
Dengan sedikit tergesa gesa..
Icha berlari kecil dari kursi perpustakaan menuju rak buku untuk meminjam sebuah buku yang sudah ia temui setelah beberapa hari mencari..
Namun setelah ia berhasil mengenggam sudut buku, seseorang diseberang juga menggenggam sisi buku yang sama..
"Ih aku duluan!! "
Kata icha merebut kesal..
"Aku duluan!! "
Bantah pria diseberang dengan ikutan merebut buku
"Udah aku dulu!! "
Sahut icha semakin merebut hingga lembaran buku itu berantakan.
"Pokoknya aku dulu!! "
Potong laki laki itu takmau kalah..
Akhirnya terjadilah perang tarik menarik buku antara dua insan remaja hingga akhirnya membuat buku itu hancur tersobekkan..
Menyadari buku itu telah sobek,
Keduanya pun sama sama melepaskan dan membuat buku malang itu jatuh tepat dipertengahan kaki mereka..
"Pokoknya kamu harus tanggungjawab!! "
Ancam icha menunjuk pria itu.
"Apaan aku yang tanggungjawab!!
Kamu sendiri juga salah kok!! "
Balas pria itu takmau kalah..
"Ihh..
Kan aku uda minta baik² sama kamu tapi kamunya gamau ngasih..
Yah,, yaudah aku juga gamaksa.
kamu ambil aja tuh aku udah gaperlu lagi!! "
Jawab icha santai dan bergegas pergi..
"Ehh ehh ehh..
Mau kemana coba main kabur kaburan!! "
Potong pria itu sambil menahan pergelangan tangan icha..
"Kita harus sama sama tanggungjawab,,
Lagian kita sama sama salahkan!! "
Sambung arvin mencari akal..
Melihat ada rasa tanggungjawab yang dilontarkan pada gaya bicara pria tsb,,
Icha pun setuju untuk sama sama bertanggungjawab atas kesobekan buku ini
"toh lagian juga ada cctv"
pikir icha..
Setelah mendapatkan persetujuan..
Arvinpun membawa icha menuju kantor guru,,
Sebelum icha melangkah masuk,,
Arvin lebih dulu masuk untuk menjelaskan perihal kesalahannya sebelum akhirnya dia dipanggilkan..
Karna peraturan penting yang ada dikampusnya adalah mengaku itu jauh lebih baik daripada dituduh sebagai pelaku..
***
Setelah masakannya masak,Raisa bergegas kekamar mandi sebentar untuk membersihkan dirinya yang sudah dipenuhi keringat, membasuh wajahnya dan mempolesi sedikit bedak tipis dimukanya untuk mengembalikan rasa semangat yang ada pada senyumannya.
Jam telah menunjukkan waktunya makan siang,,
Raisa pun bergegas menghidangkan makanan itu kehadapan tuannya agar nantinya ia tak dituduh terlambat..
Mulanya raisa berjalan seperti biasa,,
Namun entah mengapa setelah pintu ruangan tuannya terbuka ia menjadi sedikit kaku melangkah karna tatapan tajam yang dikirimkan karan untuknya..
"Permisi!! "
Sapa raisa berusaha ramah dan langsung berjalan menaruh makanan itu dimeja hadapan karan..
Karan menghentikan kegiatannya dan mengalihkan pandangan matanya untuk menikmati wajah cantik raisa sambil menopang dagu memakai kedua tangannya, risih dengan tatapan yang ditujukan karan,,
Raisa pun angkat bicara untuk menyembunyikan rasa kakunya
"Lalu apa tugasku setelah jam makan siang nanti?? "
Tanya raisa memecah keheningan..
"Tanyakan itu nanti,,.
Sekarang duduklah disini dan kita akan makan siang bersama!! "
Sahut karan berdiri menuju kursi tamu dengan membawa talam makanan..
"Apa?
Makan siang bersama..
Yang benar saja!! "
Gumam raisa tak percaya..
"Kalau kamu gakmau makan juga gakmasalah..
Yang jelas kamu gaboleh kemana mana selain berada diruangan ini! "
Ucap karan tegas ..
"Apa??
Kenapa aku jadi dikurung seperti ini..
Aku hanya akan turun makan siang dan setelah itu aku akan kembali lagi kesini..
