
4 hari berjalan..
Raisa masih tetap terkurung didalam kamarnya..
Berulang kali ia berteriak meminta keluar namun tak satupun dari mereka yang datang membebaskan..
Hal ini terjadi dikarenakan papanya karman sedang tak dirumah..
Dan jikapun keluarganya melakukan ini tetap saja raisa tak akan melaporkan perlakuan mereka kepada papanya, dan kenyataan inilah yang membuat keluarganya merasa sangat menang..
"Papa,
kapan kau akan pulang? ".
Rengek raisa kesal.
"Papa akan pulang besok sayang..
Mengapa kau terlihat sangat kesal sekali?
Ada apa?.
Katakan pada papa!! ".
Kata karman khawatir diseberang.
"Tidak²..
Aku hanya sedang merindukan papa saja!! ".
Sahut raisa menepis sambil memijit keras keningnya..
"Baiklah..
Tunggulah,,
besok papa akan pulang!! "
Jawab karman lembut..
"Ehmm..
Baiklah!! "
Jawab raisa lemah dan mematikan sambungan teleponnya..
4 hari sudah dilewati raisa dengan masa yang begitu membosankan..
Dengan ruangan kamar yang sempit membuat raisa harus mondar mandir pada tempat injakan yang sama..
Hanya duduk, melamun, baca buku, memainkan ponsel,,
Semua pekerjaan yang dilakukan raisa hanyalah pekerjaan yang berulang" sama...
"hufftt..
Menyebalkan!! "
Ucap raisa geram..
Untuk yang kesekian kali raisa kembali menggedor pintu kamarnya.
Namun tetap saja,keluarganya hanya diam dan tak datang untuk membebaskan..
Namun sepertinya berbeda dengan gedoran raisa kali ini..
Nyonya Takur dengan kesalnya membuka pintu kamar raisa .
"Apa kau sudah gila..
kenapa menendang pintu kamar dengan sangat keras??
Kau sengaja ingin membuat rumahku ini hancur karna ulahmu..?? "
Teriak nyonya takur keras.
Raisa tertawa sinis dibenakknya saat mengetahui seseorang yang ditungu"nya akhirnya masuk..
"Lalu apa dalam beberapa hari ini kau mendadak tuli??
Berulangkali aku menendang pintu rumahmu kenapa kau baru datang sekarang??
Hah???
Apa karna papa ingin kembali?? "
Bantah raisa semakin keras.
"Itu bukan urusan mu ******!! "
Jawab nyonya takur tajam..
"Kau panggilkan aku ******,,
Lalu apa sekarang kau juga mendadak lupa?
Kalo sifatmu sendiri juga melebihi dari seorang ******??? "
Bantah raisa segera..
"Kurang hajar..
Lancang sekali bicaramu!! "
Jawab nyonya takur geram..
"Dengar.. "
teriak raisa keras..
"Aku sudah sangat muak setiap hari harus bertengkar dengan mu..
Jangankan untuk bertengkar,,.
Bahkan melihatmu saja sekarang mataku menjadi sangat sakit..
Sekarang lupakan semuanya..
Lupakan bahwa anakmu itu pernah menikahi seorang pembantu.
Lupakan jika anakmu itu pernah mendapatkan putri dari seorang pembantu..
Lupakan!!
Lupakan semua itu agar hidupmu tenang.. !! "
Ucap raisa menahan kesal..
"Sekarang biarkan aku pergi agar kehidupan kalian tenang..
Aku sudah sangat muak dengan kehidupan disatukan dengan kalian!! "
Sambung raisa kesal sambil memasukkan baju satu persatu kedalam kopernya..
Melihat hal itu..
Nyonya takur tersenyum senang..
Namun diselubuk benakknya juga terbesit cemas, saat nanti jawaban apa yang harus ia layangkan kepada karman ketika ia bertanya kemana putrinya.
"Dengar sayang..
Aku sangat berbahagia mendengar jawabanmu barusan..
