Cinta Tulus Sang Ketua Mafia

Cinta Tulus Sang Ketua Mafia
episode-17


__ADS_3

Keesokan harinya. Matahari mulai naik memancarkan cahaya yang menembus masuk kedalam cela cela kamar Abian.


Maya yang sedang tertidur pulas didalam sana sedikit terusik dengan cahaya matahari tersebut. Maya pun bangun namun tak melihat keberadaan Abian disebelah nya.


"Kakak Abi kemana?" gumam Maya. Maya pun masuk kedalam kamar mandi berharap Abian berada didalam sana.


Namun ternyata tidak. Abian tak berada dikamar mandi.


"KAKAK ABI" teriak Maya memanggil manggil Abian namun tak ada respon sama sekali.


Maya memutuskan untuk keluar dari kamar dan mengecek ke lantai bawah.


"KAKAK ABI DIMANA" teriak Maya lagi namun hasilnya nihil, Abian tak ada didalam mansion.


"ABIAN IBRAHIM PATERSON!!" teriak Maya yang sudah habis kesabaran.


"Ih! kakak Abi kemana sih!" gerutu Maya dengan kesal.


"Ga mungkin kakak Abi pergi tanpa pamit dulu" gumam Maya bersedih.


Pandangan Maya mengarah ke sebuah meja. Dimana diatas meja itu terdapat surat yang Maya tak ketahui darimana asalnya.


Dengan cepat Maya membuka surat itu.


Isi surat-----


Maya, ini aku Abian. Maafkan aku yang pergi tanpa berpamitan dulu kepadamu, melihat tidurmu yang begitu nyenyak aku tidak tega untuk membangunkan mu.


Kamu jaga diri baik baik disana yah sayang, jaga Abian kecil dengan baik, jaga kesehatan kamu juga.


Aku mencintaimu sayang, sungguh aku mencintaimu. Aku pergi.


Dari Abian untuk istriku Maya.


"Aku juga mencintai mu kakak" lirih Maya meneteskan air mata.


Maya mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Abian. Namun setelah berkali kali menghubungi nya, Abian sama sekali tak mengangkat telpon.


"Kok kakak ga angkat telpon aku sih?" gumam Maya merasa sedikit takut.


Maya takut jika Abian pergi dari sisi nya untuk selama-lamanya, entah darimana perasaan itu berasal, tapi Maya merasa bahwa Abian akan pergi meninggalkan nya.


"Kakak ga bakal pergi selama lamanya kan? kakak ga bakal ninggalin aku sendiri disini kan? huff positif thinking Maya! mungkin kakak Abi masih dalam perjalanan" batin Maya berusaha berfikir positif.


Tiba tiba, ada suara yang terdengar didapur. Maya yang penasaran pun menuju ke arah dapur.


"Kamu sudah bangun? ayo duduk dulu, makanannya sudah hampir matang" ucap Aidan kepada Maya.


Maya menatap intens kearah Aidan. Wajah Aidan begitu mirip dengan Abian, namun Maya bisa membedakannya dengan muda.


"Kamu bukan kakak Abi" ucap Maya.


"Oh? aku pikir kamu ga tau hehehe. Iya aku bukan Abian, aku saudara kembar nya, nama ku Aidan" ucapnya mengulurkan tangan.


"Aku Maya" ucap Maya membalas uluran tangan Aidan.


"Kamu duduk dulu, kita sarapan pagi bersama" perintah Aidan. Maya pun mengangguk lalu duduk di kursi makan.


"Kamu ngapain disini?" tanya Maya menatap Aidan yang sedang memasak.


"Aku disuruh Abian untuk menjaga mu sementara waktu" jawabnya.


"Itu ga perlu, aku bisa jaga diri sendiri kok" balas Maya.


"Kamu sedang hamil, Abian takut kamu kenapa napa jika berada dimansion sendirian" pungkas Aidan.


"Eum... Kakak Abi udah sampai ke Amerika engga sih? kok dari tadi telpon aku ga dijawab jawab" omel Maya menatap ponselnya yang sudah beberapa kali menghubungi nomor Abian.


"Mungkin dia lagi sibuk" ujar Aidan.


"Sesibuk apapun kakak Abi, dia bakal luangin waktunya untuk ngabarin aku" ucap Maya cemberut.


