
Raisa yang baru saja melangkahkan kakinya kembali kerumah sepulang kerja harus menghentikan langkah nya tiba tiba karna seseorang memanggilnya..
"Raisa!! "
Panggil papanya lembut sambil melipat lembaran koran
"Iya pa!!! "
Jawab raisa datar..
Karman pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati raisa..
"Mulai besok kamu jangan lagi bekerja dikantor papa,,
Kamu papa tugaskan menjadi tangan kanan papa dikantornya karan!! "
Jelas karman..
Mulanya raisa bingung mendengar nama karan..
Seperti tidak asing tapi siapa?
Melihat anaknya kebingungan,
Karman langsung menjelaskan perihal yang dibingungkan putrinya..
"Tuan karan yang tadi siang berkunjung kekantor papa!! "
Jelas karman datar..
Raisa mendadak melotot saat mendengar penjelasan papanya..
Pasalnya ia masih sangat ingat kejadian tadi siang saat tak sengaja dirinya menabrak pria itu..
Mulanya raisa kebingungan harus menjawab apa,
Tapi raisa berfikir keras sekali lagi bahwa papanya kini sedang tidak meminta persetujuan darinya,,
Bukan sebuah penawaran, melainkan sebuah tugas..
"Aku akan kekamar! "
Ucap raisa dan berlalu pergi meninggalkan papanya sendirian..
Dengan sedikit tersenyum karman menatap punggung raisa yang sedang menaiki tangga menuju kamarnya..
Tidak membantah artinya ia menerima,,
Inilah sikap raisa yang dihafal karman..
Ia sengaja membicarakan hal ini tanpa sepengetahuan keluarganya karna ia tak ingin orangtuanya terlalu mencampuri urusan dirinya dengan putrinya..
***
Waktu makan malam telah tiba..
Dengan dibaluti kehangatan tampak terlihat 3 penghuni yang hadir dimeja makan..
Sesekali dirinya bergurau dengan adiknya sehingga ibunya kewalahan menghadapi putra dan putrinya yang takpernah akur..
"Sudah sudah..
Jadi karan,,
Kapan kamu akan membawa calon menantu mama kesini? ! "
Tanya sang mama penasaran..
Karan yang dari tadi banyak bicara mendadak diam karna tak tau harus menjawab apa.
"Emang ada yang mau sama kaka?? "
Tanya icha usil
"Eh enak aja,,
Gini gini juga yang antri banyak tau!! "
Balas karan tak mau kalah..
Memang jika diluar ia terkenal dengan pria yang dingin,, tapi sikap dinginnya itu takpernah berlaku jika ia sedang bersama adiknya..
"Katanya banyak yang antri,,
Tapi pilihannya kok si christy itu ya..??
Ga bermutu banget deh!! "
Ejek icha asal..
Entah mengapa tapi icha sedikit tak menyukai wanita itu, alasannya karna wanita itu seorang model dan tak jarang ia selalu memakai pakaian yang seksi saat melakukan pemotretan,,
Karan lebih memilih diam daripada harus berdebat dengan adik kesayangannya ..
Pasalnya ia sama sama menyayangi kedua wanita itu..
"Nah diam kan??
Mending kaka cari wanita lain aja deh sebelum terlambat!! "
Saran icha asal
"Trus kamu sendiri,,
Sampe hari ini masih belum laku juga kan?? "
Balas karan mengejek..
Icha mendadak cemberut mendengar ejekan kakanya..
ia menatap ibunya seolah meminta pertolongan..
"Sekarangkan icha masih terlalu kecil untuk berpacaran,,
Nanti kalo uda gede icha juga pasti bakalan punya"
Ucap Rina (mama karan) membuat icha tersenyum kemenangan..
"Kalo gak laku mah tetap aja ga laku"
Imbas karan memotong dan membuat icha menjadi kesal..
"Udah deh,,
Awas aja ya,,
Orang punya pacar juga!!! "
Balas icha sebal dan membuat karan dan ibunya tertawa lepas..
***
Keesokannya..
Pagi ini raisa terlalu lesu untuk menjalankan harinya karna mulai saat ini ia tak lagi bekerja sekantor dengan sahabatnya..
Hal ini membuat raisa muak pasalnya ia harus terbiasa dengan aktifitasnya yang baru..
Dengan sedikit kesal,
Ia berlangkah menuruni tangga menuju meja makan..