Tapi jika kau ingin pergi,
Pamitlah dulu kepada papamu untuk yang keterakhir kalinya .
Karna aku,
tidakpunya cukup waktu untuk menjawab pertanyaan anakku kemana putriku menghilang"
Sindir nyonya takur tersenyum sinis..
"Dan ingat saja..
Aku akan menceritakan semua perlakuan kalian kepada papa! "
Ancam raisa..
"Dan jika kau berani mengadukan aku kepada karman..
Maka ingat saja, bahwa aku akan membuat karman membencimu mati-matian.. !! "
Potong nyonya takur geram..
Ia pun langsung keluar dengan membanting pintu kamar raisa dengan sangat keras..
"Aaaahhhhh"
Teriak raisa keras dengan membanting semua baju dan kasur kamarnya berserakan..
Ia sangat geram menghadapi kehidupannya..
Kehidupan menyeramkan yang dihuninya, sangatlah sulit untuk dia perankan.
______
Dilain sisi..
Karan yang mulai kesal dengan ketidakdisiplinan raisa..
Membuat ia sangat ingin melabrak langsung wanita itu kerumahnya..
Hanya saja karan masih sangat peduli dengan jabatan yang dinaunginya,,.
Dan ia sangat tidak ingin karna wanita itu jatuhlah reputasinya..
Berhari" karan menahan diri untuk tidak menghubungi raisa, walaupun ia sendiri sangat ingin tau tentang alasan apa yang membuat raisa absen dari kerjanya..
"wanita sialan!! "
Ucap karan geram.
untuk yang kesekian kalinya, karan mengatakan kata 'sialan' untuk diri raisa,, lantaran fikirannya selalu bertanya² tak jelas, tentang ketidakhadiran wanita itu..
Bippp..
Suara ponsel karan berbunyi menandakan masuknya sebuah pesan..
Ia langsung membuka pesan yang dikirim untuknya tersebut karna ia berfikir bahwa kali ini pesan datang dari raisa.
"Sayang tolong temani aku belanja hari ini! "
By: Christy 💖
"Sialan!! "
Tambah karan semakin kesal..
Ia pun membanting ponselnya keras" karna sangat merasa muak dengan fikiran yang bersendera dikepalanya..
__ADS_1
_____
Jam menunjukkan pukul 06.15.
Artinya pagi sudah kembali datang..
Entah siapa yang memasuki kamarnya..
Tiba tiba raisa terbangun dan mendapati seseorang tengah mengelus lembut rambutnya.
"Papa kau sudah kembali? "
Tanya raisa terkejut..
"Seperti yang kau lihat..
Papa sudah disini!! "
Ucap karman tersenyumm..
"Tappii..
Bagaimana papa bisa masuk? "
Tanya raisa bingung..
"Apa seseorang mengurungmu disini?? "
Tanya karman menyelidiki..
"Tidak²..
Aku mengunci pintu kamarnya semalam! "
Tepis raisa mengelak..
"Hmm..
Tapi sepertinya pintu lupa kau kunci sayang..
Kau ceroboh sekali!! "
Jawab karman dengan mencubit kecil hidung raisa..
Ada kejanggalan yang terjadi diantara keduanya..
Perasaan saling menyayangi tapi tersalurkan dengan rasa kekakuan..
Inilah yang didapati antara raisa dan karman.
Begitu terlihat,
ada terselip senyum bahagia diwajah keduanya yang jelas tergambarkan..
Seharusnya raisa harus berterima kasih kepada neneknya karna telah memberinya hukuman ringan hingga membuatnya semakin dekat dengan papanya sekarang..
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? "
Tanya papanya penasaran..
Mendengar pertanyaan papanya,.
Fikiran raisa langsung berhenti berputar dan terjatuh pusat pada seseorang yang bernama karan..
4 hari takbekerja membuat raisa lupa mengabarkan, ketidakhadiran dirinya kepada tuannya.
"Ehmm..
Pekerjaannya berjalan lancar seperti biasa kok pah!! "
Jawab raisa berbohong.
