
_Abian_
Kecewa, marah dan sedih. Itulah yang aku rasakan kepada kedua orangtuaku. Dimana mereka sengaja membuangku ke negara asing hanya untuk membuat ku menjadi manusia tangguh dan mampu mencapai derajat sang kakek buyut.
Dari kecil aku sudah kehilangan yang namanya keluarga. Aku tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu dan ayah. Terkadang aku iri dengan saudara kembar ku yang hidup enak dan selalu berada disisi kedua orang tua ku.
Aku juga menginginkan itu, aku juga menginginkan kasih sayang kedua orangtuaku. Tapi kenapa mereka tega melakukan ini kepadaku? apa benar aku ini tak pantas untuk bahagia? tapi kenapa?
Aku dikenal sebagai pria dingin yang tak berperasaan, itu karena hatiku sudah mati. Hatiku sudah mati akibat ulah dari kedua orangtuaku sendiri.
Aku menangis setiap malam. Hidupku begitu kesepian, tak ada yang mau menemaniku. Terkadang aku berfikir, untuk apa semua ini? untuk apa kekayaan dan derajat yang aku miliki jika aku tak bahagia? pada dasarnya aku iri melihat mereka yang hidup pas-pasan tapi memiliki keluarga yang begitu bahagia. Sedangkan aku? hahaha.... (tertawa miris)
.
.
.
Disuatu malam, aku bertemu dengan wanita yang bernama Maya. Aku menatap wajahnya yang begitu cantik membuat hatiku berdegup kencang tak karuan. Aku bingung dengan diriku sendiri, kenapa aku tiba tiba menjadi lunak disaat bertemu dengan wanita itu? apa yang salah denganku?. Aku tak pernah merasakan ini semua, namun aura wanita itu sangat berbeda dengan wanita lain pada umumnya.
Aku nyaman berada didekat nya, bahkan aku begitu suka dengan kehangatan tubuhnya saat aku memeluk dia. Dan disaat itu juga aku baru sadar bahwa aku mencintai wanita itu.
Aku sangat mencintainya, walau dia sering melakukan kesalahan bodoh yang membuat ku sangat murka namun cintaku lebih besar dari itu semua.
Aku sudah menikahi wanita itu. Dia telah menjadi istriku sekarang. Hari demi hari aku lalui bersamanya, rasa cintaku semakin besar untuknya.
Apapun akan aku lakukan untuk istriku tercinta. Karena inilah yang aku inginkan. Memiliki keluarga sendiri dan hidup bersama sampai maut memisahkan.
.
.
.
.
Hari ini, aku mendapat kabar buruk. Dimana pamanku yang berada di Spanyol mengetahui bahwa aku memiliki istri.
Yang ku takutkan benar benar terjadi. Pamanku menyuruhku untuk menceraikan Maya. Tentu aku menolaknya dengan keras. Aku tak ingin berpisah dari Maya. Maya segalanya bagiku. Aku bisa mati jika hidup tanpa dirinya.
_Abian End_
"Sayang aku pulang" seru Abian masuk kedalam mansion.
"Hiks kakak Abi" tangisan Maya pecah melihat kedatangan Abian. Maya berlari cepat kearah Abian dan langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Abian panik.
__ADS_1
"Hiks aku lagi senang tapi kok malah nangis gini hiks" jawab Maya semakin menangis.
"Kamu lagi terharu? kabar apa yang membuat istriku bahagia sampai seperti ini hm?" tanya Abian menyeka air mata istrinya.
Maya hanya diam lalu memberikan sebuah tespek kepada Abian.
"Apa ini?" tanya Abian kebingungan.
"Itu tespek" jawab Maya tersenyum lebar.
"Lalu?" tanya Abian menatap Maya dengan tatapan polosnya.
"Ish! masa kakak Abi ga tau sih!" gerutu Maya cemberut.
"Aku mana tau tentang ginian sayang" balas Abian.
"Di tespek itu ada dua garis, itu tandanya Abian kecil telah hadir!" gerutu Maya kesal.
"Abian kecil?" tanya Abian masih kebingungan.
"Masih ga ngerti?!! aku hamil kakak Abi!!" teriak Maya cemberut.