Aku janji! "
Jawab raisa berusaha memelas karna merasa muak seharian dengan pria ini..
"No!! "
Jawab karan singkat tanpa menatap.
Melihat keseriusan terlihat jelas diraut wajah karan,,
Akhirnya raisa memilih diam dan menduduki kursi tamu dihadapan karan..
"Dasar Orang Kaya,,
Bisa berbuat sesuka hati"
Bentak batin raisa ..
Dengan penuh amarah,,
Raisa memandang karan dengan tatapan yang jenuh,,
Muak sebal kesal hampir menjalar disekujur perasaan raisa, tanpa merasa berdosa pun karan dengan santai memakan masakan yang dihidangkan raisa.
"Aaaaa.. "
Ucap karan sambil menyodorkan suapan makanan kemulut raisa..
"Aku ga lapar!! "
Jawab raisa ketus..
"Tapi kamu harus merasakan masakan mu sendiri bukan?? "
Sindir karan.
Mendadak dua mata raisa melebar melotot..
Ia baru sadar bahwa ia lupa menaruh garam dimasakannya tadi.Tujuannya untuk memamerkan kelezatan masakannya didepan tuannya yang sombong ini akhirnya membuat ia menjadi mati gaya..
Dengan berusaha bersikap santai raisa mencoba untuk membalas sindiran karan..
"Kalau masakanku tidakbisa membuatmu suka,, sebaiknya pesankan masakan lain pada chefmu dan berikan makanan itu kepadaku!! "
Jawab raisa membalas sindiran..
Didalam Hati raisa berdoa semoga karan memberikan makanan ini kepada dirinya dan ia memilih masakan lain pada chefnya..
Raisa sudah tak cukup kuat untuk menahan cacing diperutnya yang sudah sedari tadi meminta sumbangan makanan..
"Apa kau sedang berusaha mengelabuiku?? "
Tanya karan seksama
"Apa??
Aku tidak mengerti!! "
Balas raisa polos..
"Aku tau kau sangat lapar.. "
Jelas karan singkat.
"Aku sudah berbaik hati mau membagikanmu makanan,,.
Tapi kau sendiri yang menolaknya,,
Yahh,,
Apa kau fikir aku akan membagikan makananku kepada setiap wanita,,,??
Sepertinya kau termasuk wanita yang beruntung sekali!! "
Sambung karan menyombongkan diri.
Raisa hanya memandang kesal menatap karan yang berhasil membesarkan diri..
Mulanya tujuan raisa hanya untuk menatap pria menyebalkan dihadapannya,tanpa aba aba pun cacing diperut raisa semakin menggelar demo besar besaran saat raisa mulai tergiur dengan masakannya sendiri..
"Biar aku makan sendiri!!! "
Ucap raisa tiba tiba merebut makanan.
"No no no..!! "
Jawab karan merebut kembali makanan dari tangan raisa dan menempatkan makanan itu dipangkuannya..
"Kamu hanya akan boleh makan kalo aku yang menyuapi!! "
Sambung karan lagi..
Raisa memutar matanya malas tanda tak ingin memperpanjang perdebatan..
Tanpa menunggu lama karan pun menyuapi makanan itu kebibir raisa dan raisa menerima suapan itu dengan penuh rasa benci..
Jika bukan karna kelaparan,,
Mungkin ia tak akan sudi menerima suapan dari orang menyebalkan seperti pria ini..
__ADS_1
Setelah menerima tiga suapan makanan,,
Akhirnya raisa menolak suapannya yang keempat karna merasa perutnya telah teratasi hanya dengan tiga kali suapan..
"Kau yakin?? "
Tanya karan menaikkan satu alisnya..
"Hmm!! "
Jawab raisa cuek dan mencoba mengalihkan pandangannya menuju luar jendela..
"Apa aku boleh pulang cepat hari ini!! "
Tanya raisa tiba tiba..
"Tentu saja..
Kau akan pulang bersamaku nanti! "
Jawab karan santai..
"Apa???
Aku akan pulang dengan mobilku sendiri!! "
Bantah raisa tak terima..
"Berdirilah dijendela sana dan tunjukkan dibarisan mana mobilmu terparkir?? "
Potong karan rileks dan bangkit dari kursi tamu menuju kursi kerjanya..
Tanpa menunggu lama raisa langsung berdiri tepat disamping jendela.