Namun Ia mendadak menjadi cemas ketika melihat kursi makan papanya kosong tak berpenghuni..
Artinya hari ini ia tidak akan mendapatkan pembelaan jika keluarganya menyerang dirinya..
Dari kejauhan seluruh keluarganya memandang sinis menatap raisa, tanpa memperdulikan mereka, raisa menduduki kursi khusus dirinya dan mengambil sepotong roti..
"Apa seorang pembantu benar benar tidakpunya rasa malu..
Datang dan bergabung dengan tuannya seenaknya saja!! "
Imbas nyonya takur..
Raisa menggoyangkan kepalanya jengah sebagai jawaban dari neneknya karna hari ini benar benar hari sial bagi raisa..
"Kau harus sadar nak,,
Kau ada disini karna adanya karman.
Dan kalau karman tidak ada berarti tempatmu bukanlah disini!! "
Ucap tuan takur serius..
Raisa meludah kembali segumpalan roti yang sedang dikunyah mulutnya ketika mencerna perkataan kakeknya..
"Sayang sekali nasibmu raisa!! "
Sindir elif tersenyum sinis.
"Jangan meludah didepanku,
Perbuatanmu sangat membuat ku jijik!! "
Bantah arvin segera..
Raisa memutar bola matanya malas karna ia sangat tak tahan dengan perlakuan keluarganya..
"Kalian tau..
Kalian hanya bisa menjadi pengacau disetiapkali sarapan pagiku!!
Membuat selera makanku menjadi hilang,,
Apa ini tugas hari hari kalian?? "
Bantah raisa tajam..
"Jaga bicaramu raisa! "
Bantah tuan takur..
"Apa kau lupa bahwa inilah ajaran kalian untukku!! "
Potong raisa takmau kalah..
Nyonya takur mendadak berdiri dari kursinya dan menunjuk mengarah raisa dari kejauhan
"Pergi kau dari sini!! "
Teriaknya..
"Apa kau fikir aku sangat betah berada bersama kalian disini..jika aku punya pilihan sebelum lahir,,
Aku lebih memilih untuk sama sekali tidak mengenal kalian!! "
Teriak raisa dan bergegas pergi.
__ADS_1
"Benar benar anak tidak berguna!! "
Ucap tuan takur dalam kemarahannya..
Dengan sedikit geram,
ia sedang memikirkan rencana bagaimana caranya ia bisa menyingkirkan anak keras kepala itu.
***
Sebelum menuju kekantor karan..
Raisa terlebih dahulu mampir kekantor papanya untuk menemui sahabatnya..
"Jadi kamu gaklagi bekerja disini!! "
Tanya ririn kaget..
Raisa hanya mengangguk dengan sedih..
"Yah..
Aku disini bakalan sendiri dong!! "
Keluh ririn ikutan sedih..
"Ya aku disana juga kan bakalan sendiri!! "
Sambung raisa pilu..
"Kamu mah enak bisa ketemu karan setiap hari! "
Imbuh ririn asal..
Raisa kembali memutar matanya malas..
Sepertinya bertemu dengan ririn juga bukan pilihan yang tepat untuk menenangkan hatinya yang berantakan..
Entah mengapa tapi raisa sedikit risih mendengar nama itu disebutkan..
"Rin uda deh gausa mulai..
Kamu tau kan kalo tipe pria yang aku incar kayak gimana??
Dan itu terlalu jauh tau nggak sama sikaran karan itu! "
Jawab raisa tak terima..
"Awas aja kalo kepincut,,.
Baru tau rasa! "
Potong ririn..
"Bodo amat!! "
Jawab raisa geli..
Setelah berpamitan..
Raisa kembali melajukan mobilnya menuju kekantor karan yang akan menjadi tempatnya bekerja..
Sesampainya disana,,
Ia sedikit ternganga saat melihat ketinggian dan kemewahan gedung dihadapannya..
Dengan perasaan takut bercampur cemas,
Raisa menapakkan kakinya menaiki tangga teras perusahaan karan..
Suasana hati raisa mendadak menjadi rapuh,,
Tak ada seorangpun yang dikenal raisa..
Hingga tiba tiba seorang pengawal pria datang mendekati raisa..
"Benar dengan nona raisa! "
Tanya pengawal itu memastikan
Raisa hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya..
