergurat kecewa,
Tapi karna apa?
Pikir raisa tak faham..
"Bisa kita berhenti disini! "
Kata raisa tiba tiba memecah keheningan..
"Kenapa?".
Tanya karan bingung namun tetap menghentikan mobilnya..
"Aku hanya ingin kesana! "
Jawab raisa dengan menunjuk telunjukknya kearah pantai yang tak jauh dari jalan raya.
"Emm..
Ide yang bagus! "
Jawab karan sumringah dan memarkirkan mobil pada tempatnya..
Keduanya akhirnya turun. Dengan hembusan kencangnya angin malam ternyata membuat raisa merasakan kedinginan. Karan menyadari itu, dan ia pun melepaskan jasnya dan menutupi bagian atas badan raisa yang sedikit terbuka.
Mereka terus berjalan menyusuri pantai dengan kaki kosong tak beralaskan sepatu, celana karan yang sengaja dilipatkan sedikit keatas, menambahkan kesan yang sangat keren bagi seorang karan..
Raisa sesekali mencuri pandang melirik karan, dari dulu memang dia sangat menyadari jika ketampanan karan sungguh luarbiasa, namun meskipun begitu, memiliki seorang karan bukanlah doanya.
"Ehmm..
Apa kau sering kesini? "
Tanya raisa seketika..
"Jarang! "
Jawab karan spontan.
"Aku sangat jarang sekali berliburan,
Apalagi kepantai! "
Sambung karan menjelaskan..
"Kau sendiri? "
Tanya karan balik.
"Aku dulu sering kepantai. "
Jawab raisa mengingat pilu.
"Meskipun hanya sendiri aku tetap kepantai..
Meskipun malam aku tetap kepantai..
Karna dengan kepantai aku merasa beban hidupku serasa berkurang..
Dan itu cukup menenangkan pikiranku.. "
Sambung raisa tersenyum sumringah.
Mendadak mata raisa melotot setelah bertukar pandang dengan karan, dia baru menyadari jika dirinya terlalu banyak berbicara, ia berharap jika karan tak mendengar semua omongannya barusan, tapi ternyata harapannya berkata lain.
"Memangnya apa yang membuat mu gelisah?
Kau kaya, punya keluarga, daaaan "
Jawab karan terpotong sesesat
kau cantik! "
Sambung karan sedikit bingung.
Raisa tersenyum kecut mendengarkan jawaban karan. Raisa yakin karan tidak mengerti apa maksudnya barusan dan raisa pun malas menceritakan.
Bagi raisa karan bukanlah jalan keluar untuk masalahnya sekarang, jadi diam saja lebih baik baginya.
Mereka terus menyelusuri pantai dengan suara riuk piruk air yang menghembus kasar,terus diam dalam berjalan,dan sesekali karan mencuri pandang.
Karan sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya disembunyikan wanita ini, memang karan menemukan banyak kecurigaan terhadap raisa, namun kemarin ia mengacuhkannya saja, tetapi sepertinya sikap acuhnya itu tak berlaku lagi sekarang.
"Itu, ada kursi.
Boleh kita duduk sebentar disana? "
Tunjuk raisa dengan rasa gembira.
"Tentu! "
Jawab karan dengan tangan didalam sakunya.
Mereka pun berjalan menuju sebuah bangku, mereka duduk disana dengan menatap ombak laut yang sangat kasar, ada tersirat rasa bahagia dibenak raisa, rupanya begini suasana malam.
"Ehmm..
Boleh aku bertanya sesuatu? "
Sidik karan hatihati..
"tentu saja "
Jawab raisa sedikit waspada.
"Kulihat, pendidikanmu tidakpanjang,
Apa aku boleh tau mengapa? "
Selidiki karan penasaran.
Raisa memalingkan pandangannya dari karan menuju pantai dengan pelan, ia bingung harus menjawab apa, ia sama sekali tidak ingin orang orang menganggap jika papanya adalah seorang ayah yang tidak bertanggungjawab.
Papanya seorang hartawan mana mungkin pendidikan anakknya serendah demikian.