1
2
"APA!!!" pekik Abian terkejut setengah mati.
"Aku hamil kakak Abi" ucap Maya menangis terharu.
"Ka-kamu hamil anak kita?! a-aku akan menjadi seorang ayah?!" tanya Abian tak percaya dibalas anggukan oleh Maya.
"HAHAHA AKU AKAN MENJADI SEORANG AYAH!!" teriak Abian mengangkat tubuh istrinya lalu berputar-putar bahagia.
Cup-! cup-! cup-!
Abian menghujami berbagai kecupan diwajah Maya lalu memeluknya dengan erat.
"Terimakasih sayang, akhirnya aku juga mempunyai keluarga sendiri, aku janji akan selalu menjagamu dan juga anak kita" ucap Abian dengan tulus.
"Kamu masuk kamar dulu yah, aku mau kedapur dulu" lanjut Abian mengusap lembut puncuk kepala Maya.
Abian melangkah pergi kedapur meninggalkan Maya yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Tumben kedapur" batin Maya menatap punggung Abian yang semakin lama semakin menjauh.
Pov Abian.
__ADS_1
"Huff... apa aku masih bisa bertemu dengan anak ku disaat dia lahir nanti? ya Allah kenapa hidupku begitu tidak adil sekali" batin Abian menangis. Ia menangis sejadi jadinya didapur tersebut karena disana lah ia bisa menangis tanpa sepengetahuan istrinya.
Sedikit bocoran-!!
DiSaat paman Abian menyuruhnya untuk menceraikan Maya, Sekeras apapun Abian menolak ia tak akan bisa melawannya. Pamannya memiliki kekuasaan yang begitu sempurna, hingga Abian sang ketua mafia saja tak bisa melawannya.
Disaat itu juga, Paman Abian mengancamnya, jika ia tak segera menceraikan Maya, paman nya sendiri yang akan turun tangan untuk meleny4pkan Maya. Tentu saja Abian tak mau itu terjadi.
Abian bingung. Ia tak tau harus apa, disisi lain ia harus bercerai dengan Maya, dan disisi lainnya Maya sedang mengandung anaknya. Abian harus melakukan apa sekarang? tidak mungkin Abian menceraikan Maya disaat dia sedang hamil.
-------
Setelah puas meluapkan kesedihan nya, Abian masuk kedalam kamar.
"Kakak kok lama banget kedapur nya?" tanya Maya menatap Abian.
"Gapapa kok" jawab Abian tersenyum tipis. Abian naik kekasur lalu memeluk istrinya.
"Kakak kenapa?" tanya Maya.
"Aku? aku gapapa" jawab Abian menahan tangisan.
"Kenapa mata kakak merah gitu? kakak Abi habis nangis?" tanya Maya penuh selidik.
"Aku hanya bahagia sayang, akhirnya keluarga kecil kita sudah lengkap" balas Abian tersenyum palsu.
"Iya kakak, semoga kita tetap hidup bersama yah selama lamanya" ucap Maya membuat Abian terdiam.
"Kok kakak diam? kakak ga mau hidup sama aku selama lamanya?" tanya Maya terlihat cemberut.
"Bukan begitu sayang, aku hanya berfikir jika suatu saat aku tiba tiba tiada gimana?"
"Ih! ga boleh!! ga boleh ngomong gitu kakak!" omel Maya memeluk Abian dengan erat seolah ia sangat takut jika Abian benar benar tiada.
"Ya Allah... aku harus apa" batin Abian menangis.
"Kakak kok nangis lagi?!" tanya Maya.
"Kamu jaga diri baik baik yah sayang" pungkas Abian mengecup kening Maya dengan lembut.
"Iya kakak, Maya jaga diri baik baik kok, asal kakak tetap disini sama Maya" balasnya.
"Jaga Abian kecil juga, sayangi dia jika aku ga ada" ucap Abian membuat Maya mengerutkan kening.
"Kok kakak ngomong gitu? kayak mau pergi jauh aja!" oceh Maya.
"Aku memang mau pergi dari sisi mu sayang, maafkan aku...." batin Abian dengan rahang yang mengeras berusaha menahan kesedihan yang begitu teramat dilubuk hatinya.
__ADS_1
Bersambung.