Matanya menatap seksama warna² mobil yang terparkir diujung bawah sana..
Memang tak ada warna merah,,
Lalu kemana mobilnya???
"Apa yang kau lakukan pada mobilku?? "
Tanya raisa cemas karna ia takut jika neneknya akan mengatainya habis habisan.
"Mobilmu sudah kembali kerumahmu tadi pagi!! "
Jawab karan santai tanpa menatap.
"Kau gila sekali..
Kau membawa pulang mobilku tanpa sepengetahuanku,,.
Apa sekarang kau tidakbisa kusebut seorang pencuri!! "
Teriak raisa geram..
Karan menatap raisa dengan wajah takberdosa..
"Kenapa kau jadi panik sekali,,
Aku sudah mengatakan bahwa aku akan mengantarkanmu nanti sepulang kerja,,
Apa itu takcukup puas untukmu hari ini?? "
Tanya karan intens..
"Puas..
Kau mengatakan puas..
Dengar tuan,,.
Jangan pernah bermain main dengan pemberian papaku untukku hari ini atau sampai kapanpun itu..
Karna kau tidak akan pernah mengerti tentang kehidupanku! "
Balas raisa dengan sangat geram.
"Apa yang kau katakan?? "
Tanya karan tak mengerti..
Ia hanya menyuruh pengawalnya untuk memulangkan mobil raisa terlebih dahulu karna sebentar lagi mereka akan menuju hotel untuk bertemu dengan papanya raisa.
Lalu apa yang wanita ini takutkan???
Pikir karan..
"Oh ayo tenanglah..
Jika kau takmau pulang dengan papamu nanti,
biarkan aku sendiri yang akan mengantarmu sebagai rasa tanggungjawabku karna dengan tak izin aku memulangkan mobilmu tadi pagi"
Jelas karan menenangkan..
"Apa..
Papa..
Apa apaan ini?? "
Pikir raisa tak karuan
"Apa kita akan kekantor papaku sekarang ini?? "
Tanya raisa ragu..
"Iya..
Kita akan kesana sekarang!! "
Jawab karan menyakinkan..
Raisa pun tersenyum puas mendengar jawaban karan dan dengan menunduk ia meminta maaf atas sikap berlebihannya tadi..
Ucap raisa menunduk.
"Kau harus membayar omelan mu tadi lain kali!! "
Potong karan tak terima..
Dengan kembali merasakan geram raisa meremas jemarinya serasa ingin mencakar habis bibir karan karna ia merasa sangat kesal..
"Ayo kita pergi! "
Ajak karan..
Raisa pun berusaha bersikap ramah dan berlangkah mengikuti karan pergi.
*********
.UNIVERSITY KARCHA UNITED KINGDOM.
Sebuah perguruan tinggi yang dipenuhi dengan siswa yang berasal dari keluarga konglomerat..
Hanya sebagian siswa yang diakui pintar saja akan diterima meskipun kehidupannya dalam kerendahan..
Peraturan tetap berlaku bagi sesiapapun tanpa seorang pelajarpun yang dibedakan..
Tata krama dan kedisiplinan adalah poin penting yang harus dijaga para siswa selama berkecinampung di Universitas ini,namun rasa pertanggungjawaban juga lebih diutamakan..
Tetapi sepertinya peraturan itu tidak berlaku untuk Arvin,,Karna dengan lihainya Arvin hari ini memutar balikan fakta didepan dosennya bahwa yang bersalah dalam kejadian ini adalah icha yang memaksa merebut buku dari tangannya.
Setelah melaporkan tujuannya,,
Arvin pun keluar menemui icha dengan santai..
"Tuh disuruh masuk sama dosen..
Katanya sekarang giliran kamu! "
Ucap arvin berbohong
Tanpa curiga icha pun bergegas masuk dan menemui dosennya.Setelah tiba didepan meja dosennya,
Icha menunduk kepalanya dalam karna merasa sangat bersalah..
"Jadi kamu yang bernama Alisya Darwins? "
Icha tidak menjawab dan hanya menggangguk kecil..
"Kamu tau kesalahan apa yang kamu lakukan hingga membawamu kemari hari ini? "
Tanya dosen menatap..
Lagi lagi icha hanya diam dan menggangguk kecil..
"Bagus..