"Mari ikut saya,,
Tuan sudah menunggu anda sedari tadi!! "
Jelas dion mempersilahkan..
Dengan bingung raisa mengikuti pria dihadapannya itu..
Setelah menaiki lift entah lantai berapa..
Raisa semakin tak mengerti saat mendapati sebuah lorong kosong berdinding putih bersih tak berpenghuni, namun dari kejauhan ia bisa melihat ada sebuah pintu yang berarti sebuah ruangan, dan keruangan itulah mereka berlangkah maju..
Tanpa mengetuk pintu dion langsung masuk dan memberi informasi..
"Maaf bos,,.
Nona raisa telah sampai!! "
"Suruh dia masuk!! "
Titah karan tanpa menoleh dari komputernya..
Dion pun segera memberitahu raisa untuk masuk..
*********
Hampir 10 menit raisa berdiri mematung dihadapan karan,namun sampai saat ini karan masih juga belum menatap raisa meskipun ia sadar bahwa raisa sudah sedari tadi berdiri dihadapannya.Matanya terus fokus memeriksa berkas dokumen yang sedang dipegangnya..
Seolah olah sedang menyibukkan dirinya,, nyatanya karan hanya ingin memperlihatkan pada wanita ini bahwa dirinya sangat giat dalam bekerja..
Entah mengapa tapi karan sedikit merasa kaku saat berhadapan dengan wanita ini dan rasa kaku ini takpernah terjadi dengan wanita lain diseumur hidupnya..
Dengan merasakan sedikit pegal dikakinya yang hampir 15 menit berdiam diri tanpa bergerak..
Merasa terabaikan, Raisa dengan sedikit berani berjalan mendekat dan duduk pelan dikursi hadapan karan tanpa dipersilahkan..
Karanpun mengalihkan bola matanya dari tulisan dokumen yang sedang dipegangnya menatap raisa yang duduk tanpa dipersilahkan..
"Kakiku pegal"
Kata raisa tersenyum cengengesan saat ia sadar bahwa karan sedang menatapnya..
Karan pun kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa memberi ekspresi kepada raisa..
"Jadi apa tugasku disini? "
Tanya raisa ragu saat tau bahwa karan kembali tak mengubris kedatangannya..
"Duduklah yang manis dihadapanku!! "
Jawab karan tanpa menatap..
"Appaa???
Bener bener pria ga waras!"
Pekik raisa didalam hati..
Dengan terpaksa tersenyum, raisa pun melipat kedua tangannya diatas meja didepan karan dan terpaksa tersenyum manis menatap karan..
Senyuman yang dilontarkan raisa itulah yang membuat karan menatapnya dan menghentikan pekerjaannya..
"Tersenyumlah dengan benar benar senyum!!"
Ucap karan menekankan sehingga menghilangkan senyum yang raisa tunjukkan..
"Jadi apa tugas saya disini tuan karan yang terhormat? "
Tanya raisa mengalihkan pembicaraan karna merasa tak ingin berlama lama dengan pria dihadapannya kini..
"Buatkan saya kopi! "
Titah karan datar dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Apa??? "
Jawab raisa kaget..
Raisa terkejut mendengar pekerjaannya disini,
Membuat kopi??
Bukankah itu tugas dari Sekretarisnya sendiri atau mungkinkah dirinya akan dijadikan pembantu disini..
Raisa menjadi resah dan perputaran suara neneknya tergiangΒ² dikepalanya..
Seorang pembantu tetap akan kembali kepada asalnya, dan Mungkinkah hari ini?
Pikir raisa tak karuan
"Apa kau tidakbisa membuat segelas kopi? "
Tanya karan penasaran saat mendapati wanita dihadapannya seperti sedang memikirkan sesuatu..
"Akk akk aku,,
Apa tidak ada tugas lain untukku?? "
Potong raisa yang semulanya gugup..
"Oke brarti fiks,,
Kamu adalah seorang wanita yang tidak bisa membuat kopi! "
Tuduh karan asal.
Tak terima dengan tuduhannya,,
Raisapun bangkit berdiri dari duduknya
"Anda terlalu menyepelekan saya tuan,,
Jangankan hanya segelas kopi.
Bahkan untuk makan siang hari ini anda saja saya mampu untuk memasaknya "
Ucap raisa dengan penuh bangga..
