
mahendra yang masih saja menolak menikahi rara dengan beralasan disudah memiliki istri, dia bersikeras untuk menolak keinginan rara.
" apa aku semenjijikkan itu hingga kau tidak mau menikah dengan ku, aku bisa jadi wanita yang lebih baik dari bocah cilik itu, aku bahkan bisa seribu kali lebih baik diranjangmu " ucap rara dengan sangat sombong, pagi ini dia mendatangi kediaman wijaya lagi.
"ya kau sangat menjijikkan, jangan pernah kau samakan dirimu yang tidak punya hati dengan wanitaku yang berhati malaikat, kalian bagaikan langit dan bumi " bentak mahendra dengan wajah yang marah karna wanitanya diremehkan oleh orang lain.
" terus saja kau memuji wanita sialan itu, rasanya aku ingin segera melenyapkannya dari muka bumi ini, agar kau tau hanya aku yang benar benar mencintai kau sepenuh hatiku " jawab rara dengan mendudukkan dirinya disofa serta menaikan satu kakinya diantara kakinya yang satu lagi.
" sebaiknya kau enyah dari hadapan ku sebelum kemarahan ku semakin memuncak, aku sudah muak dengan drama palsumu itu " bentak mahendra dengan mengepalkan tangannya dengan kuat.
" ceehh... kau mengusirku lagi, kau sungguh tidak punya hati, aku sedang mengandung bayimu mengapa kau tidak bisa bersikap baik terhadapku, apa karna dihatimu masih ada wanita sialan itu, jangan pernah kau sesali kalau sampai bayi yang ada dikandungan ku ini sampai kenapa kenapa " bentak rara dengan suara parau karna tanggisnya pecah saat dirinya lagi lagi ditolak oleh mahendra, bahkan bayi dikandungannya tidak diakui oleh mahendra.
rara pun pergi dari rumah wijaya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
" apa aku terlalu keras dengan wanita itu " ucap mahendra dalam hati, serta memikirkan kembali setiap perkataan yang ucapkan oleh rara.
tidak berapa mahendra pergi kebar alexa milik galang yang merupakan bar terkenal dikota jakarta. dia melangkahkan kakinya memasuki bar yang sudah dipadati banyak pengunjung, teriakan bahkan alunan musik Dj yang keras sudah menjadi hal biasa disana, saat mahendra berjalan kemeja yang sudah terlihat kehadiran galang dan candra beberapa wanita berbaju seksi beberapa kali mengoda mahendra tapi mahendra menepis tangan wanita pengoda itu.
" lo duduk yang tenang jangan buat masalah lagi, gue enggak mau pelanggan gue terganggu karna tingkah konyol lo " galang memperingatkan mahendra karna terakhir kali dia datang kebar milik galang dia berkelahi dengan pengunjung yang tidak sengaja menyenggol bahu mahendra saat mereka berpapasan didepan pintu toilet pria.
" hmmm " jawab mahendra singkat sembari mengambil sebotol wine dan langsung menenggaknya dengan sekali tarikan nafas saja isi minuman botol itu langsung tersisa setengah.
" gue enggak bisa berpikir dengan baik akhir akhir ini, gue merindukan gita, gue selalu berharap dia ninggalin gue itu semua hanya mimpi aja, tapi sekarang gue benar benar merasa bersalah karna tidak menjaga dia dengan baik, bahkan gue sampek buat dia meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan orang tuanya. gue benar benar beg* udah mau percaya gitu aja sama wanita itu bahkan dia sekarang mengaku mengandung anak gue " mahendar mulai menceritakan permasalahan yang dia hadapi akhir akhir ini kepada kedua sahabatnya karna dia saat ini benar benar merasa sangat hancur bahkan tidak punya keberanian untuk mengambil keputusan.
" apa lo bilang, rara mengandung anak lo ?" tanya candra dan galang bersamaan serta saling tatap tatapan karna merasa tidak percaya apa yang baru saja mereka dengar.
" lo bilang rara hamil anak lo, gue enggak salah dengarkan ?" candra dengan cepat mengulang pertanyaannya.
" hmmm... " jawab mahendra sambil menganggukan kepalanya pelan.
" buset, hebat banget lo sekali tidur aja langsung jadi anak aja, lo yakin itu anak lo?" sahut galang dengan menatap mahendra dengan tajam.
galang menarik nafas dengan kasar dan beberapa kali menarik rambutnya sendiri dengan kedua tangannya secara bersamaan.
" gue awalnya enggak yakin, tapi dari penyelidikan orang kepercayaan gue, itu memang bayi gue " jawab mahendra dengan sangat frustasi.