Jadi tuliskan kembali semua tulisan kata yang ada didalam buku sobekan ini,
Dilarang mengedit, mengcopy,
atau apapun itu! "
Titah dosen tegas...
Tanpa membantah icha pun menyetujui hukuman untuk dirinya meskipun menulis bukanlah hobinya..
***
Sesampai disebuah Hotel.
Raisa dan karan bergegas masuk dengan disambut hangat oleh para pelayan, para pelayan pun mengantarkan keduanya menuju sebuah ruangan dimana tuan karman sudah menunggu mereka. .
Dari kejauhan karan hanya tersenyum sinis saat mendapati karman sedang berjalan kearahnya,dengan memasang dua wajah,kini karan sedang berusaha bersikap ramah untuk membalas sapaan karman karna takut nantinya hanya akan membuatnya curiga..
"Selamat datang tuan karan! "
Sapa karman tersenyum..
"Trmks tuan!! "
Ucap karan ramah sambil membalas pelukan.
Setelah melepas pelukannya dengan karman..
Karan melirik keberadaan raisa sekilas .
Dalam pertemuan kali ini,,
Sepertinya ada sesuatu yang membuat karan curiga!
Entah mengapa tapi karan menyadari ada sikap kaku yang terjalin antara seorang ayah dan putri kali ini..
Bukankah sikap anak perempuan itu manja apalagi jika bertemu dengan ayahnya?
Dan mengapa kejadian itu seolah tidak berlaku kepada Raisa????
Raisa yang hanya terus berdiam diri disamping karan seolah berperan sejatinya sebagai sekretaris karan dan tak mengenal karman.
Mereka hanya saling melempar pandangan dan tak saling berbicara seolah mereka bukanlah keluarga..
"Ada apa??? "
pikir karan.
"Ayo mari silahkan duduk.. "
Ajak karman mempersilahkan..
Setelah ketiganya duduk disebuah kursi tamu,
Para pelayan datang untuk sekedar menyiapkan minuman dan berlalu pergi..
"Bagaimana keseharianmu bekerja dikantor tuan karan nak? "
__ADS_1
Tanya karman kepada putrinya..
Sebelum menjawab,
raisa memandang karan sejenak..!!
wajah karan seolah tergambarkan kegeraman raisa yang belum juga reda sedari tadi..
Dalam keseharian ini tak satupun kejadian yang bisa membuat diri raisa senang..
Lalu ia harus menjawab apa?
"Semuanya baik baik aja kok pah!! "
Jawab raisa berbohong..
"Memang seharusnya begitu..
Papa pikir diperusahaan tuan karan lebih baik untuk kamu bekerja daripada harus bekerja dikantor papa sendiri kan?? "
Tanya karman tersenyum
Raisa hanya membalas senyuman kecut dan menganggukan kepalanya sedikit, ketiganya pun membahas semua perihal yang akan disampaikan,,
Sepertinya bukan ketiganya,tetapi lebih tepatnya hanya antara karan dan karman,karna keberadaan raisa disana hanyalah sebagai pendengar..
Mereka merencanakan bahwa kesepakatan kerjasama antara mereka akan terus dilanjuti. Beserta juga dengan cabang mereka masing², dan karan menyetujui semuanya karna jalan ini akan lebih memudahkan untuk rencana karan sendiri..
"Apa kau mau kuantar pulang saja atau kau akan pulang dengan papamu? "
Tanya karan menatap..
"Aku!! "
Jawab raisa ragu menatap karman..
Ia hanya takut nenek dan kakeknya akan marah besar kalau mereka tau mobil pemberian papa untuk dirinya sengaja dipulangkan karna ia ingin pulang dengan papanya..
"Mereka pasti akan salah menduga nantinya ! "
Gumam raisa cemas.
Namun jika dia memilih pulang dengan diantar karan ,
"Ini juga bukan jalan keluar! "
Pikir raisa kembali
entah kekesalan apa lagi yang akan dilakukan karan kepada dirinya nanti..
"Dia akan pulang bersamaku! "
Potong karman segera..
Karan dan raisa pun beralih menatap karman berbarengan..
Entah mengapa tapi sepertinya ada kekecewaan yang terbesit dihati karan..
"Baiklah!! "
Jawab karan sekilas..
***
Dengan perasaan cemas..