"Ingat..
Jangan sampai membuat tuan karan kecewa!! "
Sahut karman mengingati.
Raisa semakin bertambah risau mendapati ancaman dari papanya barusan..
Bagaimana ia akan menjelaskannya nanti??
Pikir raisa bingung setengah mati.
"Hmm..
Baiklah.. "
Jawab raisa pura² tersenyum..
"Yasudah..
Mandilah dan papa akan menunggu dibawah"
Ucap karman meniumi lembut kening raisa sebelum akhirnya beranjak keluar..
"Baiklah! "
Jawab raisa lemah..
Setelah bersiap siap..
Hari ini raisa kembali merasa bahagia karna akhirnya ia bisa merasakan kembali memakai pakaian kantornya..
Setelah selesai ia pun segera turun menuruni tangga dengan gaya elegannya..
Raisa langsung menuju meja makan dan menempati satu kursi kosong tanpa memberi salam hormat kepada kakek dan neneknya..
Tanya karman tajam..
"Nenek melarangku untuk melakukan itu..
Iyahkan nek?? "
Jawan raisa tersenyum sinis menatap nyonya takur..
"Jangan memanggilku dengan sebutan nenek..
Karna aku bukan nenekmu! "
Jawab nyonya takur geram.
"Yaahh.
Kau dengar pa?
Bahkan dia tidak sudi untuk kupanggilkan nenek.. "
Jawab raisa berpura pura sedih..
"Lalu apa urusan ku sehingga aku harus memberikannya salam hormat setiap pagi?
Aku rasa..
Itu hanya akan membuangkan waktuku dengan percuma!! "
Tambah raisa menyindir..
"Anak kurang hajar..
Apa kau tidakbisa mengajarkan putrimu tentang sopan dan tata krama? "
Teriak tuan takur keras kepada karman..
"Apa ayah tuli sehingga tidakbisa mendengarkan jawaban ibu barusan..
Dia tidak mengakui putriku sebagai cucunya lalu untuk apa anakku setiap hari harus menghormatinya?? "
Tambah karan tegas..
"Dan apa kau lupa jika anakkmu tinggal dirumah siapa??? "
Teriak tuan takur semakin keras.
"Jika itu yang ayah katakan maka aku bisa pergi hidup diluar bersama putriku tanpa pergangguan kalian!! "
Sahut karman lepas..
"Dan apa kau lupa bahwa kau bekerja dikantor siapa?
Dan siapa yang telah membesarkanmu hingga sekarang? "
Tanya tuan takur menyindir tajamm..
"Sudah..
Cukup..
Aku muak dengan semua ocehan kalian..!! "
Potong raisa tiba².
Akhirnya raisa pun pergi meninggalkan istana yang sangat membuat hidupnya menderita hingga sekarang,
Dan mengendarai mobilnya menuju kantor tuannya..
"Kau ini..
Sudah sama gila dengan putrimu sekarang!
Benar benar tidak menguntungkan.. "..
Tambah nyonya takur geram sebelum akhirnya pergi dari meja makan..
.
.
.
.Setelah memarkirkan mobilnya didepan perkarangan kantor karan..
Raisa berdiam diri sejenak untuk menenangkan dirinya lantaran amarah dan emosi masih belum stabil untuk dikontrolkannya..
Pikirannya benar benar kacau dan menerawang kesana kemari untuk mencari jawaban atas lika liku kehidupan yang sedang dialaminya sekarang..
Sejenak raisa memalingkan pandangannya dan menatap lekat² gedung yang menjulang tinggi disamping kanannya..
Tempat dimana ia bekerja sekarang..
Dan bahkan ia tak memberikan tuannya kabar atas ketidakhadirannya selama beberapa hari..
Apakah mungkin aku sudah dipecat?
Raisa bertanya tanya didalam hati..