"Kalau begitu buktikan!! "
Tegas karan santai sambil menaikkan satu alis menatap raisa..
Menyadari dirinya terlalu banyak bicara,,
Raisa pun termakan dengan ucapannya..
__ADS_1
Memang memasak bukanlah perkara yang sulit bagi raisa,Namun ia tetap enggan memasak apalagi untuk seseorang yang takpenting baginya..
"Dengar,,
Saya sedang tidak ingin bercanda,,
Katakan apa pekerjaan saya disini? "
Keluh raisa pura pura lesu dan mencoba mengalihkan pembicaraan..
Karan pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati raisa, Tanpa aba aba karan langsung melingkarkan jemarinya dipergelangan tangan raisa dan menariknya menuju kesuatu tempat..
Tanpa memberi perlawanan, raisa pun mengikuti arah jalan yang dilangkahi karan..
Hingga raisa terbelalak saat mendapati dirinya ternyata telah sampai disebuah dapur yang lengkap dengan bahan masakannya..
"Keluar semua!! "
Ucap karan kepada semua chef kantornya..
Ya begitulah seorang karan yang takpernah luput dari pelayan, chef, dan pengawal..
Bahkan karan mempekerjakan beberapa chef diperusahaannya untuk melayaninya dan para jajaran jabatan tinggi di Darwins Group..
"Katakan pada seluruh pegawai untuk makan siang diKantin lantai bawah hari ini, karna dapur akan saya tempati seharian ini!! "
Sambung karan setengah berteriak..
Semua chefpun mengangguk sedikit memberi hormat dan berjalan keluar meninggalkan mereka berdua..
"******,
Sepertinya dia ingin aku membayar ucapanku tadi"
Lirih raisa cemas didalam hati
Setelah semuanya benar benar pergi..
Tersisalah karan dan hanya raisa diruangan ini..
Dengan pelan karan melepaskan genggaman tangan raisa yang sudah di genggam nya sedari tadi..
Dengan menghembuskan nafasnya pelan,
Karan menatap raisa seksama dengan menaikkan satu alisnya..
"Apa??? "
Tanya raisa bingung pura pura tak mengerti.
"Apa kau sedang pura pura membodohi dirimu sendiri? "
Tanya karan mencerna kebingungan raisa yang nampak dibuat buat..
"Apa aku harus membayar ucapanku tadi? "
Tanya raisa ragu..
"Tepat sekali!! "
Jawab karan segera dan berjalan menuju sebuah kulkas besar..
"Kau bisa memasak apapun untuk makan siangku hari ini,,
Semua bahan ada disini,, "
Jelas karan dan menutup kembali pintu kulkas..
"Dan ya,,.
Kau tidak perlu takut untuk tinggal sendirian diruangan besar ini karna aku disini akan setia menemani kau sampai selesai"
Sambung karan lagi dan menatap raisa dengan tersenyum usil..
"Tidak perlu tuan,,
Kau boleh pergi,,
Setelah makanannya masak nanti aku sendiri yang akan mengantarkan masakan itu keruangan tuan! "
Bantah raisa dengan menahan geram diwajahnya..
Karan mengernyitkan keningnya setelah mendengar penolakan raisa..
"Bagaimana jika aku mengatakan sekarang bahwa aku tetap disini bukan untuk menemanimu,
Melainkan untuk mengawasi masakanmu agar tak ada racun yang kau tuangkan! "
Sela karan mencari alasan,
Entah mengapa,, tapi sepertinya dia sedikit suka mengerjai wanita dihadapannya.
"Apa kau fikir aku seorang pembunuh? "
Tanya raisa tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan karan..
Karan tersenyum sinis mendengar ucapan raisa,,
"Memang bukan seorang pembunuh, tapi lebih tepatnya anak seorang pembunuh"
Pikir karan..
Tanpa ingin memperpanjangkan perdebatan dengan tuannya..
Raisa pun bergegas memakai satu celemek dan mengambil beberapa bahan makanan untuk dimasaknya, Ia mengambil sepotong ayam yang telah dicuci dengan bersih, dipotongnya kecil kecil dan dihalusi serta dengan campuran bahan lainnya,,
Raisa mencoba membuat makanan sederhana saja meskipun ia yakin bahwa tuannya terbiasa dengan makanan yang mewah..