" gawat kalau gini ceritanya, lo harus tanggung jawab sama bayi dikandungan rara, bayi itu enggak tau apa apa jangan lo hukum dia dengan lahir kedunia ini tanpa mengenal siapa ayahnya " candra mulai menasehati mahendra tapi dengan cepat galang menginjak kaki candra dengan keras.
" kenapa lo injak kaki gue monyet gue kan ...." ucapan candra terpotong karna galang menutup mulut candra dengan tangannya serta memelotokan matanya. candra berusaha melepas bekapan tangan galang.
" lo gak usah ngomong yang aneh aneh nyet, hendra gak bisa move on dari istrinya
jadi jangan ikut campur sama urusan asmara orang lain " bisik galang agar mahendra yang sedang menundukkan kepalanya tidak mendengar. saat mahendra mendongkakkan kepala melihat kedua sahabatnya dengan cepat galang melepaskan bekapannya pada candra.
mahendra hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah kedua pemuda dewasa yang masih bertingkah seperti bocah TK.
__ADS_1
" kalau memang itu bayi lo, lo harus tanggung jawab, hanya itu yang bisa gue bilang sama lo hen " ucap candra lagi sambil menepuk pundak mahendra tapi disisi lain galang memelototkan matanya hingga ingin keluar karna candra masih saja melanjutkan perkataannya pada mahendra yang saat sedang frustasi karna terpojok pada jalan yang buntuh.
" gue juga gak berani berpikir untuk melepaskan gita tapi gue juga enggak boleh egois sama anak gue yang lain " jawab mahendra sambil menghembuskan asar rokok serta sebatang rokok yang menyelip diantara dari telunjuk dan jari tengahnya.
" tapi gue juga mau melihat gita bahagia, mungkin dengan gue merelakan dia dengan begitu dia bisa hidup lebih bahagia lagi " tambah mahendra dengan menundukkan kepalanya lagi.
" lo juga harus hidup bahagia, gue tau ini berat buat lo, tapi lo harus menerima semua ini dengan lapang dada " galang mulai membuka suara.
mereka bertiga meneguk minumannya dengan sekali sekali melihat kearah pengunjung yang menari ada yang bersama pasangannya ada juga yang ditemani wanita bayaran yang juga mencari kesenangan hidupnya. sebahagian orang yang datang kebar biasa adalah orang yang memiliki beban berat bahkan memiliki kehidupan yang kelam, jadi mereka mencari hiburan dengan berminum minum hingga mabuk mereka beranggapan kalau mabuk mereka bisa bahagia tanpa harus memikirkan semua masalah yang mereka hadapi.
tiba tiba terlihat keributan diantara pengunjung yang menari sepertinya seorang wanita itu ditarik paksa oleh seorang pria yang berkepala plontos.
" lepasin, gue bilang lepasin, lo enggak punya sopan santun menyentuh seorang wanita terhormat " teriak wanita itu sambil meronta ronta berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria asing itu.
" lo enggak usah sok nolak, gue tau lo dari tadi ngerayu gue supaya bisa tidur dengan guekan, tenang aja gue bakal bayar lo sepuluh kali lipat dari bayaran lo biasanya " sahut pria berkepala plontos itu dengan menarik paksa wanita itu keluar dari kerumunan orang yang masih menari mengikuti alunan musik Dj yang sedap didengar.
plaakkk... wanita itu menampar pria plontos dengan keras.
" gue bukan wanita bayaran seperti lo pikir, gue wanita terhormat, kalau gue mau lo sama keluarga lo juga bisa gue bayarin " bentak wanita muda itu dengan amarah yang memuncak karna dipandang rendah oleh orang lain. dia adalah salah satu putri orang terkaya di indonesia.
mendengar ada keributan beberapa orang dari bagian keamanan turun kelantai tempat menari dan pemilik serta temannya juga mencari asal keributan yang mereka dengar.
karna wanita itu mendaratkan satu tamparan yang keras diwajah pria plontos itu dia terlihat tidak terima dengan apa yang diterimanya dia mengambil sebuah botol bir dan menghantamkan botol itu kekepala wanita muda itu.
" rara.. rara... buka matamu " teriak pria itu masih terdengar ditelinganya sebelum dia benar benar tidak sadarkan diri. jantung mahen berdegup dengan kencang melihat wanita dipelukannya pingsan serta kepala yang sudah bersimbah darah.
" bangsatt lo, berani beraninya kekerasan sama cewek " galang meninju wajah pria plontos itu dengan keras serta memerintahkan bagian keamanan untuk segera memprosesnya.
" tolong segera panggilkan ambulance " perintah candra pada pelayan bar.
