
Keesokan harinya. Abian terbangun dan mendapati Maya yang bersiap siap akan pergi dari mansion.
"Dia ingin pergi lagi?" batin Abian mengintip dari atas.
Noted: posisi Maya melangkah menuruni tangga.
"Kau pasti menyembunyikan sesuatu Maya, maka dari itu jangan salahkan aku jika aku mengikuti mu dari belakang!" gumam Abian.
Abian kembali ke kamar lalu memakai jaket hitam serta topi dan masker untuk melakukan penyamaran.
Di dalam perjalanan, Maya tidak mengetahui bahwa Abian mengikuti nya dari belakang. Tanpa rasa curiga Maya masuk kesebuah restoran.
"Restoran? apa yang Maya lakukan disini" batin Abian bertanya tanya.
"Pagi kak" sapa Maya kepada Andika.
"Kau sudah datang? tolong bantu kakak untuk melayani tamu yah" pintah Andika di balas anggukan oleh karena Maya.
Abian yang penasaran memutuskan untuk masuk ke dalam restoran. Abian duduk di pojok restoran sembari menatap intens ke arah Maya yang sedang melayani tamu.
"Permisi, kakak mau pesan apa?" tanya Maya menghampiri Abian.
"Satu kopi Espresso" jawab Abian dengan nada dingin.
"Kok suaranya familiar benget yah...." batin Maya saat mendengar suara Abian. Maya belum tau bahwa yang di hadapannya saat ini adalah Abian yang sebenarnya.
__ADS_1
"Oke, silahkan tunggu sebentar yah kak" ujar Maya pamit lalu melangkah mendekati Andika.
"Dia pesan apa?" tanya Andika.
"Kopi Espresso kak" jawab Maya.
"Ohh, eh... maaf yah Maya, ada sesuatu di sudut bibirmu" ucap Andika mengelus sudut bibir Maya.
Andika mengusap sudut bibir Maya yang terlihat belepotan coklat.
Abian yang sedari tadi menyimak dari kejauhan kini mengepal tangan dengan kuat. Mata Abian memerah bahkan rahangnya mengeras pertanda ia sangat murka melihat kekasihnya di sentuh oleh orang lain.
BRAK-!!.
Abian menggebrak meja dengan kuat membuat seisi restoran itu terkejut dan resfleks menatapnya.
"Ka-kakak Abi?" pekik Maya terkejut.
"Cukup!" ucap Abian dengan nada gemetar berusaha menahan amarahnya. Abian melangkah pergi dari restoran itu.
"Kakak Abi tungguin Maya!" teriak Maya mengejar Abian.
"Kehancuran mu akan segera tiba Abian" batin Andika tersenyum licik melihat Abian yang marah dan pergi dari restoran itu.
-Di mansion-
__ADS_1
Abian masuk ke dalam rumah dengan nafas yang terengah-engah karena ia sangat marah kepada Maya.
"Kakak Abi dengerin Maya dulu" ucap Maya menahan tangan Abian.
"Apa? apa yang harus aku dengarkan Maya?!" teriak Abian menepis tangan Maya yang memegang tangannya.
"Hiks kakak Abi, Maya ga bermaksud seperti itu, Maya berkerja di restoran karena..." tangis Maya pecah karena takut melihat Abian yang begitu marah kepadanya.
"Jadi ini alasan mu yang sebenarnya? lalu kenapa kau harus berbohong kepada ku Maya?! KENAPA?!!" teriak Abian dengan murka.
"Ma-maya hanya ingin bantu kakak, Maya ga ingin jadi beban untuk kakak" jawab Maya dengan jujur.
"Jadi selama ini kau pikir aku tidak sanggup menghidupi dua nyawa begitu?!!" teriak Abian.
"Bukan begitu maksud Maya kakak"
"AKU TIDAK MELARANG MU UNTUK BEKERJA TAPI KENAPA KAU HARUS BERBOHONG KEPADA KU MAYA?! KENAPA?!!" teriak Abian ingin menangis.
"Kakak Abi maafin Maya, Maya benar benar ga bermaksud seperti itu"
"Tidak Daddy, tidak Mommy semuanya pembohong! dan kenapa kau malah ikutan berbohong kepada ku Maya?! KENAPA KAU BERBOHONG!! cuih! aku benci pembohong!" bentak Abian pergi meninggalkan Maya, Abian masuk ke dalam kamarnya dan langsung membanting pintu dengan keras.
"Hiks, kenapa semua orang berbohong kepada ku, aku pikir kau berbeda dengan yang lainnya Maya... tapi aku salah, aku salah karna berfikir bahwa kau akan menjaga perasaan ku!" ucap Abian menangis di balik pintu.
Tok... tok... tok...
__ADS_1
"Kakak Abi maafin Maya...." lirih Maya mengetuk pintu.
Bersambung.