Ia teringat dengan perkataan ayahnya tadi pagi untuk tidak mengecewakan tuan karan,
Dan tanpa ayahnya ketahui bahwa tuan karan memang sudah sangat kecewa atas sikap raisa yang tak disiplin..
"Belum lagi masalah dirumah,
__ADS_1
Sekarang malah nambah masalah disini,
Kenapa sih masalah terus masalah terus yang datang"
Ucap raisa geram sambil memukul pelan setir mobilnya..
Setelah memperbaiki sedikit penampilannya,,
Tanpa memikirkan apa apa lagi raisa langsung keluar dari mobil dan menuju kedalam..
Tak ada senyuman yang dilayangkan diwajahnya hari ini yang ada hanyalah rasa geram yang tak tersalurkan..
Pandangan sedikit terkejut dilontarkan semua pegawai disana menatap raisa,
Yah, mungkin karna ketidakhadirannya beberapa hari ini membuat mereka berfikir bahwa raisa taklagi bekerja disini..
"Bodo Amat"
Pikir raisa.
Toh lagian kalo dikeluarkan ia masih bisa kembali kekantor papanya sendiri.
Ia terus melangkahkan kakinya dan memasuki lift dengan tetap tenang dan santai..
Hingga saat ia sampai dilantai tempatnya bekerja beserta tuannya,Entah mengapa rasa percaya diri raisa berubah menjadi kecemasan..
Langkah kakinya tak lagi segagah barusan..
Gemetaran mulai dirasakan dijemarinya yang sangat dingin, ia bisa merasakan bahwa tubuhnya serasa sejuk tetapi mengapa keringatnya jatuh bercucuran..
Dengan memejamkan kedua mata sambil berdoa semoga semuanya baik baik saja..
Ia mencoba membuka pelan pintu ruangan tersebut dengan sedikit mengintip..
Menyadari jika karan sudah tau akan kedatangannya,,
Raisa yang masih berdiri dipintu menundukkan pelan pandangannya sambil berkata
"Ap apaa ehhm apa saya boleh masuk? "
"Tu tuann! ""
Sambung raisa merasa bersalah.
Dengan tajam karan menatap raisa yang masih berdiri dipintu..
Entah mengapa ia sangat merasa kesal kepada wanita ini..
Memang tidak ada yang menjadi hambatan dalam pekerjaan kantornya atas ketidakhadiran raisa selama beberapa hari..
Hanya saja yang membuat karan kesal adalah karna raisa meliburkan dirinya dari perusahaan karan tanpa permisi..
"Sudah lama aku menunggu kedatanganmu dan hari ini aku tidak akan melepaskanmu"
Ucap karan licik didalam hati..
Dengan kasar karan membuang sebuah dokumen yang sedang dipelajarinya dimeja, ia bangkit dari duduknya pelan dan dengan langkah perlahan ia berjalan menuju raisa..
Sorotan tatapan tajam karan membuat raisa gemetar dan semakin takut..
Karan semakin mendekati dirinya semakin dekat dan semakin dekat..
Dengan lemah raisa juga memundurkan dirinya kebelakang hingga ia berdiri tepat disebuah lorong yang sangat sunyi dan takberpenghuni..
Mungkin karan akan bisa melakukan apapun kepada dirinya tanpa seorangpun mengetahui..
Ditatapnya pintu lift yang jauh disana seraya berfikir
"Apa aku lari dan kembali kekantor papa saja"
Saat hendak pergi berlari tanpa disadari raisa bahwa karan saat ini sudah benar benar dihadapannya..
Raisa bahkan bisa merasakan aroma nafas yang dikeluarkan karan didepannya.
Bagaimana mungkin ia masih bisa berlari,,
Sudah pasti karan akan mencekal tangannya..
"Ma.. Maafkan saya tuan! "
Ucap raisa menunduk.
Dilingkarkan tangan kiri karan didinding untuk memagar tubuh raisa..
Sedangkan tangan kananya pelan menyentuh poni rambut raisa dan menyingkirkan dari keningnya.