Raisa ikut duduk disamping karman karna berpulang barengan..Pikiran raisa kacau dan nada marah kakek neneknya terngiang² dikepalanya..
Malam ini adalah pertama kalinya ia duduk satu mobil dengan papanya tanpa alasan, Bukan karna sakit atau bukan karna mendadak..
Tuan takur sudah berulang kali mengingatkan raisa untuk tidak berperan penting dalam kehidupan karman, karna sejatinya raisa hanya seorang pembantu yang tak pantas untuk ditenarkan..
Setibanya dirumah..
Karman dan raisa bergegas masuk kedalam rumah.
Raisa berusaha mengikuti langkah papanya yang tak sanggup dikejarnya..
Rencananya untuk menghindar,
Justru sesuatu yang ingin dihindarkan itulah yang telah tersaji matang dihadapannya..
Ia mencari² dimana keberadaan papanya, yang ternyata telah tiba dipintu kamarnya..
"Kau sama persis seperti ibumu..
Satu satunya wanita yang tidakpunya rasa malu!! "
Ucap tuan takur tajam..
Raisa hanya diam tak menjawab..
"Berapa kali harus saya katakan..
Kamu itu bukan siapa siapanya karman.!! "
Sambung tuan takur menekankan..
"Sepertinya semakin hari kau semakin tidak tau diri..
Kau terus berupaya untuk mendekati karman dan ingin agar dunia mengakui bahwa kamu adalah putri pertama dari Karman Takur? "
"Kau Mimpi!!! "
Ucap tuan takur meludah.
"Apa aku kelihatan seperti sedang mencari muka disini? "
Tanya raisa membalas..
"Kau terlalu berlebihan tuan takur..! "
Balas raisa enyuh dan berlalu pergi..
"Jangan berani untuk melawan titah kami,
Ingat,,
Kau hidup disini karna menumpang dan sewaktu² kau harus angkat kaki dari sini!! "
Teriak nyonya takur yang tiba tiba datang..
Raisa menghentikan langkahnya sejenak mendengarkan neneknya berbicara
Hingga akhirnya ia kembali melangkah pergi menuju kamar..
"Benar benar hari tersial!! "
Ucap raisa lelah dan menghempaskan diri keranjangnya..
***
"Apa yang membuatmu menulis sepanjang malam begini? "
Tanya karan penasaran..
Icha tidak mengubris perkataan karan dan terus melanjutkan kegiatan menulisnya.
"Apa ini?
Kenapa buku ini bisa runyah begini? "
Tanya karan kembali..
"Jangan menggangguku!! "
Ucap icha tanpa menatap.
"Apa kau melakukan kecerobohan dikampus? "
Tanya karan meninggi.
Icha memutar matanya malas dan meletakkan pulpen yang sedang dipegangnya dengan geram.
"Dan aku akan bertanggungjawab untuk itu!! "
Bantah icha menatap.
"Bagus!! "
Jawab karan menggangguk mantap.
Karan lebih memilih duduk dikursi seberang, guna untuk saat ini dia tidak akan mengganggu adiknya yang menurutnya tengah berusaha bersikap dewasa..
Lama karan merenungkan sesuatu hingga akhirnya suara ponsel menyadarkan lamunannya.
"Hallo bos! "
Sapa dion diseberang..
"Kenapa? "
Tanya karan singkat..
"Apa Besok tuan jadi berkunjung kePariis? "
Ucap dion..
Hening tak ada jawaban dari karan..
"Nona crhisty memaksa untuk ikut! "
Tambah dion lagi..
"Hentikan dia,,!
Katakan bahwa kita datang karna masalah pekerjaan "
Sambung karan datar
"Baiklah!! "
Jawab dion kembali..
"Lalu bagaimana dengan nona raisa? "
Tanya dion kembali.
"Biar aku yang mengurus, ! "
Jawab karan cepat..
"Ahh baiklah tuan..
Selamat malam! "
Sambung dion menutup telepon.
Karan menggenggam ponselnya kuat kuat,,
Apapun caranya ia harus mendapatkan hati raisa.
.
.
.
.
Waduuhh..
Babang karan lagi mau merebutkan hati raisa. 🤔🤔
Kira kira untuk apa yakk 😋😋
Pantongiin terus yakk di episod selanjutnya 🤗😚
__ADS_1
Jangan lupa like and Comentarnyahhh.