"Kamu ingin aku menelponnya?" tanya Aidan.

__ADS_1


"Emang boleh?" tanya Maya menatap ke arah Aidan.


"Tentu saja boleh, sebentar aku menghubunginya dulu" jawab Aidan. Aidan mulai membuka ponselnya lalu menghubungi nomor Abian.


"Halo Aidan, ada apa?" jawab Abian mengangkat ponselnya.


Maya yang mendengar suara Abian resfleks mengambil ponsel dari tangan Aidan.


"Kok kakak Abi ga ngangkat telpon Maya?!" oceh Maya namun telpon itu langsung dimatikan oleh Abian.


"Bagaimana?" tanya Aidan.


"Di matiin" jawab Maya hampir menangis.


"Mungkin dia lagi sibuk, mending kamu makan dulu, kasihan bayi yang ada didalam kandungan mu kalau kamu telat makan" ucap Aidan menenangkan Maya.


"Tapi aku kangen kakak Abi" lirihnya.


"Kamu begitu mencintai Abian?" tanya Aidan.


"Sangat" jawab Maya.


"Bagaimana jika Abian pergi meninggalkan mu untuk selama lamanya?" tanya Aidan.


"Tidak mungkin, kakak Abi sudah janji kepadaku, bahwa dia akan terus bersama ku sampai maut memisahkan" jawab Maya dengan tegar.


"Lihatlah Abian. Istrimu sangat mencintaimu, sampai ia tak sadar bahwa kau pergi untuk selama-lamanya" batin Aidan ingin menangis.


Skip-!! Malam hari.


"Sudah dari tadi pagi aku menunggu pesan dari kakak Abi, tapi tak ada satupun notif yang masuk darinya" batin Maya berada di balkon kamarnya. Sembari merenung merindukan suaminya.


"Kakak Abi baik baik aja kan disana? kakak Abi udah makan atau belum? hiks cepat pulang, Maya kangen sama kakak " ucap Maya menangis, menatap cahaya bulan yang begitu terang di atas langit yang gelap.


Disisi lain.


"Maafkan aku Maya, aku sengaja tidak mengangkat telpon mu dan mengabari mu agar kamu membenci ku, semoga kamu hidup dengan tenang dan bahagia tanpa adanya diriku"


Ucap Abian menatap rembulan dari balik kaca jendelanya.


"Aku mencintaimu Maya" lirih Abian menangis.


Disisi lain.


"AKU JUGA MENCINTAI MU KAKAK!" teriak Maya terbangun dari tidurnya.


"Hiks kenapa aku merasa kakak Abi lagi nangis, hiks kakak Abi...." lirih Maya menangis.


Keduanya seperti memiliki perasaan yang sama namun jiwa yang terpisah jauh.


.


.


.


.


-Maya-


Aku merindukan kakak Abi, sangat merindukannya. Dimalam itu dia izin kepada ku untuk pergi ke Amerika selama 2 Minggu.


Aku tidak bisa melarangnya untuk pergi, karena itu adalah urusan bisnisnya. 2 Minggu adalah waktu yang sangat lama.


Saat kakak Abi pergi dia tidak berpamitan dengan ku. Kaka Abi hanya meninggalkan surat romantis dan surat itu aku simpan dibuku harian ku.


Kesepian yang saat ini aku rasakan. Dimana mansion terlihat sunyi karena kakak Abi tidak ada disini.


Sudah hampir 2 Minggu penuh kakak Abi hilang tanpa kabar. Dia tak mengirim pesan sama sekali, bahkan telpon ku pun tak di angkat olehnya.


Aku menangis, pagi siang sore malam, karena merindukan sesosok suami yang begitu menyayangiku dan memanjakan ku.


Maya kangen kakak:(

__ADS_1


Dan seperti biasa, aku duduk di balkon kamar sembari menatap ke ponsel ku berharap ada notif dari kakak Abi.


-Maya End-


"Aku kasihan melihat Maya seperti ini, dia pasti sangat mencintai Abian sampai dia tak sadar bahwa Abian pergi untuk selama lamanya" batin Aidan menatap Maya yang duduk bersedih di balkon kamar.