Mulanya raisa memasang ekspresi kesal diwajahnya dan tak sedikitpun memandang karan yang sedari tadi menatapnya..
Saat raisa telah menuangkan sedikit tepung untuk dicampuri dengan daging ayam tadi,tanpa memikir panjang raisa langsung mengadukkan halusan ayam itu memakai tangannya sendiri..
Raisa tidak menyadari bahwa pagi ini ia sengaja membuat rambutnya terlepas tergerai,
Tujuannya untuk mempercantik diri dihari pertamanya kerja justru membuatnya sangat kesusahan saat ingin melakukan tugas masak dari tuannya..
Karan terus memandang wanita dihadapannya dengan tersenyum tipis, Pasalnya wanita itu memasang tampang kesal sepanjang memasak,tapi sepertinya sekarang ia membutuhkan pertolongan karan..
Tanpa menunggu lama karan pun mengambil sebuah sumpit dan berjalan mendekati punggung raisa yang sedang sibuk mengibas rambutnya kebelakang.
Saat menyadari seseorang menyapu rambut dibagian atas telinganya,Raisa merasakan detakan jantung yang sangat kencang pasalnya ini adalah kali pertama seorang laki laki menyentuhnya selain bagian tangan..
Raisa menghentikan adukannya,,.
Ia memalingkan kepalanya pelan menatap orang yang sedang berusaha mengangkat rambutnya lalu melilitnya, dan dijepit dengan disumpit..
"Tenanglah,,
Aku hanya sedang membantumu!! "
Ucap karan berusaha santai saat melihat secara dekat tekuk leher mulus raisa.
"Aduh sakit tau!! "
Bantah raisa kesal saat rambutnya tertarik terjepit sumpit itu..
"Sudah selesai!! "
Ucap karan tanpa mengubris kesakitan raisa..
Dengan membelakangi karan,,
Raisa kembali melanjutkan aktifitasnya membuat masakan untuk makan siang karan, dengan segajapun Karan melangkahkan kakinya tepat berdiri sejajar dan disamping raisa .
Melihat karan yang sudah berposisi sangat dekat dengan tempatnya memasak..
Entah mengapa,
Raisa yang mulanya bisa memasak mendadak menjadi kaku dan lupa dengan bahan apa yang akan dipakai selanjutnya, Ia berjalan mondar mandir kesana kemari tanpa jelas harus mengambil apa..
Sebenarnya bukan lupa,,.
Hanya saja raisa merasa kaku dalam memasak jika seseorang memantau dirinya terlalu dekat..
Dengan keringat bercucuran jatuh dikening raisa, akibat dirinya merasa terlalu gugup,Raisa terus melakukan kegiatannya walaupun batinnya terus berdoa semoga pria ini secepatnya pergi meninggalkan dirinya..
Meskipun tak menyukai,,
Tapi bukan berarti bisa bersikap biasa jika sedang bersama dengan orang yang baru dikenalnya..
"Bisakah tuan keluar.?
Dengar,,
Saya tidak akan mungkin meracuni tuan "
Keluh raisa Merengek
Karan sedikit tertawa mendengar ucapan raisa..
Karena merasa sedikit iba melihat wanita dihadapannya dipenuhi dengan keringat bercucuran,,
Ia pun mengambil beberapa tisu dan kembali mendekati raisa untuk menyapu keringat dingin yang berjatuhan dikening raisa..
Mulanya Raisa hanya diam mendapatkan perlakuan dari karan ..
"Aku bisa sendiri!! "
Ucap raisa dengan merebut tisu yang sedang dipegang karan dikeningnya..
"Baiklah..
Antarkan nanti keruanganku saat jam makan siang!! "
Ucap karan dan berlangkah pergi meninggalkan raisa sendiri dengan senyum yang ditahankan..
Setelah berhasil membuat karan keluar,,
Barulah raisa bisa mengambil nafas dengan tenang kembali dan tanpa menunggu lama ia pun langsung menyiapkan masakannya..
.
.
.
.
Memang gada Akhlak yah sikaran ππ
Dirumah sendiri dianggap pembantu eh dikantor karan pun diperlakukannya selayaknya pembantu. π π
Tapi tak masalah kalo nak jadi pembantunya babang karan. ππ
Kepoin terus yahhh bagaimana kisah kelanjutannya diepisod depan π
Jangan lupakan like dan komentar nya thuayangg π
__ADS_1