" tidak perlu, kalau menunggu ambulance pasti kelamaan, biar aku saja yang membawanya kerumah sakit " ucap mahendra sambil mengendong rara dan berjalan menuju mobilnya. dengan kecepatan tinggi mahendra sudah sampai saja dirumah sakit terdekat dan langsung ditangani oleh dokter terbaik karna dia harus segera dioperasi.
mahendra berdiri didepan pintu ruang operasi karna dia juga sangat khawatir pada rara dan bayi dikandungannya.
tidak lama galang dan candra juga sampai disana.
" bagaimana keadaan rara ?" tanya candra dengan nafas belum teratur karna berlari dari parkiran mobil, sesekali dia juga mempusatkan perhatiannya pada ruang operasi.
mahendra masih terdiam saja dia kembali mengingat perkataan rara ketika menemuinya tapi mahendra malah memperlakukannya dengan kasar dan rara pergi dengan menangis terseduh seduh.
brruukkk....
mahendra tiba tiba meninju tembok rumah sakit yang berwarna putih bersih.
" gue memang orang paling begoo didunia ini, gue laki laki terbangsatt dimuka bumi ini, gue enggak layak dapat cinta dan sayang dari mereka, gue hanya sampahh yang gak berharga , gue gak layak disebut seorang pria, gue gak layak " ucap mahendra dengan air mata yang sudah jatuh dan wajah yang memerah.
__ADS_1
" lo harus tenangi diri lo, lo gak bisa gini, lo harus tenang supaya lo bisa berpikir apa yang harus lo kerjakan. ini musibah hen, lo enggak bisa nyalahin diri lo sendiri men " candra menenangkan mahendra agar tidak semakin membuat masalah semakin runyam.
" benar yang dikatakan candra, lo harus tenang supaya lo bisa berpikir dengan baik " ucap galang serta menepuk nepuk pundak mahendra.
" gue belum siap kalau harus kehilangan mereka lagi, gue takut kalau gue benar benar jadi ayah yang gak berguna buat bayi gue " kata mahendra dengan terus membayangkan wajah rara saat mengucapkan kalau dia mengandung bayi mahendra. tatapanya kosong seperti tanpa harapan apa pun.
" lo gak boleh ngomong gitu hen, lo harus semangat supaya rara dan bayi kalian juga kuat " galang mulai mendukung hubungan mahendra pada hal sejak awal dia adalah orang yang paling menentang kedekatan mereka kembali. tapi dia tidak tega melihat sahabatnya harus hancur lagi.
setelah menunggu hampir dua jam akhirnya lampu tanda operasi berlangsung pun padam itu pertanda kalau operasi terlah selesai.
dokter berjubah putih lengkap dengan masker wajah dan penutup kepala pun keluar. mahendra yang melihat pintu ruangan terbuka dengan cepat dia menghampiri dokter yang masih terbilang muda itu serta bertanya
" bagaimana keadaan mereka dok ?" tanya mahendra dengan wajah cemas dan tangan yang lebab karna meninju tembok rumah sakit.
" saya harus bertemu walinya ?" tanya dokter lagi dengan menatap mereka bertiga bergantian.
" saya walinya dok, saya calon suaminya " ucap mahendra yang semakin tidak sabar mendengar keadaan rara dan bayinya.
" operasinya berjalan dengan lancar, tapi kita harus terus memantaunya dan dia akan segera dipindahkan keruang IGD " tutur dokter muda itu menjelaskan pada mahendra.
" bagaimana dengan kandungannya dok ?" tanyanya lagi dengan wajah semakin seriua.
" bayinya baik baik saja, tapi akan lebih akurat kalau kita langsung berkonsultasi pada dokter kandungan, nanti akan saya aturkan pemeriksaannya " jawab dokter itu dengan senyum ramah.
" baik dok, terimakasih bantuannya " kata mahendra serta menyalim dokter itu.
" tuan harus bersabar menghadapi ini semua, calon istri dan bayi anda pasti akan baik baik saja. saya permisi dulu tuan " sahut dokter itu sambil menepuk pundak hendra serta berjalan meninggalkan ruang operasi serta diikuti oleh beberapa suster yang membantu diruang operasi.
hati mahendra sedikit tenang karna mendapat kabar baik dari dokter yang menangani operasi rara. tapi dia masih tidak sabar menunggu rara sadar dan meminta maaf karna mengabaikannya serta bayi mereka.
☆
☆
☆
☆
sekian dulu hari ini capek ngetiknya kak😎😎
mohon kritik dan sarannya.
jangan lupa like dan komennya kakak semuanya supaya adek semakin semangat nulisnya...wkwkwk
semoga hari anda selalu bahagia 😗😗
__ADS_1