Tanpa sadar Aidan meneteskan air mata. Ia ikut bersedih dan prihatin melihat kisa cinta yang begitu sulit ini.


"Kamu menangis?" tanya Maya melihat Aidan menangis.


"Haha maafkan aku, aku hanya merindukan kakak Abian" ucapnya menyeka air matanya.


"Aku juga merindukan kakak Abi" ucap Maya menunduk bersedih.


"Bagaimana kalau kita jalan jalan sebentar ke taman?" saran Aidan agar Maya tak terlalu bersedih di tinggal oleh Abian.


"Heem...boleh juga" ucap Maya mengangguk.


Maya dan Aidan pun berjalan jalan sebentar ditaman.


Sesampainya ditaman. Maya menatap ke arah danau. Danau itu sangat indah, airnya pun begitu jernih.


"Cantik sekali" puji Maya tersenyum melihat pemandangan yang di hadapannya.


"Loh? Aidan kamu disini?" sapa seorang wanita cantik menghampiri Aidan.


Aidan yang melihat kedangan wanita itu langsung melindungi Maya dibelakangnya.


"Siapa wanita itu? oh aku tau! dia istri Abian bukan?" tebak wanita itu membuat Aidan yang mendengarnya sedikit tidak suka.


"Jangan sembarang bicara Vivian!" ancam Aidan menatap tajam kearah wanita yang bernama Vivian itu.


"Sembarang bicara? hahaha itu kan hobi ku sejak kecil" ucap Vivian tertawa licik.


"Jangan sampai kau mengatakan nya! jika tidak aku akan melemparmu darisini!" ancam Aidan.


Noted: Vivian adalah sahabat kecil sikembar. Namun persahabatan mereka putus karena sifat Vivian yang terlalu licik.


"Ckckck kasihan sekali nasib mu wanita cantik, harus di tinggal oleh suami disaat sedang hamil besar" ejek Vivian dengan nada mengejek.


"Vivian cukup!!" bentak Aidan memperingati Vivian.


"Kakak Abi ga ninggalin Maya, dia pergi ke Amerika karna urusan bisnis" ucap Maya tak terima.


"Apa? kamu bilang urusan bisnis? hahaha apa kamu tau bahwa Abian itu adalah ketua mafia? dan hari ini adalah hari dimana dia akan menjadi ketua mafia yang sesungguhnya. Setelah dia resmi menjadi ketua mafia, kau akan di campakkan lalu di buang bagai istri yang tak berguna!"


"Ma-maksud kamu apa?" tanya Maya sedikit bingung.


"ABIAN MENINGGALKAN MU UNTUK SELAMA LAMANYA DEMI DERAJAT KELUARGA NYA!" jawab Vivian dengan tegas. Maya yang mendengar terdiam membeku, hatinya tiba tiba sakit seperti di tujuk ribuan belati yang begitu tajam.


"Vivian apa yang kau bicarakan!! tutup mulut mu!!" bentak Aidan kehilangan kesabaran.


"Hiks, apa itu benar Aidan? kakak Abi meninggalkan ku untuk selama lamanya?" tanya Maya mulai menangis.


"A-aku tidak tau" jawab Aidan dengan gugup.


"Cih! mana mungkin kamu ga bisa tau! padahal sebelum Abian pergi dari negara ini, Abian menitipkan istrinya kepada mu" ucap Vivian tersenyum licik.


"Apa itu benar?" tanya Maya berlinang air mata, menatap wajah Aidan dengan tatapan menuntut jawaban.


"A-aku..." gugup Aidan.


"KATAKAN!! APA ITU BENAR ATAU TIDAK!!" teriak Maya semakin menangis.


"Iya itu benar Maya" ucap Aidan menunduk bersalah.


"Hiks... TIDAK!!!!" teriak Maya menangis histeris, kakinya terasa lemas dan mati rasa. Maya langsung jatuh terduduk di lantai dan menangis sejadi jadinya.


"HIKS KAKAK ABI KENAPA KAMU TEGA!! KENAPA KAMU TEGA MENINGGALKAN AKU DAN BAYI KITA!!!" teriak Maya menangis dengan keras.


"Maya tenanglah, Abian pasti akan kembali, dia akan kembali untuk mu, aku yakin itu" ucap Aidan menenangkan Maya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2