
Beberapa saat kemudian, masih di tempat yang sama. Maya masih di dalam kamar mandi membuat Abian sedikit kesal karna telah lama menunggu nya.
"Gadis bodoh itu berani sekali membuat ku menunggu lama!" batin Abian geram.
Abian yang sudah sangat lelah, membuka seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan boxer hitam saja. Abian tiduran di atas kasur sembari memainkan ponselnya.
Noted!!: Abian sudah terbiasa tertidur hanya menggunakan boxer.
Beberapa menit kemudian.
"Ceklek..." Suara pintu terbuka membuat Abian langsung menoleh ke arah Maya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Abian langsung terdiam melihat penampilan Maya dari atas hingga ke bawah. Jantung Abian tiba tiba berdegup kencang tak karuan lantaran Maya begitu sangat **** saat memakai kemeja yang ia berikan tadi.
"Sial! aku salah memilih pakaian!" pekik Abian dalam hati saat melihat penampilan Maya yang memakai kemeja putih.
Kemeja putih itu sedikit transparan membuat lekuk tubuh Maya sedikit terlihat. Bahkan Abian yang awalnya berfikir kemeja itu cocok untuk Maya kini merasa sangat bodoh.
Karena kemeja itu terlalu pendek membuat paha mulus Maya terlihat. Abian memanas saat melihat paha milik Maya. Bagaimana tidak? paha yang putih dan terlihat mulus itu sangat indah di mata nya.
"Kak, ini ga terlalu pendek?" tanya Maya dengan wajah polosnya menatap ke arah Abian.
Melihat wajah polos dan menggemaskan Maya membuat Abian semakin memanas, sebisa mungkin Abian menahan hasrat nya yang sudah terbakar api gairah.
"Besok pagi kita ke tokoh pakaian" ujar Abian dengan nada berat.
"Huh? untuk apa?" tanya Maya memiringkan kepalanya kebingungan.
"Sial, wajah macam apa itu! kenapa dia menggemaskan sekali!" umpat Abian dalam hati.
"Kemarilah" ujar Abian menepuk kasur di sebelahnya.
"Eum?? ta-tapi" Maya hendak menolak.
Jujur Maya sedikit takut saat Abian menyuruhnya berbaring di sebelahnya. Bagaimana pun Maya harus waspada karna dirinya belum kenal betul Abian itu siapa.
__ADS_1
"Jangan takut, aku tidak akan merusak mu" pungkas Abian saat melihat wajah Maya yang terlihat takut.
Maya masih terdiam, ia tak berani melangkah mendekati Abian membuat Abian tersenyum tipis.
"Gadis ini kenapa begitu menggemaskan saat sedang takut seperti itu?" batin Abian.
"Percayalah kepada ku, kemarilah" ujar Abian kembali menepuk kasur di sebelahnya.
"Janji?" tanya Maya memastikan Abian tak akan melakukan apapun kepadanya.
"Hmm aku janji" jawab Abian dengan tulus.
Maya pun mengangguk, dan melangkah mendekat ke arah Abian. Maya duduk di samping kasur lalu menatap ke arah Abian.
"Masuk ke sini" perintah Abian membuka selimutnya dan menyuruh Maya untuk masuk ke dalam selimut.
"Di-dimana pakaian ka-kaka?" tanya Maya terkejut saat Abian membuka selimut. Maya melihat lekuk tubuh Abian yang begitu sempurna dan gagah.
Wajah Maya terlihat memerah karna malu telah melihat Abian yang hanya menggunakan boxer saja.
Dengan terpaksa Maya berbaring di samping Abian dengan selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Siapa nama mu?" tanya Abian mengelus pipi Maya dengan lembut membuat Maya tersipu malu karena wajahnya begitu dekat dengan wajah Abian.
"Ma-maya kak" jawab Maya dengan gugup membuat Abian terkekeh karna gemas.
"Kemarilah, mendekat lagi kepada ku" perintah Abian menyuruh Maya untuk semakin mendekat. Karna posisinya sedikit jauh dengan Maya.
"Engga, aku disini aja kak" jawab Maya.
Noted: Maya tiduran sedikit di tepi. ia masih takut untuk mendekat dengan Abian.
"Baiklah kau disitu saja, aku yang akan mendekat kepada mu" pungkas Abian mendekat. Abian langsung memeluk Maya membuat Maya memegang seketika.
Bagaimana tidak? tangan Maya langsung mendarat menyentuh perut Abian membuat jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
Tanpa sadar Maya mengelus perut kotak Abian. Membuat Abian tersenyum menyeringai.
"Kau menyukainya?" tanya Abian berbisik di telinga Maya.
"E-eh menyukai apa?" tanya Maya yang terus mengusap dan mengelus perut Abian tanpa sadar.
"Kenapa kau terus mengelus perut ku? apa kau menyukai ini?" tanya Abian menunjuk perutnya membuat Maya menoleh ke bawah.
Mata Maya melotot menyadari tangannya yang sudah berada di perut Abian. Dengan cepat Maya menarik tangannya dan menutupi wajahnya karena sangat malu telah tertangkap basah.
"HUAA MALU!" pekik Maya menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya.
"Hahaha menggemaskan sekali!" tawa Abian mencubit pipi Maya dengan sangat gemas.
Abian semakin mempererat pelukannya. Entah mengapa ia sangat nyaman berada di dekat Maya padahal dirinya sendiri juga bingung kenapa ia bisa begitu dekat dengan Maya? padahal dirinya baru saja bertemu malam ini.
Abian menenggelamkan wajahnya di leher Maya. Abian semakin nyaman saat mencium aroma maskulin di lehernya.
Aroma maskulin itu membuat Abian teringat dengan sesosok Amanda, sang ibu yang sangat ia cintai.
"Kakak nangis?!" pekik Maya saat merasakan lehernya basah.
"Aku tidak menangis" jawab Abian dengan suara gemetar membuat Maya mengerutkan kening. Maya memegang kedua pipi Abian untuk melihat apakah Abian menangis atau tidak.
"Tuh kan nangis! kakak kenapa?" tanya Maya melihat air mata yang mengalir membasahi pipi Abian.
"Aku hanya merindukan ibu ku" jawab Abian menyeka air matanya. Tampak jelas kesedihan di wajah Abian membuat Maya sedikit kasihan.
"Yang sabar yah kak, ibu kakak pasti sudah tenang di alam sana" ucap Maya mengusap kepala Abian dengan lembut.
"Siapa bilang bahwa ibu ku sudah meninggal?" tanya Abian membuat Maya terkejut.
"Eh? berarti ibu kakak masih hidup? jadi kenapa dong kakak bisa sampai sesedih ini?" tanya Maya penasaran dan merasa sedikit bersalah.
Hayoloh? penasaran kan sama kisah kelam Abian?ðŸ¤
__ADS_1
Bersambung.