"Aku sendiri yang tidak ingin melanjutkan pendidikanku waktu itu! "
Jawab raisa spontan.
__ADS_1
"Alasannya? "
Tanya karan kembali.
"Aku hanya tidak berminat untuk menjadi orangkaya! "
Jawab raisa segera.
"Apa? "
Sahut karan sedikit terkejut.
"Hmmm!!! "
Raisa menghembuskan nafas dengan kasar.
"Keluargaku sangat mendesakkanku waktu itu untuk bertekad melanjutkan pendidikanku, tapi aku sendiri yang menolaknya sebab aku sama sekali tidak ingin pendidikan yang menjulang tinggi, aku ingin hidup dalam kesederhanaan dan aku sama sekali tidak ingin hidup dalam gelimangan harta! "
Jelas raisa akhirnya.
"Aneh! "
Pikir karan semakin bingung.
Semua orang berlomba lomba ingin kaya dan pendidikan yang tinggi, tapi wanita ini?
Sedikit rasa iba muncul dibenak karan saat menatap wanita disampingnya kini yang terlihat sangat lesu, ia seharusnya tak menanyakan ini, namun harus bagaimana? Ia ingin mendengarkan langsung semua jawaban dari mulut raisa.
Hanya sedikit iba, tidak untuk sepenuhnya, karna apapun yang terjadi dendamnya tetaplah dendam, tak akan tergantikan atau terhentikan hanya karna rasa iba.
"Lalu mengapa tuan menanyakan pendidikan ku secara tiba tiba?
Apa aku tak pantas bekerja diperusahaanmu?? "
Tanya raisa polos.
"Tidak,
Aku hanya sedikit penasaran saja! "
Jawab karan menyatakan.
"Baiklah! "
Jawab raisa lemah.
"Kau terlihat sangat pilu sekali,
Ayo ikut denganku.! "
Ucap karan bersemangat dan menarik tangan raisa..
Raisa terkejut dengan sikap karan yang mendadak tiba tiba gembira, namun ia mengikut saja kemana karan mengarah dengan berlari kecil.
Karan membawa raisa menuju air, gelinangan air yang begitu sejuk mereka rasakan dikaki, juga hembusan angin yang semakin kencang membuat mereka merasakan dingin disekujur badan.
Raisa memeluk erat erat jas karan yang masih berada dibahunya, dan ini sedikit membuatnya merasakan hangat.
"Kau lihat ombak ini! "
Kata karan tertawa dengan menciprat air kemuka raisa.
"Ombak ini tetap kembali menuju ketinggian meskipun ketinggian mengusirnya! "
Teriak karan tersenyum.
Raisa menutup dua gendang telinganya, suara karan cukup membuat telinganya sakit, namun hal ini membuat raisa tertawa lepas.
"Tapi kau juga harus tau tuan, setiap ombak ini kembali keketinggian dan akhirnya dia diusir lagi,
Dan kau tau bukan,selamanya juga akan terus begini! "
Jelas raisa dengan tertawa lepas.
"Tetapi setidaknya dia tidak menyerah untuk tetap kembali! "
Jawab karan acuh .
"Kau akan lihat,
Jika kesabaran ombak ini habis, dia akan menyerang menghancurkan seluruh bumi!
Dan kejadian itu sungguh menegangkan. "
Jawab karan mengancam.
Raisa terus saja tertawa mendengarkan karan yang sangat tidak ingin berposisi kalah.
"Baiklah baiklah,
Aku mengerti maksudmu tuan! "
Jawab raisa tertawa lepas.
"Sepertinya kita sudah sangat cukup merasakan angin malam sekarang, mari kita pulang! "
Ajak karan
Raisa terlihat sedikit sedih, pasalnya ia merasakan betah berada disini. Menyadari diwajah raisa tersirat sendu, karan mencoba menghiburnya
"Kita akan kesini lagi lain kali! "
Ucap karan mantap.
"Benarkah? "
Tanya raisa berharap..
"Tentu!! "
Jawab karan tersenyum.
"Baiklah, kita pulang"
Ucap raisa bersemangat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Halllueww 😜😋
Jangan lupa like dan komennya yah manteman 😚🤗