Ada rasa bahagia terselip dihati karan karna hari ini dengan leluasa dia bisa menatap wajah raisa,,
Namun lagi lagi ia terbuyarkan dengan dendam dan dendam..
Raisa semakin bingung dan tak mengerti ada apa dengan tuannya sekarang.
Tadi sorotan matanya tajam dan sekarang berubah menjadi sendu.
Raisa bisa melihat bahwa karan seperti merindukan seseorang hingga senyum kecil ia kembangkan tepat saat menatap wajah raisa..
"Tapi siapa yang dirindukannya?? ".
Pikir raisa bingung.
Tanpa membantah, raisa hanya diam saja atas perlakuan yang dilayangkan karan untuknya..
Asal tidak menyakiti, raisa berfikir bahwa perbuatan ini aman aman saja untuk dirinya..
Dan ini membuat karan semakin memberanikan dirinya menyentuh pipi kiri raisa..
Barulah raisa merasakan rasa gemetar dan rasa kecemasan..
Ia tidakbisa menerima perlakuan demikian karna ia tau rasa cinta bisa hadir kapan dan untuk siapa saja..
"Tuan maafkan saya! "
Bantah raisa lembut dengan sedikit menolak dada karan untuk mundur kebelakang..
Tatapan tajam karan semakin membulat sempurna menatap raisa..
Dan hal ini membuat raisa semakin gugup dan cemas..
"Sial..
Kenapa wanita ini bisa menolak kuperlakukan begini..
Semua wanita juga pasti akan senang kuperlakukan begini,,
Tapi dia???
Dasar wanita gila"
Bentak karan didalam hati..
"Ini orang maunya apa sih..
Dari tadi gajelas banget kelakuannya..
Emhh gimana ya..
Ahh, mending aku pura² pingsan aja biar dia tau rasak"
Ucap raisa licik didalam hati..
Saat karan hendak memberikan tatapan cintanya kepada raisa agar wanita ini bisa tergila gila kepada dirinya,,
Dalam hitungan detik saja ternyata raisa sudah ambruukk jatuh kelantai dan ini membuat karan setengah panik..
"Raisaa..
Heii raisaaa banggunn"
Ucap karan menepuk kecil pipinya..
"Gilaa..
Dikasi tatapan cinta aja bisa pingsan gini,,
Gimana kalo dinikahin ini wanita,,
Bisa tewas ditempat kali ya"
Gumam karan bingung..
Tanpa menunggu lama karanpun mengangkat tubuh raisa dan membaringkannya disofa ruangan karan.
"Ternyata kalo lagi tidur kamu itu semakin cantik ya"
Ucap karan didalam hati sambil tersenyum..
Karan mencoba menepiskan semua tentang wanita ini didalam fikirannya..
Ia mengambil tissue dan mengelap wajahnya yang dipenuhi dengan keringat, Dan berjalan mengarah menuju meja kerjanya kembali..
Raisa yang semakin bodoh karna ulahnya sendiri harus menanggung diamnya paling tidak sampai setengah jam.
Ia tak boleh membuka mata,
Tak boleh bergerak lalu bagaimana dengan roknya yang tersingkap.
Sedetik saja karan sesekali mengontrol diri raisa yang terlentang diatas sofa..
Lalu bagaimana dia bisa bergerak..
"Sial rupanya aku salah cara!! "
Bentak raisa didalam hati.
Sebenarnya karan tahu bahwa raisa berpura pura pingsan untuk menghindarkan diri dari serangan dirinya tadi.
Namun semakin raisa bertingkah sok pintar,
Maka karan pun juga akan menunjukkan bahwa dirinya ternyata lebih pintar..
Ia sengaja menyingkap sedikit rok raisa keatas saat dalam gendongannya tadi supaya raisa merasa tidak tenang dalam pingsannya yang pura²..
"Dasar wanita!! "
Gumam karan tersenyum renyah didalam hati.
.
.
.
.
.
.
Hallow Gais 😁😆
Terus lanjut di next episode yaah 😘
__ADS_1